Seorang sahabat pernah berkata kepada saya,
"Jika kamu melakukan sesuatu dengan hati bergembira, hasilnya pasti akan baik".
Kalimat itu telah saya pegang selama 3 tahun lamanya. Saat kalimat itu diucapkan, diri saya sedang kacau, jika Anda mendefinisikan kekacauan pikiran berbentuk kemarahan, hal itu berbeda untuk saya, kekacauan itu saya definisikan sebagai perasaan merasa baik-baik saja sementara orang lain lebih tahu bahwa Anda sedang berdiri di tepi jurang menikmati angin yang berhembus namun diam-diam berdoa angin itu akan mendorong Anda ke dalam akhir segalanya.
Ada nuansa positif yang tercipta dari kalimat tersebut, namun di sisi lain membawa kesan menusuk dalam hati saya saat itu. Sebagai sahabat, ia bisa menafsirkan apa yang saya lakukan sebelumnya, tidak berdasarkan perasaan bahagia. Tetapi, ini bukan romantisme makna bahagia ala melodrama, jangan membayangkan sosok protagonis yang tidak berdaya. Saat itu, saya justru antagonis yang sering bersikap seenaknya. Bahkan sekarang pun masih sama.
Saat itu, saya hanya menelan perkataan itu sembari berkata 'benar juga' di dalam hati. Saya bisa menerka permukaan makna dalam kalimat tersebut. Namun, setiap kali kalimat tersebut terlintas dalam pikiran saya, maka setiap kali itu pula saya membuka selapis demi lapis maknanya. Mengerjakan dengan hati bergembira tidak hanya soal kamu menyukai atau tidak menyukai apa yang kamu lakukan saat ini. Hati bergembira tidak bisa timbul seketika dari dua pilihan mutlak tersebut.
"Awali dengan perasaan merdeka untuk melakukan kesalahan, hargailah peran semua orang di sekitar, tetaplah merasa tidak cukup pintar, berbahagia melihat pencapaian orang lain dan jadikan inspirasi ke depan, jika tidak berhasil maka berterimakasih kepada diri karena sudah mau berusaha, evaluasi diri dan segera perbaiki kesalahan".
Kutipan tersebut, akan berpola sama dengan petuah-petuah kebaikan lainnya. Tetapi butuh banyak waktu bagi saya untuk memaknai dan konsisten menjalaninya. Saya pun tidak sempurna.
Jika standar hasil baik yang kita gunakan adalah pencapaian nilai A, atau apresiasi dari sekitar tentunya standar tersebut keliru. Hati yang bergembira membuat kita mau bekerja sepenuhnya dan lebih keras dari orang lainnya. Tidak ada kalkulasi akurat mengenai untung rugi, yang terpenting ikhlas melakukannya. Lalu ketika menjalaninya apakah saya selalu dapat jaminan mendapat nilai A dan apresiasi dari lingkungan. Nyatanya tidak. Saya pun pernah merasa kecewa. Saya pun pernah diremehkan. Namun, ada sebuah momen di dalam kehidupan saya dimana saya sadar masih bisa merasa bahagia walaupun tidak mendapat nilai A atau apresiasi dari lingkungan. Bekerja dengan hati bergembira membuat kita menikmati prosesnya. Perasaan itulah hasil baik yang kita dapatkan. Nilai A atau apresiasi masyarakat adalah bonus dari keberuntungan. Hal tersebut kedengarannya begitu naif, tetapi saya memilih dicap naif daripada menjadi rakus dan tidak bahagia.
Banyak orang mengatakan, hidup ini bukanlah lari jarak pendek. Kehidupan adalah maraton panjang, terkadang kita perlu melambat, terkadang pula kita cukup beruntung bisa menyusul. Seperti kalimat di tulisan-tulisan saya sebelumnya, kita hanya perlu bertahan dan berharap di perjalanan menemukan kebahagiaan.
No comments:
Post a Comment