Tuesday, July 28, 2020

Nasihat dari Seorang Sahabat

Seorang sahabat pernah berkata kepada saya, 
"Jika kamu melakukan sesuatu dengan hati bergembira, hasilnya pasti akan baik".

Kalimat itu telah saya pegang selama 3 tahun lamanya. Saat kalimat itu diucapkan, diri saya sedang kacau, jika Anda mendefinisikan kekacauan pikiran berbentuk kemarahan, hal itu berbeda untuk saya, kekacauan itu saya definisikan sebagai perasaan merasa baik-baik saja sementara orang lain lebih tahu bahwa Anda sedang berdiri di tepi jurang menikmati angin yang berhembus namun diam-diam berdoa angin itu akan mendorong Anda ke dalam akhir segalanya.

Ada nuansa positif yang tercipta dari kalimat tersebut, namun di sisi lain membawa kesan menusuk dalam hati saya saat itu. Sebagai sahabat, ia bisa menafsirkan apa yang saya lakukan sebelumnya, tidak berdasarkan perasaan bahagia. Tetapi, ini bukan romantisme makna bahagia ala melodrama, jangan membayangkan sosok protagonis yang tidak berdaya. Saat itu, saya justru antagonis yang sering bersikap seenaknya. Bahkan sekarang pun masih sama.

Saat itu, saya hanya menelan perkataan itu sembari berkata 'benar juga' di dalam hati. Saya bisa menerka permukaan makna dalam kalimat tersebut. Namun, setiap kali kalimat tersebut terlintas dalam pikiran saya, maka setiap kali itu pula saya membuka selapis demi lapis maknanya. Mengerjakan dengan hati bergembira tidak hanya soal kamu menyukai atau tidak menyukai apa yang kamu lakukan saat ini. Hati bergembira tidak bisa timbul seketika dari dua pilihan mutlak tersebut. 

"Awali dengan perasaan merdeka untuk melakukan kesalahan, hargailah peran semua orang di sekitar, tetaplah merasa tidak cukup pintar, berbahagia melihat pencapaian orang lain dan jadikan inspirasi ke depan, jika tidak berhasil maka berterimakasih kepada diri karena sudah mau berusaha, evaluasi diri dan segera perbaiki kesalahan". 

Kutipan tersebut, akan berpola sama dengan petuah-petuah kebaikan lainnya. Tetapi butuh banyak waktu bagi saya untuk memaknai dan konsisten menjalaninya. Saya pun tidak sempurna. 

Jika standar hasil baik yang kita gunakan adalah pencapaian nilai A, atau apresiasi dari sekitar tentunya standar tersebut keliru. Hati yang bergembira membuat kita mau bekerja sepenuhnya dan lebih keras dari orang lainnya. Tidak ada kalkulasi akurat mengenai untung rugi, yang terpenting ikhlas melakukannya. Lalu ketika menjalaninya apakah saya selalu dapat jaminan mendapat nilai A dan apresiasi dari lingkungan. Nyatanya tidak. Saya pun pernah merasa kecewa. Saya pun pernah diremehkan. Namun, ada sebuah momen di dalam kehidupan saya dimana saya sadar masih bisa merasa bahagia walaupun tidak mendapat nilai A atau apresiasi dari lingkungan. Bekerja dengan hati bergembira membuat kita menikmati prosesnya. Perasaan itulah hasil baik yang kita dapatkan. Nilai A atau apresiasi masyarakat adalah bonus dari keberuntungan. Hal tersebut kedengarannya begitu naif, tetapi saya memilih dicap naif daripada menjadi rakus dan tidak bahagia. 

Banyak orang mengatakan, hidup ini bukanlah lari jarak pendek. Kehidupan adalah maraton panjang, terkadang kita perlu melambat, terkadang pula kita cukup beruntung bisa menyusul. Seperti kalimat di tulisan-tulisan saya sebelumnya, kita hanya perlu bertahan dan berharap di perjalanan menemukan kebahagiaan.

Saturday, July 25, 2020

Teori Konspirasi Bill Gates dan Covid-19

Terhitung dari bulan Maret hingga tulisan ini dirilis, sudah 5 bulan Indonesia berjuang melawan Covid-19. Virus yang telah menjelma menjadi pandemi ini membuat dunia terguncang. Setiap harinya masyarakat dihadapkan dengan ketidakpastian. Bayang-bayang kematian dan kesulitan ekonomi adalah sebuah kolaborasi sempurna yang mengancam setiap lapisan masyarakat. Cara penanganan yang berubah-ubah menjadikan masyarakat semakin bingung. Buruknya, hal tersebut berujung pada penolakan masyarakat untuk percaya dan mematuhi anjuran pemerintah. Desas desus yang tidak benar, ditambah hoax yang bertebaran menjadi makanan yang begitu mudahnya di telan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut terjadi karena masyarakat tidak tahu harus mencari kebenaran mengenai pandemi ini dimana. Slogan #dirumahaja membuat waktu menjelajah internet semakin meningkat, berbagai macam teori konspirasi pun dengan mudahnya menyebar luas. Teori konspirasi hadir sebagai cerita menarik yang membuat setiap orang merasa paling pandai untuk menerka-nerka.

Di antara teori konspirasi tersebut, sosok Bill Gates berulang kali disangkut pautkan dengan pandemi ini. Video penampilannya di TED 5 tahun lalu yang berjudul The next outbreaks? We're not ready, membuat masyarakat menganggap Bill Gates adalah dalang dibalik wabah ini. Pengetahuan Bill Gates mengenai potensi pandemi virus yang akan terjadi membuat masyarakat curiga. Hal tersebutlah yang membuat saya penasaran untuk mengulik video TED milik Bill Gates tersebut. Hingga tulisan ini dibuat, tercatat sudah 30 juta orang yang menonton video tersebut.


Dalam videonya, Bill Gates tampil cukup 'manis' dengan menggunakan sweter berwarna pink. Ia masuk ke panggung sambil mendorong troli yang memuat civil defence survival supply barrels. Penampilannya dibuka dengan cerita masa kecilnya yang selalu membayangkan kondisi terburuk akibat pengeboman nuklir. Ancaman nuklir membuatnya terus waspada untuk menyimpan bahan makanan dan air di ruang bawah tanah. Namun setelahnya, ia mengatakan ancaman terbesar dunia di masa depan bukan lagi dalam bentuk nuklir melainkan virus. Gates mengklaim bahwa sesuatu yang paling memungkinkan bisa membunuh 10 juta orang dalam beberapa dekade ke depan bukanlah perang melainkan sebuah virus berbahaya.

"We are not ready for the next epidemic".

Argumen bernada pesimis yang dibuat Gates tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa kita berinvestasi sangat sedikit dalam sistem pengendali epidemi. Gates mengambil contoh penanganan kasus virus Ebola dimana permasalahannya adalah kita tidak punya sama sekali sistem untuk menghadapinya. Gates menganggap jika kita tidak mempersiapkan diri maka dapat mengakibatkan epidemi berikutnya lebih mengerikan daripada Ebola. 


Dalam 428 hari, sekitar 10 ribu orang meninggal akibat Ebola dan mayoritasnya berada di negara-negara Afrika Barat. Kita cukup beruntung karena Ebola tidak menyebar luas. Gates mengatakan ada tiga hal yang bisa membuat hal itu terjadi. Pertama, karena banyak pekerja kesehatan heroik. Kedua, Ebola tidak menyebar melalui udara dan ketiga, Ebola tidak banyak mencapai wilayah kota. Gates menganggap itu hanyalah sebuah keberuntungan semata. Ia memprediksi di masa depan kita akan akan menemukan virus yang bisa menjangkit orang sehat, lalu mereka naik pesawat atau mereka pergi ke pasar sehingga virus tersebut akan menyebar dengan cepat. Gates juga memprediksi virus tersebut bisa dari alam seperti Ebola atau terorisme biologi.


Gates membandingkan data Ebola dengan model virus yang bisa menyebar melalui udara yaitu Flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918. Virus tersebut menyebar sangat cepat dan dalam kurun waktu 263 hari menyebabkan lebih dari 33 juta orang meninggal. Menurut Gates, untuk menanggulangi penyebaran virus yang cepat, sebenarnya kita bisa membuat sistem respon yang baik. Kita punya modal berupa sains dan teknologi. Namun hal paling penting adalah kita harus melakukan persiapan. Gates berpendapat ada lima hal penting yang harus dipersiapkan untuk menghadapi sebuah epidemi.


