Monday, December 30, 2013

Cinta, Harga Diri, Keangkuhan dan Kepura-puraan

Kamu mengerti dan berpura-pura tidak mengerti
Kamu mencintai dan berpura-pura tidak mencintai
Harga diri selalu menang...

       Setelah sekian lama dibuat sesak dengan tumpukan tugas akhir semester dan persiapan UAS akhirnya saya bisa beristirahat sejenak. Yes! I am at home now! Liburan akhir semester ini saya rasa cukup untuk melepaskan penat selama ini. Beralih dari semua tumpukan buku-buku pelajaran, saya dipertemukan kembali dengan kumpulan buku-buku fiksi saya di rumah. Dari semua buku yang bertengger di rak, mata saya tertuju pada buku bersampul putih dengan gambar segelas anggur yang tumpah membentuk hati, Kumpulan Puisi Mencintaimu Pagi Siang dan Malam karya Andreai Aksana. Postingan ini adalah postingan kedua saya yang membahas tentang buku ini. Sebelumnya saya merekomendasikan buku ini dengan meresensinya, Anda bisa membaca resensinya di Resensi Kumpulan Puisi Mencintaimu Pagi, Siang dan Malam 
       Andrei Aksana merupakan salah satu penulis favorit saya, tidak tahu mengapa posisi buku favorit di hati saya tetap bertahan pada buku ini. Andrei Aksana telah berhasil membuat saya jatuh cinta layaknya mencintai seseorang pagi, siang dan malam.
       Kembali pada sepenggal kutipan di atas yang saya ambil dari buku Kumpulan Puisi Mencintaimu Pagi Siang dan Malam. Mengapa saya mengambil kalimat tersebut menjadi kalimat pembuka pada postingan kali ini? “Harga diri selalu menang...”, kalimat terakhir pada puisi tersebut sempat menyentak pikiran saya. Andrei Aksana telah berhasil mengkalkulasikan betapa cinta dan harga diri tak jarang menjadi masalah kompleks dalam kehidupan manusia. 
    Tingginya derajat seseorang bisa kita lihat dari seberapa tinggi harga dirinya. Mungkin Anda pernah bertemu seseorang yang berderajat tinggi namun justru memiliki harga diri yang rendah sehingga nampak sia-sia saja pangkat dan derajat yang bertengger di pundak orang tersebut. Di sisi lain, Anda juga pernah bertemu dengan orang yang biasa-biasa saja tetapi menjunjung tinggi harga diri sehingga tak sedikit orang lain menganggapnya terlalu tinggi hati. Esensial dari harga diri ini selalu berhasil menipu mata banyak orang.
      “Kamu, mengerti tapi pura-pura tidak mengerti”
      Harga diri seseorang bisa diibaratkan sebagai cambuk bagi orang tersebut untuk tetap tampil lebih dihadapan orang lain. Kepura-puraan yang dibuat dengan kedok harga diri seringkali menyiksa batin. Ketika pikiran dan hati dan tidak sejalan dengan perbuatan maka akan terjadi peberontakan secara sepihak dalam diri seseorang. Namun, manusia pada umumnya terbiasa untuk lebih melindungi harga diri dibandingkan apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka. Manusia bertahan hidup dengan harga diri.
    Orang yang berharga diri tinggi tampak keren dan idealis. Sosok yang seperti itu seringkali menjadi idaman banyak orang. Manusia dewasa yang tampak dingin, tak banyak bicara, cerdas dan anggun dalam pergaulannya kerap dijadikan pemeran utama di banyak cerita. Padahal, hal tersebut justru bertolak belakang dengan keadaan dunia saat ini. Penggambaran sosok ideal seperti itu bisa dikategorikan sangat kuno. Namun, masyarakat yang terbiasa terbuai dengan kisah indah film menganggap bahwa  sosok berharga diri tinggi seperti itu adalah sosok terbaik yang patut dicontoh.
      Hal yang perlu diluruskan dalam tulisan ini adalah harga diri itu memang penting tetapi saya tidak setuju jika harga diri pada akhirnya menciptakan sebuah keangkuhan yang menjadi boomerang bagi orang itu sendiri. Kita harus membuat batasan yang jelas antara harga diri dan keangkuhan. Harga diri ada untuk melindungi derajat seseorang tetapi keangkuhan digunakan untuk mendapat pengakuan. Kata pengakuan jika kita penggal akan menjadi peng-aku-an, dari penggalan kata itu tampak kata aku menjadi unsur yang paling menonjol. “Aku, aku dan hanya aku”, manusia yang terlalu menunjukkan ke-aku-an-nya tampak sebagai sosok egois yang ingin dihargai. Sosok seperti itu pada akhirnya akan menjadi sosok yang tidak anggun lagi di mata masyarakat.
       Kamu mencintai dan berpura-pura tidak mencintai”
     Anda mungkin pernah dihadapkan pada situasi harus berpura-pura. Kepura-puraan dalam hal cinta menurut saya merupakan perwujutan dari perasaan takut tersakiti. Terlalu banyak rasa takut yang menekan diri kita untuk tidak menunjukkan rasa yang sesungguhnya. Rasa takut ini seringkali tersamarkan dengan topeng harga diri. Oleh karena itu banyak orang lebih memilih menggunakan kata harga diri daripada kata takut untuk menunjukkan keanggunan mereka dalam menghadapi situasi seperti ini. Melindungi harga diri tampak lebih anggun dibandingkan mengakui rasa takut tersakiti.
            
