Kosong,aku terdiam
Hampa,aku terlarut meresapi malam
Nyanyian angin dari celah-celah jendela kayu begitu syahdu
Lampu remang-remang membuat kantuk tak tertahankan
Berbaring aku di atas dipan
Menatap langit-langit yang menghitam
Kesunyian selalu menjamu kegundahan
Aku kembali ke masa lalu
Melamunkan tentang siapa, apa dan mengapa
Waktu berlalu dan berlalu
Kesederhanaan adalah kerumitan permasalahan
Sesederhana itulah aku, malam ini, dan pikirku.
Note : Setelah sekian lama tidak produktif lagi, saya mulai kehilangan 'rasa' dalam memilih kata-kata. Ya, saya menyadari bahwa menulis bukanlah untuk menunjukkan 'kemampuan' yang Anda miliki, menulis adalah sebuah sarana untuk bercerita dalam diam. Dibalik itu semua, saya tidak bisa menyangkal bahwa ada rasa untuk selalu menyajikan sebuah tulisan yang berkualitas bagi pembaca sekalian. Hal ini membuat pikiran saya berkecamuk padahal dulu saya menulis tanpa ada sebuah alasan yang jelas, saya hanya menikmatinya, menikmati ketika pikiran saya menari-nari diatas keyboard dan saya mulai mencari kenikmatan itu lagi.
Tuesday, August 25, 2015
Thursday, May 28, 2015
Karisma Sang Pembicara : Kekuatan Sebuah Pujian
Artikel kali ini mungkin bisa menjadi salah satu referensi untuk menunjukkan bahwa Anda adalah ‘seseorang’ diantara banyak orang. Kali ini saya akan membahas tentang seberapa besar kekuatan sebuah pujian – bukan rayuan. Saya sekali lagi menekankan agar Anda membedakan antara pujian dengan rayuan yang terkesan murahan. Pujian adalah salah satu bentuk apresiasi seseorang yang diramu dengan sangat indah sehingga si penerima pujian merasa benar-benar memiliki hal yang berharga pada dirinya, berbeda dengan rayuan yang justru menimbulkan kecurigaan dan persepsi yang salah pada diri penerima.
Sebenarnya, sebuah pujian adalah rayuan yang diramu dengan sangat baik. Jadi, hal terpenting yang harus Anda pelajari saat ini adalah bagaimana cara meramu rayuan menjadi sebuah pujian yang akan memperlancar hubungan Anda dengan lingkungan Anda. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memperhitungkan ketepatan waktu dan pemilihan kata saat melontarkan pujian. Selain itu, perhatikan bagaimana karakteristik objek yang ingin Anda puji.
Kekuatan sebuah pujian adalah keindahan yang tersirat, bayangkan bahwa penerima pujian cukup mampu menafsirkan kata-kata indah di balik pujian Anda, hindari kata-kata yang menunjukkan kekaguman secara langsung karena menurut saya hal tersebut justru menjadikan pujian Anda berakhir seperti angin lalu saja atau justru menjadi kata-kata buruk bagi penerima pujian. Walaupun saya menyarankan menggunakan cara tersirat, bukan berarti Anda menjadikannya sebuah kesempatan untuk menunjukkan keahlian Anda dalam berbahasa (baca:berlebihan), pilihlah kata yang cocok dengan lawan bicara Anda dengan menghindari kesan norak dan terlihat mengharapkan sesuatu.
Pujian mungkin bisa memperlancar komunikasi Anda dengan orang lain namun pujian yang hanya didasarkan pada kepentingan pribadi saja biasanya akan tercium dengan sangat jelas dan menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan. Ketika melontarkan pujian, jadilah seperti anak kecil yang penuh dengan ketulusan, mungkin Anda masih mengingat bagaimana cara merayu ayah/ibu Anda demi mendapatkan sesuatu. Ketulusan dan cara melakukan rayuan tersebut menjadikan rayuan itu bukan hanya sekedar rayuan belaka namun bertransformasi menjadi sebuah proses tawar-menawar dengan berhadiahkan sebuah pujian. Jadilah sosok anak kecil yang begitu menggemaskan sehingga penerima pujian secara tidak sadar menjadi sosok ayah/ibu yang akan menuruti setiap permintaan Anda.
