Monday, March 3, 2014

Taare Zameen Par : Disleksia- Every Child is Special

Disleksia, menjadi salah satu kata yang akhir-akhir ini selalu saya tanyakan pada google. Ketertarikan saya ini mempertemukan saya pada satu film India yang berjudul Taare Zameen Par, Every Child is Special.

 Film ini mencoba untuk membuka mata orang-orang awam agar lebih memperhatikan masalah disleksia. Masyarakat kebanyakan tidak mengetahui problem yang sebenarnya terjadi pada anak disleksia, mereka lebih sering menganggap anak disleksia sebagai anak yang bodoh dan malas. Film ini menceritakan anak berusia 8 tahun, Ishaan Nandkishore Awasthi. Ishaan mempunyai cara pandang yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia terbiasa hidup dalam dunia khayalnya sendiri. Imajnasinya sangatlah tinggi, ia selalu mempunyai dunia yang penuh dengan keajaiban dan penuh warna. Hal inilah yang membuatnya mempunyai bakat di bidang seni, namun  tidak seorang pun yang menyadari bakatnya ini.
Ishaan, tidak mampu membaca, menulis dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh teman-teman seumurannya dengan mudah. Baginya membaca dan menulis adalah sebuah momok besar. Hal ini membuat kepercayaan dirinya hancur sehingga membuatnya berusaha membuat ketidakmampuannya itu menjadi ketidakpatuhan. Ishaan selalu dianggap sebagai seorang anak yang nakal dan pembangkang.
Suatu hari, ia diperintah untuk membaca dengan keras oleh gurunya. Namun, Ishan tampak kebingungan mendengar instruksi dari gurunya tersebut. Seorang pengidap disleksia kadangkala merasa kesulitan dalam menjalankan instruksi tertentu. Misalnya pada kasus Ishaan, ia sulit menjalankan instruksi seperti, “Baca halaman 38, bab 4 paragraf 3!”, Ketika mencoba membaca, Ishaan melontarkan kalimat yang sontak membuat seisi kelas tertawa, “ Tulisannya menari-nari, Bu”. Guru yang mendengar ucapan Ishaan menjadi marah dan menganggap Ishaan mencoba mempermainkannya. Mungkin, bagi orang-orang awam, apa yang dikatakan Ishaan adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan main-main. Mana mungkin huruf-huruf dalam buku bisa menari-menari?


Orang awam yang tidak mengerti tentang masalah yang ada pada Ishaan, pasti langsung mencap anak seperti Ishaan sebagai anak yang bodoh atau bahkan dianggap hanya mencari-cari alasan karena tidak mau belajar. Label sebagai ‘anak bodoh, pemalas, nakal, pembuat onar’, sudah sering disematkan padanya. Ishaan, anak berumur 8 tahun yang dihadapkan pada posisi dimana semua orang selalu menyalahkannya dan menekannya. Ditambah lagi Ishaan mempunyai kakak yang selalu menjadi terbaik di setiap mata pelajaran. Tentunya semua orang akan terus membanding-banding antar keduanya. Beruntungnya Ishaan mempunyai seorang ibu yang selalu mengasihinya. 


Sebenarnya, baik kakak maupun ayahnya juga sangat menyayangi Ishaan. Namun, ayah Ishaan bersifat sangat keras karena ia menganggap bahwa pada zaman sekarang persaingan dunia sangatlah keras dimana setiap orang ingin menjadi juara dan berpangkat tinggi. Hal ini membuat ayahnya menuntut Ishaan agar memiliki kualifikasi yang baik untuk menghadapi persaingan tersebut.

Ishaan, terancam tidak naik kelas untuk kedua kalinya. Bahkan guru-gurunya sudah angkat tangan terhadap perilaku Ishaan. Untuk menghindari rasa malu, ayah Ishaan memindahkan Ishaan ke sekolah asrama di pertengahan semester. Disinilah, Ishaan semakin merasa frustasi dan merasa dibuang oleh keluarganya. Ishaan tentunya mengalami banyak kesulitan ketika masuk asrama, ia diharuskan untuk bersikap mandiri, padahal Ishaan bahkan tidak mampu mengancingkan dan mengikat tali sepatu sendiri. Hal tersebut bukan dikarenakan ia terbiasa dimanja oleh ibunya, melainkan ia memang tidak mampu melakukannya. Disleksia menyebabkan problem motorik pada Ishaan.

 Kefrustasian Ishaan mencapai puncaknya, ia bukanlah seseorang pembuat onar lagi tapi justru berubah menjadi pendiam. Ia bahkan tidak merespon apapun yang dikatakan orang lain, pandangannya menjadi kosong seakan-akan ia berusaha melenyapkan dirinya dari pandangan orang-orang. Ishaan berhenti melukis, padahal selama ini itulah dunia miliknya. Pada saat itulah, ia akhirnya bertemu dengan Ram Shankar Nikumbh, seorang guru pengganti kesenian yang melihat ‘sesuatu’ pada diri Ishaan. Ia seperti melihat cerminan dirinya di masa lalu, Ram dulu adalah pengidap disleksia seperti Ishaan. Melihat kondisi Ishaan yang seperti itu, membuatnya mencari bukti-bukti yang menguatkan dugaannya bahwa Ishaan mengidap disleksia. Ram mengunjungi rumah Ishaan untuk menjelaskan problem yang sebenarnya dihadapi Ishaan.