 Harga diri selalu menang...

Saturday, December 28, 2013

Bagaimana Jika Kamu Gagal?

"Bagaimana jika kamu gagal? Tidak apa-apa...Kita semua tidak tahu, mungkin esok hari, bulan depan, tahun depan atau suatu hari nanti. Tuhan justru memberikan kesuksesan yang lebih besar lagi daripada kesuksesan yang kita inginkan saat ini. Tuhan hanya sedang menunda kesuksesan itu..karena mungkin bagi Tuhan kesuksesan yang kita inginkan saat ini terlalu kecil untukmu. Oleh karena itu pantaskan dirimu untuk kesuksesan yang lebih besar lagi!"
#Palembang, 5 September 2013, ketika kesuksesan tidak berpihak pada saya.

Wednesday, December 25, 2013

Fashion Drama Heartstring - Jung Yong Hwa

Jung Yong Hwa dalam drama Heartstring selalu menyelipkan unsur putih dalam berpakaian, ia tampak casual sebagai vokalis band yang flamboyan. Di episode pertama, Lee Shin (Jung Yong Hwa) tampil dengan dominasi warna putih dan biru. Di sini ia tampak benar-benar matching,bahkan warna sepeda yang dipakai pun senada dengan warna pakaiannya. Menurut saya pemilihan warna ini membuatnya tampil cukup menawan. Headphone dan tas putihnya menjadi favorite item saya. Dua jempol buat wardrobe-nya 
  
Kali ini di episode dua, Lee Shin kembali memilih warna putih untuk cardigan dan celana panjangnya, kemudian ia memilih warna abu-abu untuk kemejanya. Namun, ada satu momen yang membuat saya cukup tersentak, ketika saya melihat lebih dekat pada kemeja yang dia kenakan ternyata saya menemukan bahwa kemeja tersebut sengaja tidak disetrika. Saya rasa hal tersebut sengaja dilakukan untuk menunjukkan sisi 'bebas' milik seorang vokalis band.
Kali ini Lee Shin kembali memilih warna biru dan putih, ia tampaknya tidak mau sedikit keluar dari 'zona aman'. Dengan kaos bermotif garis-garis biru putih dicocokkan dengan outfit warna biru Lee Shin tampil sangat aman, ditambah dengan pilihan warna jam yang senada. 
 Kembali dengan dominasi biru dan putih, lama kelamaan saya merasa sedikit bosan dengan pemilihan warna yang itu-itu saja. Silahkan cek fashion item yang ia pilih dibawah ini.
Lee Shin bertahan dengan tema kaos dan kemejanya. Ia kembali memilih warna kaos abu-abu dan jaket warna khaki. Kalung bintang yang ia kenakan menjadi favorite item saya.
 Lee Shin mencoba keluar dari zona amannya dengan memilih kaos berlengan panjang dengan motif garis-garis. Namun, lagi-lagi ia tampaknya tidak dapat terlepas dari warna putih dan biru.
 Kembali pada pilihan warna favorit Lee Shin, abu-abu putih. Ada satu hal unik pada vest abu-abu yang dia kenakan yaitu dua buah kancing pada pundak sebelah kanannya.
 Lee Shin kembali tampil matching dengan pilihan warna serba putih.
 Lee Shin kembali memilih cardigan dengan dominasi warna biru dan ungu ditambah kaos berwarna putih.

