Cerita dari Dewatra
Judul Novel : Hujan
dan Teduh
Penulis
: Wulan Dewatra
Penerbit : GagasMedia, Jakarta, Cetakan II, 1
Mei 2011
Tebal : vi + 250 halaman
Harga : Rp 43.000,00
Resensator : Fitri Handayani
Novel
ini bergenre roman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”Roman adalah
karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa
masing-masing.” Novel ini ditulis oleh salah satu mahasiswi jurusan Bahasa
Inggris Universitas Pendidikan Indonesia yang bernama Wulandari Putri. Penulis
ini lebih dikenal dengan nama pena Wulan Dewatra. Novel Hujan dan Teduh
merupakan novel pertama Wulan Dewatra yang diterbitkan. Walaupun novel ini
merupakan novel pertamanya, ia telah membuktikan kualitas tulisannya dengan
menjuarai Lomba 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan penerbit
GagasMedia sebagai juara pertama.
Tokoh
utama novel ini bernama Bintang. Wulan Dewatra menggambarkan Bintang sebagai
gadis yang kuat, anak tunggal yang hanya dibesarkan seorang Ibu. Wulan Dewatra
meramu ceritanya dengan menggabungkan cerita di masa lalu dan masa sekarang
tokoh utama. Perbedaan cerita di masa lalu dan masa sekarang tokoh utama
ditandai dengan penggunaan tulisan miring pada cerita masa lalu tokoh utama.
Wulan Dewatra menawarkan sisi gelap remaja saat ini yang bergejolak karena
cinta. Novel ini bukanlah jenis roman cengeng yang menawarkan tangisan, penulis
justru menawarkan ketegaran sosok Bintang atas masalah-masalah yang ia temui.
“Aku
dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan
dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti
itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.” Penggambaran sosok Bintang
dengan kisah percintaan yang penuh lika-liku, membuat kita semakin tertarik menelusuri
setiap jengkal kisahnya. Kita menebak-nebak yang tidak pasti namun tetap
terselip harapan tebakan kita menjadi hal yang benar-benar terjadi. Kita
seperti dibuat menari-nari dengan imajinasi kita sendiri.
“Keduanya
bergandengan tangan. Bukan naluri persahabatan perempuan, melainkan nafsu
manusia yang ingin dekat dengan manusia lain yang cocok feromnya.” (hlm. 27).
Cerita ini dimulai dari masa lalu Bintang yang suram. Bintang terjebak dalam
kisah percintaan yang dianggap tabu oleh masyarakat, cinta antara perempuan
dengan perempuan. Ketika cinta mereka membutuhkan pengorbanan yang besar,
Bintang justru harus merelakan kekasihnya itu pergi untuk selama-lamanya.
Bintang berusaha melanjutkan kehidupannya, ia pindah ke Jakarta untuk
melanjutkan studinya. Disinilah ia bertemu dengan Noval, pria yang kemudian
menjadi kekasihnya. Seolah dibutakan oleh cinta, Bintang rela melakukan apa
saja demi kekasihnya yang seringkali melukai fisik maupun hatinya. Karena
cintalah Bintang juga rela menyerahkan “mahkotanya” kepada Noval, benih cinta
pun tertanam di rahim Bintang. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk
menyelesaikan masalah itu dengan cara kotor. Seolah Tuhan membalas
perbuatannya, Bintang harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa memberikan
keturunan lagi. Dan karena cinta jugalah, Bintang memilih meninggalkan Noval.
Cover
novel ini termasuk simpel dengan gradasi warna hijau kebiru-biruan disertai
gambar cabang pohon, dua kupu-kupu kertas, dan titik-titik air, cover yang
simpel namun tetap cantik. Selain cover, novel ini semakin cantik dengan
penggunaan motif bunga pada setiap awal bab. Keberanian Wulan Dewatra dalam
mengangkat sisi gelap remaja dalam masalah percintaan patut diacungi jempol. Novel
ini bukanlah jenis roman picisan yang mudah ditebak. Alur cerita yang ada
membuat kita berusaha menebak-nebak akhir kisah Bintang. Sosok Bintang bukanlah
gadis luar biasa yang sering ditawarkan novel-novel lain, ia justru gadis
“biasa-biasa saja”, namun dengan biasa-biasa saja dan apa adanya itulah sosok
Bintang tampak semakin nyata. Bukan hanya sosok Bintang, tokoh-tokoh yang lain
pun berhasil digambarkan Wulan Dewatra dengan penokohan yang kuat. Selain itu,
melalui tokoh Bintang, Wulan Dewatra berhasil meramu kisahnya menjadi roman yang
tidak cengeng.
“Bintang
Dewatra, kenapa lo bikin semuanya jadi begitu sulit?” Kalimat terakhir yang
diucapkan Noval rasanya tidak cukup
manis sebagai akhir novel ini. Pembaca yang telah disuguhkan kisah perjuangan
Bintang menghadapi masalah-masalahnya tentunya mengharapkan akhir yang lebih
romantis dari itu. Perubahan cepat sifat Noval yang akhirnya menyadari betapa
pentingnya Bintang dari sifat semulanya yang over protektif dan menjurus ke tindakan kekerasan membuat novel ini
terkesan terlalu terburu-buru. Selain itu, penderitaan yang terus-menerus
dirasakan tokoh Bintang membuat kesan terlalu berlebih-lebihan. Kesalahan
penulisan merupakan suatu hal yang fatal karena dapat membuat salah penafsiran,
pada novel ini ditemukan satu paragraf yang tidak dicetak miring (halaman 109),
padahal ini merupakan bagian kisah masa lalu si tokoh utama.
Novel ini tidak
hanya menghibur tetapi juga dapat menjadi panutan untuk kehidupan yang akan
datang.
Tokoh utama Bintang, walaupun terus mendapatkan masalah tetap berusaha untuk
tegar dan berusaha menyelesaikan masalahnya satu persatu. Bahasa yang digunakan
pun adalah bahasa yang santai, sehingga enak dibaca di waktu luang
“Hidup adalah suatu pilihan”, mungkin itulah yang ingin
disampaikan Wulan Dewatra kepada pembaca. Resiko dari setiap hal yang kita
pilih harus kita terima. Seperti sosok Bintang yang telah memilih jalan
hidupnya sendiri, memilih untuk menerima keadaan bahwa ia adalah seorang
lesbian, memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan Noval meski Noval
sering menyakitinya dan akhirnya memilih meninggalkan Noval. Namun dibalik
segala pilihan yang ada, Bintang tetaplah sosok perempuan yang bertanggung
jawab atas resiko yang ia dapatkan.
Buku
ini memberi inspirasi kepada pembaca agar tetap tegar untuk mengahadapi
masalah-masalah dalam kehidupan. Lari bukanlah jalan yang tepat untuk
menyelesaikan masalah yang ada.
Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)
Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)
No comments:
Post a Comment