Tuesday, April 21, 2020

[Sinopsis + Review Film] Jojo Rabbit

Saat menonton film ini, kening saya seringkali berkerut, sepersekian detik saya dibuat mengambil jeda apakah harus tertawa atau justru miris menonton komedi yang ditawarkan dalam film ini. Kita dibuat harus mencerna berulangkali setiap adegan lucu yang ada karena ada maksud lain yang sebenarnya ingin disampaikan melalui film ini. Komedi satire yang membuat kita menertawakan ketidakmanusiaan kaum Nazi, sungguh jebakan yang tak terduga. Film ini tidak cocok untuk dikategorikan film anak-anak, it’s really dark, bahkan ada kesan ‘mengerikan’ menurut saya.


Johannes ‘Jojo’ Betzler (Roman Griffin Davis), seorang anak 10 tahun yang bergabung ke kamp pelatihan Jungvolk untuk mempersiapkan diri menjadi prajurit Nazi. Selama pelatihan, Jojo mendapat julukan sebagai ‘Jojo Rabbit’ karena sikapnya yang dianggap pengecut. Sikap pengecut yang menurut saya justru menunjukkan bahwa ia adalah anak 10 tahun yang ‘normal’. Namun dibalik sikapnya yang dianggap pengecut, Jojo bermimpi menjadi pengawal pribadi Adolf Hittler. Melalui mimpi Jojo tersebut kita akan melihat bagaimana kekejaman Hittler dikemas dari sudut pandang anak 10 tahun yang masih ‘polos’. Taika Waititi, sang sutradara ikut mengambil peran dalam film ini sebagai teman khayalan Jojo yang berwujud Hittler dengan tampilan ‘lucu dan bersahabat’. Di film ini kita juga ditunjukkan betapa bencinya Nazi dengan kaum Yahudi dan bagaimana mereka telah menanamkan doktrin  kebencian itu dari kecil namun kenyataan tersebut tentunya dikemas dengan cara yang terkesan ‘lucu’ dalam film ini.

Petualangan Jojo dimulai ketika ia bertemu dengan seorang gadis ‘mengerikan’ di loteng rumahnya dan yang lebih mengejutkan lagi, sang gadis, Elsa Korr (Thomasin McKenzie) adalah seorang Yahudi. Jojo yang merasa dirinya sangat pro Nazi dan sangat membenci Yahudi mengalami dilema apakah harus melaporkan keberadaan gadis itu sementara ibunya (Scarlett Johansson) bisa dicap pengkhianat karena menyembunyikan seorang Yahudi.


Setelah perbincangan dan diskusinya dengan sang teman khayalan ‘Hittler’ dan Kapten Klenzendorf (Sam Rockwell), Jojo memutuskan untuk mencari informasi tentang Yahudi melalui Elsa. Sang gadis menggoda Jojo dengan melebih-lebihkan cerita mengenai seberapa mengerikannya orang Yahudi. Nampaknya cukup seru bagi Elsa untuk menggoda kepolosan dan kenaifan Jojo.

Ibu Jojo selalu tidak setuju dan khawatir dengan sikap Jojo yang begitu fanatik dengan Hittler, baginya anak 10 tahun tak seharusnya merayakan perang dan bicara politik. “ Ibu cinta negara ini. Tapi peperangan yang Ibu benci”, katanya kepada Jojo. Ibu Jojo berakhir di tiang gantungan karena dianggap pengkhianat yang berusaha menyuarakan kemerdekaan untuk Jerman. Jojo yang diliputi rasa sedih dan frustasi melampiaskan kemarahannya kepada Elsa, dia mencoba membunuh Elsa dengan belati Deutsches Jungvolk. Usaha tersebut tidak berhasil dan setelahnya Jojo mulai membuka diri dengan Elsa. Perasaan kehilangan orang tua yang sama-sama mereka rasakan menjadikan mereka saling menguatkan.

