Thursday, January 29, 2015

Terus Beretorika

Terbahak pada diri sendiri yang bahkan di usia ini belum mampu menerima kerasnya dunia. Lucu, saya masih terbuai dengan dongeng keindahan dunia, namun berpura-pura tahu segalanya. Ya, saya belum cukup matang, mungkin. Setidaknya 18 tahun bukanlah umur kanak-kanak lagi, entahlah, mungkin saya terlalu menuakan diri atau mungkin saya terlalu menggebu untuk merengkuh dewasa. Saya tak pantas lagi berkeluh kesah akan kerasnya dunia, mungkin. Ragu terus menyelimuti, entahlah tanyaku pada siapa. Saya bahkan masih gadis naïf, bodoh, yang terlalu mudah mengatakan ‘ya’. Saya bahkan lupa bagaimana rupa diri. Saya siapa, saya siapa, siapa saya? Ingin menjadi siapa? Saya masih gadis kecil ayah yang menangis ketika sendiri dalam kegelapan. Saya gadis kecil ibu yang genit ingin dikuncir sebelum foto raport sekolah. Sikap tindak menjadi abstrak, saya mau dan terkadang tidak mau secara bersamaan. Lucu, bergelut dengan pemikiran dan terlalu angkuh untuk menunjukkan kelabilan, berlagak dewasa. Bukan, saya tidak seperti itu, setidaknya tidak separah itu. Lihatlah saya bahkan masih mencoba menyangkal. Lucunya, terlalu banyak pedoman yang ingin saya ikuti, saya mungkin salah membaca genre buku di usia belia, aneh mendengarnya, tapi setidaknya saya butuh alasan untuk dipermasalahkan. Dahulu saya berlagak sok dewasa, tahu cara tersenyum seharusnya, berbicara seharusnya, memuji sewajarnya. Saya menjadi palsu, tak ubahnya referensi buku yang menjadi satu. Tak berkembang secara wajar, seharusnya bertransformasi sesuai waktu, proses saya tidak alamiah, mungkin. (Saya berhenti dan tertawa). Lihatlah, betapa sok pintarnya saya.  Itulah mengapa ini semua berakhir bukan tentang saya tetapi selalu tentang mereka. Saya terlalu mengidamkan karakter tanpa cela, inilah efek dongeng keindahan dunia.  Terlalu banyak kata ‘seharusnya’ dalam daftar kosakata saya. Lucu, saya tahu faktanya namun masih terus melakukan hal yang sama. Tampaknya dunia pun tertawa.

Sunday, January 11, 2015

Tolong, biarkan aku mengeluh sekali ini saja, mengeluh sejadi-jadinya akan kehidupan yang kadangkala begitu menyakitkan. Setidaknya selama ini aku berpikir bahwa aku tak punya hak lagi untuk mengeluh karena sudah terlalu banyak yang dipertaruhkan untuk diriku. Tapi, tolong, biarkan aku mengeluh sekali ini saja. Bukan aku tidak bersyukur, tapi melihat semuanya berjuang untukku aku justru menjadi rapuh. Ya, aku pegecut, aku pecundang, aku frustasi. Sungguh tak pantas sikapku ini ketika aku diperjuangkan, aku justru tak menghargainya. Tapi, tolong, izinkan aku mengeluh sekali ini saja, kumohon aku hanya ingin berkeluh kesah bukannya tak cukup kuat untuk menghadapinya, aku mohon izinkan aku mengeluh sekali ini saja. Aku hanya ingin bercerita betapa berat ini semua tanpa secuil pun perasaan tak menghargai usaha . Tolong, izinkan aku mengeluh sekali ini saja. Setelah ini, aku akan kembali melangkah.

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...