Friday, December 7, 2012

Takut Gagal? Penghalang atau Pendorong?

           Mengapa rasa takut gagal lebih menakutkan dibandingkan kegagalan itu sendiri? Rasa takut selalu membuat kita ingin lari dari masalah. Kita seringkali mengatakan, “sudah terlambat untuk melakukan sesuatu karena pada akhirnya saya akan gagal”, pikiran-pikiran inilah yang membuat kita ‘kalah sebelum berperang’. Pada saat kita merasa takut dengan kegagalan, kita selalu menganggap bahwa ‘menyerah’ adalah jalan terbaik, keputus asaan lebih mendominasi pikiran kita saat itu. Tak dapat dipungkiri, pikiran-pikiran seperti itu pasti pernah menghantui setiap orang. Perlu Anda garis bawahi kata ‘pasti pernah’ pada kalimat saya sebelumnya, mengapa demikian? Coba kita pikirkan secara mendalam, bukankah itu berarti orang yang ‘tidak’ gagal pun pernah merasakan ketakutan akan kegagalan? Jika Anda setuju dengan argumen saya tadi, maka akan muncul pertanyaan baru lagi untuk kita, “Mengapa mereka yang merasa takut akan kegagalan tidak menjadi orang yang gagal?”.
            Rasa takut akan kegagalan bukanlah nilai mutlak yang menjadikan kita gagal. Hal ini juga bukan berarti orang yang tidak takut gagal ‘pasti’ tidak gagal. Rasa takut akan kegagalan adalah hal yang ‘biasa’ dan Anda akan menjadi orang yang ‘luar biasa’ jika Anda bisa melawan rasa takut itu dan semakin berusaha mengejar impian Anda. Orang-orang ‘luar biasa’ itu tentunya hanya beberapa namun siapapun bisa menjadi sosok yang ‘luar biasa’, termasuk Anda.
            Menjadi orang yang ‘luar biasa’ tentu tidaklah mudah, mereka adalah orang-orang yang justru menggunakan ‘ketakutan’ sebagai pijakan untuk berdiri, mereka memiliki mental yang lebih kuat daripada kebanyakan orang. Mental seperti itu tidaklah terbentuk dengan sendirinya, mental ditempa dari pengalaman-pengalaman yang pernah dialami. Selain mental yang kuat, mereka juga memiliki kerja keras yang ‘lebih’ dibanding orang kebanyakan, karena tidak ada kesuksesan yang ‘instan’. Mereka memiliki ‘rahasia’ yang kebanyakan orang sering melupakannya, kita terkadang terlalu sombong untuk merendahkan diri meminta kepada Pencipta kita. ‘Rahasia’ inilah yang akan menjadi ‘penentu’ keberhasilan kita, rahasia besar yang sebenarnya ‘bukan rahasia’.
            Bagi Anda yang saat ini merasa ‘takut gagal’,  jangan biarkan perasaan itu membuat anda menyerah atau berharap waktu yang akan menyelesaikan masalah Anda. Buang diri Anda yang ‘lemah’ dan jadilah ‘manusia luar biasa’ yang bermental kuat, pekerja keras dan tak lupa terhadap Penciptanya.

Sunday, November 25, 2012

Mencintaimu pagi, siang, malam

Judul Buku   :Mencintaimu Pagi, Siang, Malam 
Penulis         : Andrei Aksana
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan II: Maret 2011
Tebal            : 224 halaman
Harga           : Rp.50.000,-
Resensator   : Fitri Handayani

