Saturday, June 27, 2020

Melihat Lebih Dalam 5 Karakter Drama Mr.Sunshine


Sejujurnya drama ini sudah lama masuk dalam list drama yang ingin saya tonton namun karena suatu kondisi saya sempat memutuskan untuk menunda menontonnya. Saya berusaha mengontrol kemungkinan munculnya rasa ketagihan pada saat yang tidak tepat. Drama ini adalah drama pertama yang rela saya download satu persatu setelah sekian lama. Sempat muncul keraguan dalam diri saya untuk menonton drama ini, 24 episode tentunya tergolong jumlah yang banyak dibandingkan drama Korea lainnya yang saat ini tayang, tetapi tanpa diduga-duga saya justru ketagihan untuk melihat akhir cerita drama ini.

Ini adalah proyek ketiga kolaborasi antara penulis Kim Eun Soek dan sutradara Lee Eung Bok. Melihat rentetan kesuksesan drama sebelumnya, mulai dari Descendant of The Sun hingga Goblin, drama ini sejak awal telah diprediksi akan memberikan jaminan kualitas untuk para penonton.

Ada banyak aspek yang sebenarnya bisa dibahas namun kali ini saya akan lebih berfokus pada tokoh dalam drama ini. Jika kita perhatikan pada poster perilisannya, ada lima tokoh utama dalam drama ini. Mereka adalah Go Ae Shin, Eugene Choi, Gu Dong Mae, Kim Hui-seong, dan Kudo Hina.


Go Ae Shin ( Kim Tae Ri ) adalah seorang putri dari keluarga bangsawan Joseon-Korea. Ia adalah perempuan aristrokat yang sangat disayang oleh rakyat jelata karena kebaikan hatinya. Ae Shin tumbuh dari keluarga terhormat yang selalu membantu rakyat. Kakeknya merupakan guru Raja Joseon dan tokoh yang sangat dihormati di kalangan cendekiawan.

"Bersikaplah elegan dan pantas. Cari suami yang baik dan hidup sebagai bunga di bawah asuhannya", kata kakek Ae Shin.( Episode 2 )

Sayangnya, permintaan itu bukanlah hal yang mudah dikabulkan oleh Ae Shin. Ketertarikannya kepada budaya luar menjadikan kakeknya khawatir. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, kakeknya tidak ingin Ae Shin bergerak terlalu jauh mengikuti ayah dan pamannya yang berjuang untuk kebebasan Joseon-Korea. Namun, setelah melihat keteguhan hati Ae Shin. pada akhirnya sang kakek menyerah, ia membiarkan bahkan memfasilitasi Ae Shin untuk belajar menembak. Sang kakek berpendapat, jika Ae Shin memang ingin menjadi seorang pejuang, setidaknya ia harus mampu melindungi dirinya sendiri.

"Nona hanyalah bangsawan bodoh yang hidup mewah", kata Gu Dong Mae. ( Episode 4 )
"Negara yang ingin kau lindungi ini. Untuk siapa? Adakah kehidupan untuk jagal? Adakah kehidupan untuk budak? Apakah ada tempat untuk jagal dan pelayan di negara yang nona perjuangkan?", tanya Eugene. ( Episode 10 )

Kedua tokoh lelaki tersebut mempertanyakan keputusan Ae Shin memperjuangkan Joseon. Mereka secara gamblang ingin menyadarkan Ae Shin mengenai realita bahwa ia hanyalah seorang aristrokat yang tidak pernah mengalami penderitaan dan penghinaan. Walaupun Ae Shin mencoba menyangkalnya, sesungguhnya selama dia berjuang, ia tidak pernah menanggalkan harga diri dan martabatnya sebagai seorang bangsawaan dan nyatanya tanpa ia sadari status sosial itu pulalah yang menjadi payung pelindungnya. 