Ram berusaha merangkul dan menunjukkan kasih sayang kepada Ishaan. Ia berusaha menunjukkan bahwa Ishaan tidak sendiri. Begitu banyak tokoh-tokoh sukses seperti Leonardo Da Vinci, Albert Einsten, Pablo Piccaso yang ternyata adalah pengidap disleksia. Ram mengatakan bukan mereka saja yang memiliki problem sama seperti Ishaan karena Ram sebenarnya juga mengidap disleksia semasa kecilnya. Ia juga berusaha mengajari Ishaan membaca dan menulis dengan caranya sendiri. Pada akhirnya Ishaan mampu memperbaiki nilai-nilainya. Seiring dengan waktu, semakin banyak orang yang mengakui bakat seni yang dimiliki Ishaan. Orang-orang mulai mengagumi bakat Ishaan di bidang lukis, bahkan ia berhasil memenangkan lomba lukis yang diselenggarakan sekolah, ia berhasil mengalahkan gurunya sendiri, Ram.


 
Ram mengatakan di depan murid-muridnya kalimat yang menurut saya mewakili isi dari film ini,

“ Ada seperti permata di anatara kita, yang dapat mengubah perjalanan dunia, karena mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda. Pemikirannya unik dan tidak setiap orang dapat mengerti mereka. Mereka menentang. Namun, mereka muncul sebagai pemenang dan dunia mengaguminya”.

Saturday, March 1, 2014

Kan kubutakan mataku agar tak perlu katarak karena pandangan sinis mereka.
Kan kutulikan telingaku agar tak perlu tersumbat oleh gumaman busuk mereka.
Namun, kan ku tajamkan lidahku untuk membungkam mereka.
Dan kusisakan hatiku untuk mengingatkan bahwa dunia begitu nestapa…

Tanyaku pada Tuhan

Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Bolehkah kasih sayang dicampur adukan dengan kepentingan? Kasih sayang terbentuk dari kinerja hati dan perasaan sedangkan kepentingan terbentuk dari stimulus otak terhadap situasi seseorang. Kita semua tahu, kasih sayang dan kepentingan bagai dua sisi mata uang yang bertolak belakang, mereka berlawanan namun sebenarnya merupakan satu kesatuan. Mengapa saya menganalogikannya seperti itu? Entahlah, saya hanya melihat sisi lain dari keduanya. Sesungguhnya melalui satu sisi dari keduanya akan terbentuk sisi lainnya. Kita selalu mengaitkan kasih sayang dengan hal-hal yang baik sedangkan kepentingan terdengar memiliki konotasi buruk. Lalu apakah keduanya tidak akan membentuk sisi yang berlawanan? Apakah yang baik akan selalu baik, dan yang buruk akan tetap menjadi buruk?
Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Pantaskah kasih sayang terbentuk dari suatu kepentingan? Nyatanya kasih sayang yang terbentuk dari kepentingan selalu menimbulkan perasaan curiga. Karena pada dasarnya kasih sayang itu ‘tidak murni’. Lalu, semurni apakah kasih sayang yang sesungguhnya? Bagaimana dengan rasa tanggung jawab orang tua yang memberikan kasih sayang pada anaknya, apakah kasih sayang seperti itu tidak bisa dikategorikan ‘murni’? Kasih sayang adalah masalah hati, namun tak ada yang tahu hati manusia selain Tuhan dan manusia itu sendiri. Konsep kepentingan juga sama saja, kepentingan adalah masalah hati yang dibantu kinerja otak. Saya bukanlah mendeskreditkan bahwa kasih sayang itu tidak menggunakan  otak, tapi ‘kemurnian’ itu berasal dari ketulusan, jika otak sudah ikut campur maka sepersekian persen ketulusan itu akan sirna.
Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Berdosakah manusia jika pernah menyelipkan kepentingan ke dalam kasih sayang? Manusia itu tamak, hanya sedikit manusia yang selalu bersyukur dan menerima apa adanya hidupnya saat ini. Tentu berdosa manusia yang menggunakan dan meneriakkan permintaan balas budi. Kita sering lupa dan menganggap jika sudah memberikan kasih sayang sudah sepantasnya budi baik kita itu dibalas, dan tentu saja aksi permintaan balasan ini sudah menyinggung garis kepentingan. Lalu, jika keduanya sudah dicampur adukan apakah adil jika kasih sayang yang sudah diberikan dianggap tidak ada?

Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Bagaimana jika di suatu situasi kinerja otak kita lebih cepat dibandingkan hati kita? Apakah adil jika dunia menganggap ketulusan itu telah didahului oleh kepentingan pribadi? Hari ini aku bertanya pada Tuhan dan kuharap Tuhan membalasnya.

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...