            Andrei Aksana, penulis satu ini merupakan penulis Indonesia yang terkenal dengan kata-kata puitis dan novel yang sebagian besar melankolis. Kisah-kisah yang ditawarkan dalam setiap buku yang ia tulis selalu berhasil menyayat hati setiap pembaca. Sebut saja ‘Cinta Penuh Airmata’, dari judulnya pun kita bisa meramalkan isinya yang tentu saja banjir airmata, atau ‘Lelaki Terindah’ yang sempat menjadi kontroversi karena mengangkat kisah seorang homo, namun tetap saja berakhir dengan airmata pula. Tapi semua itu justru menguatkan karakter penulis satu ini. Tidak dapat dipungkiri darah penulis memang sudah mengalir pada diri Andrei Aksana, ia adalah anak Nina Pane Budiarto, penulis novel Serpihan Mutiara Retak dan keponakan dari Sanoesi Pane dan Armijn Pane yang merupakan pujangga terkenal pada masanya. Selain menulis, Andrei Aksana juga dikenal sebagai penyanyi, di beberapa bukunya ia juga menyelipkan kaset CD soundtrack untuk novelnya.
            Kumpulan puisi Mencintaimu Pagi, Siang, dan Malam, Andrei Aksana nampaknya begitu ingin menekankan perputaran waktu dalam mencintai sesorang. Tiga waktu satu cinta, inilah judul prolog buku ini, Andrei Aksana sepertinya ingin menunjukkan bahwa cinta harus melewati 3 fase yang digambarkan seperti pagi, siang dan malam, fase-fase itu adalah pagi untuk melihat, siang untuk memahami dan malam untuk menemukan. Apabila cinta tak berhasil melewati 3 fase ini maka cinta itu akan luntur bahkan hilang.
            “ Pagi untuk mencintaimu, seolah tak ada lagi hari esok”,  puisi inilah yang membuka bab pertama pada buku ini. Pada fase pagi, Andrei Aksana menggambarkan sosok yang sedang dimabuk cinta, dan tergila-gila akan cinta, fase ini menunjukkan awal pertama sesorang bersentuhan dengan cinta. Jadi, tak perlu heran jika anda menemukan sebagian puisi yang berisi kata-kata yang memuja cinta, namun awal cinta tak selamanya bahagia, dimabuk cinta juga berarti kesetiaan yang tak berujung dan pengharapan terhadap cinta yang tak terbalas. Sosok yang sedang jatuh cinta, layaknya manusia yang sudah kehilangan akal sehat, dan hanya memandang cinta dalam hidupnya.
            “ Siang tanpa terik. Sejak kamu embunkan gurun hatiku.” Pada fase siang, menceritakan ketika cinta itu harus diuji. Kadangkala keraguan, kecemburuan sering menghantui cinta, disinilah saat cinta diuji. Oleh karena itu, siapa yang tidak bisa melalui fase kedua ini maka cinta yang mereka miliki akan luntur atau hilang.
            “ Malam untuk kembali ke sampingmu lagi. Hatiku terkunci.” Malam adalah fase terakhir, inilah fase penentu cinta. Ada orang yang ketika fase kedua ragu justru mencoba lagi percaya pada cinta, ada juga yang berhasil melewati fase kedua tapi justru berakhir pada fase terakhir, dan ada yang semakin tergila-gila akan cinta pada fase ini.
            Tak dapat disangkal lagi, bahwa novel ini memang sangat menyentuh hati, kata-kata yang dipakai oleh Andrei Aksana begitu simpel namun berhasil membuat semua pecinta berbunga-bunga. Sisi romantisme yang ada pada Andrei Aksana benar-benar tampak pada novel ini. Kalimat yang ia gunakan bukanlah kalimat gombal yang bisa dibilang ‘ kelas rendah’ tapi bisa dipastikan jika laki-laki menggunakan puisi di dalam buku ini dalam merayu wanita, siapa wanita yang tak tersenyum-senyum sendiri dan jatuh hati ? Kata-katanya mengalir tak dipaksakan, sehingga membuat pembaca semakin penasaran ketika membalik lembar demi lembar buku ini. Kekuatan kata-kata yang dimiliki Andrei Aksana membuat novel ini memang layak dimiliki oleh pembaca yang sedang dimabuk cinta. “Cinta harus diperjuangkan” seperti itulah makna yang saya ambil dari buku ini, butuh perjuangan besar bagi pecinta untuk melewati fase pagi, siang, dan malam.

Saturday, September 15, 2012

Dunia Kosong


Hatiku mungkin telah membatu, tak pernah lagi kumerasakan gejolak didalam hati ini. ‘Kosong’, hanya kata itu yang bisa menjelaskannya karena kekosongan hanya berarti kosong tanpa apapun, aku tak punya kata lain yang lebih baik, itu saja!! Aku terlalu terbiasa dengan kesunyian bahkan terlalu takut akan keramaian, itulah kekosongan dalam hidupku. Terlalu nyaman dengan kekosongan ini membuatku hampir lupa dengan kekosongan itu sendiri. Aku hidup dalam diriku sendiri. Orang lain tetap menjadi orang lain dan aku tetap menjadi aku, dan aku merasa hal itu benar. Mungkin terlalu apatis untuk mengatakan hal ini tapi inilah aku yang terlalu sombong untuk tetap menjadi ‘manusia kosong’, atau bahkan terlalu menyedihkan untuk keluar dari kekosongan. Orang yang bisa masuk dalam ‘dunia kosongku’ hanyalah manusia yang kosong juga, mampu menjadi kosong ketika aku telah masuk dalam kekosonganku.