Saturday, December 7, 2013

Pelukis dan Kerinduannya

Kanvas usang itu berdiri dihadapannya
Angan-angannya menari-nari bersama sapuan kuas sihir
Campur aduk dia meramu diatas palet
Dengan sedikit polesan, sihirnya menjadi sempurna
Menyatu dalam gambar, sesosok wanita.
Terangkai dari titik-titik kebaikan
Tersambung dengan garis kelembutan
Membentuk bidang keindahan
Menyatu dalam warna kasih sayang
Terlengkapi dengan tekstur kehangatan..
Dia letakkan kuas sihir dan paletnya.
Berdiri.
Semakin lekat ia memandang gambar itu.
Dimatanya ada irama kerinduan.
Dia pun berbisik “Ibu, aku rindu...”

Demo di Negeriku

Dalam kegaduhan
Mereka masih berteriak sangar 
Memaki, lebih mencaci
Spanduk besar menutupi mentari
Tarik dorong dengan polisi,
Mempertahankan harga diri, yang tak berarti lagi.
Inilah sosok negeriku kini,
Darah dan keringat, semua bercampur
Semua dilewati meski harus tersungkur
Mereka terlalu sibuk mengatas namakan rakyat.
Tapi ....lihatlah
Sosok sosok dipinggir rel itu, tetap saja melarat
..................
“Ah, sudahlah kami hanya ingin hidup tenang”

Friday, December 6, 2013

Si Antagonis

Aku adalah si antagonis
Benci akan tangisan protagonis
Aku adalah si antagonis
Muak pada kelemahlembutan protagonis
Aku adalah si antagonis
Sinis dengan kemalangan protagonis
Aku adalah antagonis
Mencaci semua kebodohan protagonis
Aku adalah antagonis
Tertawa melihat lika - liku protagonis
Aku adalah antagonis
Teriak tolol pada kebodohan antagonis
Aku adalah protagonis
Aku adalah antagonis, cemburu pada protagonis.

#Indralaya, 6 Desember 2013, ketika suara hujan merajai bumi. 

Saturday, November 9, 2013

Phobia Sosial

Akhir-akhir ini saya sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau psikologi, terutama penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada hubungan individu dengan lingkungannya. Salah satu hal yang menjadi pusat perhatian saya adalah masalah phobia sosial. Phobia sosial adalah salah satu bentuk penyimpangan dalam bidang komunikasi antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang mengalami phobia sosial sangat sulit untuk mengomunikasikan apa yang ada dalam pikirannya dengan masyarakat sekitarnya. Kita mungkin pernah bertemu dengan seseorang yang penyendiri atau tertutup di lingkungan kita, kemungkinan orang tersebut mengalami phobia sosial. Orang-orang tersebut seringkali kita anggap aneh, sombong atau tidak mau berbaur padahal orang yang mengidap phobia sosial sebenarnya ingin mencoba untuk berkomunikasi dengan lingkungannya namun mereka 'tidak tahu' caranya. 
"Lalu mengapa mereka tidak mencoba? Bukankah mereka sendiri yang membatasi diri sehingga orang disekitarnya merasa tidak ingin mengajak mereka berkomunikasi? Apa susahnya untuk mencoba mendekat dan berkata hai?"

Sempat terlintas pertanyaan-pertanyaan itu dipikiran saya. Namun, itu terjadi sebelum saya bertemu dengan seorang mantan pengidap phobia sosial secara langsung. Sebut saja namanya X, ia merupakan teman satu kelas saya di Universitas. Pada pandangan pertama saya melihatnya saya langsung menafsirkan bahwa kepribadiannya sangat tertutup, ia sangat sedikit berbicara, seringkali pandangannya kosong dan raut wajahnya kadangkala 'datar', tanpa ekspresi. Hari itu, di kelas mata  kuliah Ilmu Sosial dan Budaya saya duduk disebelahnya. Kebetulan, tema presentasi saat itu adalah manusia sebagai makhluk individu dan manusia sebagai makhluk sosial. Tentu saja tema tersebut sangat berhubungan dengan masalah phobia sosial yang ingin saya ketahui, oleh karena itu selama presentasi berlangsung saya sudah sibuk mencoret-coret buku saya untuk menyiapkan pertanyaan tentang phobia sosial yang behubungan dengan konsep manusia sebagai makhluk sosial. Mungkin merupakan salah satu skenario Tuhan, tidak tahu kenapa sebelum saya menanyakan pertanyaan itu saya justru mencoba berbincang-bincang dengannya dan kemudian mengatakan bahwa saya sangat tertarik dengan masalah phobia sosial. Tak disangka-sangka ia membuat pengakuan yang membuat saya terkejut, ia pernah mengalami phobia sosial. Mendengar hal tersebut tentu saja membuat semua pertanyaan di dalam otak saya langsung mengalir ke mulut saya. Sepanjang mata kuliah itu, saya seperti seorang wartawan dadakan yang haus akan informasi. 


