Thursday, May 29, 2014

Ketika Kenaifan Dipertanyakan

                 Gadis yang naif seringkali dijadikan tokoh utama dalam kisah  film, drama, sinetron dan sekelumit cerita fiksi lainnya. Kenaifan seringkali dijadikan penggambaran sosok yang hati dan pikirannya masih murni, mereka hanya menelusuri jalan yang lurus tanpa kelok dan jebakan. Kadangkala saya berpikir sungguh beruntung orang-orang yang berhati murni ini. Namun, jujur saja saya sangat membenci jika ada orang yang memanfaatkan kenaifan seseorang, parahnya film, drama, sinetron dan kisah fiksi lainnya selalu menggambarkan sosok naif ini adalah sosok yang terlalu baik hati dan pada akhirnya justru tersudutkan karena kebaikan hatinya itu sendiri. Pembodohan karakter orang yang naif seringkali membuat saya geram, seakan-akan orang yang baik hati itu justru tidaklah memiliki jalan pikiran yang rasional, mereka digambarkan sebagai orang yang hanya mementingkan perasaan dan hubungan antar manusia dan mengorbankan kehidupannya sendiri. Sampai saat ini saya masih tidak setuju dengan penggambaran sosok seperti itu.
           Gadis naif  dianggap sebagai sosok idaman dan di puja-puja kaum adam. Kenaifan kadangkala menjadi nilai tambah atau inner beauty bagi kaum wanita karena kenaifan sering disangkut-pautkan dengan sosok yang polos. Mereka tampil seperti putri di negeri dongeng yang jujur dan baik hati. Kita yang dibuai dengan kesempurnaan dunia dongeng seringkali terjebak dalam penggambaran sosok ini. Para putri di negeri dongeng memiliki hati yang baik namun sayangnya selalu bernasib malang walaupun pada akhirnya mengalami akhir yang bahagia dengan pangeran. Kebaikan kaum putri ini seringkali dianggap sebagai kesempatan tokoh antagonis untuk menghalangi kebahagiaan mereka. Sosok putri ini saya rasa cocok dengan penggambaran sosok naif. Namun, bukan berarti sosok naif adalah sosok yang mudah dibodohi. Kenaifan bukanlah tanda kebodohan melainkan wujud dari ketulusan hati dan keanggunan budi. Kejujuran dalam sosok naif merupakan bukti penciptaan keluhuran budi manusia.
            “Kenaifan merupakan bentuk dari ketulusan hati dan keluhuran budi”, kalimat tersebut merupakan hal yang saya yakini sampai saat ini. Namun, penggambaran nyata sosok naif dalam otak saya tidak sepenuhnya selalu sejalan dengan kenaifan itu sendiri. Jujur saja, saya dapat dikategorikan mendukung sikap naif ini namun tidak dapat dikategorikan mendukung sepenuhnya. Nyatanya, orang yang dikategorikan naif selalu berkata jujur dan apa adanya namun pada kondisi tertentu saya rasa kenaifan tersebut harus dihilangkan karena tidak semua hal harus dikatakan apa adanya. Saya bukanlah menyarankan suatu kebohongan tapi daripada mengatakan apa yang seharusnya tidak dikatakan lebih baik mengunci mulut Anda dalam diam. Dengan mengatasnamkan kenaifan, ‘pemberian maaf harus diberikan karena toh mereka hanya berusaha jujur dan tidak sengaja mengatakannya’, menurut saya hal tersebut tidak adil karena yang salah tetaplah menjadi salah, sebuah alasan hanya akan meringankan kesalahan dan menjadi sebuah pembiasaan yang buruk. Jika manusia selalu mentolerir sebuah kesalahan maka sama saja dengan memberi kesempatan untuk menciptakan kesalahan yang lebih besar lagi. Takutnya sebuah ketidaksengajaan yang dibiarkan terus berulang akan menjadi sebuah kebiasaan yang merusak karakter seseorang. 
            Sosok naif yang berkata apa adanya dan ceplas ceplos merupakan hasil dari kedamaian hati yang tidak takut dengan ‘kesalahan yang jujur’. Pengendalian ucapan merupakan salah satu aspek penting dalam hubungan sosial bahkan telah banyak buku yang membahas bagaimana cara berbicara dan mengendalikan ucapan Anda untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan. Oleh karena itu, cara bicara yang ceplas ceplos ini tentunya bertolak belakang dengan kaidah-kaidah mengenai bertutur kata yang baik. Saat ini memang tata cara yang diciptakan masyarakat tidak hanya menjadi pembeda antara yang baik dan buruk melainkan menjadi sekat semu antara orang yang mengerti dan tidak mengerti. Sebagian orang membutuhkan keberanian yang besar untuk berkata apa adanya, lain halnya dengan sosok naif  yang selalu berani mengatakan  apa yang ingin mereka katakan tak peduli dampak apa yang akan terjadi. Keberanian inilah yang menjadikan sosok naif menjadi dikagumi.  Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, berkata apa adanya dan ceplas ceplos adalah perwujutan dari kedamaian hati dan keberanian tetapi sikap tersebut tidak boleh melanggar tata krama dan norma yang ada di masyarakat karena apa yang keluar dari mulut kita secara tidak langsung akan menunjukkan karakteristik kita.
Spontanitas polos yang dilakukan sosok naif seringkali membuat saya sedikit mengerutkan kening. Saya dibuat takjub sekaligus memberontak. Di satu sisi saya sangat mengapresiasi setiap keunikan karakter yang diciptakan Tuhan dan mengidam-idamkan kedamaian hati yang tidak takut terhadap segala penilaian orang dan kejujuran yang tulus. Kesenangan membaca buku tentang tata cara berkomunikasi, bagaimana menjalin hubungan yang baik dan sederet buku tata krama lainnya, membuat saya menciptakan sekat pembatas dengan diri saya sendiri serta merantai diri saya dengan aturan-aturan yang diciptakan masyarakat. Kenaifan menjadi sisi yang bertolak belakang bagi saya. Jiwa saya seakan ingin memberontak protes karena tidak terima apa yang sudah saya pelajari ternyata tidak sepenuhnya bisa diterapkan. Saya ingin mempertahankan diri sekaligus ingin menyerahkan diri. 