Saturday, August 18, 2012

Metode agar senior menjadi pacarmu ( versi film First Love a little thing crazy called love^.^)

1.   Menangkan hatinya dengan kepercayaan Yunani. Pergilah ke tempat dimana bisa melihat bintang. Lalu pakai jarimu untuk menulis inisial orang yang kau sukai dengan menghubungkan bintang
2.     Metode kuno dari bangsa Maya. Kita berkonsentrasi. Lihat ke orang yang kita sukai. Cobalah kontrol pikirannya. Suruh dia patuhi perintah kita. Jika dia mengikuti perintah kita, itu artinya dia belahan jiwa kita.
3.   Metode dari Skotlandia, memberi barang yang disukai olehnya secara diam-diam, dan tidak boleh ketahuan. Jadi dia akan tahu, ada yang suka padanya
4.   Metode dari Gypsi, bangun rasa cinta dari tubuh kita, gunakan rasa cinta agar kita menjadi pintar. Lebih cantik dan lebih baik dalam segala hal. Dia akhirnya akan berpaling pada kita.
5.  Jika tindakanmu didasari rasa cinta, lakukanlah dengan segenap hati. Orang yang kau sukai akan berpaling padamu

First Love A Little Thing Crazy Called Love (2)

Ini adalah lanjutan dari sinopsis film First Love A Little Thing Crazy Called Love (1) yang sudah saya tulis sebelumnya. Selamat membaca.....

Pada malam harinya, di rumah Nam, ketiga teman Nam sedang asyik membahas buku tentang metode mendapatkan pacar kakak kelas, disisi lain Nam berpura-pura belajar padahal ia mencuri dengar apa yang dikatakan temannya. Saat teman-temannya bertanya apakah Nam tidak ikut mempraktekan metode di buku itu, Nam berbohong ia mengatakan bahwa buku itu tidak masuk akal, padahal ketika temannya pulang Nam langsung mempraktekan metode pertama di buku itu, menuliskan nama orang yang kita sayangi dengan menghubungkan bintang.
            Dikantin sekolah, salah satu teman Nam mengatakan ada yang berubah pada penampilan Nam, Nam pun menunjukkan giginya yang telah dipasang kawat. Ketiga teman Nam melanjutkan mempraktekan metode kedua dari buku yang mereka pinjam. Metode kedua adalah jika kita mampu menghipnotis lelaki yang kita sukai hingga mereka tanpa sadar melakukan apa yang kita katakan dalam hati, berarti mereka adalah belahan jiwa kita. Nam pun melakukan hal itu kepada Shone, ia berkata dalam hati agar Shone berpaling dan ternyata Shone melakukan itu. Melihat apa yang dilakukan Nam, temannya pun bertanya kembali bukankah Nam menganggap buku yang mereka pinjam tidak masuk akal?Nam pun tidak bisa mengelak ia pun akhirnya mengakui bahwa ia juga ingin mencoba metode dalam buku tersebut namun ia takut diejek.
            Setelah pulang sekolah, Nam dan ketiga temannya melakukan metode ketiga, memberikan benda yang disukai lelaki yang kita sukai tanpa ketahuan. Ketika mereka akan meletakkan cokelat di motor Shone, ternyata motornya sudah penuh dengan hadiah dari gadis-gadis lain, ketiga teman Nam akhirnya mengambil semua hadiah itu dan hanya meletakkan cokelat Nam dimotor Shone. Ketika mereka beraksi ternyata mereka ketahuan oleh Shone, mereka pun akhirnya kabur. Beberapa saat kemudian, mereka mengintip bagaimana reaksi Shone mendapatkan hadiah dari Nam, namun ketika Shone mengangkat kotak cokelat yang diberikan Nam ternyata coklatnya mencair. Nam pun tampak kecewa.
            Nam pun akhirnya berpikir lagi apa yang sebaiknya ia berikan pada Shone, ia pun teringat akan kejadian ketika Shone memberikan mangga padanya, ia pun mendapat ide untuk memberikan mangga pada Shone. Namun, teman-temannya mengatakan itu tidak romantis. Pada saat mereka membicarakan hal tersebut, nampak seorang gadis memberikan Shone kue mangga. Melihat hal tersebut Nam semakin kecewa, teman-temannya pun menyarankan agar Nam menyerah.
            Sepulang sekolah, tiba-tiba salah satu teman Nam mendapat ide agar Nam bisa diantar oleh kak Shone, mereka akan berpura-pura kehilangan kunci motor. Namun mereka kali ini kalah lagi oleh aksi gadis “kue mangga’, ia lebih dahulu beraksi dengan berpura-pura terkilir di depan Shone, Shone yang baik hati pun berusaha menolong gadis itu dan mengantarkannya pulang. Nam pun kecewa (lagi!!) apalagi setelah gadis itu menunjukkan senyuman kemenangan kepada Nam dan teman-temannya.
            Dirumah Nam, ketiga teman Nam berkunjung kerumahnya, mereka berniat melakukan metode ketujuh dari buku itu yaitu menjadi cantik agar bis amendapatkan hati laki-laki yang disukai. Ketiga teman Nam pun melakukan perawatan untuk Nam agar Nam tampak lebih menarik dimata Shone. Setelah melakukan perawatan Nam dan ketiga temannya mendatangi toko milik ayah Shone namun Shone ternyata sedang pergi. Tak lama kemudian Shone datang dan menyapa Nam, ia merasa aneh dengan warna kulit Nam yang menjadi kuning ia pun bertanya pada apakah Nam sakit, sambil meletakkan telapak tangannya dikening Nam. Tentu saja Nam gugup dengan apa yang dilakukan Shone kepadanya.