1. Kita membutuhkan sistem kesehatan yang kuat di negara-negara miskin.

2. Kita membutuhkan korps pasukan medis, banyak tenaga yang mendapatkan pelatihan dan siap di lapangan dengan keahliannya.

3. Kita perlu memasangkan orang-orang medis itu dengan militer agar pengiriman logistik bisa cepat dilakukan serta keamanan wilayah tetap terjaga.

4. Kita perlu melakukan banyak simulasi-germ games.

5. Kita membutuhkan banyak riset dan pengembangan di bidang vaksin dan diagnosis. 

Gates meyakini biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan kelima hal tersebut lebih rendah dibandingkan dengan potensi ancamannya. Bank dunia mengestimasi jika kita mengalami epidemi flu di seluruh dunia, kekayaan dunia akan turun lebih dari tiga triliun dollar dan kita akan mendapatkan berjuta-juta kematian. 

Gates berpendapat kelima poin tersebut tidak hanya akan mewujudkan kesiapan untuk menghadapi epidemi melainkan juga ikut berdampak pada sistem kesehatan yang lebih baik dan pengembangan riset, dimana keduanya akan mengurangi ketimpangan kesehatan global serta membuat dunia menjadi lebih aman. Alasan tersebut menjadi argumen penutup yang dikemukaan Gates agar kita ikut berpikir bahwa sudah seharusnya persiapan menghadapi epidemi harus menjadi prioritas.

Setelah menonton video TED Bill Gates, saya rasa tidak mengherankan timbul kecurigaan kepadanya. Prediksi-prediksi yang dibuat Gates 5 tahun lalu menjadi gambaran nyata keadaan saat ini. Semuanya sangat akurat. Namun, di sisi lain kita bisa berpikir positif mengenai kemungkinan riset besar yang telah dilakukan Bill Gates sebelum video tersebut dibuat. Lalu bagaimana menurut Anda? Apakah benar Bill Gates adalah dalang di balik pandemi ini?

Catatan :
Epidemi adalah wabah yang menyebar di area geografis yang luas. (sumber)
Pandemi adalah penyakit yang menyebar secara global meliputi area geografis yang luas. (sumber)
Wabah Ebola yang terjadi di Afrika Barat pada bulan Maret 2014 hingga Januari 2016 adalah wabah terbesar sejak virus ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976. (sumber)

Friday, July 24, 2020

[Sinopsis + Review Film] Your Name, Kimi no Na wa

Makoto Shinkai, sang penulis dan sutradara berusaha meramu kisah mengenai dua pasang remaja laki-laki dan perempuan yang saling bertukar tubuh kemudian berusaha saling menemukan. Bukan hanya pertukaran tubuh, Shinkai juga mewujudkan cerita dimana dua orang yang berasal dari dimensi waktu berbeda pada akhirnya bisa bersatu. -ruangjiwa- 

"I'm searching for you, though I've met you not". 

Film berdurasi 1 jam 46 menit ini menyajikan cerita dengan premis yang cukup unik. Genre fantasi yang semula membuat saya sedikit enggan menonton justru berhasil membuat saya ikut melebur dalam cerita. 


Diawali dengan monolog dua karakter pemeran utama, Mitsuhara Miyamizu dan Taki Tachibana, mereka merasa ada sesuatu yang hilang saat bangun tidur, perasaan untuk mencari sesuatu dan seseorang namun tidak tahu siapa. 

Setelah monolog tersebut, kita akan dibawa ke dalam cerita mereka ketika masih remaja. Mitsuhara Miyamizu adalah seorang murid SMA yang tinggal di desa Itomori, ayahnya adalah walikota disana. Suatu hari, ia mulai merasakan keanehan karena seringkali bermimpi menjalani kehidupan sebagai anak laki-laki. Sementara itu, Taki Tachibana juga merasakan keanehan yang sama. Berbeda dengan Mitsuhara yang tinggal di pedesaan, Taki tinggal di Tokyo bersama ayahnya. 


Semula mereka berdua merasa hal yang terjadi hanyalah mimpi belaka hingga pada akhirnya teman-teman mereka mulai protes karena tingkah mereka sering berubah-ubah. Taki dan Mitsuhara akhirnya menyadari bahwa selama ini mereka saling bertukar tubuh. Mereka harus terus 'waspada' karena pergantian tubuh tersebut terjadi di hari yang acak. 


Mitsuhara dan Taki yang tidak pernah saling kenal akhirnya membuat kesepakatan untuk melindungi kehidupan sekaligus privasi masing-masing. Mereka berdua membuat catatan dan larangan yang harus dipatuhi selama bertukar tubuh. Selain itu, mereka juga membuat laporan di ponsel dan bekerjasama untuk menghadapi 'fenomena aneh' yang mereka alami ini. Tentunya tidak mudah untuk menjalaninya, namun hal tersebut membuat mereka lebih mengenal satu sama lain. Seiring waktu, mereka mulai mencoba ikut andil memperbaiki kehidupan satu sama lain. Hubungan Taki dan seniornya Miki Okudera menjadi semakin dekat berkat Mitsuhara sedangkan Mitsuhara semakin populer di sekolahnya berkat Taki. 

Suatu hari, Mitsuhara mengatur agar Taki bisa berkencan dengan Miki. Namun setelah kencan tersebut, Taki dan Mitsuhara tidak pernah bertukar tubuh lagi. Taki mulai merasa kehilangan, ia pun mencoba terus menerus menghubungi Mitsuhara, namun nomor ponselnya tidak pernah aktif. Pada akhirnya, Taki memutuskan pergi mencari Mitsuhara dengan hanya berbekal lukisan pemandangan desa Itomori yang ia ingat. Dengan ditemani temannya, Tsukara dan seniornya, Miki, pencarian Taki pun dimulai. 

Setelah pencarian yang panjang, sebuah kenyataan mengejutkan terkuak. Desa Itomori yang dicari oleh Taki ternyata telah hancur sejak tiga tahun lalu akibat komet jatuh. Taki tidak percaya, ia pun mengecek nama korban meninggal akibat bencana tersebut dan ternyata nama Mitsuhara Miyamizu tercatat disana. Catatan di ponsel Taki yang dibuat Mitsuhara pun ikut menghilang, bahkan setelahnya, ingatan Taki tentang Mitsuhara pun mulai kabur.


Taki tidak ingin menyerah, ia teringat pernah mengunjungi tubuh kuil keluarga Miyamizu untuk meletakkan kuchikami-zake (semacam arak beras yang dibuat dengan cara mengunyah nasi di dalam mulut, dilakukan oleh gadis kuil sebagai ritual persembahan). Sesampainya disana, Taki semakin yakin apa yang terjadi padanya bukanlah mimpi. Ia meminum kuchikami-zake yang ada disana sembari berdoa agar bisa mengulang kembali waktu. Setelah meminumnya, seketika semua memori milik Mitsuha terlintas di dalam pikiran Taki. 


Taki kembali bertukar tubuh dengan Mitsuhara dan berusaha mengubah takdir desa Itomori. Ia meminta pertolongan Tessie dan Sayaka untuk mengevakuasi semua warga ketika komet akan jatuh. Namun, siapa yang akan percaya dengan kata-kata anak SMA yang terdengar tidak masuk akal? Di antara rasa putus asa itu, memori ketika Mitsuhara mencoba datang ke Tokyo untuk menemui Taki pun muncul. Ternyata, Mitsuhara pernah bertemu dengan Taki tiga tahun lalu, namun saat itu Taki belum mengenal Mitsuhara. Hal itu karena mereka berada di dimensi waktu yang berbeda. Misteri tentang gelang yang selalu dipakai Taki pun terpecahkan, ternyata gelang tersebut diberikan oleh Mitsuhara ketika mereka bertemu di kereta, namun Taki tidak mengingatnya. 


Setelah memori tersebut muncul, Taki segera berlari ke puncak kawah desa Itomori. Di dimensi waktu yang berbeda, Mitsuhara pun ikut mencari Taki di puncak kawah tersebut. Mereka pada akhirnya bisa saling bertemu setelah melintasi waktu. Saat bertemu, Taki mengembalikan gelang yang diberikan oleh Mitsuhara dan berharap ia menyimpannya kembali. Sebelum berpisah, Taki mengusulkan agar mereka saling menulis nama masing-masing di telapak tangan agar tidak melupakan nama satu sama lain saat kembali ke tubuh asal. Namun sayangnya, hanya Taki yang sempat menuliskan sesuatu di tangan Mitsuhara. 

