Saturday, August 18, 2012

Metode agar senior menjadi pacarmu ( versi film First Love a little thing crazy called love^.^)

1.   Menangkan hatinya dengan kepercayaan Yunani. Pergilah ke tempat dimana bisa melihat bintang. Lalu pakai jarimu untuk menulis inisial orang yang kau sukai dengan menghubungkan bintang
2.     Metode kuno dari bangsa Maya. Kita berkonsentrasi. Lihat ke orang yang kita sukai. Cobalah kontrol pikirannya. Suruh dia patuhi perintah kita. Jika dia mengikuti perintah kita, itu artinya dia belahan jiwa kita.
3.   Metode dari Skotlandia, memberi barang yang disukai olehnya secara diam-diam, dan tidak boleh ketahuan. Jadi dia akan tahu, ada yang suka padanya
4.   Metode dari Gypsi, bangun rasa cinta dari tubuh kita, gunakan rasa cinta agar kita menjadi pintar. Lebih cantik dan lebih baik dalam segala hal. Dia akhirnya akan berpaling pada kita.
5.  Jika tindakanmu didasari rasa cinta, lakukanlah dengan segenap hati. Orang yang kau sukai akan berpaling padamu

First Love A Little Thing Crazy Called Love (2)

Ini adalah lanjutan dari sinopsis film First Love A Little Thing Crazy Called Love (1) yang sudah saya tulis sebelumnya. Selamat membaca.....

Pada malam harinya, di rumah Nam, ketiga teman Nam sedang asyik membahas buku tentang metode mendapatkan pacar kakak kelas, disisi lain Nam berpura-pura belajar padahal ia mencuri dengar apa yang dikatakan temannya. Saat teman-temannya bertanya apakah Nam tidak ikut mempraktekan metode di buku itu, Nam berbohong ia mengatakan bahwa buku itu tidak masuk akal, padahal ketika temannya pulang Nam langsung mempraktekan metode pertama di buku itu, menuliskan nama orang yang kita sayangi dengan menghubungkan bintang.
            Dikantin sekolah, salah satu teman Nam mengatakan ada yang berubah pada penampilan Nam, Nam pun menunjukkan giginya yang telah dipasang kawat. Ketiga teman Nam melanjutkan mempraktekan metode kedua dari buku yang mereka pinjam. Metode kedua adalah jika kita mampu menghipnotis lelaki yang kita sukai hingga mereka tanpa sadar melakukan apa yang kita katakan dalam hati, berarti mereka adalah belahan jiwa kita. Nam pun melakukan hal itu kepada Shone, ia berkata dalam hati agar Shone berpaling dan ternyata Shone melakukan itu. Melihat apa yang dilakukan Nam, temannya pun bertanya kembali bukankah Nam menganggap buku yang mereka pinjam tidak masuk akal?Nam pun tidak bisa mengelak ia pun akhirnya mengakui bahwa ia juga ingin mencoba metode dalam buku tersebut namun ia takut diejek.
            Setelah pulang sekolah, Nam dan ketiga temannya melakukan metode ketiga, memberikan benda yang disukai lelaki yang kita sukai tanpa ketahuan. Ketika mereka akan meletakkan cokelat di motor Shone, ternyata motornya sudah penuh dengan hadiah dari gadis-gadis lain, ketiga teman Nam akhirnya mengambil semua hadiah itu dan hanya meletakkan cokelat Nam dimotor Shone. Ketika mereka beraksi ternyata mereka ketahuan oleh Shone, mereka pun akhirnya kabur. Beberapa saat kemudian, mereka mengintip bagaimana reaksi Shone mendapatkan hadiah dari Nam, namun ketika Shone mengangkat kotak cokelat yang diberikan Nam ternyata coklatnya mencair. Nam pun tampak kecewa.
            Nam pun akhirnya berpikir lagi apa yang sebaiknya ia berikan pada Shone, ia pun teringat akan kejadian ketika Shone memberikan mangga padanya, ia pun mendapat ide untuk memberikan mangga pada Shone. Namun, teman-temannya mengatakan itu tidak romantis. Pada saat mereka membicarakan hal tersebut, nampak seorang gadis memberikan Shone kue mangga. Melihat hal tersebut Nam semakin kecewa, teman-temannya pun menyarankan agar Nam menyerah.
            Sepulang sekolah, tiba-tiba salah satu teman Nam mendapat ide agar Nam bisa diantar oleh kak Shone, mereka akan berpura-pura kehilangan kunci motor. Namun mereka kali ini kalah lagi oleh aksi gadis “kue mangga’, ia lebih dahulu beraksi dengan berpura-pura terkilir di depan Shone, Shone yang baik hati pun berusaha menolong gadis itu dan mengantarkannya pulang. Nam pun kecewa (lagi!!) apalagi setelah gadis itu menunjukkan senyuman kemenangan kepada Nam dan teman-temannya.
            Dirumah Nam, ketiga teman Nam berkunjung kerumahnya, mereka berniat melakukan metode ketujuh dari buku itu yaitu menjadi cantik agar bis amendapatkan hati laki-laki yang disukai. Ketiga teman Nam pun melakukan perawatan untuk Nam agar Nam tampak lebih menarik dimata Shone. Setelah melakukan perawatan Nam dan ketiga temannya mendatangi toko milik ayah Shone namun Shone ternyata sedang pergi. Tak lama kemudian Shone datang dan menyapa Nam, ia merasa aneh dengan warna kulit Nam yang menjadi kuning ia pun bertanya pada apakah Nam sakit, sambil meletakkan telapak tangannya dikening Nam. Tentu saja Nam gugup dengan apa yang dilakukan Shone kepadanya.