Friday, August 17, 2012

Adegan favorit (First love little crazy called love)

Akhirnya diakhir cerita diungkapkan bahwa Shone sudah menyukai Nam sejak lama, ia bahkan memberikan Nam apel yang telah ia gigit dan menulis kalimat
"Kepada Putri Salju : Sudah kucicipi, tidak ada racun"

Sesosok Wanita di Kursi Itu

Sebenarnya cerpen ini sudah lama saya buat. Cerpen ini saya buat dalam rangka tugas dari guru Bahasa Indonesia saya, pada saat saya duduk di kelas 1 SMA.



Sesosok Wanita di Kursi Itu
           

Wanita itu aku panggil dengan sebutan Ibu. Sebuah gelar mulia dan terindah di dunia. Ibuku, ia selalu duduk di kursi itu dengan pandangan menerawang jauh. Ia seperti akan terbang layaknya bunga rapuh yang siap tertiup angin. Melihat sosoknya di kursi sudut ruang itu, begitu kesepian, aku takut ia akan mengembun bersama udara-udara dan menghilang dari pandangan mataku. Punggungnya yang semakin bungkuk, semakin hari semakin tertuntuk, sebuah tanda sisa-sisa keringatnya dulu. Gambaran keriput diwajahnya memilukan hatiku. Masih teringat aku akan tangan lembut yang selalu mengelus rambutku ketika senja datang, suara merdunya selalu memperdengarkan kepadaku tentang dongeng-dongeng dunia mimpi. Ketika malam semakin temaram dan hanya suara jangkrik yang terdengar, Ibu selalu mengecup lembut pipiku, matanya akan selalu terbuka sampai aku terjaga diatas pangkuannya. Aku tahu Ibu selalu dengan lembut membangunkanku ketika pagi, ia khawatir aku tidak merasakan tidur yang cukup tadi malam. Kemudian Ibu akan menanyakan dengan lembut ingin makan apa aku pagi ini. Ibu selalu tahu apa yang kurasakan, ketika akau menangis Ibu tahu, meskipun aku menyembunyikannnya, ia akan duduk disampingku dan menunggu sampai aku mau menceritakan masalahku.
            Tapi kini sosok Ibuku telah hilang dan menjadi sosok lain dikursi itu, “Tidak!!! Itu bukan Ibu!! Orang itu hanya berpura-pura menjadi Ibuku!!! Orang itu penipu!!! Ibuku akan kembali dengan senyuman untukku”.
            Sosok Ibuku kini terduduk pilu disudut ruangan itu, binar matanya seperti tertahan. Sebuah beban berat telah menyesakkan dan menyumbat setiap oksigen yang dihirupnya. Dibalik matanya aku tahu, ia menunggu seseorang, sesosok lelaki pendamping hidupnya yang aku sebut “Ayah”.”Tidak!!! Aku tidak sudi menyebutnya Ayah. Orang itu telah mengambil cahaya kehidupan Ibu”.
            Aku tahu Ibu sangat mencintai Ayah lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. ‘Orang itu’ selalu pergi ketika malam dan pulang saat fajar dengan bau alkohol yang menyengat dan sebatang rokok disudut bibirnya, rambut acak-acakkan dan ocehan tidak jelas. Lebih parahnya lagi ketika ia kalah berjudi ia akan mengumpat dan mengatakan segala kata kotor sambil membanting perabotan rumah. Ia selalu menghilangkan waktu tidur Ibu, karena Ibu akan selalu setia membukakan pintu untuknya. Aku kesal mengapa Ibu dulu sudi menerima lamaran pria seperti dia padahal dengan kecantikan rupa dan hati Ibu, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pria yang lebih baik.