Taki dan Mitsuhara kembali ke tubuh masing-masing. Ingatan Taki tentang Mitsuhara mulai menghilang sementara itu Mitsuhara berusaha melanjutkan rencana Taki untuk menyelamatkan desa Itomori. Namun sayangnya rencana yang dibuatnya bersama Tessie dan Sayaka gagal total. Sayaka ditangkap oleh pihak keamanan balai kota dan Tessie dimarahi ayahnya yang merupakan kontraktor pembangunan desa Itomori. Ketika merasa tidak ada harapan lagi, Mitsuhara membuka telapak tangannya yang berisi tulisan Taki. Ternyata yang Taki tuliskan di telapak tangan Mitsuhara bukanlah namanya, melainkan kalimat aku mencintaimu. 


Mitsuhara bangkit kembali, satu-satunya harapan yang tersisa adalah dengan membujuk ayahnya, walikota Itomori untuk menyetujui pengevakuasiaan warga. Itu adalah pertaruhan terakhir yang bisa ia lakukan. 

Mitsuhara berhasil menyelamatkan desa Itomori. Namun, ia tidak bisa mengingat memori tentang Taki, begitu pula Taki. Mereka sama-sama merasa kehilangan 'seseorang' tetapi tidak bisa mengingat namanya. 

Lima tahun pun berlalu, Taki telah lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Suatu hari, Taki bertatapan dengan seorang gadis di kereta dan merasa seperti mengenal gadis itu. Setelah kereta berhenti, Taki berusaha mengejar gadis tersebut. Di sisi lain, gadis itu juga merasa mengenal Taki. Hingga pada akhirnya mereka berpapasan di sebuah tangga. Mereka berdua ragu untuk saling menyapa. Taki sangat penasaran dengan gadis tersebut, ia pun berbalik dan bertanya, "Apakah kita pernah bertemu?". Sang gadis pun menangis dan berkata, "Aku juga berpikir begitu", "Namamu adalah..?"


Ingin sedikit bercerita tentang pertemuan saya dengan film ini. Beberapa hari lalu, saya mencoba memilih dengan acak film yang ingin direview berikutnya, namun hal tersebut berakhir mengecewakan. Ada beberapa film yang tidak berhasil diselesaikan, itulah mengapa saya memutuskan mengambil jeda untuk menulis. Saya keburu kecewa akan pilihan saya yang tidak tepat sasaran. Hingga pada akhirnya, saya menulusuri situs IMDb untuk mendapat rekomendasi film. Di antara daftar top rated movie versi IMDb, sebenarnya film ini menempati peringkat yang tidak begitu tinggi. Film Your Name berada di peringkat 75 dengan rating 8.3. Lalu mengapa saya tertarik menonton dan berbagi cerita tentang film ini? Karena film ini luar biasa dan saya ingin Anda bisa merasakan hal yang sama. 

Bisa dikatakan, dari kecil saya sudah 'diracuni' dengan kesukaan kakak kedua saya dalam mengoleksi komik dan menonton anime. Untuk komik, saya bisa melahap seluruh genre tanpa pilih-pilih sedangkan untuk serial anime sejujurnya saya hanya setia pada serial Kuroko no Basuke dan Free. Mirisnya, film terakhir anime yang saya tonton adalah Doraemon: Stand by Me. Ini berarti, film Your Name adalah film anime pertama yang saya tonton setelah 6 tahun lamanya. Oleh karena itu, saya harap Anda dapat memaklumi kapasitas saya dalam menceritakan dan mereview film ini dari perspektif orang yang sudah lama tidak menonton film anime. 

Saya merasa harus memuji plot cerita yang dibuat oleh Makoto Shinkai. Hingga menit-menit terakhir film, saya masih dibuat berdebar-debar mengenai nasib desa Itomori. Awalnya saya mengira film ini hanya akan menyajikan konflik feminis dan maskulin dari kedua tokoh yang saling bertukar tubuh, namun Makoto menawarkan cerita yang tidak sesederhana itu, kenyataan bahwa mereka berada di dimensi waktu yang berbeda adalah plot twist yang perlu diapresiasi. 

Film ini adalah karya kedua Makoto yang pernah saya tonton. Sebelumnya, saya pernah menonton salah satu karya Makoto yang berjudul The Garden of Words, Kotonoha no Niwa. Saat itu, saya menontonnya karena membaca rekomendasi film animasi dengan visual terbaik. Menonton film ini membuat saya semakin yakin akan kualitas visual yang ditawarkan Makoto. Ia mampu menampilkan visual khas animasi Jepang dengan begitu indah. Penggambaran desa Itomori yang terpencil dikemas begitu indah dengan pemilihan warna yang luar biasa. 

Dengan menonton film ini, saya diajarkan mengenai berbagai macam kebudayaan Jepang yang masih kental. Sosok Mitsuhara yang seorang gadis kuil digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang kepada penonton, mulai dari pembuatan kuchikami-zake, seni mengepang tali dan pita yang disebut kumihimo hingga musubi (dewa perjodohan, cinta dan pernikahan dalam kepercayaan agama Shinto). 

Wednesday, July 22, 2020

Kecerdasan Parsial dan Engineer

Jika ditanya mata kuliah apa yang membuat saya merasa kewalahan saat menjalani pendidikan di Teknik Sipil? Saya pribadi akan menjawabnya menggambar teknik. Menempuh pendidikan Teknik Sipil tidak hanya soal seberapa pintar Anda dalam hitung menghitung tetapi juga bagaimana Anda bisa mengkombinasikan antara perhitungan dan gambar. Belajar teknik sama dengan belajar melogikakan khayalan, perhitungan adalah kepastian namun butuh usaha lebih untuk bisa memvisualkan perhitungan tersebut dalam struktur nyata bangunan. Sejujurnya saya cukup bisa bersahabat jika itu berupa gambar diagram momen, lintang, normal ataupun ketika harus menggambarkan diagram regangan-tegangan dalam beton. I like that! Tetapi ada satu momen ketika saya merasa kecerdasan parsial saya lemah. Hal itu terjadi ketika menghadapi mata kuliah Gambar Teknik 1. 

Perintah seperti proyeksikan gambar tersebut tegak lurus, putar 30°, kemudian cerminkan, ditambah lagi ada beberapa versi aturan lainnya, sempat membuat saya harus berjuang memutar otak berkali-kali untuk mewujudkan hal itu. Selama menjalani mata kuliah tersebut, saya sempat merasa iri dengan semua teman laki-laki saya yang nampak tidak kesulitan. Sempat saya berpikir, apakah ini alasan mahasiswa teknik kebanyakan laki-laki? Lalu apakah saya layak menyandang status sebagai lulusan teknik jika kemampuan parsial saya lemah?


Ternyata kekhawatiran saya itu dirasakan juga oleh seorang engineer wanita lainnya. Debbie Sterling, adalah seorang engineer product design lulusan Stanford. Penampilannya dalam TEDx, membuat saya mengamini setiap perkataannya. Sebagai gender minoritas di kelasnya, ia sempat punya kenangan buruk dalam mata kuliah menggambar. Ia mengaku merasa not fit in sebagai mahasiswa teknik karena punya kemampuan parsial lemah. Bahkan dosennya pernah mempermalukannya di kelas dengan pertanyaan, "Jika kalian merasa Debbie layak untuk lulus mata kuliah saya silahkan angkat tangan". Situasi tersebut menunjukkan seberapa buruk kemampuan parsialnya. Setelah kejadian itu, ia memutuskan belajar lebih keras agar bisa mengembangkan kemampuan parsialnya. Ada momen dimana ia menemukan teman laki-lakinya yang lain ternyata selama ini menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk bisa 'terlihat cerdas'. Semenjak itu, Debbie sadar bahwa semua ini bukan karena Anda terlahir cerdas tetapi tentang seberapa besar usaha Anda.


Asumsi yang menyebutkan bahwa kaum lelaki memiliki kemampuan parsial yang lebih unggul dibanding wanita tentunya menjadi kabar buruk bagi anak perempuan yang ingin menjadi engineer. Namun, apakah asumsi tersebut benar? Nyatanya, kecerdasan parsial bukan didasarkan hal biologis.

"It's not a biological thing. This is culture thing".

