Thursday, May 28, 2015

Karisma Sang Pembicara : Kekuatan Sebuah Pujian

Artikel kali ini mungkin bisa menjadi salah satu referensi untuk menunjukkan bahwa Anda adalah ‘seseorang’ diantara banyak orang. Kali ini saya akan membahas tentang seberapa besar kekuatan sebuah pujian – bukan rayuan. Saya sekali lagi menekankan agar Anda membedakan antara pujian dengan rayuan yang terkesan murahan. Pujian adalah salah satu bentuk apresiasi seseorang yang diramu dengan sangat indah sehingga si penerima pujian merasa benar-benar memiliki hal yang berharga pada dirinya, berbeda dengan rayuan yang justru menimbulkan kecurigaan dan persepsi yang salah pada diri penerima. 

Sebenarnya, sebuah pujian adalah rayuan yang diramu dengan sangat baik. Jadi, hal terpenting yang harus Anda pelajari saat ini adalah bagaimana cara meramu rayuan menjadi sebuah pujian yang akan memperlancar hubungan Anda dengan lingkungan Anda. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memperhitungkan ketepatan waktu dan pemilihan kata saat melontarkan pujian. Selain itu, perhatikan bagaimana karakteristik objek yang ingin Anda puji. 

Kekuatan sebuah pujian adalah keindahan yang tersirat, bayangkan bahwa penerima pujian cukup mampu menafsirkan kata-kata indah di balik pujian Anda, hindari kata-kata yang menunjukkan kekaguman secara langsung karena menurut saya hal tersebut justru menjadikan pujian Anda berakhir seperti angin lalu saja atau justru menjadi kata-kata buruk bagi penerima pujian. Walaupun saya menyarankan menggunakan cara tersirat, bukan berarti Anda menjadikannya sebuah kesempatan untuk menunjukkan keahlian Anda dalam berbahasa (baca:berlebihan), pilihlah kata yang cocok dengan lawan bicara Anda dengan menghindari kesan norak dan terlihat mengharapkan sesuatu. 

Pujian mungkin bisa memperlancar komunikasi Anda dengan orang lain namun pujian yang hanya didasarkan pada kepentingan pribadi saja biasanya akan tercium dengan sangat jelas dan menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan. Ketika melontarkan pujian, jadilah seperti anak kecil yang penuh dengan ketulusan, mungkin Anda masih mengingat bagaimana cara merayu ayah/ibu Anda demi mendapatkan sesuatu. Ketulusan dan cara melakukan rayuan tersebut menjadikan rayuan itu bukan hanya sekedar rayuan belaka namun bertransformasi menjadi sebuah proses tawar-menawar dengan berhadiahkan sebuah pujian. Jadilah sosok anak kecil yang begitu menggemaskan sehingga penerima pujian secara tidak sadar menjadi sosok ayah/ibu yang akan menuruti setiap permintaan Anda. 

Dalam memilih kalimat pujian, Anda harus melihat objek yang Anda puji, lihatlah dengan jeli kualitas dan keunikan si penerima pujian, temukan sebuah kelebihan yang sebelumnya tidak ditemukan orang lain pada dirinya, buatlah ia merasa Anda mengetahui dengan sangat jeli kualitas yang sebenarnya dimiliki si penerima pujian. Anda harus bersikap berbeda dan melihat dengan cara pandang yang berbeda dibanding kebanyakan orang sehingga si penerima pujian sedikit demi sedikit mulai menganggap Anda adalah ‘seseorang’ diantara kebanyakan orang. 

Selain pujian yang terencana, adakalanya Anda harus membuat pujian yang terkesan spontan. Jadilah sosok yang begitu menghargai dan mengapresiasi apa yang telah orang lain lakukan. Sebuah kalimat singkat seperti good job bahkan bisa menimbulkan efek positif yang cukup besar dalam kehidupan Anda. Berikan pujian dengan spontan dan alamiah, spontanitas ini akan mengalir ketika ketulusan menjadi dasarnya. 

Artikel ini bukanlah berusaha mengajarkan Anda untuk menjadi seorang pemuji yang ulung, saya hanya ingin menunjukkan betapa besarnya kekuatan pujian dalam komunikasi. Sebuah pujian sebenarnya bukanlah suatu hal yang bisa Anda pelajari dengan mudah karena hal tersebut bukan hanya menyangkut kemampuan Anda dalam merangkai kata dan memilih waktu yang tepat, hal utama yang harus Anda miliki adalah ketulusan, bagaimana cara Anda membuat orang lain merasakan kebahagiaan dari pujian yang Anda lontarkan. Kelancaran yang Anda dapatkan karena kemampuan Anda untuk mengambil hati orang lain dengan pujian anggap saja sebagai bonus yang Anda dapatkan dari ketulusan Anda selama ini.

Wednesday, May 27, 2015

UntukMu, Tuhanku

Selamat pagi Tuhan, sudah lama aku ingin menuliskan hal ini. Sudah aku terima balasan suratMu, di kemas dengan amplop yang begitu indah, ukiran kebahagiaan menjadi pemanisnya. Aku membukanya dengan hati-hati, sungguh tak pantas jika aku sembrono merusaknya. 

Ketika aku berusaha merangkai kata dalam surat pertamaku, aku begitu meragu, bahkan mempertanyakan akan samapaikah suratku padaMu, Tuhan. 

Aku tak pandai merayu, bahkan surat pertamaku terkesan angkuh, kelancangan yang tak tertahankan. Semua terasa begitu sulit, seakan tak akan ada orang yang akan memihakku, tidak akan ada orang yang bisa mengerti, sifat ke-aku-an terpancar jelas dalam setiap kata yang tersurat. Aku menulisnya dengan perasaan berkecamuk, tanpa akal sehat, seakan mabuk. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, meratapi malam dengan tangisan, bertanya-tanya apakah aku begitu tak pantas untuk mendapat sepucuk surat balasan. Aku gadis naïf yang terlalu menggebu merengkuh mimpi, saat itu. Mulutku bahkan terus mengeluh, berkata-kata tak pantas, terus bertanya mengapa aku seperti ini, mengapa aku di posisi ini. Terus menangis dalam sujudku, aku baru menyadari, betapa dekatnya aku denganMu, setiap hari dihabiskan dengan mengadu, betapa banyaknya percakapan yang sebenarnya telah aku lakukan denganMu. 

Aku kirimkan surat ini dengan rasa syukur dan terus memuji namaMu yang begitu agung. 

Tuhan.. sudikah jika aku terus mengirimkan surat kepadaMu? MalaikatMu mungkin akan terus kewalahan mengantarkan suratku yang selalu penuh dengan keluhan, tapi bolehkah aku terus mengirimkannya? 


Ingatlah Tuhan menjawab doamu dengan 3 cara: 
-Ya, kuberi sekarang 
-Tunggu, aku ingin lihat lagi usahamu 
-Tidak, Kupunya yang lebih baik.

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...