            Aku selalu memasang muka jijik ketika melihatnya agar ia tahu betapa jijiknya aku memiliki sosok Ayah seperti dia. Tidak ada lagi rasa hormat yang kuberikan kepadanya. Bagiku ia hanya seonggok daging yang menumpang makan, minum, dan tidur dirumahku. Bagiku dalam hidup hanya ada aku dan Ibu.
            Orang itu selalu mengambil paksa uang Ibu, kadangkala Ibu memberikannya seakan-akan itu kewajibannya. Inginku berteriak dan mencaci maki orang itu,”Dimana harga dirimu sebagai seorang Ayah, seorang kepala keluarga?”. Tapi Ibu selalu menasehatiku untuk diam, diam akan lebih baik untuk memecahkan masalah. Aku terus menahan setiap caci makiku, seperti menimbun bom atom yang siap meledak dengan dasyhatnya.
            Hingga pada suatu malam, akhirnya ketabahan dan kesabaran Ibu menghilang. Malam itu Ibu menolak memberikan uangnya kepada ayah dengan alasan untuk membayar biaya sekolahku, memang pada kenyataanya aku sudah 2 bulan menunggak uang sekolah.
            Orang itu mencaci maki Ibu dengan kata-kata yang tak pantas, kata-kata bagai panah yang siap menusuk jantung Ibu dan mengalirkan racun disetiap aliran darah Ibu. Aku berusaha menutup telingaku dengan bantal, aku sudah lelah dengan semua ini, tapi suara orang itu yang semakin keras berhasil melewati gumpalan-gumpalan kapuk dan masuk ke gendang telingaku menstimulus otakku untuk memberi tanda pada bom atom yang tertumpuk dihatiku untuk bereaksi dan siap untuk meledak.
            Aku keluar dari kamarku dan menghampiri orang itu. Kulampiaskan kekesalanku padanya, caci maki yang telah kupendam mengalir dengan lancar. Aku tak peduli lagi apabila malaikat akan mencatat namaku sebgai anak durhaka yang tidak menghormati orang tua. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dipipiku. Rasa panas dipipiku mengalir hingga hatiku dan mendidihkan darahku. Ibuku mengusap pipiku, tangan lembutnya memuaikan rasa panas dipipiku. Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua mata indahnya, mata itu begitu menyiksa batinku, aku seperti masuk ke dalam hati Ibu yang sudah terkoyak. Ia berkata, “Masuklah, nak. Ibu akan menyelesaikan masalah ini sendiri”. Dengan langkah ragu aku kembali ke kamarku, sesungguhnya aku ingin membela Ibu agar orang itu sadar bahwa perbuatannnya itu salah. Jika ia sadar dan berubah tentu saja tentu saja tidak akan ragu aku untuk menyebutnya “Ayah”. Pikiranku kalut, badanku sudah tak bertenaga lagi dengan bom atom yang masih mengganjal, aku pun terlelap diantara suara pertengkaran Ibu dan ‘orang itu’.
            Suara Ibu terdengar sayup diantara dinginnya fajar, aku menarik selimutku, Ibu kembali memanggilku sambil menepuk lembut tubuhku agar akau bangun. Aku bangun dan langsung bertanya pada Ibu,”Ibu bagaimana ayah??”.Ibu terdiam dan tertunduk sepertinya ia menahan tangis.”Ibu telah mengusirnya”, satu kalimat yang berhasil membuat mataku terbelalak. ”Sudahlah”, kata Ibu sambil meinggalkanku dengan beribu pertanyaan.
            Sejak saat itu, sosok Ibuku hanya duduk dikursi itu, sebuah kursi disudut ruang tamu.
“Kumohon kembalikan Ibuku”