Budaya kita selalu mengaitkan anak perempuan dengan mainan boneka, ataupun hal lainnya yang membuatnya tumbuh sebagai princess. Debbie melakukan riset dan menemukan bahwa orang yang memiliki kecerdasan spasial menghabiskan masa kecilnya dengan memainkan mainan konstruksi seperti lego, erector sets, atau lincoln logs. Tetapi budaya kita selalu mendefinisikan mainan tersebut sebagai mainan anak laki-laki. Kenyataan tersebut menginspirasi Debbie untuk membuat mainan engineer untuk anak perempuan. Maka terciptalah Goldie Blox, sebuah set mainan konstruksi yang dikombinasikan dengan cerita. Anak-anak akan diajarkan untuk membuat sesuatu berdasarkan cerita karakter Goldie, girl inventor yang memecahkan masalah dengan membuat mesin sederhana. Melalui mainan tersebut Debbie yang bertahun-tahun merasa tidak cocok menjadi engineer akhirnya bisa merasa pantas. Melalui mainan itu juga ia ingin agar anak-anak perempuan bisa terinspirasi menjadi engineer

"For so long, for so many years, I felt like I didn't fit in but now I feel like I belong here. I feel like belong, and our little girls do too". -Debby Sterling-

(Goldie Blox, sumber)

Sunday, July 19, 2020

Isu Rasisme dalam Film Green Book (Best Picture 2019)

Tony 'Lip' Vallelonga (Viggo Mortensen) adalah seorang keturunan Italia-Amerika yang bekerja sebagai pekerja keamanan di bar. Karena bar tempatnya bekerja sedang di renovasi, ia pun harus mencari pekerjaan baru. Bosnya di bar merekomendasikan Tony untuk mengikuti wawancara di lantai atas Carnegie Hall. Mengetahui bahwa calon atasannya adalah seorang berkulit hitam membuat Tony menolak untuk bekerja dengannya. Namun, ia akhirnya mau bekerja dengan syarat kenaikan upah. Sosok yang ingin mempekerjakan Tony adalah Dr. Don Shirley (Mahershala Ali). Ia adalah pianis terkenal keturunan Afrika-Amerika yang berencana melakukan tur selama 8 minggu ke seluruh wilayah Deep South (Amerika Selatan). Dr. Shirley membutuhkan supir dan pelayan yang akan memastikan dia bisa menyelesaikan tur nya dengan selamat.

Film yang memenangkan nominasi Best Picture 2019 ini diangkat dari kisah nyata dengan penamaan tokoh yang sama. Naskah film ini ditulis oleh anak kandung Tony, Nick Vallelonga. Cerita dari ayahnya mengenai sosok Dr. Don Shirley menjadi modal besar bagi Nick untuk menggambarkan perjuangan seorang pianis berkulit hitam menghadapi rasisme. Melalui film ini Nick memenangkan penghargaan Skenario Original Terbaik dalam ajang Academy Awards ke-91. Selain itu, dalam ajang yang sama, Mahershala Ali juga berhasil membawa piala kategori Aktor Pendukung Terbaik.


Judul film ini mengacu pada buku Negro Motorist Green Book yang berisi panduan rute perjalanan teraman bagi orang berkulit hitam. Tony dan Dr. Shirley harus mengikuti panduan tersebut karena di era 1950-1960an isu rasisme masih sangat kental. Penggambaran perilaku rasisme akan diperlihatkan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi selama perjalanan mereka berdua. Berikut ini adalah potongan adegan yang bisa mendeskripsikan rasisme orang Amerika pada masa itu terhadap orang berkulit hitam.


Sebelum bekerja dengan Dr. Shirley, Tony menganggap orang berkulit hitam itu menjijikkan. Saat pekerja berkulit hitam datang ke rumahnya, ia merasa tidak sudi melihat gelas yang dipakai mereka minum. Tony membuang gelas tersebut ke kotak sampah.


Dr. Shirley melihat setelan jas yang dipajang di sebuah toko dan tertarik membelinya. Penjaga toko semula berpikir Tony lah yang akan membeli setelan tersebut. Namun setelah mengetahui bahwa Dr. Shirley yang akan membelinya, ia menolak untuk menjualnya.


Dr. Shirley di undang oleh keluarga kaya untuk melakukan pertunjukkan. Saat ingin pergi ke toilet, sang pemilik rumah malah menyuruhnya untuk pergi ke toilet yang ada di luar. Dr. Shirley tidak ingin martabatnya di rendahkan, ia pun memutuskan kembali ke penginapan hanya untuk sekedar buang air kecil.

Di tengah perjalanan, mobil mereka mogok. Mereka akhirnya berhenti. Sambil menunggu Tony memperbaiki mobil, di seberang jalan, Dr. Shirley melihat para buruh berkulit hitam yang sedang bekerja. Para buruh tersebut melihat Dr. Shirley dengan wajah aneh karena tidak pernah melihat seorang pria berkulit hitam dengan setelan mahal dan terlihat berkelas sepertinya.


Dr. Shirley bercerita kepada Tony mengenai awal mula ia menjadi seorang pianis. Saat masih anak-anak, ibunya mengajarinya bermain spinet lama kemudian mengajaknya berkeliling Florida Panhandle untuk melakukan konser kecil di paroki dan balai. Setelah melihat penampilnya, seorang penonton memutuskan menyekolahkannya ke Leningrad Conservatory of Music dan Dr. Shirley adalah murid Negro pertama disana.


Kesukaan Don terhadap musik klasik terhalang karena orang-orang berkulit putih belum bisa menerima keberadaan orang berkulit hitam yang memainkan musik klasik.



Larangan kulit hitam keluar saat malam hari, membuat mereka masuk penjara. Para polisi meremehkan Tony yang bekerja kepada orang berkulit hitam. Pada kenyataannya, di era 1950-1960an terdapat larangan bagi orang berkulit hitam berada semobil dengan orang kulit putih.


Dr. Shirley merasa orang-orang kaya berkulit putih yang telah mengundangnya adalah orang-orang yang munafik. Mereka hanya ingin dianggap berbudaya. Setelah ia tampil, pada akhirnya mereka akan kembali merendahkan statusnya sebagai orang berkukit hitam.


Saat pertunjukkan terakhirnya, Dr. Shirley tidak diperbolehkan makan di restoran tempatnya akan tampil. Pemilik restoran beralasan itu adalah tradisi untuk tidak memperbolehkan orang berkulit hitam makan di restorannya. Padahal, Dr. Shirley adalah penghibur utama yang akan tampil di restoran tersebut.

Thursday, July 16, 2020

Mengambil Jeda

Beberapa hari ini saya menyadari bahwa tidak semua hal yang kita lihat sepele bisa dikerjakan dengan sepele juga. Di awal Juli, saya berjanji dalam hati agar bisa mengisi tulisan di blog ini setiap hari, walaupun akhirnya saya memberikan keringanan jeda satu hari jika benar-benar tidak memungkinkan. Namun kenyataannya saya alpa kali ini. Hari ini, sudah lewat dua hari saya tidak mencurahkan pikiran saya lewat kata-kata. Hingga tadi sore, saya masih saja mencari ide di labirin pikiran saya. Ada beberapa ide yang muncul namun terkadang saya mendapati ide tersebut tidak bisa diwujudkan dalam waktu 24 jam. Sempat hati ini berbisik ''Ah, besok saja", tetapi saya sadar betul jika hari ini saya berbaik hati untuk melonggarkan komitmen, pada akhirnya saya akan melanggar janji ini hingga seterusnya.

Ada satu poin penting yang harus kembali dikaji, ternyata komitmen saya untuk 'menyetor' tulisan setiap harinya membuat saya ragu membuat tulisan 'mendalam' yang harus selesai dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Tentunya ini semakin sulit karena 'jam terbang' saya belum sebanyak blogger lainnya. Sudah seharusnya saya sadar akan kapasitas saya sebagai seorang blogger 'pemula'. Walaupun sudah 8 tahun blog ini ada, nyatanya jumlah tulisan saya bahkan belum mencapai angka 100 buah. Saya awalnya begitu terkesima dengan blogger yang dalam sehari bisa membuat lebih dari satu tulisan dengan tema yang tidak abal-abal. Namun kali ini saya menjadi bertanya-tanya bagaimana bisa mereka menjaga konsistensinya. Sungguh, di dunia ini, ternyata hal yang terlihat sederhana belum tentu dilakukan dengan proses sederhana pula.

Salah satu kebiasaan buruk yang harus saya ubah adalah ketidakberdayaan saya untuk menekan lonjakan ide-ide yang dirasa harus secepatnya dieksekusi. Saya termasuk orang yang menggebu untuk melakukan hal baru. Adrenalin saya naik ketika ide-ide itu mengalir dan untuk meredam hal itu, saya terkadang terlalu memaksakan diri untuk segera menjadikannya kenyataan. Buruknya, hal tersebut membuat saya sering lelah di tengah perjalanan, saya ngos-ngosan untuk bisa menyelesaikan misi sampai akhir. Tenaga saya terkuras di awal dan mulai merasa kewalahan.