"Aku mengira diriku berbeda dari bangsawan lain. Tapi ternyata tidak. Tujuanku berjuang tampak ironis. Aku tetaplah gadis bangsawan manja yang belum mampu keluar dari tandunya". ( Episode 11 )

Kata-kata mereka membuat perkembangan karakter Ae Shin mulai terlihat, Ae Shin semakin memantapkan hatinya untuk membela Joseon. Kita akan melihat tokoh Ae Shin yang selama ini berjuang karena harga dirinya sebagai seorang wanita bangsawan yang terdidik menjadi seorang gadis yang mampu mengorbankan cintanya untuk negara.

"Aku berharap untuk menjadi api. Saat berada di lapangan, aku selalu memikirkan beban kematian...tapi aku akan terbakar terang lalu meredup. Seperti api". ( Episode 9 )

Jika kita mendengar seorang bangsawana buta huruf, tentunya itu sangat memalukan, dan mirisnya Go Ae Shin tidak bisa bahasa Inggris sementara anak dari kalangan rakyat punya kesempatan belajar bahasa Inggris di sekolah. Seorang keluarga bangsawan tidak boleh belajar di sekolah rakyat dan Ae Shin berusaha mendobrak aturan tersebut untuk bisa belajar bahasa Inggris. Kata pertama yang ia ketahui adalah love, dan kata itulah yang mengantarkan jalinan kasihnya dengan Eugene. Kesalahpahaman Ae Shin mengenai arti love menjadi awal hubungannya dengan Eugene, pencarian arti kata love meninggalkan kesan lucu sekaligus romantis di antara mereka berdua.

"Dia cukup kejam. Dimana posisiku diantara hasrat dan kekejamannya? Aku mengira sudah dekat, ternyata aku harus menyusuri lebih dalam. Selangkah lagi mendekati api itu", kata Eugene. ( Episode 20 )


Eugene menganggap Ae Shin adalah wanita yang kejam karena ia rela membela negara dan mengorbankan cinta diantara mereka. Ae Shin sangat menyadari bahwa berulang kali ia harus menyakiti hati Eugene demi negaranya, namun di lubuk hati Ae Shin ia sangat menderita karena mengetahui kisah cintanya tidak mudah untuk dilalui. Ada banyak perbedaan diantara mereka berdua, wanita bangsawan Joseon dan tentara Amerika yang dahulunya budak, strata sosial dan negara yang mereka bela menjadikan jurang pemisah diantara mereka. Walaupun harus melewati banyak masalah dan terkesan menomorduakan cinta, Ae Shin selalu menempatkan Eugene di hatinya yang paling dalam. Ae Shin adalah wanita yang kuat, ia telah bertransformasi dari seorang gadis bangsawan yang dianggap bodoh dan manja menjadi pejuang tangguh bagi Joseon. Meskipun harus berulang kali kehilangan orang-orang yang ia sayangi, ia bersikukuh memperjuangkan kebebasan Joseon-Korea.

"Apakah kau masih berjuang melindungi Joseon? Semoga begitu. Go Ae Shin adalah wanita yang bersemangat. Dan Go Ae Shin adalah wanita yang sangat aku cintai", kata Eugene. ( Episode 24 )


Eugene Choi ( Lee Byung Hun ) terlahir sebagai seorang anak dari kelas budak di Joseon-Korea. Ia kabur ke Amerika setelah ibunya bunuh diri dan ayahnya dibunuh di hadapannya. Ia pergi ke Amerika dengan bantuan seorang misionari. Namanya diubah dari Choi Yoo Jin menjadi Eugene yang berarti agung dan mulia. Setelah 30 tahun, ia kembali ke Joseon sebagai seorang konsultan legasi Amerika sekaligus Kapten Korps Marinir Amerika. 