Dalam memilih kalimat pujian, Anda harus melihat objek yang Anda puji, lihatlah dengan jeli kualitas dan keunikan si penerima pujian, temukan sebuah kelebihan yang sebelumnya tidak ditemukan orang lain pada dirinya, buatlah ia merasa Anda mengetahui dengan sangat jeli kualitas yang sebenarnya dimiliki si penerima pujian. Anda harus bersikap berbeda dan melihat dengan cara pandang yang berbeda dibanding kebanyakan orang sehingga si penerima pujian sedikit demi sedikit mulai menganggap Anda adalah ‘seseorang’ diantara kebanyakan orang.
Selain pujian yang terencana, adakalanya Anda harus membuat pujian yang terkesan spontan. Jadilah sosok yang begitu menghargai dan mengapresiasi apa yang telah orang lain lakukan. Sebuah kalimat singkat seperti good job bahkan bisa menimbulkan efek positif yang cukup besar dalam kehidupan Anda. Berikan pujian dengan spontan dan alamiah, spontanitas ini akan mengalir ketika ketulusan menjadi dasarnya.
Artikel ini bukanlah berusaha mengajarkan Anda untuk menjadi seorang pemuji yang ulung, saya hanya ingin menunjukkan betapa besarnya kekuatan pujian dalam komunikasi. Sebuah pujian sebenarnya bukanlah suatu hal yang bisa Anda pelajari dengan mudah karena hal tersebut bukan hanya menyangkut kemampuan Anda dalam merangkai kata dan memilih waktu yang tepat, hal utama yang harus Anda miliki adalah ketulusan, bagaimana cara Anda membuat orang lain merasakan kebahagiaan dari pujian yang Anda lontarkan. Kelancaran yang Anda dapatkan karena kemampuan Anda untuk mengambil hati orang lain dengan pujian anggap saja sebagai bonus yang Anda dapatkan dari ketulusan Anda selama ini.
Wednesday, May 27, 2015
UntukMu, Tuhanku
Selamat pagi Tuhan, sudah lama aku ingin menuliskan hal ini. Sudah aku terima balasan suratMu, di kemas dengan amplop yang begitu indah, ukiran kebahagiaan menjadi pemanisnya. Aku membukanya dengan hati-hati, sungguh tak pantas jika aku sembrono merusaknya.
Ketika aku berusaha merangkai kata dalam surat pertamaku, aku begitu meragu, bahkan mempertanyakan akan samapaikah suratku padaMu, Tuhan.
Aku tak pandai merayu, bahkan surat pertamaku terkesan angkuh, kelancangan yang tak tertahankan. Semua terasa begitu sulit, seakan tak akan ada orang yang akan memihakku, tidak akan ada orang yang bisa mengerti, sifat ke-aku-an terpancar jelas dalam setiap kata yang tersurat. Aku menulisnya dengan perasaan berkecamuk, tanpa akal sehat, seakan mabuk. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, meratapi malam dengan tangisan, bertanya-tanya apakah aku begitu tak pantas untuk mendapat sepucuk surat balasan. Aku gadis naïf yang terlalu menggebu merengkuh mimpi, saat itu. Mulutku bahkan terus mengeluh, berkata-kata tak pantas, terus bertanya mengapa aku seperti ini, mengapa aku di posisi ini. Terus menangis dalam sujudku, aku baru menyadari, betapa dekatnya aku denganMu, setiap hari dihabiskan dengan mengadu, betapa banyaknya percakapan yang sebenarnya telah aku lakukan denganMu.
Aku kirimkan surat ini dengan rasa syukur dan terus memuji namaMu yang begitu agung.
Tuhan.. sudikah jika aku terus mengirimkan surat kepadaMu? MalaikatMu mungkin akan terus kewalahan mengantarkan suratku yang selalu penuh dengan keluhan, tapi bolehkah aku terus mengirimkannya?
Ingatlah Tuhan menjawab doamu dengan 3 cara:
-Ya, kuberi sekarang
-Tunggu, aku ingin lihat lagi usahamu
-Tidak, Kupunya yang lebih baik.
Saturday, February 21, 2015
Lembaran Pertama Aku dan Gadis Kecil Berpita Merah
Salam cinta untuk gadis kecil berpita merah.
"Apa kabar?", salam yang terlalu formal katamu.
"Basa- basi adalah keharusan.", kau mengumpat setelah aku mengatakannya.
Kau tidak menghargai kesopanan protesku.
"Bagaimana harimu? Apakah sulit?"
"Tidak, aku selalu bisa mengatasi semuanya", katamu.
"Syukurlah, aku pikir kau masih sering menangis dalam diam" .
"Aku bukan anak kecil lagi", matamu berkilat marah padaku.
Tapi kau tetap saja selalu berapi sindirku.
"Apa pedulimu", katamu kasar.