Friday, August 17, 2012

Adegan favorit (First love little crazy called love)

Akhirnya diakhir cerita diungkapkan bahwa Shone sudah menyukai Nam sejak lama, ia bahkan memberikan Nam apel yang telah ia gigit dan menulis kalimat
"Kepada Putri Salju : Sudah kucicipi, tidak ada racun"

Sesosok Wanita di Kursi Itu

Sebenarnya cerpen ini sudah lama saya buat. Cerpen ini saya buat dalam rangka tugas dari guru Bahasa Indonesia saya, pada saat saya duduk di kelas 1 SMA.



Sesosok Wanita di Kursi Itu
           

Wanita itu aku panggil dengan sebutan Ibu. Sebuah gelar mulia dan terindah di dunia. Ibuku, ia selalu duduk di kursi itu dengan pandangan menerawang jauh. Ia seperti akan terbang layaknya bunga rapuh yang siap tertiup angin. Melihat sosoknya di kursi sudut ruang itu, begitu kesepian, aku takut ia akan mengembun bersama udara-udara dan menghilang dari pandangan mataku. Punggungnya yang semakin bungkuk, semakin hari semakin tertuntuk, sebuah tanda sisa-sisa keringatnya dulu. Gambaran keriput diwajahnya memilukan hatiku. Masih teringat aku akan tangan lembut yang selalu mengelus rambutku ketika senja datang, suara merdunya selalu memperdengarkan kepadaku tentang dongeng-dongeng dunia mimpi. Ketika malam semakin temaram dan hanya suara jangkrik yang terdengar, Ibu selalu mengecup lembut pipiku, matanya akan selalu terbuka sampai aku terjaga diatas pangkuannya. Aku tahu Ibu selalu dengan lembut membangunkanku ketika pagi, ia khawatir aku tidak merasakan tidur yang cukup tadi malam. Kemudian Ibu akan menanyakan dengan lembut ingin makan apa aku pagi ini. Ibu selalu tahu apa yang kurasakan, ketika akau menangis Ibu tahu, meskipun aku menyembunyikannnya, ia akan duduk disampingku dan menunggu sampai aku mau menceritakan masalahku.
            Tapi kini sosok Ibuku telah hilang dan menjadi sosok lain dikursi itu, “Tidak!!! Itu bukan Ibu!! Orang itu hanya berpura-pura menjadi Ibuku!!! Orang itu penipu!!! Ibuku akan kembali dengan senyuman untukku”.
            Sosok Ibuku kini terduduk pilu disudut ruangan itu, binar matanya seperti tertahan. Sebuah beban berat telah menyesakkan dan menyumbat setiap oksigen yang dihirupnya. Dibalik matanya aku tahu, ia menunggu seseorang, sesosok lelaki pendamping hidupnya yang aku sebut “Ayah”.”Tidak!!! Aku tidak sudi menyebutnya Ayah. Orang itu telah mengambil cahaya kehidupan Ibu”.
            Aku tahu Ibu sangat mencintai Ayah lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. ‘Orang itu’ selalu pergi ketika malam dan pulang saat fajar dengan bau alkohol yang menyengat dan sebatang rokok disudut bibirnya, rambut acak-acakkan dan ocehan tidak jelas. Lebih parahnya lagi ketika ia kalah berjudi ia akan mengumpat dan mengatakan segala kata kotor sambil membanting perabotan rumah. Ia selalu menghilangkan waktu tidur Ibu, karena Ibu akan selalu setia membukakan pintu untuknya. Aku kesal mengapa Ibu dulu sudi menerima lamaran pria seperti dia padahal dengan kecantikan rupa dan hati Ibu, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pria yang lebih baik.