Sejujurnya, mulai dari awal Juli, bukan hanya komitmen aktif di blog yang saya janjikan. Kebiasaan buruk yang saya sebutkan sebelumnya menjadikan saya 'rakus'. Saya mulai melirik feed instagram ruangjiwa yang sudah saya terlantarkan hampir 3 tahun lamanya. 'Kerakusan' saya membuat diri ini tergerak untuk kembali mengisi feed instagram ruangjiwa. Tulisan ini, mungkin bisa jadi ajang memperkenalkan instagram ruangjiwa. Isi feed instagram ruangjiwa menyajikan konten yang berbeda dengan blog ini, disana saya lebih fokus untuk menyajikan video musikalisasi puisi. Saya merasa sangat bahagia ketika bisa menyalurkan kecintaan saya akan puisi melalui suara. Sekarang, selain video musikalisasi puisi, saya juga berencana untuk menjadikan instagram ruangjiwa sebagai platform untuk memperkenalkan tulisan blog ini.

Saya sadar, instagram ruangjiwa belum bisa menjangkau banyak orang walaupun telah dibuat 3 tahun lamanya. Jika diingat kembali, instagram tersebut hanya aktif beberapa bulan saja setelah pembuatannya. Inilah yang menjadi salah satu penanda ketidakkonsistensian saya. Tetapi dibanding meributkan ke alpaan saya dahulu, kali ini saya berniat untuk mencoba kembali. Tidak ada salahnya memaafkan kesalahan masa lalu dan mencoba memperbaikinya kembali. 

Keaktifan saya di instagram menjadikan pikiran saya bercabang. Apalagi ketika dua video musikalisasi puisi saya di instagram disukai oleh Dewi Lestari, salah satu penulis sastra favorit saya. Sebagai seorang pengagum beliau, saya sadar telah bersikap norak dengan mengungkapkan hal ini. Tetapi, saya tidak bisa memungkiri bahwa hal tersebut membuat saya sedikit kegeeran untuk tetap mengisi feed instagram ruangjiwa.

Komitmen untuk mampu menulis di blog, mengedit feed yang artistik serta menyajikan video musikalisasi ternyata tidaklah mudah. Apalagi saya punya PR baru untuk memposting video review film di youtube ruangjiwa (walaupun sampai tulisan ini diposting, video tersebut belum juga dirilis). Saya bermimpi untuk membuat platform ruangjiwa bisa diakses di blog, instagram dan juga youtube. Sebuah impian yang rasanya masih jauh untuk terlaksana. 

Walaupun tidak terwujud, tidak apa-apa, karena komitmen ini pertama kali dibuat agar saya bisa tetap mempertahankan 'ruang' ini hingga bertahun-tahun ke depan. Nyatanya, ruangjiwa dibuat sebagai tempat untuk saya mampir ketika sedang ingin bersandar dari hiruk pikuk dunia. Jika suatu hari nanti saya kembali ke 'kebiasaan buruk' yang disebutkan sebelumnya, saya hanya bisa berdoa agar mau kembali mencoba. Toh, hidup ini pada kenyataannya adalah perihal jatuh kemudian bangkit lagi.

Tambahan :
Mungkin ini keluar dari topik di atas. Selain mengelola akun-akun ruangjiwa, saya baru-baru ini diamanahkan tugas baru untuk belajar tanaman. Dari awal Juli, saya ditugaskan mengelola instagram tanaman ibu saya, walaupun awalnya instagram itu hanyalah berisi foto koleksi tanaman kesayangan, nyatanya sekarang mulai menjalar ke komitmen jual-beli. Demikianlah tulisan ini dibuat dari seseorang yang 'rakus' untuk belajar tetapi sedang mencoba mencari energi lebih untuk bertahan.

Monday, July 13, 2020

[Sinopsis + Review Film] Me Before You

Jika Anda penyuka genre melodrama, saya rasa film ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Film yang dirilis tahun 2016 ini diangkat dari buku trilogi pertama karangan Jojo Moyes. Anda tidak perlu meragukan keorisinalitas film adaptasi ini dengan bukunya karena naskah film ini ditulis langsung oleh sang penulis novel. Beberapa ulasan menyebutkan ada beberapa adegan di buku yang tidak diperlihatkan dalam film ini namun alur cerita yang dibuat tidak menghilangkan poin-poin penting yang ada di buku.

Film ini berfokus pada kisah percintaan antara Louisa Clark (Emilia Clarke) dan Will Traynor (Sam Claflin). Louisa adalah gadis berumur 26 tahun yang sangat ceria dan memiliki selera fashion yang cukup unik. Ia dijuluki 'chatty' karena sangat suka berbicara. Pribadinya yang hangat dan begitu ramah membuat orang bisa merasakan kelapangan hatinya. 

"Hatimu sebesar istana dan ayah menyayangimu karenanya".

Berbeda dengan Louisa, Will Traynor adalah seorang eksekutif muda yang tampan, kaya dan sukses namun harus merasakan kemalangan setelah mengalami kecelakaan. Ia adalah sosok lelaki sempurna yang justru harus menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda.

Louisa bekerja sebagai perawat di rumah keluarga Traynor, ia bertugas mendampingi Will yang mengalami lumpuh akibat kecelakaan. Awal pertemuan mereka tidak begitu baik, Will selalu bersikap dingin kepada Louisa. Segala upaya dilakukan Louisa agar membuat Will senang akan keberadaannya namun Will tidak mengindahkannya. Sampai suatu hari ketika Louisa dengan jujur mengatakan bahwa bagaimana pun Will bersikap, ia akan tetap bekerja karena yang mempekerjakannya bukanlah Will tetapi ibunya dan ia tidak akan keluar dari pekerjaan tersebut karena ia sedang membutuhkan uang.


Sikap jujur Lousia tersebut membuat Will melunak, ia mulai mau membuka diri akan keberadaan Louisa di sisinya. Bahkan, Nathan (Steve Peacocke), dokter pribadi Will memuji Louisa karena telah berhasil membuat Will bahagia, menurutnya baru kali ini ia melihat Will tertawa bahagia setelah 2 tahun lamanya.

Alur cerita mulai memuncak ketika Louisa mengetahui bahwa Will telah mendaftarkan diri di organisasi dignitas di Swiss untuk melakukan euthanasia (bunuh diri secara legal). Ternyata selama ini Louisa dipekerjakan bukan untuk merawat Will melainkan untuk menjaganya agar tidak bunuh diri. Semula Louisa tidak ingin terlibat dengan keputusan Will namun setelah berdiskusi dengan saudarinya, Katrina (Jenna Coleman), ia pun berubah pikiran. Louisa mulai menyusun rencana agar Will bisa merasa bahagia dan membatalkan keputusannya. Ia ingin agar Will menemukan lagi semangat untuk hidup. Louisa mengajak Will ke beberapa tempat, mulai dari pertandingan pacuan kuda hingga konser musik orkestra. Louisa bahkan mengajak Will ikut merayakan ulang tahun bersama keluarganya.


Will merasa sangat bahagia dan mulai menemukan gairah hidup. Hingga suatu hari, ia menerima undangan pernikahan dari Alicia (Vanessa Kirby), mantan pacarnya. Undangan tersebut tentunya membuat hati Will hancur karena calon suami Alicia adalah sahabatnya sendiri, Rupert (Ben Lloyd-Hughes). Dibandingkan mengelak, Will justru memutuskan menghadiri pernikahan tersebut, ia meminta Louisa menemaninya. Sayangnya, selepas menghadiri pesta pernikahan tersebut kondisi Will menjadi buruk karena terkena pneumonia. Hal tersebut menyebabkan Louisa harus membatalkan semua acara yang sudah ia susun untuk Will.

Benih-benih cinta semakin tumbuh diantara Louisa dan Will, hingga akhirnya Louisa harus memilih antara pacarnya, Patrick (Matthew Lewis) yang telah bersamanya selama 7 tahun atau Will yang baru dikenalnya selama 5 bulan. Louisa merasa Will lebih membutuhkannya saat ini. Ia tidak mau melihat Will menyerah, Louisa ingin agar keberadaannya bisa mengisi kekosongan di hati Will. 

Usaha terakhir yang dilakukan Louisa untuk membujuk Will adalah dengan mengajaknya berlibur. Di sana mereka menghabiskan waktu bersama dan terlihat sangat bahagia. Di malam terakhir sebelum kepulangan, Louisa dan Will menghabiskan waktu di pantai. Saat itu, Louisa mengaku tidak ingin pulang karena ia merasa sangat bahagia bisa merasakan pengalaman-pengalaman baru yang belum ia rasakan. 

