Namanya
Elin, nama yang singkat. Aku mengenalnya belum cukup lama, baru satu bulan. Dia
tinggal tepat didepan kosanku, proses beramah tamah menyebabkan kami menjadi
saling kenal. Wajahnya bulat dengan warna pipi bak salju, pipi chuby-nya akan merona merah ketika
terkena terik matahari. Jadi, aku menyimpulkan bahwa dia bukanlah tipe orang
yang sering berlomba dengan matahari, namun tak dapat dipungkiri ternyata dia
anggota cheers di sekolahnya. Matanya tidak terlalu besar namun satu hal yang
aku sadari dari dia, hingga berumur sekarang ia belum kehilangan mata
kanak-kanaknya. Mata yang begitu bersinar, mata kanak-kanak yang sangat langka.
Hal yang selalu membuat kami, ‘orang yang mengenalnya’ sedikit geram adalah ia
tidak pernah bisa berjalan di pinggir trotoar, dengan keberaniannya ia akan mengambil langkah jauh hingga hampir ke
tengah jalan. Bukan itu saja, dia akan berjalan tanpa rasa takut seperti
pemimpin gerombolan anak kecil, dengan membusungkan dada dan mengepalkan
tangannya ia akan terus bercanda sepanjang perjalanan. Aku hanya mampu
tersenyum melihat tingkah lakunya itu. Pada awalnya aku berpikir ia tak
selayaknya bersikap seperti itu dengan umur yang dia punya sekarang, namun di
satu sisi aku justru iri padanya. Umur yang terus bertambah seringkali membuat
kita berusaha menampakkan diri sebagai orang yang pantas dianggap dewasa, namun
Elin berbeda. Ia tidak pernah ambil pusing mengenai anggapan orang, ia itu
‘alami’. Umur membuat setiap tingkah laku kita semakin terbatas, karena terlalu
banyak pemikiran-pemikiran negatif yang memperbanyak ruang-ruang hitam di otak
dan hati manusia. Melihatnya membuatku ingin terus mengingkari apa yang ada di
hatiku. Dunia ‘orang dewasa’ benar-benar seperti ironi dengan nada adagio,
terlalu menyedihkan.
Aku selalu ingat dengan caranya tertawa,
tawa kanak-kanak yang begitu polos. Kadangkala aku berpikir bahwa sikapnya itu
terlalu kekanak-kanakan. Tapi, Tuhan yang baik hati seperti mengetuk hatiku setiap kali melihatnya. Kepolosan anak kecil justru tampak sebagai kedewasaan sejati, tak
ada yang bisa menyangkal bahwa ketulusan dan kehangatan anak-anak tampak lebih
indah dibandingkan senyum kepalsuan orang dewasa. Oleh karena itu, tentunya tak jarang kita menemukan orang yang sudah dewasa secara fisik tapi memiliki mental yang justru kekanak-kanakan. Pada akhirnya topeng kedewasaan justru melunturkan kedewasaan itu sendiri.
No comments:
Post a Comment