Judul Buku :Mencintaimu Pagi, Siang, Malam
Penulis :
Andrei Aksana
Penerbit :
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan II: Maret 2011
Tebal :
224 halaman
Harga :
Rp.50.000,-
Resensator : Fitri Handayani
Andrei
Aksana, penulis satu ini merupakan penulis Indonesia yang terkenal dengan
kata-kata puitis dan novel yang sebagian besar melankolis. Kisah-kisah yang
ditawarkan dalam setiap buku yang ia tulis selalu berhasil menyayat hati setiap
pembaca. Sebut saja ‘Cinta Penuh Airmata’, dari judulnya pun kita bisa
meramalkan isinya yang tentu saja banjir airmata, atau ‘Lelaki Terindah’ yang
sempat menjadi kontroversi karena mengangkat kisah seorang homo, namun tetap
saja berakhir dengan airmata pula. Tapi semua itu justru menguatkan karakter
penulis satu ini. Tidak dapat dipungkiri darah penulis memang sudah mengalir
pada diri Andrei Aksana, ia adalah anak Nina Pane Budiarto, penulis novel Serpihan
Mutiara Retak dan keponakan dari Sanoesi Pane dan Armijn Pane yang merupakan
pujangga terkenal pada masanya. Selain menulis, Andrei Aksana juga dikenal
sebagai penyanyi, di beberapa bukunya ia juga menyelipkan kaset CD soundtrack untuk novelnya.
Kumpulan
puisi Mencintaimu Pagi, Siang, dan Malam, Andrei Aksana nampaknya begitu ingin
menekankan perputaran waktu dalam mencintai sesorang. Tiga waktu satu cinta,
inilah judul prolog buku ini, Andrei Aksana sepertinya ingin menunjukkan bahwa
cinta harus melewati 3 fase yang digambarkan seperti pagi, siang dan malam,
fase-fase itu adalah pagi untuk melihat, siang untuk memahami dan malam untuk
menemukan. Apabila cinta tak berhasil melewati 3 fase ini maka cinta itu akan
luntur bahkan hilang.
“
Pagi untuk mencintaimu, seolah tak ada lagi hari esok”, puisi inilah yang membuka bab pertama pada
buku ini. Pada fase pagi, Andrei Aksana menggambarkan sosok yang sedang dimabuk
cinta, dan tergila-gila akan cinta, fase ini menunjukkan awal pertama sesorang
bersentuhan dengan cinta. Jadi, tak perlu heran jika anda menemukan sebagian
puisi yang berisi kata-kata yang memuja cinta, namun awal cinta tak selamanya
bahagia, dimabuk cinta juga berarti kesetiaan yang tak berujung dan pengharapan
terhadap cinta yang tak terbalas. Sosok yang sedang jatuh cinta, layaknya
manusia yang sudah kehilangan akal sehat, dan hanya memandang cinta dalam
hidupnya.
“
Siang tanpa terik. Sejak kamu embunkan gurun hatiku.” Pada fase siang,
menceritakan ketika cinta itu harus diuji. Kadangkala keraguan, kecemburuan
sering menghantui cinta, disinilah saat cinta diuji. Oleh karena itu, siapa
yang tidak bisa melalui fase kedua ini maka cinta yang mereka miliki akan
luntur atau hilang.
“
Malam untuk kembali ke sampingmu lagi. Hatiku terkunci.” Malam adalah fase
terakhir, inilah fase penentu cinta. Ada orang yang ketika fase kedua ragu
justru mencoba lagi percaya pada cinta, ada juga yang berhasil melewati fase
kedua tapi justru berakhir pada fase terakhir, dan ada yang semakin
tergila-gila akan cinta pada fase ini.
Tak
dapat disangkal lagi, bahwa novel ini memang sangat menyentuh hati, kata-kata
yang dipakai oleh Andrei Aksana begitu simpel namun berhasil membuat semua
pecinta berbunga-bunga. Sisi romantisme yang ada pada Andrei Aksana benar-benar
tampak pada novel ini. Kalimat yang ia gunakan bukanlah kalimat gombal yang bisa dibilang ‘ kelas rendah’
tapi bisa dipastikan jika laki-laki menggunakan puisi di dalam buku ini dalam
merayu wanita, siapa wanita yang tak tersenyum-senyum sendiri dan jatuh hati ?
Kata-katanya mengalir tak dipaksakan, sehingga membuat pembaca semakin penasaran
ketika membalik lembar demi lembar buku ini. Kekuatan kata-kata yang dimiliki
Andrei Aksana membuat novel ini memang layak dimiliki oleh pembaca yang sedang
dimabuk cinta. “Cinta harus diperjuangkan” seperti itulah makna yang saya ambil
dari buku ini, butuh perjuangan besar bagi pecinta untuk melewati fase pagi,
siang, dan malam.
No comments:
Post a Comment