Film ini diakhiri dengan cara yang cukup memuaskan dan berhasil membuat saya tersenyum lega. Perang Dunia II pun pecah, Jerman diserang oleh pihak Sekutu. Diantara suasana perang yang harusnya mencekam, film ini mampu menyelipkan komedi yang bisa membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Peperangan tersebut diakhiri dengan kekalahan Jerman dan itu berarti sang gadis Yahudi bisa bebas. Pada akhir cerita film ini, Jojo harus memilih apakah harus membiarkan Elsa bebas dan meninggalkannya karena di lubuk hati Jojo, sang fanatik Hittler yang begitu polos dan naïf tumbuh rasa cinta kepada gadis tersebut. Bukan cinta kepada kakak perempuan tetapi ‘cinta monyet’ seorang anak 10 tahun yang dirasa cukup ‘lucu’ jika dipikirkan.


Ada hal yang cukup unik dalam film ini yaitu salam yang digunakan diantara kaum Nazi, “Heil Hittler” dan ternyata salam tersebut memang digunakan pada masa itu sebagai bukti betapa besarnya pengaruh Adolf Hittler bagi mereka. Ya, walaupun ketika menonton film ini Anda kadangkala dibuat bias mengenai maksud sebenarnya ‘Heil Hittler’ karena sering digunakan sebagai objek komedi dalam film ini. Selain itu, adegan mengikat tali sepatu berulangkali dilakukan dalam film ini dan adegan tersebut terasa sangat menyayat hati ketika Jojo mengikat tali sepatu ibunya yang digantung di tiang gantungan.


Film ini dinominasikan untuk Best Picture di Oscar 2020. Walaupun kemenangannya tersandung oleh film Parasite tetapi tidak salah jika film ini pantas dijajarkan dengan nominator lainnya. Hal yang menurut saya menarik adalah komposisi warna yang ditawarkan dalam film ini sungguh ceria, warana-warni layaknya film untuk anak-anak dan tentunya hal ini sedikit kontras dengan film-film lain yang berlatar belakang tokoh Hittler. Walaupun tersandung di Best Picture dan lima nominasi lainnya, sang sutradara Taika Waititi berhasil memenangkan penghargaan dalam kategori Skenario Adaptif Terbaik. Alur cerita film ini memang patut diacungi jempol, bagi Anda yang menyukai komedi satire dan punya ketertarikan dengan tokoh Adolf Hittler mungkin film ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk Anda.


Monday, April 20, 2020

[Sinopsis + Review Film] The Goldfinch

Film ini merupakan adaptasi dari karya fiksi terkenal dengan judul yang sama. Di awal pembuatannya, ada begitu banyak ekspektasi dan tekanan bagimana novel peraih penghargaan Pulitzer 2013 ini mampu diwujudkan menjadi karya visual. Pulitzer adalah penghargaan tertinggi di Amerika Serikat untuk bidang media dan seni, tak heran film ini menjadi salah satu film yang ditunggu-tunggu perilisannya. Selain itu, Donna Tart sang penulis novel yang disebut sebagai “jenius sastra misterius” oleh para media Amerika Serikat ini dianggap telah berhasil membawa pengaruh besar bagi orang-orang yang sebelumnya tidak awam dengan karya seni seperti lukisan The Goldfinch.

Film ini berpusat pada sosok Theodore “Theo” Decker (Oakes Fegley), anak 13 tahun yang menjadi korban pemboman di Metropolitan Museum of Art dimana aksinya ‘membawa’ salah satu lukisan berjudul The Goldfinch  dari museum tersebut menjadi awal keresahan hidupnya. Alur maju-mundur digunakan untuk memecahkan misteri mengapa ia membawa lukisan itu di hari pengeboman dan bagimana ia bertahan hidup sebagai anak yatim piatu.

Setelah kejadian pengeboman tersebut, Theo tinggal di rumah salah satu keluarga temannya yang cukup kaya. Theo awalnya diterima dengan sedikit canggung di rumah tersebut, namun seiring dengan waktu Mrs Barbour (Nicole Kidman), ibu temannya tersebut mulai menunjukkan sikap mulai menerima keberadaan Theo. Sayangnya, ketika itu terjadi, sang ayah (Luke Wilson) bersama ‘kekasihnya’, Xandra (Sarah Paulson) tiba-tiba datang menjemput Theo.  Theo yang sudah lama tidak bertemu ayahnya tidak punya pilihan selain ikut pindah bersamanya.