Will sejak awal sudah tahu bahwa orang seperti Louisa seharusnya tidak terkurung di dunia kecil seperti selama ini, ia seharusnya bisa terbang bebas menelusuri luasnya dunia. Hal itu pulalah yang menjadi alasan Will ingin melepaskan Louisa dan tetap pada pendiriannya untuk melakukan euthanasia. Meskipun Louisa berjanji akan tetap berada di sampingnya, bagi Will justru itu hal yang tidak ia inginkan. Will tidak mau Louisa terkurung dalam dunia kecil bersamanya. Dengan dingin, Will justru mengajak Louisa ke Swiss untuk mendampinginya melakukan euthanasia. Louisa marah dengan pernyataan Will, ia merasa sudah mencurahkan semuanya untuk Will tetapi Will tetap bersikap egois dan ingin meninggalkannya. Setelah kembali, Louisa masih tidak bisa membendung kekecewaannya, ia tidak ingin berbicara dengan Will dan segera pergi meninggalkannya.


Keluarga Traynor pergi ke Swiss. Mendengar hal itu, Louisa mulai menimbang keputusannya yang terkesan 'lari' dari masalah. Setelah mendengar kata-kata ayahnya, Louisa membulatkan tekad untuk pergi ke Swiss menemui Will. Ia memutuskan untuk berjuang sampai akhir agar Will tidak pergi meninggalkannya. Sesampainya di Swiss, Louisa segera menemui Will. 

"Aku berharap tinggal di negeri Malahonkey. Negeri dimana aku sendirian".

Pada akhirnya Will tetap pada pendiriannya. Meskipun begitu, Will tidak meninggalkan Louisa sepenuhnya, ia berusaha selalu membersamai langkah Louisa di masa depan. Sebelum kematiannya, Will menulis surat wasiat yang berisi agar Louisa bisa hidup dengan bebas dan melihat dunia luas. Will bahkan memberikan harta warisan kepada Louisa.


Film ini ditutup dengan akhir yang tidak begitu bahagia, namun sebagai penonton saya justru merasa ini adalah akhir yang paling tepat. Saya dibuat sedih sekaligus lega. Kematian Will membuat film ini tidak terkesan 'dipaksakan', saya menyukai keputusan penulis yang mengakhiri film ini dengan realistis. 

Salah satu hal menarik yang diangkat dalam film ini adalah praktik euthanasia yang dilakukan Will. Euthanasia adalah tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup. Prosedur euthanasia dapat dilakukan pada pasien yang mengalami sakit terminal (peluang kematian sangat besar dan fungsi terapi tidak lagi untuk menyembuhkan melainkan untuk meringankan rasa sakit). Selain Swiss, negara Belanda; Oregon, Washington D.C, Amerika Serikat dan Belgia melegalkan praktik euthanasia. 

Hal yang saya sukai dalam film ini adalah pemilihan kostum yang dikenakan Louisa. Emilia Clarke berhasil tampil sebagai seorang gadis yang punya selera fashion 'aneh' namun justru terkesan cantik. Pakaiannya yang berwarna-warni dengan berbagai motif membuat penggambaran karakter Louisa yang ceria semakin terlihat bersinar.

'Me Before You', apabila kita terjemahkan kalimat tersebut ke bahasa Indonesia memiliki arti 'Aku Sebelum Mengenalmu'. Judul tersebut mewakili isi cerita yang memperlihatkan perkembangan karakter Louisa dan Will. Sebelum bertemu Will, Louisa hanyalah gadis yang terkurung dalam dunia kecilnya, ia harus menekan keinginannya untuk melihat dunia karena harus menghidupi keluarganya. Sedangkan Will sebelum mengenal Louisa adalah lelaki yang telah kehilangan makna hidup, setelah bertemu Louisa ia bisa kembali merasakan cinta dan kebahagiaan yang sempat hilang dalam hidupnya.

Selain alis Louisa ( Anda akan memahaminya setelah menonton), saya rasa keseluruhan film ini dikemas dengan baik. Menurut saya, film ini cukup layak di tonton untuk menemani istirahat Anda.

Sunday, July 12, 2020

Resensi Buku Orang Orang Proyek


Judul Buku : Orang-orang Proyek
Penulis        : Ahmad Tohari
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal           : 256 halaman
Harga          : Rp65.000,00

"Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin". (Halaman 39)

Dalam buku ini, Ahmad Tohari berusaha membuka tabir dibalik kehidupan orang-orang proyek yang dibayangi dengan intrik politik, kerakusan, dan idealisme. Mengambil latar era Orde Baru, pembaca akan disuguhkan cerita yang tidak hanya berkutat pada orang-orang proyek yang terlibat langsung (kepala proyek, mandor, pekerja, dll) tetapi juga bagaimana pengaruh pengerjaan proyek bagi rakyat. Cerita dalam buku ini dikemas begitu humanis dengan memperlihatkan permasalahan dan kegundahan masing-masing tokoh serta sisi kehidupan rakyat kecil di dekat area proyek.

Kita akan dipertemukan dengan sosok Kabul, seorang insinyur yang mulai merasa jengah karena idealisme yang ia pegang mulai diusik. Pak Tarya, seorang pensiunan PNS yang terlihat santai dengan hobi memancingnya namun seringkali memberikan pandangannya tentang kehidupan. Ada juga sosok Basar, teman sesama aktivis Kabul yang merasa terhimpit diantara jabatannya sebagai kades yang ingin membangun desa dan kepentingan partai. Dalkijo, kepala proyek yang mengaku tobat melarat, ia merasa pilihannya untuk berkompromi dengan urusan politik adalah keputusan paling realistis untuk mempertahankan kehidupan. Selain itu, ada juga Wati, pegawai administrasi proyek yang menaruh hati kepada Kabul, Mak Sumeh, Tante Ana, mandor, kuli dan tokoh-tokoh lainnya yang telah menyempurnakan buku ini menjadi rangkaian cerita yang terasa sangat nyata. Tidak ada tokoh yang mubazir dalam buku ini, semua tokoh saling bersinergi mewujudkan penggambaran masalah sosial yang terjadi.

"Idealismemu tidak akan membuatmu jadi pahlawan". ( Halaman 230 )

Cerita diawali dengan kegundahan yang dirasakan Kabul. Terlahir sebagai anak petani yang  tidak biasa nakal, atau slingkuh membuat hati nuraninya tidak bisa menerima permainan politik yang terjadi selama pembangunan jembatan Sungai Cibawor. Sebagai mantan aktivis kampus, ia merasa harapan-harapan yang ia perjuangkan dahulu mulai runtuh. Mulai dari mutu bangunan yang tidak sesuai dengan rencana, anggaran yang dipotong, penyelesaian proyek yang dipaksakan agar selesai secepatnya, hingga kewajiban upeti, semua itu dirasa mencederai idealisme yang ia pegang. Dari kegundahannya itu, sosok Kabul mulai berkontemplasi tentang arah kehidupannya dan realita kehidupan di sekitarnya.

Ahmad Tohari berusaha menceritakan realita yang terjadi selama masa Orde Baru dimana pembangunan sedang gencar dilakukan sebagai upaya terselubung untuk mengambil hati rakyat. Selain itu, keberadaan Partai GLM (Golongan Lestari Menang) tampil sebagai penggambaran sistem kekuasaan politik yang berusaha menggerus kehidupan rakyat kecil. Selain intrik politik dan masalah sosial, Ahmad Tohari berusaha menyelipkan unsur agama melalui percakapan singkat antara Kabul, Basar dan Pak Tarya (halaman 49). Kabul menyayangkan keadaan masyarakat yang cenderung memiliki kesalehan ritual namun tidak mencapai kesalehan sosial. Kesalehan ritual pada akhirnya hanya melahirkan manusia yang mengaku beragama tetapi tetap bersikap serakah.

Melalui buku ini kita diajak merenungkan kembali tatanan kehidupan saat ini. Kenyataan bahwa kehidupan yang ideal yang selama ini kita mimpikan tidak akan bisa terwujud dalam sistem kekuasaan yang carut marut. Sosok-sosok idealisme seperti Kabul pada akhirnya selalu disingkirkan karena dianggap terlalu naif dan tidak realistis.

Cover buku cetakan keempat ini didominasi dengan warna hijau dengan sedikit sentuhan warna biru pada bagian atasnya. Kita dapat melihat siluet sederhana berbentuk jembatan pada bagian atas cover, tentunya hal tersebut dibuat sebagai penggambaran jembatan Sungai Cibawor yang ada dalam cerita buku ini.

