Friday, August 17, 2012

Sesosok Wanita di Kursi Itu

Sebenarnya cerpen ini sudah lama saya buat. Cerpen ini saya buat dalam rangka tugas dari guru Bahasa Indonesia saya, pada saat saya duduk di kelas 1 SMA.



Sesosok Wanita di Kursi Itu
           

Wanita itu aku panggil dengan sebutan Ibu. Sebuah gelar mulia dan terindah di dunia. Ibuku, ia selalu duduk di kursi itu dengan pandangan menerawang jauh. Ia seperti akan terbang layaknya bunga rapuh yang siap tertiup angin. Melihat sosoknya di kursi sudut ruang itu, begitu kesepian, aku takut ia akan mengembun bersama udara-udara dan menghilang dari pandangan mataku. Punggungnya yang semakin bungkuk, semakin hari semakin tertuntuk, sebuah tanda sisa-sisa keringatnya dulu. Gambaran keriput diwajahnya memilukan hatiku. Masih teringat aku akan tangan lembut yang selalu mengelus rambutku ketika senja datang, suara merdunya selalu memperdengarkan kepadaku tentang dongeng-dongeng dunia mimpi. Ketika malam semakin temaram dan hanya suara jangkrik yang terdengar, Ibu selalu mengecup lembut pipiku, matanya akan selalu terbuka sampai aku terjaga diatas pangkuannya. Aku tahu Ibu selalu dengan lembut membangunkanku ketika pagi, ia khawatir aku tidak merasakan tidur yang cukup tadi malam. Kemudian Ibu akan menanyakan dengan lembut ingin makan apa aku pagi ini. Ibu selalu tahu apa yang kurasakan, ketika akau menangis Ibu tahu, meskipun aku menyembunyikannnya, ia akan duduk disampingku dan menunggu sampai aku mau menceritakan masalahku.
            Tapi kini sosok Ibuku telah hilang dan menjadi sosok lain dikursi itu, “Tidak!!! Itu bukan Ibu!! Orang itu hanya berpura-pura menjadi Ibuku!!! Orang itu penipu!!! Ibuku akan kembali dengan senyuman untukku”.
            Sosok Ibuku kini terduduk pilu disudut ruangan itu, binar matanya seperti tertahan. Sebuah beban berat telah menyesakkan dan menyumbat setiap oksigen yang dihirupnya. Dibalik matanya aku tahu, ia menunggu seseorang, sesosok lelaki pendamping hidupnya yang aku sebut “Ayah”.”Tidak!!! Aku tidak sudi menyebutnya Ayah. Orang itu telah mengambil cahaya kehidupan Ibu”.
            Aku tahu Ibu sangat mencintai Ayah lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. ‘Orang itu’ selalu pergi ketika malam dan pulang saat fajar dengan bau alkohol yang menyengat dan sebatang rokok disudut bibirnya, rambut acak-acakkan dan ocehan tidak jelas. Lebih parahnya lagi ketika ia kalah berjudi ia akan mengumpat dan mengatakan segala kata kotor sambil membanting perabotan rumah. Ia selalu menghilangkan waktu tidur Ibu, karena Ibu akan selalu setia membukakan pintu untuknya. Aku kesal mengapa Ibu dulu sudi menerima lamaran pria seperti dia padahal dengan kecantikan rupa dan hati Ibu, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pria yang lebih baik.
            Aku selalu memasang muka jijik ketika melihatnya agar ia tahu betapa jijiknya aku memiliki sosok Ayah seperti dia. Tidak ada lagi rasa hormat yang kuberikan kepadanya. Bagiku ia hanya seonggok daging yang menumpang makan, minum, dan tidur dirumahku. Bagiku dalam hidup hanya ada aku dan Ibu.
            Orang itu selalu mengambil paksa uang Ibu, kadangkala Ibu memberikannya seakan-akan itu kewajibannya. Inginku berteriak dan mencaci maki orang itu,”Dimana harga dirimu sebagai seorang Ayah, seorang kepala keluarga?”. Tapi Ibu selalu menasehatiku untuk diam, diam akan lebih baik untuk memecahkan masalah. Aku terus menahan setiap caci makiku, seperti menimbun bom atom yang siap meledak dengan dasyhatnya.
            Hingga pada suatu malam, akhirnya ketabahan dan kesabaran Ibu menghilang. Malam itu Ibu menolak memberikan uangnya kepada ayah dengan alasan untuk membayar biaya sekolahku, memang pada kenyataanya aku sudah 2 bulan menunggak uang sekolah.
            Orang itu mencaci maki Ibu dengan kata-kata yang tak pantas, kata-kata bagai panah yang siap menusuk jantung Ibu dan mengalirkan racun disetiap aliran darah Ibu. Aku berusaha menutup telingaku dengan bantal, aku sudah lelah dengan semua ini, tapi suara orang itu yang semakin keras berhasil melewati gumpalan-gumpalan kapuk dan masuk ke gendang telingaku menstimulus otakku untuk memberi tanda pada bom atom yang tertumpuk dihatiku untuk bereaksi dan siap untuk meledak.
            Aku keluar dari kamarku dan menghampiri orang itu. Kulampiaskan kekesalanku padanya, caci maki yang telah kupendam mengalir dengan lancar. Aku tak peduli lagi apabila malaikat akan mencatat namaku sebgai anak durhaka yang tidak menghormati orang tua. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dipipiku. Rasa panas dipipiku mengalir hingga hatiku dan mendidihkan darahku. Ibuku mengusap pipiku, tangan lembutnya memuaikan rasa panas dipipiku. Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua mata indahnya, mata itu begitu menyiksa batinku, aku seperti masuk ke dalam hati Ibu yang sudah terkoyak. Ia berkata, “Masuklah, nak. Ibu akan menyelesaikan masalah ini sendiri”. Dengan langkah ragu aku kembali ke kamarku, sesungguhnya aku ingin membela Ibu agar orang itu sadar bahwa perbuatannnya itu salah. Jika ia sadar dan berubah tentu saja tentu saja tidak akan ragu aku untuk menyebutnya “Ayah”. Pikiranku kalut, badanku sudah tak bertenaga lagi dengan bom atom yang masih mengganjal, aku pun terlelap diantara suara pertengkaran Ibu dan ‘orang itu’.
            Suara Ibu terdengar sayup diantara dinginnya fajar, aku menarik selimutku, Ibu kembali memanggilku sambil menepuk lembut tubuhku agar akau bangun. Aku bangun dan langsung bertanya pada Ibu,”Ibu bagaimana ayah??”.Ibu terdiam dan tertunduk sepertinya ia menahan tangis.”Ibu telah mengusirnya”, satu kalimat yang berhasil membuat mataku terbelalak. ”Sudahlah”, kata Ibu sambil meinggalkanku dengan beribu pertanyaan.
            Sejak saat itu, sosok Ibuku hanya duduk dikursi itu, sebuah kursi disudut ruang tamu.
“Kumohon kembalikan Ibuku”

“Kata yang paling indah dibibir umat manusia adalah kata Ibu,
dan panggilan paling indah adalah Ibuku. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta,
kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati”
(Kahlil Gibran)

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...