Terbahak pada diri sendiri yang bahkan
di usia ini belum mampu menerima kerasnya dunia. Lucu, saya masih terbuai
dengan dongeng keindahan dunia, namun berpura-pura tahu segalanya. Ya, saya
belum cukup matang, mungkin. Setidaknya 18 tahun bukanlah umur kanak-kanak
lagi, entahlah, mungkin saya terlalu menuakan diri atau mungkin saya terlalu
menggebu untuk merengkuh dewasa. Saya tak pantas lagi berkeluh kesah akan
kerasnya dunia, mungkin. Ragu terus menyelimuti, entahlah tanyaku pada siapa.
Saya bahkan masih gadis naïf, bodoh, yang terlalu mudah mengatakan ‘ya’. Saya
bahkan lupa bagaimana rupa diri. Saya siapa, saya siapa, siapa saya? Ingin
menjadi siapa? Saya masih gadis kecil ayah yang menangis ketika sendiri dalam
kegelapan. Saya gadis kecil ibu yang genit ingin dikuncir sebelum foto raport
sekolah. Sikap tindak menjadi abstrak, saya mau dan terkadang tidak mau secara
bersamaan. Lucu, bergelut dengan
pemikiran dan terlalu angkuh untuk menunjukkan kelabilan, berlagak dewasa.
Bukan, saya tidak seperti itu, setidaknya tidak separah itu. Lihatlah saya
bahkan masih mencoba menyangkal. Lucunya, terlalu banyak pedoman yang ingin
saya ikuti, saya mungkin salah membaca genre buku di usia belia, aneh
mendengarnya, tapi setidaknya saya butuh alasan untuk dipermasalahkan. Dahulu
saya berlagak sok dewasa, tahu cara tersenyum seharusnya, berbicara seharusnya,
memuji sewajarnya. Saya menjadi palsu, tak ubahnya referensi buku yang menjadi
satu. Tak berkembang secara wajar, seharusnya bertransformasi sesuai waktu,
proses saya tidak alamiah, mungkin. (Saya berhenti dan tertawa). Lihatlah,
betapa sok pintarnya saya. Itulah
mengapa ini semua berakhir bukan tentang saya tetapi selalu tentang mereka.
Saya terlalu mengidamkan karakter tanpa cela, inilah efek dongeng keindahan dunia.
Terlalu banyak kata ‘seharusnya’ dalam
daftar kosakata saya. Lucu, saya tahu faktanya namun masih terus melakukan hal
yang sama. Tampaknya dunia pun tertawa.
Thursday, January 29, 2015
Sunday, January 11, 2015
Tolong, biarkan aku mengeluh sekali ini saja, mengeluh
sejadi-jadinya akan kehidupan yang kadangkala begitu menyakitkan. Setidaknya
selama ini aku berpikir bahwa aku tak punya hak lagi untuk mengeluh karena
sudah terlalu banyak yang dipertaruhkan untuk diriku. Tapi, tolong, biarkan aku
mengeluh sekali ini saja. Bukan aku tidak bersyukur, tapi melihat semuanya
berjuang untukku aku justru menjadi rapuh. Ya, aku pegecut, aku pecundang, aku
frustasi. Sungguh tak pantas sikapku ini ketika aku diperjuangkan, aku justru
tak menghargainya. Tapi, tolong, izinkan aku mengeluh sekali ini saja, kumohon
aku hanya ingin berkeluh kesah bukannya tak cukup kuat untuk menghadapinya, aku
mohon izinkan aku mengeluh sekali ini saja. Aku hanya ingin bercerita betapa
berat ini semua tanpa secuil pun perasaan tak menghargai usaha . Tolong,
izinkan aku mengeluh sekali ini saja. Setelah ini, aku akan kembali melangkah.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Catatan di Awal 2021
Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...