Makoto Shinkai, sang penulis dan sutradara berusaha meramu kisah mengenai dua pasang remaja laki-laki dan perempuan yang saling bertukar tubuh kemudian berusaha saling menemukan. Bukan hanya pertukaran tubuh, Shinkai juga mewujudkan cerita dimana dua orang yang berasal dari dimensi waktu berbeda pada akhirnya bisa bersatu. -ruangjiwa-
"I'm searching for you, though I've met you not".
Film berdurasi 1 jam 46 menit ini menyajikan cerita dengan premis yang cukup unik. Genre fantasi yang semula membuat saya sedikit enggan menonton justru berhasil membuat saya ikut melebur dalam cerita.
Diawali dengan monolog dua karakter pemeran utama, Mitsuhara Miyamizu dan Taki Tachibana, mereka merasa ada sesuatu yang hilang saat bangun tidur, perasaan untuk mencari sesuatu dan seseorang namun tidak tahu siapa.
Setelah monolog tersebut, kita akan dibawa ke dalam cerita mereka ketika masih remaja. Mitsuhara Miyamizu adalah seorang murid SMA yang tinggal di desa Itomori, ayahnya adalah walikota disana. Suatu hari, ia mulai merasakan keanehan karena seringkali bermimpi menjalani kehidupan sebagai anak laki-laki. Sementara itu, Taki Tachibana juga merasakan keanehan yang sama. Berbeda dengan Mitsuhara yang tinggal di pedesaan, Taki tinggal di Tokyo bersama ayahnya.
Semula mereka berdua merasa hal yang terjadi hanyalah mimpi belaka hingga pada akhirnya teman-teman mereka mulai protes karena tingkah mereka sering berubah-ubah. Taki dan Mitsuhara akhirnya menyadari bahwa selama ini mereka saling bertukar tubuh. Mereka harus terus 'waspada' karena pergantian tubuh tersebut terjadi di hari yang acak.

Mitsuhara dan Taki yang tidak pernah saling kenal akhirnya membuat kesepakatan untuk melindungi kehidupan sekaligus privasi masing-masing. Mereka berdua membuat catatan dan larangan yang harus dipatuhi selama bertukar tubuh. Selain itu, mereka juga membuat laporan di ponsel dan bekerjasama untuk menghadapi 'fenomena aneh' yang mereka alami ini. Tentunya tidak mudah untuk menjalaninya, namun hal tersebut membuat mereka lebih mengenal satu sama lain. Seiring waktu, mereka mulai mencoba ikut andil memperbaiki kehidupan satu sama lain. Hubungan Taki dan seniornya Miki Okudera menjadi semakin dekat berkat Mitsuhara sedangkan Mitsuhara semakin populer di sekolahnya berkat Taki.
Suatu hari, Mitsuhara mengatur agar Taki bisa berkencan dengan Miki. Namun setelah kencan tersebut, Taki dan Mitsuhara tidak pernah bertukar tubuh lagi. Taki mulai merasa kehilangan, ia pun mencoba terus menerus menghubungi Mitsuhara, namun nomor ponselnya tidak pernah aktif. Pada akhirnya, Taki memutuskan pergi mencari Mitsuhara dengan hanya berbekal lukisan pemandangan desa Itomori yang ia ingat. Dengan ditemani temannya, Tsukara dan seniornya, Miki, pencarian Taki pun dimulai.
Setelah pencarian yang panjang, sebuah kenyataan mengejutkan terkuak. Desa Itomori yang dicari oleh Taki ternyata telah hancur sejak tiga tahun lalu akibat komet jatuh. Taki tidak percaya, ia pun mengecek nama korban meninggal akibat bencana tersebut dan ternyata nama Mitsuhara Miyamizu tercatat disana. Catatan di ponsel Taki yang dibuat Mitsuhara pun ikut menghilang, bahkan setelahnya, ingatan Taki tentang Mitsuhara pun mulai kabur.
Taki tidak ingin menyerah, ia teringat pernah mengunjungi tubuh kuil keluarga Miyamizu untuk meletakkan kuchikami-zake (semacam arak beras yang dibuat dengan cara mengunyah nasi di dalam mulut, dilakukan oleh gadis kuil sebagai ritual persembahan). Sesampainya disana, Taki semakin yakin apa yang terjadi padanya bukanlah mimpi. Ia meminum kuchikami-zake yang ada disana sembari berdoa agar bisa mengulang kembali waktu. Setelah meminumnya, seketika semua memori milik Mitsuha terlintas di dalam pikiran Taki.

Taki kembali bertukar tubuh dengan Mitsuhara dan berusaha mengubah takdir desa Itomori. Ia meminta pertolongan Tessie dan Sayaka untuk mengevakuasi semua warga ketika komet akan jatuh. Namun, siapa yang akan percaya dengan kata-kata anak SMA yang terdengar tidak masuk akal? Di antara rasa putus asa itu, memori ketika Mitsuhara mencoba datang ke Tokyo untuk menemui Taki pun muncul. Ternyata, Mitsuhara pernah bertemu dengan Taki tiga tahun lalu, namun saat itu Taki belum mengenal Mitsuhara. Hal itu karena mereka berada di dimensi waktu yang berbeda. Misteri tentang gelang yang selalu dipakai Taki pun terpecahkan, ternyata gelang tersebut diberikan oleh Mitsuhara ketika mereka bertemu di kereta, namun Taki tidak mengingatnya.

