Tuesday, December 31, 2019

Menjadi Biasa Saja (Catatan Penutup 2019)

“Sebelum pelajaran pertama kita dimulai, aku ingin mengingatkan satu hal padamu,” katanya. “Ketika kau menemukan jalanmu, kau tidak boleh takut. Kau harus memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan kesalahan. Kekecewaan, kekalahan, dan keputusasaan adalah alat-alat yang digunakan Tuhan utuk menunjukkan jalan pada kita”. (Paulo Coelho, Brida : 36)

Aku memegang kenop pintu itu dengan perasaan berdebar, mencoba memperhitungkan apa yang akan aku temui dibaliknya. Aku berdiri dengan pijakan yang kukuh berhadapan dengannya, sebuah pintu kayu tua dengan cermin oval pada bagian tengahnya. Bagiku cermin itu cukup mengganggu, selalu mengusik untuk melihat bagaimana keadaanku sekarang? Apakah cukup baik? Cermin itu selalu menggodaku untuk mengintip apa yang ada dibelakang, kembali melihat ‘sesuatu’ yang seharusnya telah ditinggalkan. 

Ada satu hal yang aku suka dari cermin itu, bekas kikisan kayu yang membentuk ukiran keindahan disekililingnya. Aku cukup malu untuk mengagungkan secuil kikisan itu sebagai tanda bahwa cermin itu cukup spesial diantara cermin lainnya. Tapi aku menyukainya, ‘kecacatan’ yang justru menjadikannya sempurna. Apakah sebaiknya aku bawa saja cermin itu menuju pintu berikutnya? Mungkin bisa menjadi ornamen pelengkap ketika aku butuh alasan untuk menjadi ‘biasa saja’. 

Tetapi, jika menjadi biasa saja justru menjadikanku pengecut, aku memilih untuk berdarah-darah, seperti kikisan kayu itu, aku bersedia menanggung sakitnya. 
Jika menjadi biasa saja justru menjadikanku menyederhanakan hal besar, aku tak mau menjadi biasa saja. 
Jika menjadi biasa saja menjadikanku tak berani bermimpi, aku memilih untuk terus berdebar-debar menanti ‘kejutan dunia’. 
Jika menjadi biasa saja menjadikanku tak mau melangkah, aku memilih untuk tersesat namun terus bergerak. 
Karena sungguh, tak akan ada yang akan tumbuh jika kamu terperangkap dalam pikiran saja, kau harus melangkah. 
Jika rasa syukur menjadi alasan untuk menjadi biasa saja, sungguh aku telah gagal memaknai anugerah yang Kuasa. 

Menjadi ‘biasa saja’ tidak layak disandang bagi orang yang mencari alasan untuk lari. Sesungguhnya menjadi ‘biasa saja’ tidaklah sesederhana pemikiran orang yang lemah.‘Biasa saja’ hanya pantas dikatakan oleh orang yang telah melalui perjalanan panjang, telah mengorbankan banyak hal. Orang yang berani berkorban lebih bahkan untuk hal yang tak pasti. Orang yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa apa yang telah terjadi, apa yang telah dijalani, rasa sakit yang pernah dilewati adalah ‘biasa saja’. Oleh karena itu, menjadi ‘biasa saja’ bukanlah jalan keluar bagi ketidakberdayaan diri, keputusan itu justru akan menjadi jurang penyesalan yang akan terus menghantui. 

Kuputuskan untuk membiarkan cermin itu tetap pada tempatnya. Aku akan melangkah berani menuju pintu selanjutnya. Kurasa sudah waktunya aku punya cermin baru yang memperlihatkan seberapa banyak aku telah bertumbuh. 
Selamat datang 2020!

Tuesday, November 5, 2019

Mengetahui Tujuan Hidup dalam Waktu 5 menit


Pada tahun 2013, Adam Leipzig berbicara di depan publik melalui acara Tedx. Ia berbagi pengalamannya selama menghadiri acara reuni kampusnya. Alumni Universitas Yale ini menemukan fakta bahwa 80% dari temannya yang hadir merasa tidak bahagia dalam hidupnya. 