Aku tersenyum, kau masih saja terlalu kaku, tak punya selera humor sedikit pun.
"Tumben kau berkunjung".
"Aku hanya ingin mampir, persimpangan jalan membuatku rindu padamu".
Kau pun bersemu. Betapa bahagianya dirindukan. Tidakkah kau merindukanku juga, godaku.
Sudah lama aku tidak mengetuk pintu labirinmu, sudah lama sekali rasanya.
Dahulu kita berusaha saling menemukan di dalamnya, tidakkah kau ingat itu?
Kau terdiam.
Tampaknya kau lupa.
Tidak apa-apa, tak semua hal harus kita ingat.
"Kau salah, aku mengingat semuanya dengan jelas, semua berputar di pikiranku, membuatku muak " ,protesmu.
Aku terdiam," Kalau begitu kau boleh melupakannya".
Kau mengumpat bahwa aku selalu semaunya, berkata ini itu seenaknya.
Kita selalu seperti ini, tak mampu berbagi rindu.
Dahulu kita bertemu di labirin ini, tiada keindahan selain saling menemukan,
aku-kau tidak sendirian.
Kau sang ambisius yang rakus sedangkan aku terlalu damai memikirkan masa depan.
Betapa tidak cocoknya kita.
Hari itu, kau berkeluh kesah dan aku hanyalah pendengar, itu yang kau inginkan.
Kau selalu terjebak tanya, alasan adalah sebuah keharusan, kau terlalu sering menyebutkan mengapa. Berhentilah beretorika, kau tahu tapi tidak menginginkan jawaban, hanya butuh diyakinkan.
Kau selalu punya rencana yang runtut, dunia tidak boleh merusaknya. Ayolah, jangan terlalu memaksa.
Kau mengidamkan sosok tanpa cela. Aku pun tertawa, kau terlalu naif kawan.
Dari dulu kau terlalu kaku. Selalu khawatir akan keadaan. Kadangkala kita perlu menikmati perjalanan tanpa berpikir tentang tujuan.
Bersantailah sejenak, mungkin kau terlalu lelah. Aku berkunjung untuk bertanya apakah kau masih orang yang sama?
Apakah harimu terasa berat?
Apabila semuanya terasa berat bersandarlah sejenak di pundakku. Mungkin takkan cukup mengobati resahmu namun setidaknya kau punya tempat untuk mengeluh.
"Apa kabar?", salam yang terlalu formal katamu.
"Basa- basi adalah keharusan.", kau mengumpat setelah aku mengatakannya.
Kau tidak menghargai kesopanan protesku.
"Bagaimana harimu? Apakah sulit?"
"Tidak, aku selalu bisa mengatasi semuanya", katamu.
"Syukurlah, aku pikir kau masih sering menangis dalam diam" .
"Aku bukan anak kecil lagi", matamu berkilat marah padaku.
Tapi kau tetap saja selalu berapi sindirku.
"Apa pedulimu", katamu kasar.
Aku tersenyum, kau masih saja terlalu kaku, tak punya selera humor sedikit pun.
"Tumben kau berkunjung".
"Aku hanya ingin mampir, persimpangan jalan membuatku rindu padamu".
Kau pun bersemu. Betapa bahagianya dirindukan. Tidakkah kau merindukanku juga, godaku.
Sudah lama aku tidak mengetuk pintu labirinmu, sudah lama sekali rasanya.
Dahulu kita berusaha saling menemukan di dalamnya, tidakkah kau ingat itu?
Kau terdiam.
Tampaknya kau lupa.
Tidak apa-apa, tak semua hal harus kita ingat.
"Kau salah, aku mengingat semuanya dengan jelas, semua berputar di pikiranku, membuatku muak " ,protesmu.
Aku terdiam," Kalau begitu kau boleh melupakannya".
Kau mengumpat bahwa aku selalu semaunya, berkata ini itu seenaknya.
Kita selalu seperti ini, tak mampu berbagi rindu.
Dahulu kita bertemu di labirin ini, tiada keindahan selain saling menemukan,
aku-kau tidak sendirian.
Kau sang ambisius yang rakus sedangkan aku terlalu damai memikirkan masa depan.
Betapa tidak cocoknya kita.
Hari itu, kau berkeluh kesah dan aku hanyalah pendengar, itu yang kau inginkan.
Kau selalu terjebak tanya, alasan adalah sebuah keharusan, kau terlalu sering menyebutkan mengapa. Berhentilah beretorika, kau tahu tapi tidak menginginkan jawaban, hanya butuh diyakinkan.