Setelah memori tersebut muncul, Taki segera berlari ke puncak kawah desa Itomori. Di dimensi waktu yang berbeda, Mitsuhara pun ikut mencari Taki di puncak kawah tersebut. Mereka pada akhirnya bisa saling bertemu setelah melintasi waktu. Saat bertemu, Taki mengembalikan gelang yang diberikan oleh Mitsuhara dan berharap ia menyimpannya kembali. Sebelum berpisah, Taki mengusulkan agar mereka saling menulis nama masing-masing di telapak tangan agar tidak melupakan nama satu sama lain saat kembali ke tubuh asal. Namun sayangnya, hanya Taki yang sempat menuliskan sesuatu di tangan Mitsuhara.
Taki dan Mitsuhara kembali ke tubuh masing-masing. Ingatan Taki tentang Mitsuhara mulai menghilang sementara itu Mitsuhara berusaha melanjutkan rencana Taki untuk menyelamatkan desa Itomori. Namun sayangnya rencana yang dibuatnya bersama Tessie dan Sayaka gagal total. Sayaka ditangkap oleh pihak keamanan balai kota dan Tessie dimarahi ayahnya yang merupakan kontraktor pembangunan desa Itomori. Ketika merasa tidak ada harapan lagi, Mitsuhara membuka telapak tangannya yang berisi tulisan Taki. Ternyata yang Taki tuliskan di telapak tangan Mitsuhara bukanlah namanya, melainkan kalimat aku mencintaimu.
Mitsuhara bangkit kembali, satu-satunya harapan yang tersisa adalah dengan membujuk ayahnya, walikota Itomori untuk menyetujui pengevakuasiaan warga. Itu adalah pertaruhan terakhir yang bisa ia lakukan.
Mitsuhara berhasil menyelamatkan desa Itomori. Namun, ia tidak bisa mengingat memori tentang Taki, begitu pula Taki. Mereka sama-sama merasa kehilangan 'seseorang' tetapi tidak bisa mengingat namanya.
Lima tahun pun berlalu, Taki telah lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Suatu hari, Taki bertatapan dengan seorang gadis di kereta dan merasa seperti mengenal gadis itu. Setelah kereta berhenti, Taki berusaha mengejar gadis tersebut. Di sisi lain, gadis itu juga merasa mengenal Taki. Hingga pada akhirnya mereka berpapasan di sebuah tangga. Mereka berdua ragu untuk saling menyapa. Taki sangat penasaran dengan gadis tersebut, ia pun berbalik dan bertanya, "Apakah kita pernah bertemu?". Sang gadis pun menangis dan berkata, "Aku juga berpikir begitu", "Namamu adalah..?".

Ingin sedikit bercerita tentang pertemuan saya dengan film ini. Beberapa hari lalu, saya mencoba memilih dengan acak film yang ingin direview berikutnya, namun hal tersebut berakhir mengecewakan. Ada beberapa film yang tidak berhasil diselesaikan, itulah mengapa saya memutuskan mengambil jeda untuk menulis. Saya keburu kecewa akan pilihan saya yang tidak tepat sasaran. Hingga pada akhirnya, saya menulusuri situs IMDb untuk mendapat rekomendasi film. Di antara daftar top rated movie versi IMDb, sebenarnya film ini menempati peringkat yang tidak begitu tinggi. Film Your Name berada di peringkat 75 dengan rating 8.3. Lalu mengapa saya tertarik menonton dan berbagi cerita tentang film ini? Karena film ini luar biasa dan saya ingin Anda bisa merasakan hal yang sama.
Bisa dikatakan, dari kecil saya sudah 'diracuni' dengan kesukaan kakak kedua saya dalam mengoleksi komik dan menonton anime. Untuk komik, saya bisa melahap seluruh genre tanpa pilih-pilih sedangkan untuk serial anime sejujurnya saya hanya setia pada serial Kuroko no Basuke dan Free. Mirisnya, film terakhir anime yang saya tonton adalah Doraemon: Stand by Me. Ini berarti, film Your Name adalah film anime pertama yang saya tonton setelah 6 tahun lamanya. Oleh karena itu, saya harap Anda dapat memaklumi kapasitas saya dalam menceritakan dan mereview film ini dari perspektif orang yang sudah lama tidak menonton film anime.
Saya merasa harus memuji plot cerita yang dibuat oleh Makoto Shinkai. Hingga menit-menit terakhir film, saya masih dibuat berdebar-debar mengenai nasib desa Itomori. Awalnya saya mengira film ini hanya akan menyajikan konflik feminis dan maskulin dari kedua tokoh yang saling bertukar tubuh, namun Makoto menawarkan cerita yang tidak sesederhana itu, kenyataan bahwa mereka berada di dimensi waktu yang berbeda adalah plot twist yang perlu diapresiasi.
Film ini adalah karya kedua Makoto yang pernah saya tonton. Sebelumnya, saya pernah menonton salah satu karya Makoto yang berjudul The Garden of Words, Kotonoha no Niwa. Saat itu, saya menontonnya karena membaca rekomendasi film animasi dengan visual terbaik. Menonton film ini membuat saya semakin yakin akan kualitas visual yang ditawarkan Makoto. Ia mampu menampilkan visual khas animasi Jepang dengan begitu indah. Penggambaran desa Itomori yang terpencil dikemas begitu indah dengan pemilihan warna yang luar biasa.
Dengan menonton film ini, saya diajarkan mengenai berbagai macam kebudayaan Jepang yang masih kental. Sosok Mitsuhara yang seorang gadis kuil digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang kepada penonton, mulai dari pembuatan kuchikami-zake, seni mengepang tali dan pita yang disebut kumihimo hingga musubi (dewa perjodohan, cinta dan pernikahan dalam kepercayaan agama Shinto).