" Rasanya aku menyia-nyiakan hidupku dan sudah melewati separuhnya".

" Aku tidak tahu hidupku untuk apa ".

Kenyataan tersebut membuat Adam Leipzig merasa sanksi, orang-orang yang berbicara kepadanya adalah orang terhormat, sangat terpelajar dan sangat mapan, punya jabatan namun mengapa mereka merasa tidak bahagia dalam hidupnya? Ketika Adam berbicara dengan 20% yang merasa bahagia, ia menemukan bahwa mereka semua mengetahui tujuan hidupnya karena mereka mengetahui lima hal.

1. Who you are? Siapa kamu?
2. What you do? Apa yang kamu lakukan?
3. Who you do it for? Untuk siapa kamu melakukannya? 
4. What those people want and need? Apa yang mereka inginkan dan butuhkan?
5. How they change as a result? Bagaimana mereka berubah sebagai hasilnya?

Adam mengklaim bahwa kelima hal tersebut adalah sesuatu yang sederhana, bahkan kita bisa mengetahui tujuan hidup kita hanya dalam waktu 5 menit dengan menjawab pertanyaan tersebut.

Mempelajari tujuan hidup adalah sebuah topik yang banyak diangkat dalam buku, majalah, latihan kerja dan seminar. Hal ini menunjukkan ada begitu banyak orang yang merasa khawatir dan bertanya-tanya tentang tujuan hidupnya. Namun sayangnya, ketika kita hanya berfokus mempelajari tujuan hidup dan menguji apakah kita telah menemukannya terkadang kita justru tidak sempat untuk merasa hidup.

" The most successful people in any field always focus most on the people they serve than on how they are served themselves".

Mengapa kelima formula tersebut sangat ampuh? Menurut Adam, alasannya karena dari kelima formula tersebut hanya dua hal yang menyinggung tentang diri kita sementara tiga pertanyaan lainnya berfokus tentang orang lain. Adam menemukan bahwa 20% dari temannya yang merasa bahagia adalah orang-orang yang memfokuskan pikirannya untuk orang lain bukan untuk dirinya sendiri. Mereka tahu dengan jelas untuk siapa dia melakukan sesuatu, apa yang dibutuhkan orang dan bagaimana dampak perbuatannya untuk orang lain. Pada kenyataanya, orang-orang yang sukses di berbagai bidang selalu fokus pada orang yang dia layani bukan sebaliknya. 

Orang yang tidak bahagia merasa sangat sulit ketika seseorang bertanya " What are you doing?", karena mereka berada di situasi dimana apa yang dia lakukan bukanlah apa yang ingin dia lakukan. Namun, seseorang yang merasa bahagia akan menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan jawaban pertanyaan kelima. Mereka akan dengan bangga memberikan jawaban seperti, " Saya memberi mimpi indah bagi anak-anak ", ketika tujuan hidupnya adalah menulis buku anak-anak. Jawaban tersebut dapat menjadi rangkuman diri kita dan pada akhirnya kita bisa menceritakan tujuan hidup kita kepada orang lain.

Wednesday, February 6, 2019

Renungan di Awal 2019

Setelah sekian lama, akhirnya saya memutuskan ‘belajar’ menulis kembali. Sudah cukup lama pikiran saya tidak tercurah dalam blog ini. Sudah satu tahun saya membiarkan begitu banyak pemikiran di kepala saya tersesat di antara angan-angan saja. Sebenarnya, ada sedikit penyesalan di dalam diri ini karena telah menyebabkan arsip blog di tahun 2018 menjadi kosong. Sebenarnya bukan satu tahun, tapi tiga tahun terakhir ini saya merasa tidak begitu leluasa lagi mencurahkan pemikiran dalam kata-kata. Ada begitu banyak rencana dan kata-kata yang ingin diungkapkan namun saya tidak pernah bisa mewujudkannya. Tiga tahun kebelakang bukan berarti saya tidak pernah mencoba untuk menulis, saya mencoba, namun selalu terhenti di tengah jalan, terlalu sering saya mendapati tulisan saya tidak selesai dan akhirnya terbengkalai. Ide saya menumpuk, namun pada akhirnya hanya mengembun dengan alasan kesibukan dan pada akhirnya terlupakan.