"I may have been born in Joseon but my homeland is America. Joseon has never take me in". (Episode 1)

Eugene bersikukuh bahwa dia adalah orang Amerika walaupun darah Joseon mengalir di tubuhnya, baginya Joseon telah membuangnya karena tidak ada tempat yang layak bagi seseorang dari kelas budak di Joseon. Sebagai seorang tentara Amerika yang terlahir sebagai rakyat Joseon, keberadaan Eugene mendapat perhatian dari orang banyak. Ia seringkali terjebak di antara kedua negara.

"Saat situasi kacau, Amerika akan bilang dia dari Joseon sementara Joseon akan bilang dia orang Amerika. Dia tidak lebih dari orang asing yang kesepian", begitulah pandangan Hina Kudo kepada Eugene. (Episode 10)

Sekembalinya ke Joseon, dendam masa lalu mulai menghantui Eugene, ia mencari kelurga bangsawan yang telah menyebabkan kedua orang tuanya meninggal. Bahkan dendam itu pulalah yang semula menjadi alasan bagi Eugene untuk menerima tawaran love dari Ae Shin. Ia menerima tawaran itu untuk menghancurkan keluarga tunangan Ae Shin.

"Aku punya dua pilihan. Aku bisa membawa Joseon menuju kehancurannya atau mengulur kehancurannya lebih lama". (Episode 8)

Kita akan melihat karakter Eugene yang secara diam-diam membantu Korea di balik seragam Amerikanya. Awalnya, dia beralasan tidak membantu Joseon dan yang dia lakukan hanya menunda kehancuran Josen. Namun, pertemuannya dengan Go Ae Sin terus membuka jalannya untuk berpihak pada Joseon. Bahkan setelah dia dipaksa menanggalkan seragam tentaranya, ia tetap kembali ke Joseon dan ikut berjuang bersama Ae Shin. Walaupun sampai akhir ia mengaku sebagai seorang Amerika, pada kenyataannya Eugene selalu menjadi penyelamat ketika Joseon berada dalam kondisi genting.

"Saat aku di Joseon, aku seorang budak. Joseon adalah negara yang membunuh orang tuaku. Negara yang kutinggalkan. Karena itulah aku ingin menghancurkannya, meninggalkannya dan kembali ke tanah airku di Amerika. Namun, aku bertemu seorang wanita. Dia sering membuatku bimbang". ( Episode 10 )

Eugene adalah seorang tentara Amerika yang mampu membuat rencana taktis. Sebagai seorang tentara Amerika yang telah terlatih di medan pertempuran, dia selalu punya cara cerdas untuk keluar dari situasi-situasi yang tidak diinginkan. Ia sangat sadar, keberadaannya sebagai orang berkewarganegaaraan Amerika membuatnya punya kekuatan untuk melindungi Ae Shin.


"Jangan menangis. Ini adalah sejarahku dan kisah cintaku. Karena itu aku harus pergi. Aku harap kau menang. Kau harus melangkah maju. Aku akan melangkah mundur".
"Setiap langkah bersamamu sangat berarti bagiku. Setiap momen bersamamu bagaikan piknik bagiku". ( Episode 24 )

Kisah cintanya dengan Ae Shin tidaklah mudah, ia berulang kali mendapati bahwa ia tidak akan bisa memiliki Ae Shin sepenuhnya karena terkadang Ae Shin cukup kejam untuk lebih memilih Joseon dibanding hubungan mereka. Namun, Eugene selalu memastikan agar Ae Shin tidak terluka. Ia melindungi dan mendampingi Ae Shin mewujudkan ambisinya untuk membebaskan Joseon sampai akhir.


Gu Dong Mae ( Yoo Yoon Soek ) adalah seorang anak dari kelas jagal di Joseon-Korea. Ia menjelma menjadi seorang pemimpin perkumpulan Musin Joseon, ia menanggalkan identitasnya sebagai orang Korea dan mengabdi untuk Jepang. Pertalian nasibnya dengan Ae Shin diawali dengan pertemuannya saat masih kecil. Ae Shin menolong Gu Dong Mae yang bersembunyi karena takut dipukuli akibat statusnya sebagai seorang jagal. Saat itu, Ae Shin memperbolehkan Gu Dong Mae untuk bersembunyi di tandu bersama dengannya. 

