Disleksia, menjadi
salah satu kata yang akhir-akhir ini selalu saya tanyakan pada google. Ketertarikan saya ini mempertemukan
saya pada satu film India yang berjudul Taare Zameen Par, Every Child is
Special.
Film ini mencoba untuk
membuka mata orang-orang awam agar lebih memperhatikan masalah disleksia.
Masyarakat kebanyakan tidak mengetahui problem yang sebenarnya terjadi pada
anak disleksia, mereka lebih sering menganggap anak disleksia sebagai anak yang
bodoh dan malas. Film ini menceritakan anak berusia 8 tahun, Ishaan Nandkishore
Awasthi. Ishaan mempunyai cara pandang yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia
terbiasa hidup dalam dunia khayalnya sendiri. Imajnasinya sangatlah tinggi, ia
selalu mempunyai dunia yang penuh dengan keajaiban dan penuh warna. Hal inilah
yang membuatnya mempunyai bakat di bidang seni, namun tidak seorang pun yang menyadari bakatnya ini.
Ishaan, tidak mampu
membaca, menulis dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh teman-teman
seumurannya dengan mudah. Baginya membaca dan menulis adalah sebuah momok
besar. Hal ini membuat kepercayaan dirinya hancur sehingga membuatnya berusaha
membuat ketidakmampuannya itu menjadi ketidakpatuhan. Ishaan selalu dianggap
sebagai seorang anak yang nakal dan pembangkang.
Suatu hari, ia
diperintah untuk membaca dengan keras oleh gurunya. Namun, Ishan tampak
kebingungan mendengar instruksi dari gurunya tersebut. Seorang pengidap
disleksia kadangkala merasa kesulitan dalam menjalankan instruksi tertentu. Misalnya
pada kasus Ishaan, ia sulit menjalankan instruksi seperti, “Baca halaman 38,
bab 4 paragraf 3!”, Ketika mencoba membaca, Ishaan melontarkan kalimat yang
sontak membuat seisi kelas tertawa, “ Tulisannya menari-nari, Bu”. Guru yang
mendengar ucapan Ishaan menjadi marah dan menganggap Ishaan mencoba
mempermainkannya. Mungkin, bagi orang-orang awam, apa yang dikatakan Ishaan
adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan main-main. Mana mungkin huruf-huruf dalam buku bisa menari-menari?
Orang awam yang tidak
mengerti tentang masalah yang ada pada Ishaan, pasti langsung mencap anak
seperti Ishaan sebagai anak yang bodoh atau bahkan dianggap hanya mencari-cari alasan
karena tidak mau belajar. Label sebagai ‘anak bodoh, pemalas, nakal, pembuat
onar’, sudah sering disematkan padanya. Ishaan, anak berumur 8 tahun yang
dihadapkan pada posisi dimana semua orang selalu menyalahkannya dan menekannya.
Ditambah lagi Ishaan mempunyai kakak yang selalu menjadi terbaik di setiap mata
pelajaran. Tentunya semua orang akan terus membanding-banding antar keduanya. Beruntungnya
Ishaan mempunyai seorang ibu yang selalu mengasihinya.
Sebenarnya, baik kakak maupun ayahnya
juga sangat menyayangi Ishaan. Namun, ayah Ishaan bersifat sangat keras karena
ia menganggap bahwa pada zaman sekarang persaingan dunia sangatlah keras dimana
setiap orang ingin menjadi juara dan berpangkat tinggi. Hal ini membuat ayahnya
menuntut Ishaan agar memiliki kualifikasi yang baik untuk menghadapi persaingan
tersebut.
Ishaan, terancam tidak naik kelas untuk
kedua kalinya. Bahkan guru-gurunya sudah angkat tangan terhadap perilaku
Ishaan. Untuk menghindari rasa malu, ayah Ishaan memindahkan Ishaan ke sekolah
asrama di pertengahan semester. Disinilah, Ishaan semakin merasa frustasi dan
merasa dibuang oleh keluarganya. Ishaan tentunya mengalami banyak kesulitan
ketika masuk asrama, ia diharuskan untuk bersikap mandiri, padahal Ishaan
bahkan tidak mampu mengancingkan dan mengikat tali sepatu sendiri. Hal tersebut
bukan dikarenakan ia terbiasa dimanja oleh ibunya, melainkan ia memang tidak mampu melakukannya. Disleksia
menyebabkan problem motorik pada Ishaan.
Kefrustasian Ishaan mencapai puncaknya,
ia bukanlah seseorang pembuat onar lagi tapi justru berubah menjadi pendiam. Ia
bahkan tidak merespon apapun yang dikatakan orang lain, pandangannya menjadi
kosong seakan-akan ia berusaha melenyapkan dirinya dari pandangan orang-orang. Ishaan
berhenti melukis, padahal selama ini itulah dunia miliknya. Pada saat itulah,
ia akhirnya bertemu dengan Ram Shankar Nikumbh, seorang guru pengganti kesenian
yang melihat ‘sesuatu’ pada diri Ishaan. Ia seperti melihat cerminan dirinya di
masa lalu, Ram dulu adalah pengidap disleksia seperti Ishaan. Melihat kondisi
Ishaan yang seperti itu, membuatnya mencari bukti-bukti yang menguatkan
dugaannya bahwa Ishaan mengidap disleksia. Ram mengunjungi rumah Ishaan untuk
menjelaskan problem yang sebenarnya dihadapi Ishaan.
Ram berusaha merangkul dan menunjukkan
kasih sayang kepada Ishaan. Ia berusaha menunjukkan bahwa Ishaan tidak sendiri.
Begitu banyak tokoh-tokoh sukses seperti Leonardo Da Vinci, Albert Einsten,
Pablo Piccaso yang ternyata adalah pengidap disleksia. Ram mengatakan bukan
mereka saja yang memiliki problem sama seperti Ishaan karena Ram sebenarnya
juga mengidap disleksia semasa kecilnya. Ia juga berusaha mengajari Ishaan
membaca dan menulis dengan caranya
sendiri. Pada akhirnya Ishaan mampu memperbaiki nilai-nilainya. Seiring
dengan waktu, semakin banyak orang yang mengakui bakat seni yang dimiliki
Ishaan. Orang-orang mulai mengagumi bakat Ishaan di bidang lukis, bahkan ia
berhasil memenangkan lomba lukis yang diselenggarakan sekolah, ia berhasil
mengalahkan gurunya sendiri, Ram.
Ram mengatakan di depan
murid-muridnya kalimat yang menurut saya mewakili isi dari film ini,
“
Ada seperti permata di anatara kita, yang dapat mengubah perjalanan dunia,
karena mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda. Pemikirannya unik dan
tidak setiap orang dapat mengerti mereka. Mereka menentang. Namun, mereka
muncul sebagai pemenang dan dunia mengaguminya”.









