Kamu mencintai dan berpura-pura tidak mencintai
Harga diri selalu menang...
Setelah sekian lama dibuat sesak
dengan tumpukan tugas akhir semester dan persiapan UAS akhirnya saya bisa
beristirahat sejenak. Yes! I am at home now! Liburan akhir semester ini saya
rasa cukup untuk melepaskan penat selama ini. Beralih dari semua tumpukan
buku-buku pelajaran, saya dipertemukan kembali dengan kumpulan buku-buku fiksi
saya di rumah. Dari semua buku yang bertengger di rak, mata saya tertuju pada buku
bersampul putih dengan gambar segelas anggur yang tumpah membentuk hati,
Kumpulan Puisi Mencintaimu Pagi Siang dan Malam karya Andreai Aksana. Postingan
ini adalah postingan kedua saya yang membahas tentang buku ini. Sebelumnya saya
merekomendasikan buku ini dengan meresensinya, Anda bisa membaca resensinya di Resensi Kumpulan Puisi Mencintaimu Pagi, Siang dan Malam
Andrei Aksana merupakan salah satu
penulis favorit saya, tidak tahu mengapa posisi buku favorit di hati saya tetap
bertahan pada buku ini. Andrei Aksana telah berhasil membuat saya jatuh cinta
layaknya mencintai seseorang pagi, siang dan malam.
Kembali pada sepenggal kutipan di
atas yang saya ambil dari buku Kumpulan Puisi Mencintaimu Pagi Siang dan Malam.
Mengapa saya mengambil kalimat tersebut menjadi kalimat pembuka pada postingan
kali ini? “Harga diri selalu menang...”, kalimat terakhir pada puisi tersebut
sempat menyentak pikiran saya. Andrei Aksana telah berhasil mengkalkulasikan
betapa cinta dan harga diri tak jarang menjadi masalah kompleks dalam kehidupan
manusia.
Tingginya derajat seseorang bisa
kita lihat dari seberapa tinggi harga dirinya. Mungkin Anda pernah bertemu
seseorang yang berderajat tinggi namun justru memiliki harga diri yang rendah
sehingga nampak sia-sia saja pangkat dan derajat yang bertengger di pundak
orang tersebut. Di sisi lain, Anda juga pernah bertemu dengan orang yang
biasa-biasa saja tetapi menjunjung tinggi harga diri sehingga tak sedikit orang
lain menganggapnya terlalu tinggi hati. Esensial dari harga diri ini selalu
berhasil menipu mata banyak orang.
“Kamu,
mengerti tapi pura-pura tidak mengerti”
Harga diri seseorang bisa
diibaratkan sebagai cambuk bagi orang tersebut untuk tetap tampil lebih
dihadapan orang lain. Kepura-puraan yang dibuat dengan kedok harga diri
seringkali menyiksa batin. Ketika pikiran dan hati dan tidak sejalan dengan
perbuatan maka akan terjadi peberontakan secara sepihak dalam diri seseorang.
Namun, manusia pada umumnya terbiasa untuk lebih melindungi harga diri
dibandingkan apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka. Manusia bertahan hidup
dengan harga diri.
Orang yang berharga diri tinggi
tampak keren dan idealis. Sosok yang seperti itu seringkali menjadi idaman
banyak orang. Manusia dewasa yang tampak dingin, tak banyak bicara, cerdas dan
anggun dalam pergaulannya kerap dijadikan pemeran utama di banyak cerita.
Padahal, hal tersebut justru bertolak belakang dengan keadaan dunia saat ini.
Penggambaran sosok ideal seperti itu bisa dikategorikan sangat kuno. Namun,
masyarakat yang terbiasa terbuai dengan kisah indah film menganggap bahwa sosok berharga diri tinggi seperti itu adalah
sosok terbaik yang patut dicontoh.
Hal yang perlu diluruskan dalam
tulisan ini adalah harga diri itu memang penting tetapi saya tidak setuju jika
harga diri pada akhirnya menciptakan sebuah keangkuhan yang menjadi boomerang bagi orang itu sendiri. Kita
harus membuat batasan yang jelas antara harga diri dan keangkuhan. Harga diri
ada untuk melindungi derajat seseorang tetapi keangkuhan digunakan untuk
mendapat pengakuan. Kata pengakuan jika kita penggal akan menjadi peng-aku-an,
dari penggalan kata itu tampak kata aku
menjadi unsur yang paling menonjol. “Aku, aku dan hanya aku”, manusia yang
terlalu menunjukkan ke-aku-an-nya tampak sebagai sosok egois yang ingin
dihargai. Sosok seperti itu pada akhirnya akan menjadi sosok yang tidak anggun
lagi di mata masyarakat.
“Kamu
mencintai dan berpura-pura tidak mencintai”
Anda mungkin pernah dihadapkan pada situasi
harus berpura-pura. Kepura-puraan dalam hal cinta menurut saya merupakan
perwujutan dari perasaan takut tersakiti. Terlalu banyak rasa takut yang
menekan diri kita untuk tidak menunjukkan rasa yang sesungguhnya. Rasa takut
ini seringkali tersamarkan dengan topeng harga diri. Oleh karena itu banyak
orang lebih memilih menggunakan kata harga diri daripada kata takut untuk
menunjukkan keanggunan mereka dalam menghadapi situasi seperti ini. Melindungi
harga diri tampak lebih anggun dibandingkan mengakui rasa takut tersakiti.
Harga diri selalu menang...