Ukuran Kecantikan Fisik, Sebuah Pandangan Picik

“Beauty is not in the face, beauty is a light in the heart”
-Kahlil Gibran-

            Setelah mengobrak abrik isi Gramedia Palembang, akhirnya saya menemukan dua buah buku yang terasa cocok untuk diselipkan dirak buku saya. Kedua buku itu berjudul “Cantik itu Kamu !”, karangan Linda Bradford dan “Road to Self Actualization”, hasil kolaborasi Dan Miller dan Maxwell Maltz. Saya termasuk salah s atu penggemar buku bertema psikologi dan pengembangan diri, mungkin itulah salah satu alasan yang membuat saya memilih buku ini. Baiklah, dalam postingan kali ini saya akan mencoba menguliti isi salah satu buku tersebut.
            Buku Cantik itu Kamu ! adalah buku yang pertama kali saya baca karena menurut saya buku setebal 132 halaman ini tidak akan menyita banyak waktu, mengingat saya sedang UAS pada saat itu. Pemilihan cover buku ini terkesan sangat girly dengan dominasi warna merah muda dan gambar kartun wajah seorang wanita. Kesan tersebut semakin diperkuat jika kita membaca isi buku ini yang sangat menunjukkan sisi feminim kaum wanita. Buku ini bisa dikategorikan buku saku karena berukuran hanya 11,5 x 18,5 cm jadi, tidak perlu khawatir repot membawa buku ini. Cetakan pertama buku ini pada tahun 2014, jadi buku ini tergolong baru beredar. Nama pena Linda Bradford pada awalnya sempat mengecohkan saya, saya pikir buku ini adalah buku terjemahan ternyata penulis adalah orang Indonesia, lahir di Yogyakarta 2 November 1978 dan merupakan lulusan akademi desain visual di Yogyakarta.
            Ukuran Kecantikan Fisik, Sebuah Pandangan Picik , judul bab pertama buku ini membuat saya tersentak. Pemilihan kata picik sebagai penggambaran sikap yang dilakukan masyarakat saat ini menurut saya adalah sebuah kata spontanitas yang menunjukkan realita di masyarakat. Kita tumbuh dan berkembang di lingkungan yang menetapkan standar tertentu untuk kecantikan fisik. Hidung yang mancung dan mungil dianggap lebih baik daripada hidung pesek dan besar, kulit putih bak porselen lebih cantik dibanding kulit hitam, para wanita berlomba-lomba memiliki tubuh seperti barbie, akibat obsesi tersebut anoreksia merupakan hal biasa yang terjadi pada mereka. Standar yang berkembang di masyarakat ini menyebabkan kecenderungan kaum wanita ingin memenuhi standar kesempurnaan. Sebagian orang yang tidak memenuhi standar kesempurnaan kadangkala menjadi tidak percaya diri dan putus asa. Padahal, kecantikan itu relatif, standar-standar yang ada di masyarakat kini tidak bisa dijadikan pedoman bagi kesempurnaan wanita.  

