Tony 'Lip' Vallelonga (Viggo Mortensen) adalah seorang keturunan Italia-Amerika yang bekerja sebagai pekerja keamanan di bar. Karena bar tempatnya bekerja sedang di renovasi, ia pun harus mencari pekerjaan baru. Bosnya di bar merekomendasikan Tony untuk mengikuti wawancara di lantai atas Carnegie Hall. Mengetahui bahwa calon atasannya adalah seorang berkulit hitam membuat Tony menolak untuk bekerja dengannya. Namun, ia akhirnya mau bekerja dengan syarat kenaikan upah. Sosok yang ingin mempekerjakan Tony adalah Dr. Don Shirley (Mahershala Ali). Ia adalah pianis terkenal keturunan Afrika-Amerika yang berencana melakukan tur selama 8 minggu ke seluruh wilayah Deep South (Amerika Selatan). Dr. Shirley membutuhkan supir dan pelayan yang akan memastikan dia bisa menyelesaikan tur nya dengan selamat.
Film yang memenangkan nominasi Best Picture 2019 ini diangkat dari kisah nyata dengan penamaan tokoh yang sama. Naskah film ini ditulis oleh anak kandung Tony, Nick Vallelonga. Cerita dari ayahnya mengenai sosok Dr. Don Shirley menjadi modal besar bagi Nick untuk menggambarkan perjuangan seorang pianis berkulit hitam menghadapi rasisme. Melalui film ini Nick memenangkan penghargaan Skenario Original Terbaik dalam ajang Academy Awards ke-91. Selain itu, dalam ajang yang sama, Mahershala Ali juga berhasil membawa piala kategori Aktor Pendukung Terbaik.
Judul film ini mengacu pada buku Negro Motorist Green Book yang berisi panduan rute perjalanan teraman bagi orang berkulit hitam. Tony dan Dr. Shirley harus mengikuti panduan tersebut karena di era 1950-1960an isu rasisme masih sangat kental. Penggambaran perilaku rasisme akan diperlihatkan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi selama perjalanan mereka berdua. Berikut ini adalah potongan adegan yang bisa mendeskripsikan rasisme orang Amerika pada masa itu terhadap orang berkulit hitam.
Sebelum bekerja dengan Dr. Shirley, Tony menganggap orang berkulit hitam itu menjijikkan. Saat pekerja berkulit hitam datang ke rumahnya, ia merasa tidak sudi melihat gelas yang dipakai mereka minum. Tony membuang gelas tersebut ke kotak sampah.
Dr. Shirley melihat setelan jas yang dipajang di sebuah toko dan tertarik membelinya. Penjaga toko semula berpikir Tony lah yang akan membeli setelan tersebut. Namun setelah mengetahui bahwa Dr. Shirley yang akan membelinya, ia menolak untuk menjualnya.
Dr. Shirley di undang oleh keluarga kaya untuk melakukan pertunjukkan. Saat ingin pergi ke toilet, sang pemilik rumah malah menyuruhnya untuk pergi ke toilet yang ada di luar. Dr. Shirley tidak ingin martabatnya di rendahkan, ia pun memutuskan kembali ke penginapan hanya untuk sekedar buang air kecil.
Di tengah perjalanan, mobil mereka mogok. Mereka akhirnya berhenti. Sambil menunggu Tony memperbaiki mobil, di seberang jalan, Dr. Shirley melihat para buruh berkulit hitam yang sedang bekerja. Para buruh tersebut melihat Dr. Shirley dengan wajah aneh karena tidak pernah melihat seorang pria berkulit hitam dengan setelan mahal dan terlihat berkelas sepertinya.
Dr. Shirley bercerita kepada Tony mengenai awal mula ia menjadi seorang pianis. Saat masih anak-anak, ibunya mengajarinya bermain spinet lama kemudian mengajaknya berkeliling Florida Panhandle untuk melakukan konser kecil di paroki dan balai. Setelah melihat penampilnya, seorang penonton memutuskan menyekolahkannya ke Leningrad Conservatory of Music dan Dr. Shirley adalah murid Negro pertama disana.
Kesukaan Don terhadap musik klasik terhalang karena orang-orang berkulit putih belum bisa menerima keberadaan orang berkulit hitam yang memainkan musik klasik.
Larangan kulit hitam keluar saat malam hari, membuat mereka masuk penjara. Para polisi meremehkan Tony yang bekerja kepada orang berkulit hitam. Pada kenyataannya, di era 1950-1960an terdapat larangan bagi orang berkulit hitam berada semobil dengan orang kulit putih.
Dr. Shirley merasa orang-orang kaya berkulit putih yang telah mengundangnya adalah orang-orang yang munafik. Mereka hanya ingin dianggap berbudaya. Setelah ia tampil, pada akhirnya mereka akan kembali merendahkan statusnya sebagai orang berkukit hitam.
Saat pertunjukkan terakhirnya, Dr. Shirley tidak diperbolehkan makan di restoran tempatnya akan tampil. Pemilik restoran beralasan itu adalah tradisi untuk tidak memperbolehkan orang berkulit hitam makan di restorannya. Padahal, Dr. Shirley adalah penghibur utama yang akan tampil di restoran tersebut.











No comments:
Post a Comment