Setelah
cukup lama dikejar deadline tugas, akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk
memposting diblog ini lagi. Maklum, sebagai seorang mahasiswi baru saya cukup
kesulitan membagi waktu saya. Sekarang saya resmi terdaftar sebagai mahasiswi
jurusan teknik sipil, Universitas Sriwijaya. Sebagai seorang mahasiswi baru
saya mendapatkan banyak pengalaman, yang menurut saya patut saya bagi dengan
pembaca sekalian. Salah satu hal yang benar-benar mengesankan saya adalah tugas
pratikum fisika atau sering disebut fislab. Mungkin kedengarannya biasa saja,
tapi dibalik itu semua, fislab bukanlah hal sembarangan. Fislab merupakan salah
satu hal yang wajib diikuti mahasiwa/i semester pertama dan sangat penting
karena bila kita tidak mendapatkan sertifikat fislab kita tidak memenuhi syarat
untuk mengikuti wisuda. Bisa dibayangkan betapa pentingnya fislab ini. Oleh
karena itu, fislab setiap tahunnya dianggap sebagai ‘neraka’ bagi maba. Semua
orang yang sudah melewati masa-masa neraka ini tentunya punya cerita tersendiri
tentang fislab. Fislab dikenal sebagai
pratikum yang ribet dan banyak aturan. Pratikum filab dilaksanakan setiap dua
minggu sekali.
Setiap kali kita akan melaksanakan pratikum kita diharuskan membayar tiket masuk. Tiket masuk disini bukan berupa uang, melainkan laporan fislab yang terdiri dari landasan teori, prosedur kerja dan tambahan lampiran. Barulah setelah kita membayar tiket tersebut kita bisa mengikuti pratikum. Data hasil percobaan, analisa data, kesimpulan dan sebagainya kita buat setelah pratikum dilaksanakan. Laporan fislab harus ditulis tangan dengan pena biru. Setiap laporan diwajibkan berisi minimal 14 lembar landasan teori, belum termasuk prosedur kerja dan lampiran. Pernah ada kejadian, seorang senior saya menulis landasan teori berisi tentang curhatannya sendiri dibeberapa lembar terakhir, mungkin ia sudah kehabisan bahan tulisan, tentu saja konsekuensinya laporannya ditolak dan tidak bisa mengikuti pratikum. Sebenarnya, hal tersebut cukup membuat saya tertawa geli. Margin kertas tidak boleh bergeser satu milimeter pun. Menurut cerita senior saya, ia pernah mengulang membuat laporan karena margin kertasnya bergeser satu milimeter dan yang lebih sadisnya lagi kertas laporannya yang salah dirobek didepan matannya sendiri. Saya yang sudah merasakan susahnya membuat laporan fislab bisa membayangkan perasaan senior saya saat itu. Selain itu, hal yang menurut saya cukup menyiksa adalah kita harus menulis layaknya komputer yaitu dengan aturan rata kanan kiri. Sungguh sial bagi orang-orang yang tidak terlalu ‘suka’ menulis. Ada beberapa aturan mendasar yang tidak boleh dilanggar mahasiswa/i saat melaksanakan pratikum yaitu tidak boleh memakai perhiasan, harus memakai sepatu kets, bagi yang memiliki rambut panjang harus dikuncir, harus memakai kemeja atau baju berkerah dan yang paling penting harus ada diruang pratikum 10 menit sebelum pratikum dimulai. Jika terlambat, tentunya tidak boleh masuk ruang pratikum dan tidak diperbolehkan mengikuti pratikum dikelas lain, intinya jika terlambat maka kita benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk mengikuti pratikum. Sebenarnya saya cukup terkesan dengan perkataan salah seorang asisten laboratorium, ia mengatakan bahwa filab bukanlah sengaja mempersulit mahasiwa/i, melainkan agar kami terbiasa bekerja tepat waktu, cekatan, teliti dan mampu mengambil kesimpulan yang tepat. Dalam pratikum ini, kita diharuskan mencambuk diri kita yang malas menjadi ’terpaksa’ rajin dan tanpa kita sadari semua kesusahan yang kita takuti di awal menjadi hal biasa di akhir.
Setiap kali kita akan melaksanakan pratikum kita diharuskan membayar tiket masuk. Tiket masuk disini bukan berupa uang, melainkan laporan fislab yang terdiri dari landasan teori, prosedur kerja dan tambahan lampiran. Barulah setelah kita membayar tiket tersebut kita bisa mengikuti pratikum. Data hasil percobaan, analisa data, kesimpulan dan sebagainya kita buat setelah pratikum dilaksanakan. Laporan fislab harus ditulis tangan dengan pena biru. Setiap laporan diwajibkan berisi minimal 14 lembar landasan teori, belum termasuk prosedur kerja dan lampiran. Pernah ada kejadian, seorang senior saya menulis landasan teori berisi tentang curhatannya sendiri dibeberapa lembar terakhir, mungkin ia sudah kehabisan bahan tulisan, tentu saja konsekuensinya laporannya ditolak dan tidak bisa mengikuti pratikum. Sebenarnya, hal tersebut cukup membuat saya tertawa geli. Margin kertas tidak boleh bergeser satu milimeter pun. Menurut cerita senior saya, ia pernah mengulang membuat laporan karena margin kertasnya bergeser satu milimeter dan yang lebih sadisnya lagi kertas laporannya yang salah dirobek didepan matannya sendiri. Saya yang sudah merasakan susahnya membuat laporan fislab bisa membayangkan perasaan senior saya saat itu. Selain itu, hal yang menurut saya cukup menyiksa adalah kita harus menulis layaknya komputer yaitu dengan aturan rata kanan kiri. Sungguh sial bagi orang-orang yang tidak terlalu ‘suka’ menulis. Ada beberapa aturan mendasar yang tidak boleh dilanggar mahasiswa/i saat melaksanakan pratikum yaitu tidak boleh memakai perhiasan, harus memakai sepatu kets, bagi yang memiliki rambut panjang harus dikuncir, harus memakai kemeja atau baju berkerah dan yang paling penting harus ada diruang pratikum 10 menit sebelum pratikum dimulai. Jika terlambat, tentunya tidak boleh masuk ruang pratikum dan tidak diperbolehkan mengikuti pratikum dikelas lain, intinya jika terlambat maka kita benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk mengikuti pratikum. Sebenarnya saya cukup terkesan dengan perkataan salah seorang asisten laboratorium, ia mengatakan bahwa filab bukanlah sengaja mempersulit mahasiwa/i, melainkan agar kami terbiasa bekerja tepat waktu, cekatan, teliti dan mampu mengambil kesimpulan yang tepat. Dalam pratikum ini, kita diharuskan mencambuk diri kita yang malas menjadi ’terpaksa’ rajin dan tanpa kita sadari semua kesusahan yang kita takuti di awal menjadi hal biasa di akhir.
