Monday, July 13, 2020

[Sinopsis + Review Film] Me Before You

Jika Anda penyuka genre melodrama, saya rasa film ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Film yang dirilis tahun 2016 ini diangkat dari buku trilogi pertama karangan Jojo Moyes. Anda tidak perlu meragukan keorisinalitas film adaptasi ini dengan bukunya karena naskah film ini ditulis langsung oleh sang penulis novel. Beberapa ulasan menyebutkan ada beberapa adegan di buku yang tidak diperlihatkan dalam film ini namun alur cerita yang dibuat tidak menghilangkan poin-poin penting yang ada di buku.

Film ini berfokus pada kisah percintaan antara Louisa Clark (Emilia Clarke) dan Will Traynor (Sam Claflin). Louisa adalah gadis berumur 26 tahun yang sangat ceria dan memiliki selera fashion yang cukup unik. Ia dijuluki 'chatty' karena sangat suka berbicara. Pribadinya yang hangat dan begitu ramah membuat orang bisa merasakan kelapangan hatinya. 

"Hatimu sebesar istana dan ayah menyayangimu karenanya".

Berbeda dengan Louisa, Will Traynor adalah seorang eksekutif muda yang tampan, kaya dan sukses namun harus merasakan kemalangan setelah mengalami kecelakaan. Ia adalah sosok lelaki sempurna yang justru harus menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda.

Louisa bekerja sebagai perawat di rumah keluarga Traynor, ia bertugas mendampingi Will yang mengalami lumpuh akibat kecelakaan. Awal pertemuan mereka tidak begitu baik, Will selalu bersikap dingin kepada Louisa. Segala upaya dilakukan Louisa agar membuat Will senang akan keberadaannya namun Will tidak mengindahkannya. Sampai suatu hari ketika Louisa dengan jujur mengatakan bahwa bagaimana pun Will bersikap, ia akan tetap bekerja karena yang mempekerjakannya bukanlah Will tetapi ibunya dan ia tidak akan keluar dari pekerjaan tersebut karena ia sedang membutuhkan uang.


Sikap jujur Lousia tersebut membuat Will melunak, ia mulai mau membuka diri akan keberadaan Louisa di sisinya. Bahkan, Nathan (Steve Peacocke), dokter pribadi Will memuji Louisa karena telah berhasil membuat Will bahagia, menurutnya baru kali ini ia melihat Will tertawa bahagia setelah 2 tahun lamanya.

Alur cerita mulai memuncak ketika Louisa mengetahui bahwa Will telah mendaftarkan diri di organisasi dignitas di Swiss untuk melakukan euthanasia (bunuh diri secara legal). Ternyata selama ini Louisa dipekerjakan bukan untuk merawat Will melainkan untuk menjaganya agar tidak bunuh diri. Semula Louisa tidak ingin terlibat dengan keputusan Will namun setelah berdiskusi dengan saudarinya, Katrina (Jenna Coleman), ia pun berubah pikiran. Louisa mulai menyusun rencana agar Will bisa merasa bahagia dan membatalkan keputusannya. Ia ingin agar Will menemukan lagi semangat untuk hidup. Louisa mengajak Will ke beberapa tempat, mulai dari pertandingan pacuan kuda hingga konser musik orkestra. Louisa bahkan mengajak Will ikut merayakan ulang tahun bersama keluarganya.


Will merasa sangat bahagia dan mulai menemukan gairah hidup. Hingga suatu hari, ia menerima undangan pernikahan dari Alicia (Vanessa Kirby), mantan pacarnya. Undangan tersebut tentunya membuat hati Will hancur karena calon suami Alicia adalah sahabatnya sendiri, Rupert (Ben Lloyd-Hughes). Dibandingkan mengelak, Will justru memutuskan menghadiri pernikahan tersebut, ia meminta Louisa menemaninya. Sayangnya, selepas menghadiri pesta pernikahan tersebut kondisi Will menjadi buruk karena terkena pneumonia. Hal tersebut menyebabkan Louisa harus membatalkan semua acara yang sudah ia susun untuk Will.

Benih-benih cinta semakin tumbuh diantara Louisa dan Will, hingga akhirnya Louisa harus memilih antara pacarnya, Patrick (Matthew Lewis) yang telah bersamanya selama 7 tahun atau Will yang baru dikenalnya selama 5 bulan. Louisa merasa Will lebih membutuhkannya saat ini. Ia tidak mau melihat Will menyerah, Louisa ingin agar keberadaannya bisa mengisi kekosongan di hati Will. 