            Aku selalu memasang muka jijik ketika melihatnya agar ia tahu betapa jijiknya aku memiliki sosok Ayah seperti dia. Tidak ada lagi rasa hormat yang kuberikan kepadanya. Bagiku ia hanya seonggok daging yang menumpang makan, minum, dan tidur dirumahku. Bagiku dalam hidup hanya ada aku dan Ibu.
            Orang itu selalu mengambil paksa uang Ibu, kadangkala Ibu memberikannya seakan-akan itu kewajibannya. Inginku berteriak dan mencaci maki orang itu,”Dimana harga dirimu sebagai seorang Ayah, seorang kepala keluarga?”. Tapi Ibu selalu menasehatiku untuk diam, diam akan lebih baik untuk memecahkan masalah. Aku terus menahan setiap caci makiku, seperti menimbun bom atom yang siap meledak dengan dasyhatnya.
            Hingga pada suatu malam, akhirnya ketabahan dan kesabaran Ibu menghilang. Malam itu Ibu menolak memberikan uangnya kepada ayah dengan alasan untuk membayar biaya sekolahku, memang pada kenyataanya aku sudah 2 bulan menunggak uang sekolah.
            Orang itu mencaci maki Ibu dengan kata-kata yang tak pantas, kata-kata bagai panah yang siap menusuk jantung Ibu dan mengalirkan racun disetiap aliran darah Ibu. Aku berusaha menutup telingaku dengan bantal, aku sudah lelah dengan semua ini, tapi suara orang itu yang semakin keras berhasil melewati gumpalan-gumpalan kapuk dan masuk ke gendang telingaku menstimulus otakku untuk memberi tanda pada bom atom yang tertumpuk dihatiku untuk bereaksi dan siap untuk meledak.
            Aku keluar dari kamarku dan menghampiri orang itu. Kulampiaskan kekesalanku padanya, caci maki yang telah kupendam mengalir dengan lancar. Aku tak peduli lagi apabila malaikat akan mencatat namaku sebgai anak durhaka yang tidak menghormati orang tua. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dipipiku. Rasa panas dipipiku mengalir hingga hatiku dan mendidihkan darahku. Ibuku mengusap pipiku, tangan lembutnya memuaikan rasa panas dipipiku. Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua mata indahnya, mata itu begitu menyiksa batinku, aku seperti masuk ke dalam hati Ibu yang sudah terkoyak. Ia berkata, “Masuklah, nak. Ibu akan menyelesaikan masalah ini sendiri”. Dengan langkah ragu aku kembali ke kamarku, sesungguhnya aku ingin membela Ibu agar orang itu sadar bahwa perbuatannnya itu salah. Jika ia sadar dan berubah tentu saja tentu saja tidak akan ragu aku untuk menyebutnya “Ayah”. Pikiranku kalut, badanku sudah tak bertenaga lagi dengan bom atom yang masih mengganjal, aku pun terlelap diantara suara pertengkaran Ibu dan ‘orang itu’.
            Suara Ibu terdengar sayup diantara dinginnya fajar, aku menarik selimutku, Ibu kembali memanggilku sambil menepuk lembut tubuhku agar akau bangun. Aku bangun dan langsung bertanya pada Ibu,”Ibu bagaimana ayah??”.Ibu terdiam dan tertunduk sepertinya ia menahan tangis.”Ibu telah mengusirnya”, satu kalimat yang berhasil membuat mataku terbelalak. ”Sudahlah”, kata Ibu sambil meinggalkanku dengan beribu pertanyaan.
            Sejak saat itu, sosok Ibuku hanya duduk dikursi itu, sebuah kursi disudut ruang tamu.
“Kumohon kembalikan Ibuku”