Persahabatan yang unik antara Theo dan Boris (Finn Wolfhard/ Aneurin Barnard) mendapat sorotan yang cukup besar di dalam film ini. Semuanya diawali dengan kepindahan Theo dari New York ke Las Vegas. Perkenalannnya dengan Boris membuat Theo menjadi awam dengan narkoba dan alkohol. Film ini seperti sebuah kompilasi bagaimana sosok nerd ala Harry Potter seperti Theo tak disangka  justru adalah pecandu narkoba. Sosok Boris ini jugalah yang menjadi tokoh yang membersamai Theo dalam menebus kesalahannya di masa lalu nantinya.

Bumbu percintaan dalam kisah Theo diwakili dengan hubungan cinta tak terbalasnya dengan sosok gadis yang ia temui pada saat pengeboman terjadi, Pippa (Aimee Laurence/Ashleigh Cummings). Pertemuannya dengan gadis tersebut membuatnya merasakan pertalian takdir diantara mereka. Cinta tak terbalas tersebut sedikit terobati dengan pertemuannya kembali dengan keluarga Barbour  yang membuka awal baru hubungan percintaannya dengan Kitsey Barbour  (Willa Fitzgerald). Namun, kemalangan Theo tak kunjung berakhir, nyatanya sang tunangan justru berselingkuh karena tak sepenuhnya mencintai Theo.


            Theo dewasa (Ansel Egort) tumbuh sebagai lelaki tampan yang berprofesi sebagai penjual barang antik. Ia kabur kembali ke New York setelah kematian ayahnya terjadi. Ia menikmati pekerjaannya di toko Hobart and Blackwell, dimana di toko inilah sebenarnya titik awal kenapa Theo membawa lukisan Goldfinch saat pengeboman terjadi.

            Permasalah dialamai Theo memuncak ketika salah seorang kliennya mengatakan bahwa ia mencurigai Theo memiliki hubungan dengan hilangnya lukisan The Goldfinch. Namun anehnya, sang klien mengatakan bahwa lukisan tersebut dijadikan jaminan dalam transaksi narkoba. Theo yang mengetahui hal tersebut menjadi kebingungan karena sepengetahuannya lukisan Goldfinch yang ia ‘curi’ masih tersimpan dengan aman di ruang penyimpanan miliknya, hal ini tentunya bertolak belakang dengan perkataan sang klien yang menyatakan bahwa lukisan tersebut ada diluar sana dan dijadikan jaminan transaksi narkoba. Kebenaran pun terungkap, ternyata di masa lalu Theo yang ‘teler’ akibat pengaruh obat membuka rahasia kepada Boris mengenai lukisan Goldfinch dan menyerahkan lukisan tersebut kepada temannya tersebut. Pencarian lukisan Goldfinch pun dimulai, babak terakhir film ini ditutup dengan upaya Theo mencari lukisan tersebut dan berusaha memperbaiki kesalahannya di masa lalu. 


Tidak semua film adaptasi novel berhasil di pasaran,  tentunya tidak mudah membawa cerita dari novel setebal 784 halaman menjadi karya utuh berdurasi 2,5 jam. Kritik pedas diberikan oleh sebagian besar media Amerika mengenai film ini karena dianggap tidak berhasil mengintepretasikan dengan baik novelnya.  Namun, bagi saya yang belum pernah membaca novelnya, film ini tidak begitu buruk. Saya sebagai penonton, cukup dimanjakan oleh tampilan cinematography  yang ditawarkan oleh film ini. Keindahan scene yang disuguhkan patut diacungi jempol. Sayangnya, film ini nampaknya terlalu berfokus pada keindahan tampilan sehingga tidak begitu banyak dialog yang digunakan untuk menggambarkan isi film ini. Hal ini menyebabkan durasi 2,5 jam terasa begitu lambat dan sedikit membosankan. Mungkin film ini tidak bisa disebut sempurna namun it isn’t that bad. Jadi, menurut saya film ini cukup cocok bagi para penonton yang menyukai film yang menawarkan narasi panjang dengan keindahan scene yang tak perlu diragukan. Lagipula, bagi saya film ini cukup menambah wawasan kita tentang karya seni dan tokoh-tokoh seniman yang ada di dunia.


Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...