            Kini wanita bukan dituntut terlihat cantik melainkan terlihat menarik, karena wanita yang cantik belum tentu menarik sedangkan wanita menarik sudah tentu berhasil menampilkan kecantikan dengan caranya sendiri. Kecantikan fisik dianggap sebagai standar kuno yang kadaluarsa, saat ini perempuan yang mandiri, ulet, ceria dan pandai bergaul tampak lebih seksi di mata kaum lelaki.

“ Sex appeal seorang perempuan dapat muncul dari kecerdasannya, lincahnya dia bertutur kata, pengetahuannya yang luas tentang suatu subjek dan lain sebagainya”.

Tentu Anda pernah mendengar atau bertemu dengan wanita yang saat didekatnya kita seperti tertular energi positif dan membuat kita betah mengobrol lama dengannya, hal inilah yang disebut inner beauty, bicara tentang inner beauty bukanlah bicara sebagus apa cover buku yang Anda beli melainkan seberapa menarik ketika Anda membaca halaman demi halaman buku tersebut. Kecantikan bukanlah berasal dari tampilan yang dimiliki orang tersebut tapi bagaimana orang lain melihat penampilan mereka.
            Bersyukur adalah salah satu kekuatan yang luar biasa di muka bumi ini. Hal pertama yang harus dilakukan wanita yang ingin meningkatkan sex appeal-nya adalah dengan bersyukur, berhentilah mengkhawatirkan hal-hal sepele yang justru membuat wajah Anda cemberut dan tertekuk. Bersikaplah apa adanya, kejujuran sikap adalah sebuah pelengkap citra diri. Jangan membuat perbandingan yang tidak adil dengan orang lain dan diri sendiri. Tuhan telah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan yang adil, berhentilah mengkritik diri sendiri dengan menggunakan ukuran orang lain. Tersenyumlah, senyuman adalah perhiasan yang paling berharga di banding tata rias termahal sekalipun. Senyum yang baik bukanlah senyum yang dibuat-buat, melainkan senyum yang berasal dari ketulusan hati dan kedamaian jiwa. Dengan tersenyum, Anda akan menjadi pribadi yang menyenangkan dan bersahabat di mata orang lain. Tingkatkan rasa percaya diri Anda, wanita yang mandiri dan percaya diri akan memancarkan aura yang baik di mata kaum lelaki.
            Jadi, berhentilah memaksa diri Anda untuk memenuhi standar kesempurnaan, bersyukur dan maksimalkan kecantikan jiwa yang Anda miliki karena Cantik itu Kamu!

Daftar Pustaka
Bradford, Linda. 2014. Cantik itu Kamu. Yogyakarta: Penerbit Cakrawala.

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...