“Kata yang paling indah dibibir umat manusia adalah kata Ibu,
dan panggilan paling indah adalah Ibuku. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta,
kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati”
(Kahlil Gibran)

Sepenggal asa

Sebenarnya saya menulis autobiografi ini dikarenakan tugas dari guru Bahasa Indonesia saya. Lalu saya berpikir tidak ada salahnya saya memposting autobiografi saya ini di blog. Baiklah, selamat membaca...

Gema takbir di malam lebaran, seakan-akan turut menyambut kelahiran seorang bayi ke dunia ini, dan suara tangis bayi yang terdengar saat itu seperti berlomba-lomba dengan suara takbir malam itu. Dan bayi mungil itu adalah saya. Saya lahir di Lahat, 19 Februari 1996 dengan nama Fitri Handayani. Orang tua saya bernama Candra Hutapri dan Nirwana. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama saya bernama Viora Toriza dan kakak kedua saya bernama Andrea Vinoza.
            Setelah pembaca mengetahui nama saudara-saudara saya, tidakkah terlintas dipikiran pembaca bahwa nama saya sendirilah yang tergolong ‘biasa-biasa’ saja? Setelah saya cukup besar saya pernah melakukan aksi protes mengenai nama saya itu. Dan kedua orang tua saya mengatakan bahwa, nama saya sebenarnya diberikan oleh kakak perempuan mama saya. Saat itu, beliau sedang berduka karena baru saja ditinggal putri kesayangannya, dan untuk mengenang putrinya, ia meminta agar saya diberi nama yang sama seperti putrinya itu.
            Dalam kisah Romeo dan Juliet, Shakespeare pernah mengatakan, “Apalah arti sebuah nama?”, dan kali ini saya menyetujui pernyataan tersebut, bukanlah nama atau penampilan luar yang penting, namun bagaimana kita membekali diri masing-masing. Dan setiap orang terlahir istimewa, tanpa dipengaruhi nama mereka.
            Terlahir sebagai anak bungsu membuat saya menjadi pribadi yang manja, ditambah lagi dengan jarak umur yang cukup jauh antara saya dan kedua kakak saya, semakin membuat mereka lebih memanjakan saya. Namun, dibalik sifat saya yang manja, sesungguhnya saya adalah sosok yang berprinsip teguh. Saya akan sulit mengubah apa yang sudah saya putuskan sebelumnya, bahkan saya sering dianggap egois untuk masalah tertentu. Tapi, inilah saya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada.
            Memiki rahang tinggi, alis yang tebal dan mata yang tajam seringkali membuat semua orang menganggap saya sombong pada pandangan pertama. Tapi, sebenarnya itu hanyalah tampilan luar semata, saya adalah orang yang berusaha menyesuaikan diri saya dalam berbagai situasi. Jika saya merasa berada dalam situasi yang serius, saya akan bersikap serius, begitu pula sebaliknya, jika berada dalam situasi santai saya akan menempatkan diri saya sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, janganlah menilai seseorang dari tampilan luarnya saja.
            Masa kecil saya penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang yang berlimpah. Sejak kecil saya memiliki hobi yang sampai sekarang tetap menjadi kegemaran saya, yaitu menggambar. Mama saya pernah bercerita, dulu saat saya menangis pun mama selalu membujuk saya dengan memberikan buku gambar dan pensil warna, kemudian saya akan menumpahkan kekesalan saya dengan mencoret-coret buku gambar yang sudah diberikan. Dan tidak bisa saya pungkiri bahwa sampai sekarang pun saya selalu menumpahkan perasaan saya dengan menggambar.
            Hobi ini jugalah yang membuat saya bercita-cita menjadi seorang arsitek. Saya berharap suatu hari nanti, dengan menjadi arsitek saya bisa membangun sebuah rumah dengan segala perabot berwarna putih sesuai keinginan saya. Saya adalah penyuka warna putih, karena bagi saya warna putih itu melambangkan kesucian tanpa adanya kebohongan, kecurangan dan segala hal buruk lainnya. Hal ini benar-benar menggambarkan pribadi saya yang tidak suka dibohongi, menurut saya jika anda sudah dikhianati melalui kebohongan tentu anda akan susah memberi kepercayaan lagi kepada orang tersebut. Selain warna putih, saya juga tergolong penyuka kucing. Kucing adalah hewan yang tergolong manja dengan pemiliknya, seperti saya yang manja dengan saudara-saudara saya.
            Saya menempuh pendidikan pertama saya di TK Bhayangkari II, kedua orang tua saya memasukkan saya ke TK ini karena letaknya dekat dengan tempat mama saya bekerja. Kemudian, saya melanjutkan pendidikan saya di SD Santo Yosef Lahat. Saat itu, saya merasa selalu dibayang-bayangi nama saudara-saudara saya yang sudah lebih dahulu menempuh pendidikan disana. Hal ini membuat saya selalu berpikir untuk meniru apa yang mereka lakukan. Padahal, saya hanya ingin diakui sebagai diri saya sendiri tanpa bayang-bayang saudara saya. Setelah menginjak masa sekolah menengah di SMP Santo Yosef Lahat, saya berangsur-angsur mengenal jati diri saya yang sesungguhnya. Saya semestinya bangga menjadi diri saya yang sekarang bukannya memilih menjadi orang lain. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi bukan berarti untuk menutupi kekurangan, kita berusaha menjadi orang lain.
            Dan kini, saya sedang menjalani pendidikan di SMAN 4 Lahat. Sekolah yang dianggap unggulan di Kabupaten Lahat. Semula saya tidak berencana menempuh pendidikan disini, saya justru berencana melanjutkan pendidikan di SMA Santo Yosef Lahat. Saya mengikuti tes seleksi masuk sekolah ini untuk mengukur kemampuan saya saja. Namun, dihari terakhir daftar ulang, saya berubah pikiran dan keputusan saya untuk bersekolah disini pun akhirnya didukung papa saya, karena beliau merasa inilah sekolah yang terbaik untuk anaknya.