“Kata yang paling indah dibibir umat manusia adalah kata Ibu,
dan panggilan paling indah adalah Ibuku. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta,
kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati”
(Kahlil Gibran)

Sepenggal asa

Sebenarnya saya menulis autobiografi ini dikarenakan tugas dari guru Bahasa Indonesia saya. Lalu saya berpikir tidak ada salahnya saya memposting autobiografi saya ini di blog. Baiklah, selamat membaca...

Gema takbir di malam lebaran, seakan-akan turut menyambut kelahiran seorang bayi ke dunia ini, dan suara tangis bayi yang terdengar saat itu seperti berlomba-lomba dengan suara takbir malam itu. Dan bayi mungil itu adalah saya. Saya lahir di Lahat, 19 Februari 1996 dengan nama Fitri Handayani. Orang tua saya bernama Candra Hutapri dan Nirwana. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama saya bernama Viora Toriza dan kakak kedua saya bernama Andrea Vinoza.
            Setelah pembaca mengetahui nama saudara-saudara saya, tidakkah terlintas dipikiran pembaca bahwa nama saya sendirilah yang tergolong ‘biasa-biasa’ saja? Setelah saya cukup besar saya pernah melakukan aksi protes mengenai nama saya itu. Dan kedua orang tua saya mengatakan bahwa, nama saya sebenarnya diberikan oleh kakak perempuan mama saya. Saat itu, beliau sedang berduka karena baru saja ditinggal putri kesayangannya, dan untuk mengenang putrinya, ia meminta agar saya diberi nama yang sama seperti putrinya itu.
            Dalam kisah Romeo dan Juliet, Shakespeare pernah mengatakan, “Apalah arti sebuah nama?”, dan kali ini saya menyetujui pernyataan tersebut, bukanlah nama atau penampilan luar yang penting, namun bagaimana kita membekali diri masing-masing. Dan setiap orang terlahir istimewa, tanpa dipengaruhi nama mereka.
            Terlahir sebagai anak bungsu membuat saya menjadi pribadi yang manja, ditambah lagi dengan jarak umur yang cukup jauh antara saya dan kedua kakak saya, semakin membuat mereka lebih memanjakan saya. Namun, dibalik sifat saya yang manja, sesungguhnya saya adalah sosok yang berprinsip teguh. Saya akan sulit mengubah apa yang sudah saya putuskan sebelumnya, bahkan saya sering dianggap egois untuk masalah tertentu. Tapi, inilah saya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada.
            Memiki rahang tinggi, alis yang tebal dan mata yang tajam seringkali membuat semua orang menganggap saya sombong pada pandangan pertama. Tapi, sebenarnya itu hanyalah tampilan luar semata, saya adalah orang yang berusaha menyesuaikan diri saya dalam berbagai situasi. Jika saya merasa berada dalam situasi yang serius, saya akan bersikap serius, begitu pula sebaliknya, jika berada dalam situasi santai saya akan menempatkan diri saya sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, janganlah menilai seseorang dari tampilan luarnya saja.
            Masa kecil saya penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang yang berlimpah. Sejak kecil saya memiliki hobi yang sampai sekarang tetap menjadi kegemaran saya, yaitu menggambar. Mama saya pernah bercerita, dulu saat saya menangis pun mama selalu membujuk saya dengan memberikan buku gambar dan pensil warna, kemudian saya akan menumpahkan kekesalan saya dengan mencoret-coret buku gambar yang sudah diberikan. Dan tidak bisa saya pungkiri bahwa sampai sekarang pun saya selalu menumpahkan perasaan saya dengan menggambar.
            Hobi ini jugalah yang membuat saya bercita-cita menjadi seorang arsitek. Saya berharap suatu hari nanti, dengan menjadi arsitek saya bisa membangun sebuah rumah dengan segala perabot berwarna putih sesuai keinginan saya. Saya adalah penyuka warna putih, karena bagi saya warna putih itu melambangkan kesucian tanpa adanya kebohongan, kecurangan dan segala hal buruk lainnya. Hal ini benar-benar menggambarkan pribadi saya yang tidak suka dibohongi, menurut saya jika anda sudah dikhianati melalui kebohongan tentu anda akan susah memberi kepercayaan lagi kepada orang tersebut. Selain warna putih, saya juga tergolong penyuka kucing. Kucing adalah hewan yang tergolong manja dengan pemiliknya, seperti saya yang manja dengan saudara-saudara saya.
            Saya menempuh pendidikan pertama saya di TK Bhayangkari II, kedua orang tua saya memasukkan saya ke TK ini karena letaknya dekat dengan tempat mama saya bekerja. Kemudian, saya melanjutkan pendidikan saya di SD Santo Yosef Lahat. Saat itu, saya merasa selalu dibayang-bayangi nama saudara-saudara saya yang sudah lebih dahulu menempuh pendidikan disana. Hal ini membuat saya selalu berpikir untuk meniru apa yang mereka lakukan. Padahal, saya hanya ingin diakui sebagai diri saya sendiri tanpa bayang-bayang saudara saya. Setelah menginjak masa sekolah menengah di SMP Santo Yosef Lahat, saya berangsur-angsur mengenal jati diri saya yang sesungguhnya. Saya semestinya bangga menjadi diri saya yang sekarang bukannya memilih menjadi orang lain. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi bukan berarti untuk menutupi kekurangan, kita berusaha menjadi orang lain.
            Dan kini, saya sedang menjalani pendidikan di SMAN 4 Lahat. Sekolah yang dianggap unggulan di Kabupaten Lahat. Semula saya tidak berencana menempuh pendidikan disini, saya justru berencana melanjutkan pendidikan di SMA Santo Yosef Lahat. Saya mengikuti tes seleksi masuk sekolah ini untuk mengukur kemampuan saya saja. Namun, dihari terakhir daftar ulang, saya berubah pikiran dan keputusan saya untuk bersekolah disini pun akhirnya didukung papa saya, karena beliau merasa inilah sekolah yang terbaik untuk anaknya.