Buku ini berhasil merangkum sisi gelap dalam dunia proyek dengan cara yang sangat humanis. Dengan penggunaan bahasa yang sederhana, buku ini terasa ringan namun meninggalkan makna mendalam.

Saturday, July 11, 2020

Lembaran Kedua Aku dan Gadis Kecil Berpita Merah

Teruntuk gadis kecil berpita merah. 
Februari 2015, sudah lebih dari 5 tahun aku tak menyapa. 
Terakhir kali kita bertemu kau mengaku punya masalah. 
Kuucapkan selamat, kau telah berhasil mengatasinya. Kau hebat karena tidak mau menyerah. 

Gadis kecil berpita merah, aku ingin berkunjung karena mendengar kau sedang gundah. 
Tidak seperti biasa, kali ini kau hanya diam ketika aku bertanya. 
Apakah itu berarti jawabannya iya. 

Kulihat kau mulai mendewasa karena tidak lagi sering membantah. Percakapan kita dahulu selalu berakhir dengan penyangkalanmu. Kau beretorika dan aku harus mendengarkannya. 
Tetapi aksi diammu ini justru menambah kekhawatiranku. 
"Apakah kau baik-baik saja ?". 

Gadis kecil berpita merah, aku tahu kau selalu menahannya. Tetapi dunia ini terlalu kejam untuk manusia berhati lemah. 

Tidak apa-apa, jika salah maka perbaiki. 
Kau tidak akan selalu benar, terkadang kau keliru dan menyesal, begitu pula manusia lainnya. 

Jika tersakiti menjadikanmu lemah, maka berdoalah. Maafkanlah dirimu yang masih terbelenggu dengan aturan dunia dan bersiaplah menerima karunia Pencipta. 

Jika menyakiti membuatmu bersalah, minta maaflah. 
Lakukanlah dengan ketulusan hati sembari berdoa agar kalian tidak sama-sama membenci. 

Gadis kecil berpita merah. Di perjalanan aku mendengar kabar bahagia. 
Aku mendengar riuh tepuk tangan dan bisikan pujian, kata mereka kau telah hidup dengan sepenuhnya. 
Senyumku merekah dengan rasa bangga. 
Aku tak sabar ingin merengkuhmu, menepuk punggungmu dengan lembut sembari mengatakan kamu luar biasa. 

Lalu mengapa kini kau gundah? 
"Aku merasa lelah", akhirnya kau berkata-kata. 

Gadis kecil berpita merah, aku tahu kau terbiasa menahan, maka kali ini lepaskan. 

Harusnya kau sudah belajar dari pengalaman, kau harus membebaskan diri dari rantai keangkuhan dan hidup dalam kebahagiaan. 
Tidak perlu memperumit pemikiran cukup bertindak sesuai keyakinan. 

Aku berharap mendengar kisah hidupmu di pertemuan berikutnya. 
Kuharap kau menceritakannya dengan tawa bahagia. 

Oleh karena itu, biarkan aku ikut berdoa agar kau kembali hidup sepenuhnya.

Thursday, July 9, 2020

Resensi Buku Bicara Itu Ada Seninya


Judul Buku    : Bicara itu Ada Seninya
Penulis           : Oh Su Hyang
Penerbit          : Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, Cetakan Kesembilan: Mei 2019
Tebal              : 238 halaman
Harga             : Rp67.000,00

Kemampuan komunikasi selalu berperan penting untuk menunjukkan karakter seseorang. Hal tersebut menjadi alasan saya mempertimbangkan buku ini untuk dibeli. Membahas tentang cara berkomunikasi yang baik tidak akan ada habisnya. Ada begitu banyak buku yang berusaha menawarkan solusi bagi pembaca yang ingin meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Di antara sekumpulan buku lainnya, buku ini mencoba mengungkap rahasia komunikasi yang efektif.

Buku setebal 238 halaman ini terdiri dari 5 bab. Setiap bab secara berurutan membahas tentang cara membangun kemampuan berbicara mulai dari bagaimana kita bisa meninggalkan kesan di hati para pendengar, pentingnya kemampuan mendengarkan, kekuatan ucapan untuk memikat hati pendengar, menciptakan ucapan yang berkualitas hingga cara mengolah suara agar enak didengar. Isi buku ini akan cocok bagi pembaca dari kalangan profesional ataupun mahasiswa semester akhir yang sedang bersiap memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, jangan heran jika setelah membaca buku ini, Anda akan merasa beberapa bab terkesan lebih memfokuskan topik dalam hal pemasaran seperti bagaimana cara agar presentasi Anda diterima klien atau bagaimana cara memasarkan produk yang baik, cara bernegosiasi, dll.

Salah satu poin utama yang ingin disampaikan melalui buku ini adalah sebuah ucapan yang disebut baik adalah ucapan yang bisa menggetarkan jwa. Dalam buku ini, kita diajarkan bahwa spotlight sebenarnya dalam berkomunikasi bukanlah diri Anda tetapi siapa yang mendengarkan Anda. Itulah mengapa konsep pintar mendengar, pandai berbicara muncul dalam buku ini. Buku ini juga mengajarkan pentingnya membangun logika berbicara dan teknik storytelling. Tentunya sebagai pendengar, Anda tidak akan betah mendengar perbincangan yang Anda rasa tidak sesuai dengan logika Anda. Selain itu, kita tidak bisa menampik kenyataan bahwa setiap orang senang mendengarkan 'cerita', oleh karena itu teknik storytelling dianggap paling ampuh untuk menarik simpati orang.

Tampilan cover buku ini memberikan kesan yang mirip dengan buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Tentu keduanya menggunakan komposisi warna yang berbeda namun keduanya berusaha tampil sederhana dengan hanya memfokuskan tampilan cover dengan judul buku yang dicetak cukup besar . Berbeda dengan cover buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat yang menggunakan warna orange yang tampak eye catching, buku ini tampil dengan cukup maskulin dengan warna biru tua jeans dan sentuhan aksen orange di beberapa bagian.

Ada begitu banyak ulasan positif berbahasa Indonesia yang diberikan kepada buku ini tetapi secara pribadi saya merasa jika Anda tidak terlalu awam dengan budaya Korea/ tokoh-tokoh terkenal Korea, buku ini cukup sulit untuk bisa relate dengan kehidupan Anda sehari-hari. Kita tidak bisa menampik bahwa buku ini adalah buku terjemahan dari bahasa Korea jadi seharusnya tidak mengejutkan jika isi buku ini kebanyakan menggunakan sosok-sosok orang Korea terkenal sebagai contoh tetapi karena ini pertama kalinya saya membaca buku terjemahan Korea, hal tersebut cukup mengusik bagi saya.

Keunggulan buku ini adalah memuat begitu banyak kutipan tips yang disajikan secara terstruktur hampir di setiap bab. Tips-tips tersebut diberikan dalam bentuk poin-poin sederhana sehingga bisa menjadi pedoman bagi pembaca yang benar-benar ingin meningkatkan kemampuan berbicaranya. Akumulasi tips tersebut telah membuktikan banyaknya referensi yang telah dikumpulkan penulis untuk mewujudkan buku ini. Tetapi sayangnya, serangkaian kutipan tips tersebut terlalu mendominasi isi buku ini

Sebenarnya, selain berisi kutipan tips-tips, penulis juga menyelipkan pengalaman pribadinya yang bisa menguatkan isi buku. Kisahnya yang semula adalah seorang anak yang tidak pandai bicara di depan umum berhasil menjadi daya tarik bagi pembaca yang merasa bernasib sama dan ingin meningkatkan kemampuan bicaranya. Pengalaman penulis sebagai seorang pengajar, penasihat, konsultan dan pembicara menjadikannya bisa mengetahui mayoritas keresahan yang sering dirasakan orang mengenai kemampuan berbicara. Hal tersebut, membuat isi buku ini tepat sasaran untuk orang yang merasa kemampuan berbicara itu penting.

Wednesday, July 8, 2020

[Sinopsis + Review Film] Big Eyes

Film yang dirilis tahun 2014 ini diangkat dari kisah nyata seorang pelukis terkenal Margaret Keane. Kisah perseteruannya dengan suaminya, Walter Keane sempat membuat kehebohan besar di dunia seni. Walter Keane yang semula terkenal dengan lukisan-lukisan ikoniknya yang berciri mata besar ternyata telah melakukan kebohongan selama bertahun-tahun. Film ini mencoba menceritakan kembali kebohongaan besar yang telah dilakukan Walter Keane.