Resensi : Hujan dan Teduh


Cerita dari Dewatra

Judul Novel      : Hujan dan Teduh
Penulis              : Wulan Dewatra
Penerbit            : GagasMedia, Jakarta, Cetakan II, 1 Mei 2011
Tebal                 : vi + 250 halaman
Harga                : Rp 43.000,00
Resensator        : Fitri Handayani

            Novel ini bergenre roman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”Roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.” Novel ini ditulis oleh salah satu mahasiswi jurusan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia yang bernama Wulandari Putri. Penulis ini lebih dikenal dengan nama pena Wulan Dewatra. Novel Hujan dan Teduh merupakan novel pertama Wulan Dewatra yang diterbitkan. Walaupun novel ini merupakan novel pertamanya, ia telah membuktikan kualitas tulisannya dengan menjuarai Lomba 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan penerbit GagasMedia sebagai juara pertama.
            Tokoh utama novel ini bernama Bintang. Wulan Dewatra menggambarkan Bintang sebagai gadis yang kuat, anak tunggal yang hanya dibesarkan seorang Ibu. Wulan Dewatra meramu ceritanya dengan menggabungkan cerita di masa lalu dan masa sekarang tokoh utama. Perbedaan cerita di masa lalu dan masa sekarang tokoh utama ditandai dengan penggunaan tulisan miring pada cerita masa lalu tokoh utama. Wulan Dewatra menawarkan sisi gelap remaja saat ini yang bergejolak karena cinta. Novel ini bukanlah jenis roman cengeng yang menawarkan tangisan, penulis justru menawarkan ketegaran sosok Bintang atas masalah-masalah yang ia temui.
            “Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.” Penggambaran sosok Bintang dengan kisah percintaan yang penuh lika-liku, membuat kita semakin tertarik menelusuri setiap jengkal kisahnya. Kita menebak-nebak yang tidak pasti namun tetap terselip harapan tebakan kita menjadi hal yang benar-benar terjadi. Kita seperti dibuat menari-nari dengan imajinasi kita sendiri.
            “Keduanya bergandengan tangan. Bukan naluri persahabatan perempuan, melainkan nafsu manusia yang ingin dekat dengan manusia lain yang cocok feromnya.” (hlm. 27). Cerita ini dimulai dari masa lalu Bintang yang suram. Bintang terjebak dalam kisah percintaan yang dianggap tabu oleh masyarakat, cinta antara perempuan dengan perempuan. Ketika cinta mereka membutuhkan pengorbanan yang besar, Bintang justru harus merelakan kekasihnya itu pergi untuk selama-lamanya. Bintang berusaha melanjutkan kehidupannya, ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studinya. Disinilah ia bertemu dengan Noval, pria yang kemudian menjadi kekasihnya. Seolah dibutakan oleh cinta, Bintang rela melakukan apa saja demi kekasihnya yang seringkali melukai fisik maupun hatinya. Karena cintalah Bintang juga rela menyerahkan “mahkotanya” kepada Noval, benih cinta pun tertanam di rahim Bintang. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara kotor. Seolah Tuhan membalas perbuatannya, Bintang harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa memberikan keturunan lagi. Dan karena cinta jugalah, Bintang memilih meninggalkan Noval.
