Persahabatan
yang dijalin dalam jangka waktu yang lama akan membuat kita semakin mengenal
‘sosok sebenarnya’ dari sahabat-sahabat kita. Namun, fakta yang harus dihadapi
adalah kita akan menemukan ‘sisi lain’ yang tidak kita sukai dalam sahabat
kita. Tidak banyak orang yang akan bertahan setelah menemukan ‘sisi lain’ dari
sahabat mereka. Ketika kita menemukan ‘sisi lain’ itu maka akan terjadi
pergolakan batin dan pemikiran-pemikiran baru yang akan merusak persahabatan
tersebut. Kadangkala kita akan merasa dirugikan, dimanfaatkan atau bahkan
membenci sahabat kita sendiri.
Segelintir
orang masih bisa bertahan dengan ‘sisi lain’ dari sahabat mereka. Hal seperti
itulah yang disanjung-sanjungkan banyak orang sebagai bentuk ‘persahabatan
sejati’. Persahabatan sejati bahkan bisa menembus semua hal realistis dipikiran
manusia, dengan sarkasme saya menyatakan bahwa persahabatan sejati mampu
membuat manusia menjadi bodoh. Beberapa orang tetap mempertahankan persahabatan
mereka walaupun hal tersebut jelas-jelas merugikan mereka, dengan bangga dan
tersenyum mereka akan mengatakan inilah persahabatan sejati.
Kahlil
Gibran, penyair asal Lebanon tersebut pernah menyampaikan syair tentang sahabat
sejati, Beliau mengatakan bahwa, “Tidak ada sahabat sejati yang ada hanya
kepentingan”. Hubungan antar manusia selalu didasari layaknya sebuah simbiosis,
dan ditangan manusialah bentuk hubungan seperti apa yang diiingankan, apakah
simbiosis mutualisme, komensalisme, atau bahkan parasitisme? Tentu saja tidak
ada seorang pun yang ingin dirugikan. Semakin bertambahnya umur, saya menyadari
bahwa dunia tidak seindah seperti pemikiran saya waktu kecil, dunia itu kejam!
Seleksi alam selalu berlaku, yang tidak mampu bertahan maka akan tersingkirkan.
Kekejaman dunia membuat kecenderungan manusia memilih bentuk simbiosis
parasitisme, keserakahan selalu dapat membuat manusia tidak manusiawi lagi.
Oleh karena, saya rasa tidak aneh jika saya mempertanyakan tentang keabsahan
‘persahabatan sejati’.
Persahabatan
sejati seperti permen manis, jika kita terlalu banyak memakannya maka kita akan
muak. Pada kenyataannya tidak ada persahabatan yang selalu manis, apalagi jika
hubungan Anda didasari simbiosis parasitisme, maka saya anjurkan hentikan semua
sandiwara Anda sebelum Anda melanjutkannya menjadi hubungan predasi. Jika
seseorang memberikan saya kesempatan bertanya mengenai persahabatan, hal
pertama yang akan saya tanyakan adalah “Bagaimana bentuk sesungguhnya
persahabatan yang dikategorikan persahabatan sejati ?”. Persahabatan seringkali
dianggap selayaknya permen karet yang tidak manis lagi kemudian dibuang. Kita
semua tahu bahwa persahabatan seperti itu bukanlah persahabatan, mereka hanya
mangatasnamakan persahabatan sebagai cara mendapat keuntungan.
Dari
artikel yang saya tulis ini, pasti terlintas dipikiran pembaca bahwa saya
adalah salah satu orang di dunia yang ‘belum’ mempercayai persahabatan sejati
dan dengan kerendahan hati saya akan menjawab, “Ya, saya belum mempercayai apa
yang disebut persahabatan sejati“. Sahabat sejati seperti sesuatu yang terlalu
muluk bagi saya. Tapi dari dasar hati saya, saya sungguh menginginkan ‘sahabat
sejati’, saya hanya ingin mempertanyakan apakah Tuhan akan memberikan sahabat
sejati untuk saya dan menjadikan saya salah satu orang beruntung di dunia?
Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)
Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)