X mengalami phobia sosial sejak ia SD dan berlanjut hingga SMP, ketika SMA ia sudah mulai mau membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang banyak. Tidak dapat saya bayangkan bagaimana rasanya hidup dalam dunia sendiri selama hampir 9 tahun, pasti ia merasa sangat kesepian. Lebih parahnya lagi saat ia mengalami phobia sosial ia bergaul dengan seorang teman yang mengalami phobia sosial juga. Bisa Anda bayangkan bagaimana ia bisa 'sembuh' jika ia berkutat dengan orang mengalami masalah yang sama, saya berpikir jangan-jangan mereka menjadi teman namun tetap berada dalam dunia masing-masing, keheningan. X mengatakan bahwa seseorang yang mengalami phobia sosial bukanlah orang yang ingin menjauh dari pergaulan namun lebih tepatnya mereka tidak tahu caranya untuk bergaul. Mereka seringkali merasa takut untuk memulai percakapan karena seorang pengidap phobia sosial sangat takut terhadap penilaian orang lain terhadap dirinya. Mereka ingin agar orang lain menyukai kepribadian mereka namun di dalam pikiran mereka terlalu banyak pertimbangan dan rasa takut tidak di sukai. Pengidap phobia sosial sangat khawatir jika apa yang mereka lakukan membuat orang lain tidak menyukai mereka. Ia mengatakan bahwa dahulu ia sangat takut bila harus memulai pembicaraan dengan orang lain, bahkan ia takut jika harus menemui orang baru, biasanya ia menjadi berkeringat dingin menghadapi situasi tersebut.

 Fakta lainnya adalah seorang pengidap sosial biasanya berbicara sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar, mungkin itu adalah salah satu bentuk ketidakpercayaan diri mereka dalam berinteraksi. Sesseorang yang mengalami phobia sosial sangat sulit untuk memulai percakapan, oleh karena itu mereka sangat membutuhkan orang yang lebih periang agar bisa mencairkan suasana diantara mereka.

Namun, pada kenyataan di masyarakat, seorang pengidap phobia sosial dianggap aneh dan penyendiri oleh karena itu orang lain justru semakin menjauh darinya karena mereka menganggap tidak akan bisa menjalin komunikasi yang baik dengan mereka. Akhirnya, pengidap phobia sosial tetap menjadi kaum yang tersisihkan tak jarang mereka ikut di bully. Pengalaman di bully juga pernah dirasakan teman saya ini, ia pernah di olok-olok karena sifatnya yang tertutup. Saya sangat sedih mendengar kisahnya, tentu banyak sekali kenangan pahit yang ada di dalam memorinya. Sebenarnya, menurut pandangan saya X belum sepenuhnya sembuh dari phobia sosial karena saya masih melihat ia sebagai pribadi yang tertutup, kadangkal ia masih terkesan cuek dengan sekitarnya. Bahkan teman-teman saya yang tidak tahu masalahnya menganggap dia sebagai orang yang aneh. Menurut teman saya, X tidak mampu mengekspresikan apa yang ada pada hatinya, oleh karena itu sangat sulit menafsirkan apa yang ada di pikirannya. X mengakui bahwa orang yang mengalami phobia sosial seringkali dicap aneh dan tak jarang teman-teman saya mencap aneh teman saya satu ini karena kadangkala ia melakukan hal yang tidak terduga-duga. Kisah salah satu teman baru saya ini membuat saya memandang seseorang dari banyak sisi dan mengajarkan saya untuk menghilangkan sikap apatis terhadap orang-orang yang sering tersisihkan. Mungkin diantara Anda juga bertemu dengan orang yang tertutup di lingkungan Anda. Saya harap melalui tulisan ini, marilah kita bersama-sama menggandeng tangan mereka keluar dari kesendirian mereka.