Pada tahun 1958, Margaret (Amy Adams) berusaha kabur dari rumah bersama dengan anaknya menuju kota North Beach, San Francisco. Sesampainya di North Beach, ia bekerja sebagai pelukis di perusahaan furniture dan menjadi pelukis jalanan setiap hari Minggu. Margaret bertemu pertama kali dengan Walter Keane ( Christoph Waltz ) ketika mereka sama-sama menjajakan lukisan di jalanan. Hubungan mereka semakin dekat dan berkembang menjadi perasaan cinta. Sosok Walter Keane yang tampak begitu romantis dan punya gairah sebagai seniman berhasil memikat hati Margaret. 

Walter selalu berbicara tentang keinginannya agar bisa hidup sebagai seniman sejati tetapi nyatanya kemampuannya dalam pemasaran lebih unggul dibandingkan kemampuannya dalam melukis. Berbeda dengan sosok Margaret yang begitu cepat dan bebas menumpahkan emosinya ke dalam lukisan, Walter hanya bisa melukis ketika inspirasi datang ( walaupun di akhir cerita kita tahu bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat Walter saja ).


Bagi Margaret, anaknya, Jane ( Delaney Raye, Madeleine Arthur ) adalah satu-satunya harta yang ia miliki. Bahkan semua lukisan potret yang dia buat adalah penggambaran dari sosok Jane yang dimodifikasi berulang kali. Oleh karena itu, ketika surat dari pengadilan menyatakan mantan suaminya ingin mengambil Jane, hati Margaret terasa hancur. " Menikahlah denganku ", kata Walter. Tentunya lamaran tersebut menjadi solusi sekaligus mengabulkan keinginan Margaret yang telah terpesona dengan sosok Walter. Sikap Walter yang terlihat terburu-buru dan 'terlalu sempurna' membuat sahabat Margaret, Dee-ann ( Krysten Ritter ) curiga. Namun, Margaret membela Walter dan mengatakan mungkin ia telah bersikap naif tetapi ia mengenal suaminya itu.


Walter berusaha mempromosikan lukisan miliknya dan Margaret. Ia mendatangi galeri seni, namun ditolak. Ia mengatakan kepada Margaret bahwa cukup sulit untuk bisa memasang lukisan mereka berdua karena menurutnya ada perkumpulan rahasia antara pemilik galeri dan kritikus yang berkonspirasi menentukan lukisan yang bagus atau tidak. Meskipun begitu, Walter tidak kehabisan akal, ide brilian Walter muncul ketika mereka sedang minum di bar, ia mengajukan diri untuk menyewa dinding bar disana untuk memajang lukisan mereka berdua. 


Sayangnya, Banducci ( Jon Polito ), sang pemilik bar hanya memperbolehkan lukisan mereka di pajang di dinding lorong menuju toilet. Walter merasa tersinggung terhadap sikap sang pemilik bar hingga menyebabkan pertengkaran yang akhirnya menjadi berita utama di koran. Tidak terduga ternyata pertengkaran tersebut justru membuat banyak orang tertarik ingin melihat lukisan pelukis 'Keane' dan momen inilah yang menjadi titik awal lukisan 'Keane' menjadi terkenal.

Kebohongan Walter dimulai ketika ia mengaku dirinyalah yang telah melukis lukisan dengan ciri mata besar 'Keane'. Padahal lukisan tersebut dibuat oleh Margaret yang menggunakan inisial nama Keane karena ia telah menikah dengan Walter 'Keane'. Margaret merasa terkhianati dengan sikap Walter, namun bujuk rayu Walter berhasil membuat Margaret mengikuti rencana kebohongan sang suami. Kebohongan demi kebohongan terus dilakukan Walter, salah satunya mengenai alasan mengapa lukisan Keane selalu menampilkan karakter dengan mata yang besar. Ia berusaha menarik simpati publik dengan mengarang cerita tentang anak-anak terlantar menyedihkan yang telah menjadi sumber inspirasinya. Padahal alasan Margaret melukis dengan ciri khas mata besar karena ia menganggap mata adalah jendela jiwa dan melalui mata itu ia bisa mengekspresikan emosinya.


Walter selalu punya ide yang cerdas, naluri bisnisnya menjadikan lukisan menjelma menjadi komoditas yang bisa dijual dengan harga murah. Ia menjual salinan lukisan dalam bentuk poster. Orang-orang yang tidak punya cukup uang untuk membayar lukisan dengan harga tinggi dapat menikmati keindahannya melalui poster dengan harga yang lebih murah. Namun, perbuatannya itu membuat kritikus seni semakin gencar menyerangnya. Walter dianggap telah mencoreng keagungan sebuah karya seni.


Margaret mulai merasa khwatir dengan jati dirinya sebagai pelukis, ia mulai belajar melukis dengan teknik yang berbeda. Selain itu, ia mencoba menghilangkan ciri khasnya yang selalu menggambar mata dengan ukuran besar. Ia mulai mencoba untuk keluar dari kurungannya dengan menggunakan inisial MDH 'Margaret Doris Hawkins' Keane. Sayangnya, Margaret tidak sepandai Walter dalam mempromosikan lukisannya. 

Suatu hari, Margaret menemukan sebuah lukisan yang menjadi bukti seberapa buruk Walter telah membohonginya selama ini. Sosok Walter yang mengaku selalu ingin menjadi pelukis sejati ternyata telah melakukan kebohongan sejak lama. Ia ternyata sudah sering memalsukan karya seseorang menjadi atas namanya, 'Keane'. Walaupun, rasa kebencian dan kekecewaan mulai menumpuk di hati Margaret ia tetap tidak bisa lepas dari bayang-bayang Walter sampai suatu hari ketika Walter yang sedang mabuk berusaha membakar Margaret dan Jane hidup-hidup membuat Margaret tidak punya pilihan lain selain kabur ke Hawaii.


Usaha Margaret untuk lepas dari Walter membuatnya menyetujui untuk memberikan 100 lukisan sebagai syarat perceraian. Puncaknya, Margaret memberanikan diri untuk mengajukan tuntutan kepada Walter melalui pengadilan dan akhirnya kebohongan Walter selama ini pun terbongkar. Kini, Margaret telah mendapatkan pengakuan atas semua karya seninya.


Sebagai seorang penonton saya menemukan sebuah lubang kosong yang terbentuk ketika alur cerita menampilkan Margaret memutuskan menuntut suaminya. Menurut saya, pergerakan cerita terkesan dipaksakan untuk segera diselesaikan. Kesan 'dipaksakan' berlanjut ketika sutradara berusaha menyelipkan komedi yang justru terkesan garing. Penonton dibuat bingung dengan kemasan film yang seakan-akan begitu serius mengangkat kisah nyata Margaret Keane namun aksi komika pemeran Walter Keane pada saat adegan persidangan tidak berhasil menghibur. Adegan itu justru mengganggu aliran cerita yang telah dibangun. Humor yang ditawarkan terkesan kering atau terlambat dikemas menurut saya. Parahnya, adegan yang seharusnya cukup lucu itu justru membuat saya bosan. Seharusnya, jika Tim Burton memang ingin mengemas cerita ini dengan lebih santai, akan lebih baik humor itu dimasukkan sejak awal cerita.

Kedangkalan karakter juga terjadi pada beberapa tokoh di dalam cerita. Karakter tokoh kritikus seni dari New York Times, John Kanaday ( Terence Stamp ) tampak hanya sebagai pelengkap saja. Ya, mungkin karena konflik sesungguhnya yang ingin diceritakan adalah masalah kebohongan Keane namun sayang sekali karakter tokoh tersebut tidak meninggalkan kesan yang cukup berarti. Selain itu, kemunculan sosok Lilly, anak Walter dari pernikahannya yang pertama justru membingungkan karena hanya hadir sebagai selingan cerita tanpa memberikan sebuah dampak besar dalam jalannya cerita.


Kita akan selalu mengingat Tim Burton dengan karya-karyanya yang unik dengan kesan gothic, sebut saja Alice in Wonderland, Dark Shadows, Corps Bride, dll. Ia berusaha tetap setia pada seleranya karena itu adalah ciri khasnya, namun keunikan itu cukup aneh jika ditampilkan dalam film berdasarkan kisah nyata.

Di balik pendapat yang telah saya utarakan, saya tetap merasa film ini cukup layak ditonton bagi orang-orang yang punya ketertarikan dengan kisah kebohongan besar yang dilakukan seorang Walter Keane dan bagaimana perjuangan Margaret Keane mengambil haknya kembali.

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...