Usaha terakhir yang dilakukan Louisa untuk membujuk Will adalah dengan mengajaknya berlibur. Di sana mereka menghabiskan waktu bersama dan terlihat sangat bahagia. Di malam terakhir sebelum kepulangan, Louisa dan Will menghabiskan waktu di pantai. Saat itu, Louisa mengaku tidak ingin pulang karena ia merasa sangat bahagia bisa merasakan pengalaman-pengalaman baru yang belum ia rasakan. 

Will sejak awal sudah tahu bahwa orang seperti Louisa seharusnya tidak terkurung di dunia kecil seperti selama ini, ia seharusnya bisa terbang bebas menelusuri luasnya dunia. Hal itu pulalah yang menjadi alasan Will ingin melepaskan Louisa dan tetap pada pendiriannya untuk melakukan euthanasia. Meskipun Louisa berjanji akan tetap berada di sampingnya, bagi Will justru itu hal yang tidak ia inginkan. Will tidak mau Louisa terkurung dalam dunia kecil bersamanya. Dengan dingin, Will justru mengajak Louisa ke Swiss untuk mendampinginya melakukan euthanasia. Louisa marah dengan pernyataan Will, ia merasa sudah mencurahkan semuanya untuk Will tetapi Will tetap bersikap egois dan ingin meninggalkannya. Setelah kembali, Louisa masih tidak bisa membendung kekecewaannya, ia tidak ingin berbicara dengan Will dan segera pergi meninggalkannya.


Keluarga Traynor pergi ke Swiss. Mendengar hal itu, Louisa mulai menimbang keputusannya yang terkesan 'lari' dari masalah. Setelah mendengar kata-kata ayahnya, Louisa membulatkan tekad untuk pergi ke Swiss menemui Will. Ia memutuskan untuk berjuang sampai akhir agar Will tidak pergi meninggalkannya. Sesampainya di Swiss, Louisa segera menemui Will. 

"Aku berharap tinggal di negeri Malahonkey. Negeri dimana aku sendirian".

Pada akhirnya Will tetap pada pendiriannya. Meskipun begitu, Will tidak meninggalkan Louisa sepenuhnya, ia berusaha selalu membersamai langkah Louisa di masa depan. Sebelum kematiannya, Will menulis surat wasiat yang berisi agar Louisa bisa hidup dengan bebas dan melihat dunia luas. Will bahkan memberikan harta warisan kepada Louisa.


Film ini ditutup dengan akhir yang tidak begitu bahagia, namun sebagai penonton saya justru merasa ini adalah akhir yang paling tepat. Saya dibuat sedih sekaligus lega. Kematian Will membuat film ini tidak terkesan 'dipaksakan', saya menyukai keputusan penulis yang mengakhiri film ini dengan realistis. 

Salah satu hal menarik yang diangkat dalam film ini adalah praktik euthanasia yang dilakukan Will. Euthanasia adalah tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup. Prosedur euthanasia dapat dilakukan pada pasien yang mengalami sakit terminal (peluang kematian sangat besar dan fungsi terapi tidak lagi untuk menyembuhkan melainkan untuk meringankan rasa sakit). Selain Swiss, negara Belanda; Oregon, Washington D.C, Amerika Serikat dan Belgia melegalkan praktik euthanasia. 

Hal yang saya sukai dalam film ini adalah pemilihan kostum yang dikenakan Louisa. Emilia Clarke berhasil tampil sebagai seorang gadis yang punya selera fashion 'aneh' namun justru terkesan cantik. Pakaiannya yang berwarna-warni dengan berbagai motif membuat penggambaran karakter Louisa yang ceria semakin terlihat bersinar.

'Me Before You', apabila kita terjemahkan kalimat tersebut ke bahasa Indonesia memiliki arti 'Aku Sebelum Mengenalmu'. Judul tersebut mewakili isi cerita yang memperlihatkan perkembangan karakter Louisa dan Will. Sebelum bertemu Will, Louisa hanyalah gadis yang terkurung dalam dunia kecilnya, ia harus menekan keinginannya untuk melihat dunia karena harus menghidupi keluarganya. Sedangkan Will sebelum mengenal Louisa adalah lelaki yang telah kehilangan makna hidup, setelah bertemu Louisa ia bisa kembali merasakan cinta dan kebahagiaan yang sempat hilang dalam hidupnya.

Selain alis Louisa ( Anda akan memahaminya setelah menonton), saya rasa keseluruhan film ini dikemas dengan baik. Menurut saya, film ini cukup layak di tonton untuk menemani istirahat Anda.

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...