Resensi : Hujan dan Teduh


Cerita dari Dewatra

Judul Novel      : Hujan dan Teduh
Penulis              : Wulan Dewatra
Penerbit            : GagasMedia, Jakarta, Cetakan II, 1 Mei 2011
Tebal                 : vi + 250 halaman
Harga                : Rp 43.000,00
Resensator        : Fitri Handayani

            Novel ini bergenre roman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”Roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.” Novel ini ditulis oleh salah satu mahasiswi jurusan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia yang bernama Wulandari Putri. Penulis ini lebih dikenal dengan nama pena Wulan Dewatra. Novel Hujan dan Teduh merupakan novel pertama Wulan Dewatra yang diterbitkan. Walaupun novel ini merupakan novel pertamanya, ia telah membuktikan kualitas tulisannya dengan menjuarai Lomba 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan penerbit GagasMedia sebagai juara pertama.
            Tokoh utama novel ini bernama Bintang. Wulan Dewatra menggambarkan Bintang sebagai gadis yang kuat, anak tunggal yang hanya dibesarkan seorang Ibu. Wulan Dewatra meramu ceritanya dengan menggabungkan cerita di masa lalu dan masa sekarang tokoh utama. Perbedaan cerita di masa lalu dan masa sekarang tokoh utama ditandai dengan penggunaan tulisan miring pada cerita masa lalu tokoh utama. Wulan Dewatra menawarkan sisi gelap remaja saat ini yang bergejolak karena cinta. Novel ini bukanlah jenis roman cengeng yang menawarkan tangisan, penulis justru menawarkan ketegaran sosok Bintang atas masalah-masalah yang ia temui.
            “Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.” Penggambaran sosok Bintang dengan kisah percintaan yang penuh lika-liku, membuat kita semakin tertarik menelusuri setiap jengkal kisahnya. Kita menebak-nebak yang tidak pasti namun tetap terselip harapan tebakan kita menjadi hal yang benar-benar terjadi. Kita seperti dibuat menari-nari dengan imajinasi kita sendiri.
            “Keduanya bergandengan tangan. Bukan naluri persahabatan perempuan, melainkan nafsu manusia yang ingin dekat dengan manusia lain yang cocok feromnya.” (hlm. 27). Cerita ini dimulai dari masa lalu Bintang yang suram. Bintang terjebak dalam kisah percintaan yang dianggap tabu oleh masyarakat, cinta antara perempuan dengan perempuan. Ketika cinta mereka membutuhkan pengorbanan yang besar, Bintang justru harus merelakan kekasihnya itu pergi untuk selama-lamanya. Bintang berusaha melanjutkan kehidupannya, ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studinya. Disinilah ia bertemu dengan Noval, pria yang kemudian menjadi kekasihnya. Seolah dibutakan oleh cinta, Bintang rela melakukan apa saja demi kekasihnya yang seringkali melukai fisik maupun hatinya. Karena cintalah Bintang juga rela menyerahkan “mahkotanya” kepada Noval, benih cinta pun tertanam di rahim Bintang. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara kotor. Seolah Tuhan membalas perbuatannya, Bintang harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa memberikan keturunan lagi. Dan karena cinta jugalah, Bintang memilih meninggalkan Noval.