Karakternya nampak begitu dingin namun ia berusaha melindungi Ae Shin dengan caranya sendiri. Ada rasa cinta yang mungkin tidak bisa diutarakan dengan kesan manis olehnya. Cara termanis yang bisa dilakukan Gu Dong Mae adalah dengan membuat Ae Shin harus membayar hutang kepadanya setiap bulan, sekeping koin yang menjadikan Ae Shin harus menemui Gu Dong Mae setiap bulannya. Bagi Gu Dong Mae, sekeping koin itu mampu menjadi alasan baginya untuk bisa melihat Ae Shin.


"Tiga bulan kemudian, bayarlah secara langsung. Aku harus melihat Nona untuk memastikan Nona masih hidup". ( Episode 21 )

Betapa besar Gu Dong Mae mengkhawatirkan Ae Shin namun ia tidak bisa menunjukkan perasaanya yang sebenarnya dengan jujur di hadapan Ae Shin. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya dan lebih memilih menjadi tokoh jahat di depan Ae Shin. Ia bersikap jahat dengan mengatakan Ae Shin hanya seorang bangsawan yang bodoh dan manja, selain itu ia memotong rambut Ae Shin untuk mempermalukannya di depan umum. Semua itu ia lakukan agar Ae Shin berhenti membahayakan diri sendiri dan berhenti menjadi bagian dari pasukan Kebenaran. Bagi Gu Dong Mae akan lebih baik jika Ae Shin tidak melakukan apa-apa, ia cukup menjadi perempuan aristrokat sebagaimana mestinya dengan begitu ia tidak akan tertimpa bahaya.

"Aku meminta Nona tidak berbuat apapun. Jangan bersekolah. Jangan belajar bahasa Barat. Jangan terlibat. Jangan mempertanyakan dunia ini...Aku ingin menjadi pria berguna untuk Nona mulai sekarang. Aku tahu tidak boleh tapi aku tidak peduli meski seisi dunia memusuhiku. Meski harus kujadikan Nona musuhku". ( Episode 18 )

Gu Dong Mae menyadari bahwa dia telah menyakiti Ae Shin dengan kalimat yang ia sebutkan saat pertama kali bertemu di masa lalu. Ia merasa sedih karena kata-kata itu telah melukai perasaan Ae Shin namun baginya tidak apa-apa jika Ae Shin membencinya, setidaknya ia pernah menjadi orang yang diingat dalam memori Ae Shin, begitu pikirnya. Karena perbuatannya, Gu Dong Mae sering disalahpahami menjadi orang jahat padahal dibalik itu semua, ia hanyalah seorang anak dari keturunan jagal yang berusaha mempertahankan hidup dan sangat mencintai Ae Shin.

" Label bangsawan bodoh dan manja itu. Tahukah kau betapa itu sangat menghantuiku?", kata Ae Shin. ( Episode 24 )
" Jadi, aku ini pecundang. Aku berharap Nona akan melupakannya, tapi mendengar Nona sangat tersakiti karenanya, membuatku berpikir, andai aku bisa dikenang walau hanya sebentar dalam hidup Nona, kurasa sudah cukup bagiku". ( Episode 24 )

Itulah kata-kata terakhir Gu Dong Mae sebelum ia meninggal. Ia tetap mengkhawatirkan Ae Shin sampai akhir.


Pertemuan pertama Kim Hui-seong ( Byun Yo Han ) dengan Ae Sin membuat Hui-seong menyesal mengapa baru menemui tunangannya itu setelah 10 tahun. Hui-seong adalah cucu dari keluarga terkaya di Joseon, namun ia harus menerima imbas dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan kakek dan orang tuanya. Ia merasa hidupnya adalah karma dari perbuatan buruk keluarganya. Saat pertama kali bertemu, ia mengatakan bahwa Ae Shin seperti bunga sebagai sebuah ungkapan pujian dan pertanda cinta pada pandangan pertama. Namun, Ae Shin justru tidak menyukai pujian itu, kata bunga menjadikannya teringat akan takdirnya sebagai seorang wanita bangsawan yang seharusnya hidup layaknya bunga.


