Friday, August 17, 2012

Sepenggal asa

Sebenarnya saya menulis autobiografi ini dikarenakan tugas dari guru Bahasa Indonesia saya. Lalu saya berpikir tidak ada salahnya saya memposting autobiografi saya ini di blog. Baiklah, selamat membaca...

Gema takbir di malam lebaran, seakan-akan turut menyambut kelahiran seorang bayi ke dunia ini, dan suara tangis bayi yang terdengar saat itu seperti berlomba-lomba dengan suara takbir malam itu. Dan bayi mungil itu adalah saya. Saya lahir di Lahat, 19 Februari 1996 dengan nama Fitri Handayani. Orang tua saya bernama Candra Hutapri dan Nirwana. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama saya bernama Viora Toriza dan kakak kedua saya bernama Andrea Vinoza.
            Setelah pembaca mengetahui nama saudara-saudara saya, tidakkah terlintas dipikiran pembaca bahwa nama saya sendirilah yang tergolong ‘biasa-biasa’ saja? Setelah saya cukup besar saya pernah melakukan aksi protes mengenai nama saya itu. Dan kedua orang tua saya mengatakan bahwa, nama saya sebenarnya diberikan oleh kakak perempuan mama saya. Saat itu, beliau sedang berduka karena baru saja ditinggal putri kesayangannya, dan untuk mengenang putrinya, ia meminta agar saya diberi nama yang sama seperti putrinya itu.
            Dalam kisah Romeo dan Juliet, Shakespeare pernah mengatakan, “Apalah arti sebuah nama?”, dan kali ini saya menyetujui pernyataan tersebut, bukanlah nama atau penampilan luar yang penting, namun bagaimana kita membekali diri masing-masing. Dan setiap orang terlahir istimewa, tanpa dipengaruhi nama mereka.
            Terlahir sebagai anak bungsu membuat saya menjadi pribadi yang manja, ditambah lagi dengan jarak umur yang cukup jauh antara saya dan kedua kakak saya, semakin membuat mereka lebih memanjakan saya. Namun, dibalik sifat saya yang manja, sesungguhnya saya adalah sosok yang berprinsip teguh. Saya akan sulit mengubah apa yang sudah saya putuskan sebelumnya, bahkan saya sering dianggap egois untuk masalah tertentu. Tapi, inilah saya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada.
            Memiki rahang tinggi, alis yang tebal dan mata yang tajam seringkali membuat semua orang menganggap saya sombong pada pandangan pertama. Tapi, sebenarnya itu hanyalah tampilan luar semata, saya adalah orang yang berusaha menyesuaikan diri saya dalam berbagai situasi. Jika saya merasa berada dalam situasi yang serius, saya akan bersikap serius, begitu pula sebaliknya, jika berada dalam situasi santai saya akan menempatkan diri saya sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, janganlah menilai seseorang dari tampilan luarnya saja.
            Masa kecil saya penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang yang berlimpah. Sejak kecil saya memiliki hobi yang sampai sekarang tetap menjadi kegemaran saya, yaitu menggambar. Mama saya pernah bercerita, dulu saat saya menangis pun mama selalu membujuk saya dengan memberikan buku gambar dan pensil warna, kemudian saya akan menumpahkan kekesalan saya dengan mencoret-coret buku gambar yang sudah diberikan. Dan tidak bisa saya pungkiri bahwa sampai sekarang pun saya selalu menumpahkan perasaan saya dengan menggambar.
            Hobi ini jugalah yang membuat saya bercita-cita menjadi seorang arsitek. Saya berharap suatu hari nanti, dengan menjadi arsitek saya bisa membangun sebuah rumah dengan segala perabot berwarna putih sesuai keinginan saya. Saya adalah penyuka warna putih, karena bagi saya warna putih itu melambangkan kesucian tanpa adanya kebohongan, kecurangan dan segala hal buruk lainnya. Hal ini benar-benar menggambarkan pribadi saya yang tidak suka dibohongi, menurut saya jika anda sudah dikhianati melalui kebohongan tentu anda akan susah memberi kepercayaan lagi kepada orang tersebut. Selain warna putih, saya juga tergolong penyuka kucing. Kucing adalah hewan yang tergolong manja dengan pemiliknya, seperti saya yang manja dengan saudara-saudara saya.
            Saya menempuh pendidikan pertama saya di TK Bhayangkari II, kedua orang tua saya memasukkan saya ke TK ini karena letaknya dekat dengan tempat mama saya bekerja. Kemudian, saya melanjutkan pendidikan saya di SD Santo Yosef Lahat. Saat itu, saya merasa selalu dibayang-bayangi nama saudara-saudara saya yang sudah lebih dahulu menempuh pendidikan disana. Hal ini membuat saya selalu berpikir untuk meniru apa yang mereka lakukan. Padahal, saya hanya ingin diakui sebagai diri saya sendiri tanpa bayang-bayang saudara saya. Setelah menginjak masa sekolah menengah di SMP Santo Yosef Lahat, saya berangsur-angsur mengenal jati diri saya yang sesungguhnya. Saya semestinya bangga menjadi diri saya yang sekarang bukannya memilih menjadi orang lain. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi bukan berarti untuk menutupi kekurangan, kita berusaha menjadi orang lain.
            Dan kini, saya sedang menjalani pendidikan di SMAN 4 Lahat. Sekolah yang dianggap unggulan di Kabupaten Lahat. Semula saya tidak berencana menempuh pendidikan disini, saya justru berencana melanjutkan pendidikan di SMA Santo Yosef Lahat. Saya mengikuti tes seleksi masuk sekolah ini untuk mengukur kemampuan saya saja. Namun, dihari terakhir daftar ulang, saya berubah pikiran dan keputusan saya untuk bersekolah disini pun akhirnya didukung papa saya, karena beliau merasa inilah sekolah yang terbaik untuk anaknya.

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...