Sunday, July 12, 2020

Resensi Buku Orang Orang Proyek


Judul Buku : Orang-orang Proyek
Penulis        : Ahmad Tohari
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal           : 256 halaman
Harga          : Rp65.000,00

"Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin". (Halaman 39)

Dalam buku ini, Ahmad Tohari berusaha membuka tabir dibalik kehidupan orang-orang proyek yang dibayangi dengan intrik politik, kerakusan, dan idealisme. Mengambil latar era Orde Baru, pembaca akan disuguhkan cerita yang tidak hanya berkutat pada orang-orang proyek yang terlibat langsung (kepala proyek, mandor, pekerja, dll) tetapi juga bagaimana pengaruh pengerjaan proyek bagi rakyat. Cerita dalam buku ini dikemas begitu humanis dengan memperlihatkan permasalahan dan kegundahan masing-masing tokoh serta sisi kehidupan rakyat kecil di dekat area proyek.

Kita akan dipertemukan dengan sosok Kabul, seorang insinyur yang mulai merasa jengah karena idealisme yang ia pegang mulai diusik. Pak Tarya, seorang pensiunan PNS yang terlihat santai dengan hobi memancingnya namun seringkali memberikan pandangannya tentang kehidupan. Ada juga sosok Basar, teman sesama aktivis Kabul yang merasa terhimpit diantara jabatannya sebagai kades yang ingin membangun desa dan kepentingan partai. Dalkijo, kepala proyek yang mengaku tobat melarat, ia merasa pilihannya untuk berkompromi dengan urusan politik adalah keputusan paling realistis untuk mempertahankan kehidupan. Selain itu, ada juga Wati, pegawai administrasi proyek yang menaruh hati kepada Kabul, Mak Sumeh, Tante Ana, mandor, kuli dan tokoh-tokoh lainnya yang telah menyempurnakan buku ini menjadi rangkaian cerita yang terasa sangat nyata. Tidak ada tokoh yang mubazir dalam buku ini, semua tokoh saling bersinergi mewujudkan penggambaran masalah sosial yang terjadi.

"Idealismemu tidak akan membuatmu jadi pahlawan". ( Halaman 230 )

Cerita diawali dengan kegundahan yang dirasakan Kabul. Terlahir sebagai anak petani yang  tidak biasa nakal, atau slingkuh membuat hati nuraninya tidak bisa menerima permainan politik yang terjadi selama pembangunan jembatan Sungai Cibawor. Sebagai mantan aktivis kampus, ia merasa harapan-harapan yang ia perjuangkan dahulu mulai runtuh. Mulai dari mutu bangunan yang tidak sesuai dengan rencana, anggaran yang dipotong, penyelesaian proyek yang dipaksakan agar selesai secepatnya, hingga kewajiban upeti, semua itu dirasa mencederai idealisme yang ia pegang. Dari kegundahannya itu, sosok Kabul mulai berkontemplasi tentang arah kehidupannya dan realita kehidupan di sekitarnya.

Ahmad Tohari berusaha menceritakan realita yang terjadi selama masa Orde Baru dimana pembangunan sedang gencar dilakukan sebagai upaya terselubung untuk mengambil hati rakyat. Selain itu, keberadaan Partai GLM (Golongan Lestari Menang) tampil sebagai penggambaran sistem kekuasaan politik yang berusaha menggerus kehidupan rakyat kecil. Selain intrik politik dan masalah sosial, Ahmad Tohari berusaha menyelipkan unsur agama melalui percakapan singkat antara Kabul, Basar dan Pak Tarya (halaman 49). Kabul menyayangkan keadaan masyarakat yang cenderung memiliki kesalehan ritual namun tidak mencapai kesalehan sosial. Kesalehan ritual pada akhirnya hanya melahirkan manusia yang mengaku beragama tetapi tetap bersikap serakah.

Melalui buku ini kita diajak merenungkan kembali tatanan kehidupan saat ini. Kenyataan bahwa kehidupan yang ideal yang selama ini kita mimpikan tidak akan bisa terwujud dalam sistem kekuasaan yang carut marut. Sosok-sosok idealisme seperti Kabul pada akhirnya selalu disingkirkan karena dianggap terlalu naif dan tidak realistis.

Cover buku cetakan keempat ini didominasi dengan warna hijau dengan sedikit sentuhan warna biru pada bagian atasnya. Kita dapat melihat siluet sederhana berbentuk jembatan pada bagian atas cover, tentunya hal tersebut dibuat sebagai penggambaran jembatan Sungai Cibawor yang ada dalam cerita buku ini.

Buku ini berhasil merangkum sisi gelap dalam dunia proyek dengan cara yang sangat humanis. Dengan penggunaan bahasa yang sederhana, buku ini terasa ringan namun meninggalkan makna mendalam.

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...