"Kau seperti yang aku bayangkan, orang lemah berkulit pucat dan rapuh", kata Ae Shin ketika pertama kali bertemu Hui-seong. ( Episode 5 )

Hui-seong adalah sosok lelaki flamboyan di Joseon, ia selalu dikelilingi wanita karena karakternya yang terlihat santai dan ramah. Hui-seong digambarkan sebagai tokoh yang nampak begitu bahagia namun memiliki sisi menyedihkannya di dalam dirinya, 'rapuh' adalah kata yang tepat untuk Hui-seong. Sepanjang hidupnya, Hui-seong selalu dihantui perasaan bersalah dan merasa kesepian karena ia ikut menerima kebencian akibat perbuatan buruk orang tua dan kakeknya di masa lalu. 

"Kau seorang pria. Kau tidak punya ambisi?", tanya Ae Shin.
"Aku selalu menyukai hal-hal yang dianggap tidak berguna. Bulan, bintang, bunga, dan angin. Tawa dan lelucon", jawab Hui-seong. ( Episode 9 )

Dunia Hui-seong tidak cukup luas bagi Ae Shin. Di mata Ae Shin, Hui-seong bukanlah lelaki yang bisa menjadi teman perjuangan yang kuat untuknya. Ae Shin menginginkan pasangan yang bisa memenuhi ambisinya untuk melindungi Joseon dan ia telah menemukan sosok yang dirasa tepat, yaitu Eugene. 
Ketika Ae Shin meminta memutuskan pertunangan mereka, Hui-seong menolak karena ia telah jatuh cinta pada Ae Shin. Hui-seong tahu ada lelaki lain yang telah tinggal di hati Ae Shin namun ia berusaha agar bisa tetap berada di sisi Ae Shin. Ia menawarkan agar Ae Shin berlindung kepadanya dan membiarkan dirinya menjadi bayangan Ae Shin, ia bersedia menjadi alat agar Ae Shin bisa menutupi identitasnya yang sesungguhnya. 

"Biarkan aku tetap menjadi tunanganmu. Entah kau memakai setelanku untuk membela negara atau dijual aku akan menjadi bayang-bayangmu. Jika, situasi menjadi berbahaya, lari kepaku dan bersembunyi". ( Episode 11 )

Namun, pada akhirnya Hui-seong harus mengakui bahwa ia harus melepaskan Ae Shin, betapapun besar rasa cintanya untuk Ae Shin, ia harus merelakannya. Hui-seong bisa saja bersikukuh untuk menikahi Ae Shin, ia cukup menjadi egois kemudian memaksa Ae Shin menikah dengannya namun Hui-seong lebih memilih mengorbankan perasaannya demi Ae Shin.


"Ada dua cara untuk melihat bunga. Entah menaruhnya di dalam vas atau ditanam di taman agar selalu bisa melihatnya. Aku memilih untuk melakukan cara kedua".( Episode 16 )

Begitulah kata-kata Hui-seong saat ia dengan berat hati harus merelakan Ae Shin. 

Salah satu cara yang dilakukan Hui-seong untuk mendukung perjuangan Ae Shin setelah pertunangannya kandas adalah dengan membuka kantor penerbit, ia berusaha menceritakan perjuangan pasukan Kebenaran melalui tulisannya. Selain itu, ia juga mendokumentasikan kejadian yang terjadi selama masa buruk di Joseon, foto-foto itulah yang kelak akan menjadi bukti sejarah perjuangan Joseon-Korea.

