Wednesday, July 22, 2020

Kecerdasan Parsial dan Engineer

Jika ditanya mata kuliah apa yang membuat saya merasa kewalahan saat menjalani pendidikan di Teknik Sipil? Saya pribadi akan menjawabnya menggambar teknik. Menempuh pendidikan Teknik Sipil tidak hanya soal seberapa pintar Anda dalam hitung menghitung tetapi juga bagaimana Anda bisa mengkombinasikan antara perhitungan dan gambar. Belajar teknik sama dengan belajar melogikakan khayalan, perhitungan adalah kepastian namun butuh usaha lebih untuk bisa memvisualkan perhitungan tersebut dalam struktur nyata bangunan. Sejujurnya saya cukup bisa bersahabat jika itu berupa gambar diagram momen, lintang, normal ataupun ketika harus menggambarkan diagram regangan-tegangan dalam beton. I like that! Tetapi ada satu momen ketika saya merasa kecerdasan parsial saya lemah. Hal itu terjadi ketika menghadapi mata kuliah Gambar Teknik 1. 

Perintah seperti proyeksikan gambar tersebut tegak lurus, putar 30°, kemudian cerminkan, ditambah lagi ada beberapa versi aturan lainnya, sempat membuat saya harus berjuang memutar otak berkali-kali untuk mewujudkan hal itu. Selama menjalani mata kuliah tersebut, saya sempat merasa iri dengan semua teman laki-laki saya yang nampak tidak kesulitan. Sempat saya berpikir, apakah ini alasan mahasiswa teknik kebanyakan laki-laki? Lalu apakah saya layak menyandang status sebagai lulusan teknik jika kemampuan parsial saya lemah?


Ternyata kekhawatiran saya itu dirasakan juga oleh seorang engineer wanita lainnya. Debbie Sterling, adalah seorang engineer product design lulusan Stanford. Penampilannya dalam TEDx, membuat saya mengamini setiap perkataannya. Sebagai gender minoritas di kelasnya, ia sempat punya kenangan buruk dalam mata kuliah menggambar. Ia mengaku merasa not fit in sebagai mahasiswa teknik karena punya kemampuan parsial lemah. Bahkan dosennya pernah mempermalukannya di kelas dengan pertanyaan, "Jika kalian merasa Debbie layak untuk lulus mata kuliah saya silahkan angkat tangan". Situasi tersebut menunjukkan seberapa buruk kemampuan parsialnya. Setelah kejadian itu, ia memutuskan belajar lebih keras agar bisa mengembangkan kemampuan parsialnya. Ada momen dimana ia menemukan teman laki-lakinya yang lain ternyata selama ini menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk bisa 'terlihat cerdas'. Semenjak itu, Debbie sadar bahwa semua ini bukan karena Anda terlahir cerdas tetapi tentang seberapa besar usaha Anda.


Asumsi yang menyebutkan bahwa kaum lelaki memiliki kemampuan parsial yang lebih unggul dibanding wanita tentunya menjadi kabar buruk bagi anak perempuan yang ingin menjadi engineer. Namun, apakah asumsi tersebut benar? Nyatanya, kecerdasan parsial bukan didasarkan hal biologis.

"It's not a biological thing. This is culture thing".

Budaya kita selalu mengaitkan anak perempuan dengan mainan boneka, ataupun hal lainnya yang membuatnya tumbuh sebagai princess. Debbie melakukan riset dan menemukan bahwa orang yang memiliki kecerdasan spasial menghabiskan masa kecilnya dengan memainkan mainan konstruksi seperti lego, erector sets, atau lincoln logs. Tetapi budaya kita selalu mendefinisikan mainan tersebut sebagai mainan anak laki-laki. Kenyataan tersebut menginspirasi Debbie untuk membuat mainan engineer untuk anak perempuan. Maka terciptalah Goldie Blox, sebuah set mainan konstruksi yang dikombinasikan dengan cerita. Anak-anak akan diajarkan untuk membuat sesuatu berdasarkan cerita karakter Goldie, girl inventor yang memecahkan masalah dengan membuat mesin sederhana. Melalui mainan tersebut Debbie yang bertahun-tahun merasa tidak cocok menjadi engineer akhirnya bisa merasa pantas. Melalui mainan itu juga ia ingin agar anak-anak perempuan bisa terinspirasi menjadi engineer

"For so long, for so many years, I felt like I didn't fit in but now I feel like I belong here. I feel like belong, and our little girls do too". -Debby Sterling-

(Goldie Blox, sumber)

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...