Friday, August 17, 2012

Resensi : Hujan dan Teduh


Cerita dari Dewatra

Judul Novel      : Hujan dan Teduh
Penulis              : Wulan Dewatra
Penerbit            : GagasMedia, Jakarta, Cetakan II, 1 Mei 2011
Tebal                 : vi + 250 halaman
Harga                : Rp 43.000,00
Resensator        : Fitri Handayani

            Novel ini bergenre roman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”Roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.” Novel ini ditulis oleh salah satu mahasiswi jurusan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia yang bernama Wulandari Putri. Penulis ini lebih dikenal dengan nama pena Wulan Dewatra. Novel Hujan dan Teduh merupakan novel pertama Wulan Dewatra yang diterbitkan. Walaupun novel ini merupakan novel pertamanya, ia telah membuktikan kualitas tulisannya dengan menjuarai Lomba 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan penerbit GagasMedia sebagai juara pertama.
            Tokoh utama novel ini bernama Bintang. Wulan Dewatra menggambarkan Bintang sebagai gadis yang kuat, anak tunggal yang hanya dibesarkan seorang Ibu. Wulan Dewatra meramu ceritanya dengan menggabungkan cerita di masa lalu dan masa sekarang tokoh utama. Perbedaan cerita di masa lalu dan masa sekarang tokoh utama ditandai dengan penggunaan tulisan miring pada cerita masa lalu tokoh utama. Wulan Dewatra menawarkan sisi gelap remaja saat ini yang bergejolak karena cinta. Novel ini bukanlah jenis roman cengeng yang menawarkan tangisan, penulis justru menawarkan ketegaran sosok Bintang atas masalah-masalah yang ia temui.
            “Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.” Penggambaran sosok Bintang dengan kisah percintaan yang penuh lika-liku, membuat kita semakin tertarik menelusuri setiap jengkal kisahnya. Kita menebak-nebak yang tidak pasti namun tetap terselip harapan tebakan kita menjadi hal yang benar-benar terjadi. Kita seperti dibuat menari-nari dengan imajinasi kita sendiri.
            “Keduanya bergandengan tangan. Bukan naluri persahabatan perempuan, melainkan nafsu manusia yang ingin dekat dengan manusia lain yang cocok feromnya.” (hlm. 27). Cerita ini dimulai dari masa lalu Bintang yang suram. Bintang terjebak dalam kisah percintaan yang dianggap tabu oleh masyarakat, cinta antara perempuan dengan perempuan. Ketika cinta mereka membutuhkan pengorbanan yang besar, Bintang justru harus merelakan kekasihnya itu pergi untuk selama-lamanya. Bintang berusaha melanjutkan kehidupannya, ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studinya. Disinilah ia bertemu dengan Noval, pria yang kemudian menjadi kekasihnya. Seolah dibutakan oleh cinta, Bintang rela melakukan apa saja demi kekasihnya yang seringkali melukai fisik maupun hatinya. Karena cintalah Bintang juga rela menyerahkan “mahkotanya” kepada Noval, benih cinta pun tertanam di rahim Bintang. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara kotor. Seolah Tuhan membalas perbuatannya, Bintang harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa memberikan keturunan lagi. Dan karena cinta jugalah, Bintang memilih meninggalkan Noval.
            Cover novel ini termasuk simpel dengan gradasi warna hijau kebiru-biruan disertai gambar cabang pohon, dua kupu-kupu kertas, dan titik-titik air, cover yang simpel namun tetap cantik. Selain cover, novel ini semakin cantik dengan penggunaan motif bunga pada setiap awal bab. Keberanian Wulan Dewatra dalam mengangkat sisi gelap remaja dalam masalah percintaan patut diacungi jempol. Novel ini bukanlah jenis roman picisan yang mudah ditebak. Alur cerita yang ada membuat kita berusaha menebak-nebak akhir kisah Bintang. Sosok Bintang bukanlah gadis luar biasa yang sering ditawarkan novel-novel lain, ia justru gadis “biasa-biasa saja”, namun dengan biasa-biasa saja dan apa adanya itulah sosok Bintang tampak semakin nyata. Bukan hanya sosok Bintang, tokoh-tokoh yang lain pun berhasil digambarkan Wulan Dewatra dengan penokohan yang kuat. Selain itu, melalui tokoh Bintang,  Wulan Dewatra  berhasil meramu kisahnya menjadi roman yang tidak cengeng.
            “Bintang Dewatra, kenapa lo bikin semuanya jadi begitu sulit?” Kalimat terakhir yang diucapkan Noval  rasanya tidak cukup manis sebagai akhir novel ini. Pembaca yang telah disuguhkan kisah perjuangan Bintang menghadapi masalah-masalahnya tentunya mengharapkan akhir yang lebih romantis dari itu. Perubahan cepat sifat Noval yang akhirnya menyadari betapa pentingnya Bintang dari sifat semulanya yang over protektif dan menjurus ke tindakan kekerasan membuat novel ini terkesan terlalu terburu-buru. Selain itu, penderitaan yang terus-menerus dirasakan tokoh Bintang membuat kesan terlalu berlebih-lebihan. Kesalahan penulisan merupakan suatu hal yang fatal karena dapat membuat salah penafsiran, pada novel ini ditemukan satu paragraf yang tidak dicetak miring (halaman 109), padahal ini merupakan bagian kisah masa lalu si tokoh utama.
Novel ini tidak hanya menghibur tetapi juga dapat menjadi panutan untuk kehidupan yang akan datang. Tokoh utama Bintang, walaupun terus mendapatkan masalah tetap berusaha untuk tegar dan berusaha menyelesaikan masalahnya satu persatu. Bahasa yang digunakan pun adalah bahasa yang santai, sehingga enak dibaca di waktu luang
“Hidup adalah suatu pilihan”, mungkin itulah yang ingin disampaikan Wulan Dewatra kepada pembaca. Resiko dari setiap hal yang kita pilih harus kita terima. Seperti sosok Bintang yang telah memilih jalan hidupnya sendiri, memilih untuk menerima keadaan bahwa ia adalah seorang lesbian, memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan Noval meski Noval sering menyakitinya dan akhirnya memilih meninggalkan Noval. Namun dibalik segala pilihan yang ada, Bintang tetaplah sosok perempuan yang bertanggung jawab atas resiko yang ia dapatkan.
            Buku ini memberi inspirasi kepada pembaca agar tetap tegar untuk mengahadapi masalah-masalah dalam kehidupan. Lari bukanlah jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...