Monday, September 30, 2013

Neraka Para Maba


Setelah cukup lama dikejar deadline tugas, akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk memposting diblog ini lagi. Maklum, sebagai seorang mahasiswi baru saya cukup kesulitan membagi waktu saya. Sekarang saya resmi terdaftar sebagai mahasiswi jurusan teknik sipil, Universitas Sriwijaya. Sebagai seorang mahasiswi baru saya mendapatkan banyak pengalaman, yang menurut saya patut saya bagi dengan pembaca sekalian. Salah satu hal yang benar-benar mengesankan saya adalah tugas pratikum fisika atau sering disebut fislab. Mungkin kedengarannya biasa saja, tapi dibalik itu semua, fislab bukanlah hal sembarangan. Fislab merupakan salah satu hal yang wajib diikuti mahasiwa/i semester pertama dan sangat penting karena bila kita tidak mendapatkan sertifikat fislab kita tidak memenuhi syarat untuk mengikuti wisuda. Bisa dibayangkan betapa pentingnya fislab ini. Oleh karena itu, fislab setiap tahunnya dianggap sebagai ‘neraka’ bagi maba. Semua orang yang sudah melewati masa-masa neraka ini tentunya punya cerita tersendiri tentang fislab.  Fislab dikenal sebagai pratikum yang ribet dan banyak aturan. Pratikum filab dilaksanakan setiap dua minggu sekali. 


Setiap kali kita akan melaksanakan pratikum kita diharuskan membayar tiket masuk. Tiket masuk disini bukan berupa uang, melainkan laporan fislab yang terdiri dari landasan teori, prosedur kerja dan tambahan lampiran. Barulah setelah kita membayar tiket tersebut kita bisa mengikuti pratikum. Data hasil percobaan, analisa data, kesimpulan dan sebagainya kita buat setelah pratikum dilaksanakan. Laporan fislab harus ditulis tangan dengan pena biru. Setiap laporan diwajibkan berisi minimal 14 lembar landasan teori, belum termasuk prosedur kerja dan lampiran. Pernah ada kejadian, seorang senior saya menulis landasan teori berisi tentang curhatannya sendiri dibeberapa lembar terakhir, mungkin ia sudah kehabisan bahan tulisan, tentu saja konsekuensinya laporannya ditolak dan tidak bisa mengikuti pratikum. Sebenarnya, hal tersebut cukup membuat saya tertawa geli. Margin kertas tidak boleh bergeser satu milimeter pun. Menurut cerita senior saya, ia pernah mengulang membuat laporan karena margin kertasnya bergeser satu milimeter dan yang lebih sadisnya lagi kertas laporannya yang salah dirobek didepan matannya sendiri. Saya yang sudah merasakan susahnya membuat laporan fislab bisa membayangkan perasaan senior saya saat itu. Selain itu, hal yang menurut saya cukup menyiksa adalah kita harus menulis layaknya komputer yaitu dengan aturan rata kanan kiri. Sungguh sial bagi orang-orang yang tidak terlalu ‘suka’ menulis. Ada beberapa aturan mendasar yang tidak boleh dilanggar mahasiswa/i saat melaksanakan pratikum yaitu tidak boleh memakai perhiasan, harus memakai sepatu kets, bagi yang memiliki rambut panjang harus dikuncir, harus memakai kemeja atau baju berkerah dan yang paling penting harus ada diruang pratikum 10 menit sebelum pratikum dimulai. Jika terlambat, tentunya tidak boleh masuk ruang pratikum dan tidak diperbolehkan mengikuti pratikum dikelas lain, intinya jika terlambat maka kita benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk mengikuti pratikum. Sebenarnya saya cukup terkesan dengan perkataan salah seorang asisten laboratorium, ia mengatakan bahwa filab bukanlah sengaja mempersulit mahasiwa/i, melainkan agar kami terbiasa bekerja tepat waktu, cekatan, teliti dan mampu mengambil kesimpulan yang tepat. Dalam pratikum ini, kita diharuskan mencambuk diri kita yang malas menjadi ’terpaksa’ rajin dan tanpa kita sadari semua kesusahan yang kita takuti di awal menjadi hal biasa di akhir. 



 

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...