            Cover novel ini termasuk simpel dengan gradasi warna hijau kebiru-biruan disertai gambar cabang pohon, dua kupu-kupu kertas, dan titik-titik air, cover yang simpel namun tetap cantik. Selain cover, novel ini semakin cantik dengan penggunaan motif bunga pada setiap awal bab. Keberanian Wulan Dewatra dalam mengangkat sisi gelap remaja dalam masalah percintaan patut diacungi jempol. Novel ini bukanlah jenis roman picisan yang mudah ditebak. Alur cerita yang ada membuat kita berusaha menebak-nebak akhir kisah Bintang. Sosok Bintang bukanlah gadis luar biasa yang sering ditawarkan novel-novel lain, ia justru gadis “biasa-biasa saja”, namun dengan biasa-biasa saja dan apa adanya itulah sosok Bintang tampak semakin nyata. Bukan hanya sosok Bintang, tokoh-tokoh yang lain pun berhasil digambarkan Wulan Dewatra dengan penokohan yang kuat. Selain itu, melalui tokoh Bintang,  Wulan Dewatra  berhasil meramu kisahnya menjadi roman yang tidak cengeng.
            “Bintang Dewatra, kenapa lo bikin semuanya jadi begitu sulit?” Kalimat terakhir yang diucapkan Noval  rasanya tidak cukup manis sebagai akhir novel ini. Pembaca yang telah disuguhkan kisah perjuangan Bintang menghadapi masalah-masalahnya tentunya mengharapkan akhir yang lebih romantis dari itu. Perubahan cepat sifat Noval yang akhirnya menyadari betapa pentingnya Bintang dari sifat semulanya yang over protektif dan menjurus ke tindakan kekerasan membuat novel ini terkesan terlalu terburu-buru. Selain itu, penderitaan yang terus-menerus dirasakan tokoh Bintang membuat kesan terlalu berlebih-lebihan. Kesalahan penulisan merupakan suatu hal yang fatal karena dapat membuat salah penafsiran, pada novel ini ditemukan satu paragraf yang tidak dicetak miring (halaman 109), padahal ini merupakan bagian kisah masa lalu si tokoh utama.
Novel ini tidak hanya menghibur tetapi juga dapat menjadi panutan untuk kehidupan yang akan datang. Tokoh utama Bintang, walaupun terus mendapatkan masalah tetap berusaha untuk tegar dan berusaha menyelesaikan masalahnya satu persatu. Bahasa yang digunakan pun adalah bahasa yang santai, sehingga enak dibaca di waktu luang
“Hidup adalah suatu pilihan”, mungkin itulah yang ingin disampaikan Wulan Dewatra kepada pembaca. Resiko dari setiap hal yang kita pilih harus kita terima. Seperti sosok Bintang yang telah memilih jalan hidupnya sendiri, memilih untuk menerima keadaan bahwa ia adalah seorang lesbian, memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan Noval meski Noval sering menyakitinya dan akhirnya memilih meninggalkan Noval. Namun dibalik segala pilihan yang ada, Bintang tetaplah sosok perempuan yang bertanggung jawab atas resiko yang ia dapatkan.
            Buku ini memberi inspirasi kepada pembaca agar tetap tegar untuk mengahadapi masalah-masalah dalam kehidupan. Lari bukanlah jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...