Thursday, July 16, 2020

Mengambil Jeda

Beberapa hari ini saya menyadari bahwa tidak semua hal yang kita lihat sepele bisa dikerjakan dengan sepele juga. Di awal Juli, saya berjanji dalam hati agar bisa mengisi tulisan di blog ini setiap hari, walaupun akhirnya saya memberikan keringanan jeda satu hari jika benar-benar tidak memungkinkan. Namun kenyataannya saya alpa kali ini. Hari ini, sudah lewat dua hari saya tidak mencurahkan pikiran saya lewat kata-kata. Hingga tadi sore, saya masih saja mencari ide di labirin pikiran saya. Ada beberapa ide yang muncul namun terkadang saya mendapati ide tersebut tidak bisa diwujudkan dalam waktu 24 jam. Sempat hati ini berbisik ''Ah, besok saja", tetapi saya sadar betul jika hari ini saya berbaik hati untuk melonggarkan komitmen, pada akhirnya saya akan melanggar janji ini hingga seterusnya.

Ada satu poin penting yang harus kembali dikaji, ternyata komitmen saya untuk 'menyetor' tulisan setiap harinya membuat saya ragu membuat tulisan 'mendalam' yang harus selesai dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Tentunya ini semakin sulit karena 'jam terbang' saya belum sebanyak blogger lainnya. Sudah seharusnya saya sadar akan kapasitas saya sebagai seorang blogger 'pemula'. Walaupun sudah 8 tahun blog ini ada, nyatanya jumlah tulisan saya bahkan belum mencapai angka 100 buah. Saya awalnya begitu terkesima dengan blogger yang dalam sehari bisa membuat lebih dari satu tulisan dengan tema yang tidak abal-abal. Namun kali ini saya menjadi bertanya-tanya bagaimana bisa mereka menjaga konsistensinya. Sungguh, di dunia ini, ternyata hal yang terlihat sederhana belum tentu dilakukan dengan proses sederhana pula.

Salah satu kebiasaan buruk yang harus saya ubah adalah ketidakberdayaan saya untuk menekan lonjakan ide-ide yang dirasa harus secepatnya dieksekusi. Saya termasuk orang yang menggebu untuk melakukan hal baru. Adrenalin saya naik ketika ide-ide itu mengalir dan untuk meredam hal itu, saya terkadang terlalu memaksakan diri untuk segera menjadikannya kenyataan. Buruknya, hal tersebut membuat saya sering lelah di tengah perjalanan, saya ngos-ngosan untuk bisa menyelesaikan misi sampai akhir. Tenaga saya terkuras di awal dan mulai merasa kewalahan.

Sejujurnya, mulai dari awal Juli, bukan hanya komitmen aktif di blog yang saya janjikan. Kebiasaan buruk yang saya sebutkan sebelumnya menjadikan saya 'rakus'. Saya mulai melirik feed instagram ruangjiwa yang sudah saya terlantarkan hampir 3 tahun lamanya. 'Kerakusan' saya membuat diri ini tergerak untuk kembali mengisi feed instagram ruangjiwa. Tulisan ini, mungkin bisa jadi ajang memperkenalkan instagram ruangjiwa. Isi feed instagram ruangjiwa menyajikan konten yang berbeda dengan blog ini, disana saya lebih fokus untuk menyajikan video musikalisasi puisi. Saya merasa sangat bahagia ketika bisa menyalurkan kecintaan saya akan puisi melalui suara. Sekarang, selain video musikalisasi puisi, saya juga berencana untuk menjadikan instagram ruangjiwa sebagai platform untuk memperkenalkan tulisan blog ini.

Saya sadar, instagram ruangjiwa belum bisa menjangkau banyak orang walaupun telah dibuat 3 tahun lamanya. Jika diingat kembali, instagram tersebut hanya aktif beberapa bulan saja setelah pembuatannya. Inilah yang menjadi salah satu penanda ketidakkonsistensian saya. Tetapi dibanding meributkan ke alpaan saya dahulu, kali ini saya berniat untuk mencoba kembali. Tidak ada salahnya memaafkan kesalahan masa lalu dan mencoba memperbaikinya kembali. 

Keaktifan saya di instagram menjadikan pikiran saya bercabang. Apalagi ketika dua video musikalisasi puisi saya di instagram disukai oleh Dewi Lestari, salah satu penulis sastra favorit saya. Sebagai seorang pengagum beliau, saya sadar telah bersikap norak dengan mengungkapkan hal ini. Tetapi, saya tidak bisa memungkiri bahwa hal tersebut membuat saya sedikit kegeeran untuk tetap mengisi feed instagram ruangjiwa.

Komitmen untuk mampu menulis di blog, mengedit feed yang artistik serta menyajikan video musikalisasi ternyata tidaklah mudah. Apalagi saya punya PR baru untuk memposting video review film di youtube ruangjiwa (walaupun sampai tulisan ini diposting, video tersebut belum juga dirilis). Saya bermimpi untuk membuat platform ruangjiwa bisa diakses di blog, instagram dan juga youtube. Sebuah impian yang rasanya masih jauh untuk terlaksana. 

Walaupun tidak terwujud, tidak apa-apa, karena komitmen ini pertama kali dibuat agar saya bisa tetap mempertahankan 'ruang' ini hingga bertahun-tahun ke depan. Nyatanya, ruangjiwa dibuat sebagai tempat untuk saya mampir ketika sedang ingin bersandar dari hiruk pikuk dunia. Jika suatu hari nanti saya kembali ke 'kebiasaan buruk' yang disebutkan sebelumnya, saya hanya bisa berdoa agar mau kembali mencoba. Toh, hidup ini pada kenyataannya adalah perihal jatuh kemudian bangkit lagi.

Tambahan :
Mungkin ini keluar dari topik di atas. Selain mengelola akun-akun ruangjiwa, saya baru-baru ini diamanahkan tugas baru untuk belajar tanaman. Dari awal Juli, saya ditugaskan mengelola instagram tanaman ibu saya, walaupun awalnya instagram itu hanyalah berisi foto koleksi tanaman kesayangan, nyatanya sekarang mulai menjalar ke komitmen jual-beli. Demikianlah tulisan ini dibuat dari seseorang yang 'rakus' untuk belajar tetapi sedang mencoba mencari energi lebih untuk bertahan.

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...