            Cover novel ini termasuk simpel dengan gradasi warna hijau kebiru-biruan disertai gambar cabang pohon, dua kupu-kupu kertas, dan titik-titik air, cover yang simpel namun tetap cantik. Selain cover, novel ini semakin cantik dengan penggunaan motif bunga pada setiap awal bab. Keberanian Wulan Dewatra dalam mengangkat sisi gelap remaja dalam masalah percintaan patut diacungi jempol. Novel ini bukanlah jenis roman picisan yang mudah ditebak. Alur cerita yang ada membuat kita berusaha menebak-nebak akhir kisah Bintang. Sosok Bintang bukanlah gadis luar biasa yang sering ditawarkan novel-novel lain, ia justru gadis “biasa-biasa saja”, namun dengan biasa-biasa saja dan apa adanya itulah sosok Bintang tampak semakin nyata. Bukan hanya sosok Bintang, tokoh-tokoh yang lain pun berhasil digambarkan Wulan Dewatra dengan penokohan yang kuat. Selain itu, melalui tokoh Bintang,  Wulan Dewatra  berhasil meramu kisahnya menjadi roman yang tidak cengeng.
            “Bintang Dewatra, kenapa lo bikin semuanya jadi begitu sulit?” Kalimat terakhir yang diucapkan Noval  rasanya tidak cukup manis sebagai akhir novel ini. Pembaca yang telah disuguhkan kisah perjuangan Bintang menghadapi masalah-masalahnya tentunya mengharapkan akhir yang lebih romantis dari itu. Perubahan cepat sifat Noval yang akhirnya menyadari betapa pentingnya Bintang dari sifat semulanya yang over protektif dan menjurus ke tindakan kekerasan membuat novel ini terkesan terlalu terburu-buru. Selain itu, penderitaan yang terus-menerus dirasakan tokoh Bintang membuat kesan terlalu berlebih-lebihan. Kesalahan penulisan merupakan suatu hal yang fatal karena dapat membuat salah penafsiran, pada novel ini ditemukan satu paragraf yang tidak dicetak miring (halaman 109), padahal ini merupakan bagian kisah masa lalu si tokoh utama.
Novel ini tidak hanya menghibur tetapi juga dapat menjadi panutan untuk kehidupan yang akan datang. Tokoh utama Bintang, walaupun terus mendapatkan masalah tetap berusaha untuk tegar dan berusaha menyelesaikan masalahnya satu persatu. Bahasa yang digunakan pun adalah bahasa yang santai, sehingga enak dibaca di waktu luang
“Hidup adalah suatu pilihan”, mungkin itulah yang ingin disampaikan Wulan Dewatra kepada pembaca. Resiko dari setiap hal yang kita pilih harus kita terima. Seperti sosok Bintang yang telah memilih jalan hidupnya sendiri, memilih untuk menerima keadaan bahwa ia adalah seorang lesbian, memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan Noval meski Noval sering menyakitinya dan akhirnya memilih meninggalkan Noval. Namun dibalik segala pilihan yang ada, Bintang tetaplah sosok perempuan yang bertanggung jawab atas resiko yang ia dapatkan.
            Buku ini memberi inspirasi kepada pembaca agar tetap tegar untuk mengahadapi masalah-masalah dalam kehidupan. Lari bukanlah jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...