Dari dulu, jika ditanya apa pekerjaan ibumu? Aku dengan bangga mengatakan Ibuku seorang guru. Tumbuh di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan, memiliki seorang Ibu yang berprofesi sebagai guru adalah suatu kehormatan bagiku. Ya, disini, sangat jarang jika kalian mendengar seorang wanita berprofesi sebagai busineess woman, artis, insinyur atau pekerjaan lain yang nampak wah di kota-kota besar. Kecenderungan penduduk di kota kecil, punya tipikal pekerjaan favorit untuk wanita yaitu guru atau bidan. Kedua profesi itu dinilai sebagai profesi yang paling aman, stabil dan begitu diidam-idamkan.
Sudah hampir satu tahun ibuku memasuki masa pensiunnya. Ia telah mendedikasikan hidupnya sebagai seorang pengajar selama 40 tahun. Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, lebih dari separuh hidupnya ia habiskan untuk mendidik anak-anak. Ia mulai mengajar di umur 20 tahun setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Mungkin sebagian dari kalian belum tahu, pada zaman ibuku, SPG hampir sama dengan sekolah kejuruan pada zaman kita sekarang namun lebih difokuskan untuk profesi guru SD. Pada masa itu, untuk masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tidaklah mudah karena seleksinya cukup ketat.
Ibuku bercerita bahwa di zaman dulu, profesi guru tidaklah sesejahtera sekarang. Memilih menjadi guru berarti mau menerima konsekuensi untuk bergaji rendah dan hidup sederhana. Oleh karena itu, seringkali diantara percakapan kami berdua terselip kekecewaan di hati ibuku melihat banyak guru sekarang yang terlihat menganggap guru hanya sebagai profesi bukan sebagai 'bakti'. Bagi ibuku, menjadi guru adalah sebuah panggilan jiwa. Oleh karena itu, sebagai seorang anak, aku telah menjadi saksi betapa ibuku telah bekerja dengan sepenuh hati untuk membangun pendidikan di sekolahnya. Mungkin ibuku hanyalah seorang guru SD di sebuah kota kecil, tetapi aku yakin pasti banyak guru-guru di kota maupun pelosok negeri ini sependapat bahwa kualitas guru sekarang berada dalam kondisi darurat.
Kekecewaan dan kekhawatiran banyak pihak mengenai kualitas guru sekarang membuat sempat timbul wacana untuk mengembalikan sistem pendidikan SPG di Indonesia. Tentunya kualifikasi lulusan SPG yang setingkat SMA tidaklah cukup untuk menjadikan mereka guru di masa sekarang, namun banyak pihak menganggap akan lebih baik jika ada sistem pendidikan linear yang mengharuskan lulusan SPG untuk melanjutkan pendidikan S1 di universitas. Hal tersebut diharapkan mampu mencetak guru-guru yang handal di masa depan. Tentunya pendapat ini muncul karena beberapa orang merasa ruh/ semangat untuk mendidik yang diajarkan pendidikan SPG harus dikembalikan lagi.
Ibuku mengatakan tugas guru bukan hanya membangun pilar kecerdasan anak tetapi juga mewujudkan anak yang berbudi luhur di masa depan. Sesungguhnya kata berbudi luhur cukup terkesan kuno bagiku, tetapi nyatanya konsep berbudi luhur adalah sebuah pencapaian yang tinggi sebagai seorang manusia.
Hidup sebagai anak guru berarti harus hidup dalam sebuah persepsi di masyarakat. Ibuku selalu mengatakan ia tidak mau jika anaknya dikatakan bodoh, tidak terurus ataupun nakal. Menjadi anak guru menjadikanku harus menghindari kata-kata, " Padahal anak guru, kok... ", kata-kata itu adalah momok yang tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, sebagai anak guru, aku juga harus menjaga kehormatan ibuku. Bagiku hal itu bukanlah beban melainkan sebuah kebanggaan sebagai anak seorang guru.
Tahun 2019 kemarin, surat terbuka dari bapak Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim pada Hari Guru Nasional menggetarkan hati masyarakat. Saat surat itu keluar, ibuku dengan gamblang mengamini isi surat tersebut. Surat Nadiem Makarim menunjukkan secara jelas realita guru saat ini. Serangkaian kata-kata tulus yang dikemas begitu puitis oleh Nadiem Makarim menjelma menjadi rangkulan hangat bagi para guru. Berdasarkan cerita ibuku, gambaran mengenai tugas administrasi yang menumpuk, tekanan mengejar angka, ketakutan guru mengenai nasib anak didiknya yang hanya pintar menghapal namun belum tentu punya kemampuan terjun di realita kehidupan adalah sekumpulan masalah yang menahun dirasakan. Sepucuk surat itu muncul sebagai harapan baru bagi masa depan Indonesia.
Sejujurnya aku tidak mau bersikap skeptis dengan kualitas guru saat ini. Aku adalah salah satu anak murid yang beruntung diajar oleh guru-guru yang luar biasa. Setiap guru mungkin tidak sempurna, tetapi aku yakin diantara banyaknya guru di Indonesia, pasti ada sosok-sosok yang bekerja dengan tulus untuk anak didiknya. Oleh karena itu, dibandingkan fokus dengan kekurangan disana-sini aku memilih untuk mengapresiasi keringat dan kerja keras mereka. Terima kasih untukmu, guruku.
Tulisan ini aku dedikasikan untuk ibuku dan guru-guru lainnya. Terima kasih atas dedikasinya. Kalian bukanlah lagi pahlawan tanpa tanda jasa karena sesungguhnya setiap anak muridmu akan mengukir namamu dalam hati mereka.
No comments:
Post a Comment