Teruntuk gadis kecil berpita merah.
Februari 2015, sudah lebih dari 5 tahun aku tak menyapa.
Terakhir kali kita bertemu kau mengaku punya masalah.
Kuucapkan selamat, kau telah berhasil mengatasinya. Kau hebat karena tidak mau menyerah.
Gadis kecil berpita merah, aku ingin berkunjung karena mendengar kau sedang gundah.
Tidak seperti biasa, kali ini kau hanya diam ketika aku bertanya.
Apakah itu berarti jawabannya iya.
Kulihat kau mulai mendewasa karena tidak lagi sering membantah. Percakapan kita dahulu selalu berakhir dengan penyangkalanmu. Kau beretorika dan aku harus mendengarkannya.
Tetapi aksi diammu ini justru menambah kekhawatiranku.
"Apakah kau baik-baik saja ?".
Gadis kecil berpita merah, aku tahu kau selalu menahannya. Tetapi dunia ini terlalu kejam untuk manusia berhati lemah.
Tidak apa-apa, jika salah maka perbaiki.
Kau tidak akan selalu benar, terkadang kau keliru dan menyesal, begitu pula manusia lainnya.
Jika tersakiti menjadikanmu lemah, maka berdoalah. Maafkanlah dirimu yang masih terbelenggu dengan aturan dunia dan bersiaplah menerima karunia Pencipta.
Jika menyakiti membuatmu bersalah, minta maaflah.
Lakukanlah dengan ketulusan hati sembari berdoa agar kalian tidak sama-sama membenci.
Gadis kecil berpita merah. Di perjalanan aku mendengar kabar bahagia.
Aku mendengar riuh tepuk tangan dan bisikan pujian, kata mereka kau telah hidup dengan sepenuhnya.
Senyumku merekah dengan rasa bangga.
Aku tak sabar ingin merengkuhmu, menepuk punggungmu dengan lembut sembari mengatakan kamu luar biasa.
Lalu mengapa kini kau gundah?
"Aku merasa lelah", akhirnya kau berkata-kata.
Gadis kecil berpita merah, aku tahu kau terbiasa menahan, maka kali ini lepaskan.
Harusnya kau sudah belajar dari pengalaman, kau harus membebaskan diri dari rantai keangkuhan dan hidup dalam kebahagiaan.
Tidak perlu memperumit pemikiran cukup bertindak sesuai keyakinan.
Aku berharap mendengar kisah hidupmu di pertemuan berikutnya.
Kuharap kau menceritakannya dengan tawa bahagia.
Oleh karena itu, biarkan aku ikut berdoa agar kau kembali hidup sepenuhnya.
No comments:
Post a Comment