Kau selalu punya rencana yang runtut, dunia tidak boleh merusaknya. Ayolah, jangan terlalu memaksa.
Kau mengidamkan sosok tanpa cela. Aku pun tertawa, kau terlalu naif kawan.
Dari dulu kau terlalu kaku. Selalu khawatir akan keadaan. Kadangkala kita perlu menikmati perjalanan tanpa berpikir tentang tujuan.
Bersantailah sejenak, mungkin kau terlalu lelah. Aku berkunjung untuk bertanya apakah kau masih orang yang sama?
Apakah harimu terasa berat?
Apabila semuanya terasa berat bersandarlah sejenak di pundakku. Mungkin takkan cukup mengobati resahmu namun setidaknya kau punya tempat untuk mengeluh.
Thursday, January 29, 2015
Terus Beretorika
Terbahak pada diri sendiri yang bahkan
di usia ini belum mampu menerima kerasnya dunia. Lucu, saya masih terbuai
dengan dongeng keindahan dunia, namun berpura-pura tahu segalanya. Ya, saya
belum cukup matang, mungkin. Setidaknya 18 tahun bukanlah umur kanak-kanak
lagi, entahlah, mungkin saya terlalu menuakan diri atau mungkin saya terlalu
menggebu untuk merengkuh dewasa. Saya tak pantas lagi berkeluh kesah akan
kerasnya dunia, mungkin. Ragu terus menyelimuti, entahlah tanyaku pada siapa.
Saya bahkan masih gadis naïf, bodoh, yang terlalu mudah mengatakan ‘ya’. Saya
bahkan lupa bagaimana rupa diri. Saya siapa, saya siapa, siapa saya? Ingin
menjadi siapa? Saya masih gadis kecil ayah yang menangis ketika sendiri dalam
kegelapan. Saya gadis kecil ibu yang genit ingin dikuncir sebelum foto raport
sekolah. Sikap tindak menjadi abstrak, saya mau dan terkadang tidak mau secara
bersamaan. Lucu, bergelut dengan
pemikiran dan terlalu angkuh untuk menunjukkan kelabilan, berlagak dewasa.
Bukan, saya tidak seperti itu, setidaknya tidak separah itu. Lihatlah saya
bahkan masih mencoba menyangkal. Lucunya, terlalu banyak pedoman yang ingin
saya ikuti, saya mungkin salah membaca genre buku di usia belia, aneh
mendengarnya, tapi setidaknya saya butuh alasan untuk dipermasalahkan. Dahulu
saya berlagak sok dewasa, tahu cara tersenyum seharusnya, berbicara seharusnya,
memuji sewajarnya. Saya menjadi palsu, tak ubahnya referensi buku yang menjadi
satu. Tak berkembang secara wajar, seharusnya bertransformasi sesuai waktu,
proses saya tidak alamiah, mungkin. (Saya berhenti dan tertawa). Lihatlah,
betapa sok pintarnya saya. Itulah
mengapa ini semua berakhir bukan tentang saya tetapi selalu tentang mereka.
Saya terlalu mengidamkan karakter tanpa cela, inilah efek dongeng keindahan dunia.
Terlalu banyak kata ‘seharusnya’ dalam
daftar kosakata saya. Lucu, saya tahu faktanya namun masih terus melakukan hal
yang sama. Tampaknya dunia pun tertawa.
Sunday, January 11, 2015
Tolong, biarkan aku mengeluh sekali ini saja, mengeluh
sejadi-jadinya akan kehidupan yang kadangkala begitu menyakitkan. Setidaknya
selama ini aku berpikir bahwa aku tak punya hak lagi untuk mengeluh karena
sudah terlalu banyak yang dipertaruhkan untuk diriku. Tapi, tolong, biarkan aku
mengeluh sekali ini saja. Bukan aku tidak bersyukur, tapi melihat semuanya
berjuang untukku aku justru menjadi rapuh. Ya, aku pegecut, aku pecundang, aku
frustasi. Sungguh tak pantas sikapku ini ketika aku diperjuangkan, aku justru
tak menghargainya. Tapi, tolong, izinkan aku mengeluh sekali ini saja, kumohon
aku hanya ingin berkeluh kesah bukannya tak cukup kuat untuk menghadapinya, aku
mohon izinkan aku mengeluh sekali ini saja. Aku hanya ingin bercerita betapa
berat ini semua tanpa secuil pun perasaan tak menghargai usaha . Tolong,
izinkan aku mengeluh sekali ini saja. Setelah ini, aku akan kembali melangkah.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Catatan di Awal 2021
Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...