Sebenarnya cerpen ini sudah lama saya buat. Cerpen ini saya buat dalam rangka tugas dari guru Bahasa Indonesia saya, pada saat saya duduk di kelas 1 SMA.
Sesosok
Wanita di Kursi Itu
Wanita
itu aku panggil dengan sebutan Ibu. Sebuah gelar mulia dan terindah di dunia.
Ibuku, ia selalu duduk di kursi itu dengan pandangan menerawang jauh. Ia
seperti akan terbang layaknya bunga rapuh yang siap tertiup angin. Melihat
sosoknya di kursi sudut ruang itu, begitu kesepian, aku takut ia akan mengembun
bersama udara-udara dan menghilang dari pandangan mataku. Punggungnya yang
semakin bungkuk, semakin hari semakin tertuntuk, sebuah tanda sisa-sisa
keringatnya dulu. Gambaran keriput diwajahnya memilukan hatiku. Masih teringat
aku akan tangan lembut yang selalu mengelus rambutku ketika senja datang, suara
merdunya selalu memperdengarkan kepadaku tentang dongeng-dongeng dunia mimpi.
Ketika malam semakin temaram dan hanya suara jangkrik yang terdengar, Ibu
selalu mengecup lembut pipiku, matanya akan selalu terbuka sampai aku terjaga
diatas pangkuannya. Aku tahu Ibu selalu dengan lembut membangunkanku ketika
pagi, ia khawatir aku tidak merasakan tidur yang cukup tadi malam. Kemudian Ibu
akan menanyakan dengan lembut ingin makan apa aku pagi ini. Ibu selalu tahu apa
yang kurasakan, ketika akau menangis Ibu tahu, meskipun aku menyembunyikannnya,
ia akan duduk disampingku dan menunggu sampai aku mau menceritakan masalahku.
Tapi kini sosok Ibuku telah hilang
dan menjadi sosok lain dikursi itu, “Tidak!!! Itu bukan Ibu!! Orang itu hanya
berpura-pura menjadi Ibuku!!! Orang itu penipu!!! Ibuku akan kembali dengan
senyuman untukku”.
Sosok Ibuku kini terduduk pilu
disudut ruangan itu, binar matanya seperti tertahan. Sebuah beban berat telah
menyesakkan dan menyumbat setiap oksigen yang dihirupnya. Dibalik matanya aku
tahu, ia menunggu seseorang, sesosok lelaki pendamping hidupnya yang aku sebut
“Ayah”.”Tidak!!! Aku tidak sudi menyebutnya Ayah. Orang itu telah mengambil
cahaya kehidupan Ibu”.
Aku tahu Ibu sangat mencintai Ayah
lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. ‘Orang itu’ selalu pergi ketika malam
dan pulang saat fajar dengan bau alkohol yang menyengat dan sebatang rokok
disudut bibirnya, rambut acak-acakkan dan ocehan tidak jelas. Lebih parahnya
lagi ketika ia kalah berjudi ia akan mengumpat dan mengatakan segala kata kotor
sambil membanting perabotan rumah. Ia selalu menghilangkan waktu tidur Ibu,
karena Ibu akan selalu setia membukakan pintu untuknya. Aku kesal mengapa Ibu
dulu sudi menerima lamaran pria seperti dia padahal dengan kecantikan rupa dan
hati Ibu, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pria yang lebih baik.
Aku selalu memasang muka jijik
ketika melihatnya agar ia tahu betapa jijiknya aku memiliki sosok Ayah seperti
dia. Tidak ada lagi rasa hormat yang kuberikan kepadanya. Bagiku ia hanya
seonggok daging yang menumpang makan, minum, dan tidur dirumahku. Bagiku dalam
hidup hanya ada aku dan Ibu.
Orang itu selalu mengambil paksa
uang Ibu, kadangkala Ibu memberikannya seakan-akan itu kewajibannya. Inginku
berteriak dan mencaci maki orang itu,”Dimana harga dirimu sebagai seorang Ayah,
seorang kepala keluarga?”. Tapi Ibu selalu menasehatiku untuk diam, diam akan
lebih baik untuk memecahkan masalah. Aku terus menahan setiap caci makiku,
seperti menimbun bom atom yang siap meledak dengan dasyhatnya.
Hingga pada suatu malam, akhirnya
ketabahan dan kesabaran Ibu menghilang. Malam itu Ibu menolak memberikan
uangnya kepada ayah dengan alasan untuk membayar biaya sekolahku, memang pada
kenyataanya aku sudah 2 bulan menunggak uang sekolah.
Orang itu mencaci maki Ibu dengan
kata-kata yang tak pantas, kata-kata bagai panah yang siap menusuk jantung Ibu
dan mengalirkan racun disetiap aliran darah Ibu. Aku berusaha menutup telingaku
dengan bantal, aku sudah lelah dengan semua ini, tapi suara orang itu yang
semakin keras berhasil melewati gumpalan-gumpalan kapuk dan masuk ke gendang
telingaku menstimulus otakku untuk memberi tanda pada bom atom yang tertumpuk
dihatiku untuk bereaksi dan siap untuk meledak.
Aku keluar dari kamarku dan
menghampiri orang itu. Kulampiaskan kekesalanku padanya, caci maki yang telah
kupendam mengalir dengan lancar. Aku tak peduli lagi apabila malaikat akan
mencatat namaku sebgai anak durhaka yang tidak menghormati orang tua. Tiba-tiba
sebuah tamparan mendarat dipipiku. Rasa panas dipipiku mengalir hingga hatiku
dan mendidihkan darahku. Ibuku mengusap pipiku, tangan lembutnya memuaikan rasa
panas dipipiku. Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua mata indahnya,
mata itu begitu menyiksa batinku, aku seperti masuk ke dalam hati Ibu yang
sudah terkoyak. Ia berkata, “Masuklah, nak. Ibu akan menyelesaikan masalah ini
sendiri”. Dengan langkah ragu aku kembali ke kamarku, sesungguhnya aku ingin
membela Ibu agar orang itu sadar bahwa perbuatannnya itu salah. Jika ia sadar
dan berubah tentu saja tentu saja tidak akan ragu aku untuk menyebutnya “Ayah”.
Pikiranku kalut, badanku sudah tak bertenaga lagi dengan bom atom yang masih
mengganjal, aku pun terlelap diantara suara pertengkaran Ibu dan ‘orang itu’.
Suara Ibu terdengar sayup diantara
dinginnya fajar, aku menarik selimutku, Ibu kembali memanggilku sambil menepuk
lembut tubuhku agar akau bangun. Aku bangun dan langsung bertanya pada Ibu,”Ibu
bagaimana ayah??”.Ibu terdiam dan tertunduk sepertinya ia menahan tangis.”Ibu
telah mengusirnya”, satu kalimat yang berhasil membuat mataku terbelalak. ”Sudahlah”,
kata Ibu sambil meinggalkanku dengan beribu pertanyaan.
Sejak saat itu, sosok Ibuku hanya
duduk dikursi itu, sebuah kursi disudut ruang tamu.
“Kumohon
kembalikan Ibuku”
“Kata
yang paling indah dibibir umat manusia adalah kata Ibu,
dan
panggilan paling indah adalah Ibuku. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta,
kata
manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati”
(Kahlil
Gibran)