Gema takbir di
malam lebaran, seakan-akan turut menyambut kelahiran seorang bayi ke dunia ini,
dan suara tangis bayi yang terdengar saat itu seperti berlomba-lomba dengan
suara takbir malam itu. Dan bayi mungil itu adalah saya. Saya lahir di Lahat,
19 Februari 1996 dengan nama Fitri Handayani. Orang tua saya bernama Candra
Hutapri dan Nirwana. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak
pertama saya bernama Viora Toriza dan kakak kedua saya bernama Andrea Vinoza.
Setelah
pembaca mengetahui nama saudara-saudara saya, tidakkah terlintas dipikiran
pembaca bahwa nama saya sendirilah yang tergolong ‘biasa-biasa’ saja? Setelah
saya cukup besar saya pernah melakukan aksi protes mengenai nama saya itu. Dan
kedua orang tua saya mengatakan bahwa, nama saya sebenarnya diberikan oleh
kakak perempuan mama saya. Saat itu, beliau sedang berduka karena baru saja
ditinggal putri kesayangannya, dan untuk mengenang putrinya, ia meminta agar
saya diberi nama yang sama seperti putrinya itu.
Dalam
kisah Romeo dan Juliet, Shakespeare pernah mengatakan, “Apalah arti sebuah
nama?”, dan kali ini saya menyetujui pernyataan tersebut, bukanlah nama atau
penampilan luar yang penting, namun bagaimana kita membekali diri
masing-masing. Dan setiap orang terlahir istimewa, tanpa dipengaruhi nama
mereka.
Terlahir
sebagai anak bungsu membuat saya menjadi pribadi yang manja, ditambah lagi
dengan jarak umur yang cukup jauh antara saya dan kedua kakak saya, semakin
membuat mereka lebih memanjakan saya. Namun, dibalik sifat saya yang manja,
sesungguhnya saya adalah sosok yang berprinsip teguh. Saya akan sulit mengubah
apa yang sudah saya putuskan sebelumnya, bahkan saya sering dianggap egois
untuk masalah tertentu. Tapi, inilah saya dengan segala kelebihan dan
kekurangan yang ada.
Memiki
rahang tinggi, alis yang tebal dan mata yang tajam seringkali membuat semua
orang menganggap saya sombong pada pandangan pertama. Tapi, sebenarnya itu
hanyalah tampilan luar semata, saya adalah orang yang berusaha menyesuaikan
diri saya dalam berbagai situasi. Jika saya merasa berada dalam situasi yang
serius, saya akan bersikap serius, begitu pula sebaliknya, jika berada dalam
situasi santai saya akan menempatkan diri saya sebagaimana mestinya. Oleh
karena itu, janganlah menilai seseorang dari tampilan luarnya saja.
Masa
kecil saya penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang yang berlimpah. Sejak
kecil saya memiliki hobi yang sampai sekarang tetap menjadi kegemaran saya,
yaitu menggambar. Mama saya pernah bercerita, dulu saat saya menangis pun mama
selalu membujuk saya dengan memberikan buku gambar dan pensil warna, kemudian
saya akan menumpahkan kekesalan saya dengan mencoret-coret buku gambar yang
sudah diberikan. Dan tidak bisa saya pungkiri bahwa sampai sekarang pun saya selalu
menumpahkan perasaan saya dengan menggambar.
Hobi
ini jugalah yang membuat saya bercita-cita menjadi seorang arsitek. Saya
berharap suatu hari nanti, dengan menjadi arsitek saya bisa membangun sebuah
rumah dengan segala perabot berwarna putih sesuai keinginan saya. Saya adalah
penyuka warna putih, karena bagi saya warna putih itu melambangkan kesucian
tanpa adanya kebohongan, kecurangan dan segala hal buruk lainnya. Hal ini
benar-benar menggambarkan pribadi saya yang tidak suka dibohongi, menurut saya jika
anda sudah dikhianati melalui kebohongan tentu anda akan susah memberi
kepercayaan lagi kepada orang tersebut. Selain warna putih, saya juga tergolong
penyuka kucing. Kucing adalah hewan yang tergolong manja dengan pemiliknya,
seperti saya yang manja dengan saudara-saudara saya.
Saya
menempuh pendidikan pertama saya di TK Bhayangkari II, kedua orang tua saya
memasukkan saya ke TK ini karena letaknya dekat dengan tempat mama saya
bekerja. Kemudian, saya melanjutkan pendidikan saya di SD Santo Yosef Lahat.
Saat itu, saya merasa selalu dibayang-bayangi nama saudara-saudara saya yang
sudah lebih dahulu menempuh pendidikan disana. Hal ini membuat saya selalu
berpikir untuk meniru apa yang mereka lakukan. Padahal, saya hanya ingin diakui
sebagai diri saya sendiri tanpa bayang-bayang saudara saya. Setelah menginjak
masa sekolah menengah di SMP Santo Yosef Lahat, saya berangsur-angsur mengenal
jati diri saya yang sesungguhnya. Saya semestinya bangga menjadi diri saya yang
sekarang bukannya memilih menjadi orang lain. Setiap manusia mempunyai
kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi bukan berarti untuk menutupi
kekurangan, kita berusaha menjadi orang lain.
Dan
kini, saya sedang menjalani pendidikan di SMAN 4 Lahat. Sekolah yang dianggap
unggulan di Kabupaten Lahat. Semula saya tidak berencana menempuh pendidikan
disini, saya justru berencana melanjutkan pendidikan di SMA Santo Yosef Lahat.
Saya mengikuti tes seleksi masuk sekolah ini untuk mengukur kemampuan saya
saja. Namun, dihari terakhir daftar ulang, saya berubah pikiran dan keputusan
saya untuk bersekolah disini pun akhirnya didukung papa saya, karena beliau
merasa inilah sekolah yang terbaik untuk anaknya.
No comments:
Post a Comment