Apakah IPK itu penting?
Di awal masa perkuliahan, saya cukup menggebu untuk bisa meraih nilai maksimal dan berpikir ini adalah kesempatan terakhir untuk bisa membanggakan orang tua setelah berulang kali membuat mereka kecewa.
Setelah berulang kali berpindah tempat kuliah dan empat kali mengecap menjadi mahasiswa baru (jika ada kesempatan, mungkin saya akan menceritakannya di tulisan yang lain), saya menyadari bahwa hampir semua mahasiswa baru punya mimpi agar bisa mendapat IPK tinggi. Mimpi itu tidak dibangun dengan asal karena faktanya mahasiswa-mahasiswa baru tersebut bisa jadi merupakan anak-anak terbaik dan berprestasi semasa sekolahnya. Sayangnya, anak-anak itu harus menerima fakta bahwa mereka tidak selamanya bisa menjadi yang terbaik.
Di semester pertama perkuliahan, tidak perlu kaget jika mendapati teman Anda dengan mudahnya bisa mendapatkan IP 4 ataupun 3.9. Percayalah hal tersebut sangat lumrah. Saat itu, saya yang punya mimpi untuk bisa mendapatkan IPK tinggi harus merasa kecewa karena tidak masuk dalam jajaran orang yang ber-IP sempurna. Namun, kekecewaan itu membuat saya merenungkan kembali alasan dibalik keinginan untuk mendapatkan IPK maksimal. Apakah murni karena ingin membanggakan orang tua atau karena adanya keinginan untuk mendapatkan pengakuan. Tenyata pikiran dangkal saya hanya berfokus pada 'pengakuan' dan mengatakan pasti ‘keren’ ya kalau bisa punya banyak pencapaian.
Menyadari ketidakmurnian itu, akhirnya saya melihat kembali kejadian-kejadian yang pernah saya alami sebelumnya.Saya pernah merasakan fase dimana sangat dielu-elukan atas pencapaian namun juga pernah diremehkan karena dianggap tidak cukup pintar. Hidup saya seperti roller coaster, dari sana saya sadar bahwa tidak ada gunanya menggebu-gebu ingin dipuji karena bisa jadi suatu hari kita justru dicaci.
Semenjak itu, ada kalimat yang selalu saya pegang hingga kelulusan, “Bukan IPK nya tetapi ilmunya, bukan organisasinya tetapi cara mengembangkan dirinya”. Kalimat itu menjadi pengingat tentang makna sebenarnya dari apa yang saya kerjakan selama perkuliahan. Kalimat itu pulalah yang meringankan langkah saya ketika ingin mencari ilmu. Karena fokus pada apa yang ingin dipelajari maka rasa ingin tahu terus terpupuk dalam diri sehingga rasa lelah pun bisa tertutupi.
“Tidak apa, terkadang kamu membuat kesalahan, begitu juga manusia lainnya. Yang terpenting kamu punya kendali untuk segera memperbaiki diri”.
Setelah meluruskan kembali niat, kalimat itu pada akhirnya mengantarkan saya kepada momen luar biasa. Momen dimana seorang mahasiswa yang awalnya pesimis dan menyerah untuk bisa berdiri sejajar dengan teman-temannya yang pintar akhirnya bisa membuat nama orang tuanya disebutkan saat wisuda.
Saat momen itu terjadi, saya menyadari bahwa gelar ini didapat bukan karena paling pintar melainkan karena mau belajar dari semua orang. Saya dikelilingi oleh teman-teman yang luar biasa dan beruntungnya lagi, orang-orang luar biasa tersebut bersedia mengajari saya.
Di momen itu saya menyadari hal penting yang disebut kerendahan hati. Ketika kamu ingin belajar dari orang lain maka kamu harus punya kerendahan hati untuk mengakui ilmu kamu belum cukup banyak. Salah satu keyakinan yang saya pegang adalah bahwa ilmu itu sebenarnya sangat sulit untuk bisa dicuri secara utuh, jadi jangan pernah takut untuk berbagi ilmu dengan orang lain karena merasa takut tersaingi. Bahkan ketika kamu memutuskan berbagi ilmu tanpa kamu sadari kamu bisa mendapatkan wadah untuk berdiskusi. Keyakinan itu juga berlaku ketika saya mencoba untuk mendapatkan ilmu dari orang lain, saya sadar bahwa hanya sepersekian persen ilmu yang bisa saya ambil dari mereka jadi ketika kamu ingin bisa sama seperti mereka kamu harus berlatih lebih banyak, membaca lebih banyak, bertanya lebih banyak dan bekerja lebih keras di banding orang lainnya.
IPK bagi saya adalah bonus dari kerja keras. Yang lebih penting daripada IPK adalah ‘ilmunya’, yang saya maksud dengan ilmu bukan hanya tentang apa yang dipelajari di kelas tetapi juga bagaimana kamu bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan. Karena punya perasaan bertanggung jawab maka kamu berusaha untuk mengerjakan sesuatu semaksimal mungkin. Walaupun sulit sekalipun, kamu akan rela memikul kesulitan itu. Bicara tentang IPK, seperti membicarakan sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja sementara jika kita meluaskan area pandang, kita akan menemukan orang-orang yang mungkin tidak punya IPK tinggi tetapi menyimpan kelebihan lain yang tidak kita miliki. Tugas kita adalah melihat kelebihan itu dan dengan rendah hati mau belajar dari mereka.
Dari semua yang disebutkan sebelumnya, ada satu hal pasti yang selalu menjadi penentu utama kisah hidup kita yaitu kekuatan Sang Pencipta. Saya bukanlah orang religius yang punya pengetahuan luas tentang agama, tetapi saya meyakini bahwa selalu ada faktor-faktor yang terkadang tidak bisa kita jangkau. Jika dipikir kembali, bagaimana mungkin saya yang pernah dianggap tidak cukup pintar ini bisa mendapatkan gelar tersebut. Jika bukan Tuhan yang menggerakkan hati orang-orang disekitar saya untuk membantu, bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan masalah-masalah. Jika Tuhan tidak menggerakkan hati dosen-dosen untuk menyadari kerja keras saya, bagaimana mungkin saya bisa mendapatkan nilai maksimal? Oleh karena itu, saya meyakini Tuhan selalu punya skenario terbaik untuk kita, skenario itu tidak selalu menghasilkan tawa, terkadang butuh konflik agar ceritanya menjadi menarik.

No comments:
Post a Comment