Dari awal saya selalu yakin bahwa menulis adalah proses pembelajaran yang panjang, semakin banyak kita mencoba merangkai kata maka semakin mudah kita mampu menyampaikan apa yang ada dipikiran kita.

Kepekaan dan kemampuan mengolah tema menjadi tulisan tidaklah didapatkan dengan cara yang instan. Konsistensi merupakan salah satu hal yang saya rasa menjadi kunci penting dalam pembelajaran tulis-menulis. Kabar buruknya, beberapa tahun terakhir ini, saya telah gagal dalam menerapkan prinsip konsistensi itu. Saya sudah mulai merasakan gejala-gejala ‘ketumpulan’ dalam pemilihan kata. Dalam hal ini, saya tidak mengatakan bahwa pemilihan kata saya beberapa tahun lalu lebih baik dari sekarang atau tulisan saya dahulu lebih baik dari sekarang (walaupun saya tidak menampik kemungkinan kebenaran hal tersebut). 

Sebenarnya bukan hanya pada kemampuan menulis saja, tetapi juga perasaan dan semangat untuk menulis sudah mulai luntur dalam diri saya. Saya selalu menempatkan kata ‘tidak punya cukup waktu luang’ sebagai alasan. Berulang kali saya mengatakan pada diri sendiri bahwa alasan tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikan saya menghasilkan sebuah tulisan. Toh, pada kenyataanya,dahulu saya bisa menyempatkan waktu menulis dimana saja dan menganggap setiap hal yang terjadi bisa menjadi tema yang menarik untuk dibuat dalam tulisan. Begitu mudahnya saya menyempatkan waktu untuk menulis beberapa baris di note handphone ketika inspirasi itu datang. Oleh karena itu, setelah proses negosisasi yang panjang dengan diri sendiri, saya akhirnya memaksa dan merelakan diri saya untuk belajar menulis kembali.

Saya akhirnya menyadari bahwa kesulitan dalam memilih kata yang saya rasakan, berbanding lurus dengan jumlah buku yang saya baca. Bisa dikatakan penurunan minat dan kemampuan menulis dalam diri saya berbanding lurus dengan penurunan minat saya akan membaca. Jarangnya saya membaca buku menjadikan perbendaharaan kata saya pun ikut berkurang.

 Selain itu, saya menjadi salah satu orang yang terkena efek buruk dari teknologi dimana begitu malas membaca tulisan yang panjang dan lebih memilih bacaan yang singkat dan aktual, serta cenderung tidak mengindahkan bacaan-bacaan yang kritis. Saya tidak lagi mempermasalahkan apakah kajian tulisan itu mendalam atau tidak, saya hanya menitikberatkan apa inti informasi yang bisa didapatkan. Saya juga lebih suka menghabiskan waktu saya untuk menonton daripada membaca, saya begitu dimanjakan dengan gambaran visual dibandingkan tulisan yang harus diimajinasikan.

Saya tidak bisa berjanji pada diri sendiri untuk terus bisa mencurahkan pemikiran-pemikiran saya di blog ini. Saya hanya akan berusaha mengingatkan pada diri saya bahwa blog ini pernah menjadi tempat ternyaman untuk menyampaikan keresahan, harapan dan pemikiran. Oleh karena itu ketika berada di persimpangan jalan, saya harap blog ini bisa kembali menjadi salah satu tempat bagi saya untuk berhenti sejenak dan beristirahat.

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...