"Wahai 20 juta rakyat Korea. Aku tahu kalian ketakutan, tapi kita harus melawan. Seperti guntur dan badai". ( Episode 24 )

Hui-seong berusaha membakar semangat rakyat Joseon melalui kata-kata, ia membuktikan kepada Ae Shin bahwa kata-kata juga memiliki kekuatan. Hui-seong yang semula tidak tahu tujuan hidupnya, meneguhkan hati untuk ikut membela Joseon dan menjaga daftar nama rahasia pasukan Kebenaran sampai akhir.


Hina Kudo ( Kim Min Jung ) adalah seorang janda kaya Joseon yang pernah menikah dengan orang Jepang. Ia memiliki nama asli Lee Yang-hwa. Setelah menjanda, ia menjadi pemilik Hotel Glory. Tamu yang tinggal di Hotel Glory berasal dari multikultur dan di hotel inilah takdir tiga orang tokoh utama laki-laki saling terkait. Sebagai pemilik Hotel Glory, Hina mengetahui banyak rahasia milik tamu hotelnya. Hina Kudo berperan penting sebagai tokoh yang secara tidak langsung membantu rangkaian hubungan empat pemeran lainnya. Ia adalah karakter pemerhati yang membantu penulis menceritakan kisah dibalik tokoh-tokoh lainnya. Hina adalah sosok janda yang nampak kesepian namun memiliki pesona dan kecantikan yang luar biasa. Selain itu, ia bisa menjelma menjadi sosok yang tangguh dengan pedang anggarnya sekaligus sosok yang tetap menjaga citra elegan dalam dirinya.

"Orang barat suka dengan janda. Mereka pikir kami seperti tokoh utama dalam kisah sedih". ( Episode 4 )

Hina Kudo digambarkan sebagai tokoh yang malang, ia adalah sosok yang selalu terlihat kesepian. Kenyataan bahwa ia memiliki ayah seorang pengkhianat dan telah kehilangan ibu menjadikannya tidak memiliki tempat untuk bersandar, ia berusaha berjuang sendirian dan menyangkal rasa kesepiannya. Satu-satunya sosok yang bisa menjadi teman saat ia kesepian hanyalah Gu Do Mae. Gu Do Mae selalu setia menggendong Hina Kudo di punggungnya untuk menghibur Hina yang sedang sedih. 

"Hal-hal kosong selalu mahal dan manis".( Episode 9 )

Hina mencoba menyindir Ae Shin yang memberikan harapan kosong kepada ketiga tokoh utama laki-laki. Ia cemburu pada sosok Ae Shin yang telah memikat ketiganya. Kecemburuan itu terjadi karena Hina menganggap Eugene adalah sosok spesial, namun ia sadar bagaimana cara Eugene menatap Ae Shin adalah pertanda cinta. Bahkan ketika Hina telah merelakan cintanya kepada Eugene dan menempatkan Gu Dong Mae dihatinya, ia harus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan untuk kedua kalinya karena hanya ada Ae Shin di hati Gu Dong Mae.


"Menangislah sepuasmu hari ini supaya bisa memulai dengan impian baru besok. Lupakanlah kehidupan Lee Yang-hwa dan berhenti hidup sebagai Hina Kudo. Bawa alat rias di tasmu daripada senjata. Di kamarmu gantung lukisan indah daripada pedang anggarmu. Temui pria yang baik. Jangan menangis dan jangan menggigit. Bermimpilah menjalani hidup normal", kata Gu Dong Mae. ( Episode 21, 24 )

Kata-kata Gu Dong Mae itulah yang memberikan harapan baru untuk Hina dan membuatnya jatuh hati pada Gu Dong Mae semenjak itu.

Hina Kudo ikut berperan dalam melindungi Joseon. Walaupun ia telah menjadi orang Jepang karena pernikahannya, ia secara rahasia telah menjadi orang yang memiliki hubungan dekat dengan kerajaan. Hina berulang kali menjadi penyambung lidah antara raja dan Eugene. Ia secara rahasia berperan sebagai informan bagi raja. Peran Hina inilah yang menjadikannya bisa membantu para tokoh utama lainnya. Ia bahkan rela memberikan nyawanya untuk membantu kebebasan Joseon.

