Kuucapkan salam bagi diriku yang akan memasuki umur 20. Aku tahu, akan semakin banyak kata harus dan seharusnya di hari-hari berikutnya. Bahkan mungkin semakin banyak penyesalan dan rasa sakit yang menunggu disana. Menjadi dewasa ternyata tidak seindah yang ku kira dan sudah cukup lama aku mempertanyakan ini semua. Aku adalah si pengecut yang terlambat menjadi dewasa. Ingin rasanya berlari dan bersembunyi dari ini semua. Entah mengapa, fase ini terasa semakin menakutkan. Ada begitu banyak penyesalan di belakang dan begitu banyak kesalahan yang terpikirkan. Lucu, di umur sekarang aku justru kehilangan patokan. Ada begitu banyak pertanyaan yang harus di jawab, “Apakah yang saya lakukan benar?”, “Apakah ini sebuah kesalahan?”, “Mengapa semua ini terjadi?”,”Mengapa semuanya terasa begitu sulit?”.
Ternyata menjadi dewasa tidak semudah itu. Sepuluh tahun yang lalu, aku begitu memimpikan agar cepat tumbuh dan menjadi dewasa, begitu indahnya jika bisa menjadi orang dewasa yang tampak keren dan berwibawa. Ternyata dunia tidak seideal yang aku kira. Aku naif? Iya. Lalu apakah salah menjadi naïf sekaligus idealis? Banyak orang mengatakan bahwa kita tidak boleh terlalu idealis, kalimat itu menusuk-nusuk hati ku. Idealis sama dengan kaku kata mereka, kaku berarti akan begitu mudah patah, begitu mudah terluka. Aku adalah salah satu orang yang pernah mengagungkan keidealisan itu, percaya bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Bukankah itu mudah? Kita hanya perlu mengikuti aturan yang ada. Namun, umur membuatku mempertanyakan konsep ideal itu sendiri. Ternyata tidak ada yang hitam maupun putih semua adalah abu-abu. Bolehkah aku kecewa akan ini semua? Tidak ada yang salah maupun benar, aku muak pada konsep itu.
Aku butuh sekat agar bisa mengkotak-kotakkan masalah pada tempatnya. Aku butuh batasan yang jelas antara apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Tapi, pada suatu waktu, aku justru menjadi lelah dengan keidealan yang aku buat. Semua menjadi rantai yang membelenggu, seakan semua yang aku lakukan adalah kesalahan, selalu tidak sesuai dengan yang diinginkan, selalu menjadi tidak puas dan rakus. Akhirnya, aku memutuskan menjadi orang yang bebas, menjalani hidup sesuai keinginan, tanpa beban. Tetapi, aku tidak pernah benar-benar bebas, sejujurnya aku mencoba berlari. Ya, aku berlari dari tanggung jawab. Aku pengecut? Iya. Hidup tanpa beban bagiku adalah sebuah pelarian yang semakin menyakitkan. Kebebasan adalah semu. Aku tidak pernah benar-benar bebas, ingin rasanya bisa hidup untuk diri sendiri, tetapi nyatanya aku selalu hidup untuk orang lain. Berusaha menjadi sosok yang ideal di mata orang lain. Itu adalah kesalahan terbesar disepanjang umurku . Melakukan apa yang ingin dilakukan tidak peduli dengan sekitar, semua itu terlalu mahal bagiku. Menjadikan pandangan orang lain sebagai patokan, membuat diriku menjadi lemah. Aku kehilangan diri sendiri. Lalu dimanakah diriku yang sebenarnya? Dimanakah dia selama ini bersembunyi? Kuharapkan aku akan bertemu di awal umur 20-ku.
Bintaro, 22 Januari 2016
Ini adalah keluh kesah anak manusia yang menanti umur 20.