Bonus pict :



Saturday, June 13, 2020

The First 20 Hours-How to Learn Anything


Salah satu video Tedx favorit saya adalah penampilan Josh Kaufman, seorang author buku berjudul The First 20 Hours-How to Learn Anything. Ia membuka penampilannya dengan menceritakan keresahannya sebagai ayah dari seorang anak berusia dua tahun. Menjadi orang tua mengubah hidupnya, " I am never going to have free time again ", begitu katanya. Ia mengaku sebagai 'geek' yang selalu ingin mempelajari hal baru namun, menjadi seorang ayah membuatnya sadar bahwa ia tidak akan punya banyak waktu untuk memenuhi hasratnya mempelajari hal baru. 

" How long does it take to acquire a new skill?"

Kita selalu penasaran berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari keahlian baru, keresahan itulah yang membuat Josh Kaufman memulai risetnya. Mungkin sebagian dari kita sudah sering mendengar bahwa butuh 10.000 jam bagi seseorang untuk mempelajari hal baru, tren mengenai 10.000 jam ini sudah banyak digaungkan di banyak buku, website maupun oleh para pembicara. 

"Tetapi, apakah benar kita harus menghabiskan waktu 10.000 jam untuk mempelajari hal baru?"

Tentunya sebagian orang juga pernah berpikiran yang sama seperti Josh Kaufman yang merasa bahwa 10.000 jam adalah waktu yang dirasa begitu panjang sementara mereka bahkan tidak punya banyak waktu luang. Menghabiskan waktu 10.000 jam sama dengan full time job selama 5 tahun, apakah selama itukah kita baru mampu menguasai keahlian baru? 

Darimanakah teori 10.000 jam ini berasal?

Teori 10.000 jam ini pada awalnya dikeluarkan oleh seorang profesor dari Florida State University yang bernama K. Anders Ericsson. Ia melakukan riset terhadap atlet, musisi kelas dunia dan chess grand masters. Ericcson mencoba meneliti berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka agar dapat menjadi seorang ahli di bidang masing-masing. Berdasarkan penelitiannya, ia menemukan bahwa semakin banyak waktu yang mereka habiskan untuk berlatih maka semakin banyak pula keahlian mereka meningkat. 

Professor Ericsson pada awalnya menyebutkan bahwa jika kita ingin mencapai expert-level performance maka kita harus menghabiskan waktu 10.000 jam namun mengapa teori tersebut berubah makna menjadi jika kita ingin mempelajari hal baru maka kita harus menghabiskan waktu 10.000 jam? Ada pergeseran makna yang besar dalam teori ini. Josh Kaufman menganalogikan hal ini sebagai "the game of telephone". Perubahan makna ini diawali ketika Malcolm Gladwell mengeluarkan sebuah buku berjudul Outliers :The Story of Success pada tahun 2007. Dalam buku tersebut, teori 10.000 jam menjadi topik utama. Pada saat perilisannya buku tersebut menjadi best seller selama 3 bulan dan tentunya teori 10.000 jam ini mulai tersebar. Society-wide game of telphone yang dikatakan oleh Josh Kaufman pun terjadi. Ketika pada awalnya dengan 10.000 jam kita mampu mencapai expert-level performance berubah menjadi kita hanya mampu mencapai good-level performance dan pada akhirnya hanya mampu mencapai level learn something. Tentunya, pernyataan terakhir adalah sebuah teori yang tidak benar. Lalu berapa lama waktu yang sebenarnya dibutuhkan untuk mempelajari hal baru? 

Pada saat penampilannya, Josh Kaufman mencoba menjelaskan teorinya melalui sebuah grafik yang menunjukkan hubungan antara lama waktu berlatih dengan performa seseorang (waktu). 


Berdasarkan riset yang telah dia lakukan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa ketika seseorang dengan masa pelatihan yang masih sedikit membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya, sementara ketika dia berlatih lebih lama, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan menjadi semakin singkat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang telah berlatih dalam jangka waktu yang lama maka semakin efektif dia dalam menyelesaikan pekerjaannya. 

Namun, ketika kita ingin mempelajari sebuah keahlian, kita tidak terlalu peduli dengan waktu, yang kita pedulikan adalah seberapa 'bagus' performa kita. Jadi, kita akan melihat kurva baru yang menunjukkan bahwa ketika kita mempelajari hal baru, sebenarnya kita mengalami sebuah peningkatan keahlian yang sangat cepat hingga kita mencapai titik plateau (stabil).



Lalu pertanyaannya adalah how long does it take from starting something and being grossy incompetent and knowing it to being reasonably good? Josh Kaufman memberikan jawaban bahwa kita hanya butuh 20 jam untuk mempelajari hal baru. Jadi, kita hanya membutuhkan waktu setidaknya  45 menit per hari dalam sebulan. Ada empat metode yang ditawarkan Josh Kaufman untuk mampu menguasai keahlian baru dalam waktu 20 jam.

1. Deconstruct the skill
Kita harus mampu menjabarkan dengan jelas keahlian yang ingin kita kuasai. Tanpa kita sadari, sebuah keahlian sebenarnya merupakan gabungan dari banyak keahlian yang berbeda-beda. Oleh karena itu dengan menjabarkannya secara terperinci menjadikan kita lebih mudah dalam memutuskan keahian apa yang sebenarnya membantu kita dalam menguasai sesuatu. Kita akan mampu lebih cepat menguasai sebuah keahlian ketika kita mempelajari keahlian 'utama' terlebih dahulu.

2. Learn enough to self-correct
Cari berbagai referensi yang bisa memberikan perbandingan agar kita mampu mengoreksi kesalahan yang kita lakukan. Namun, jangan menjadikannya alasan untuk melakukan penundaan. " Saya akan mulai belajar melakukan pemrogram komputer setelah selesai membaca 20 buku ini ", kalimat seperti itu adalah contoh alasan penundaan yang sering kita lakukan. Oleh karena itu, belajarlah sedikit demi sedikit kemudian praktikan, setelah itu lakukan koreksi. Terkadang proses pembelajaran itu terjadi ketika kita menemukan kesalahan dan berusaha mengoreksinya.

3. Remove practice barriers
Jauhkan hal-hal yang bisa mengganggu, seperti televisi, internet, dll. Ketika kita mampu menjauhkan diri dari hal-hal yang mengganggu maka konsentrasi kita akan lebih tinggi untuk mempelajari hal baru.

4. Practice at least 20 hours
Berlatihlah setidaknya 20 jam untuk menguasai keahlian baru.

Dari keempat metode tersebut, ada sebuah penghalang besar yang dimiliki setiap orang. Josh Kaufman menyebutnya sebagai a frustration barrier, situasi dimana kita merasa bodoh-kita tahu kenyataannya-namun sulit untuk mengakuinya. Kita semua tidak ingin merasa menjadi orang bodoh dan hal tersebut menjadikan kita tidak mau menghabiskan banyak waktu untuk duduk dan belajar.

" The major barrier to learn something new is not intellectual, it's not the process of you learning a bunch of little tips or tricks or things. The major barrier's emotional ".

Josh Kaufman mengatakan bahwa kita tidak mau belajar hal baru karena kita takut. Kita takut merasa menjadi orang bodoh. Perasaan bodoh yang kita rasakan saat mulai belajar sesuatu menjadikan kita enggan untuk memulai. Tentu semua orang tidak nyaman ketika merasa bodoh namun dengan menghabiskan waktu setidaknya 20 jam tanpa kita sadari kita telah menghapus sedikit demi sedikit ketakutan itu.

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...