Friday, July 5, 2013

Kedewasaan yang Kekanak-kanakan

            Namanya Elin, nama yang singkat. Aku mengenalnya belum cukup lama, baru satu bulan. Dia tinggal tepat didepan kosanku, proses beramah tamah menyebabkan kami menjadi saling kenal. Wajahnya bulat dengan warna pipi bak salju, pipi chuby-nya akan merona merah ketika terkena terik matahari. Jadi, aku menyimpulkan bahwa dia bukanlah tipe orang yang sering berlomba dengan matahari, namun tak dapat dipungkiri ternyata dia anggota cheers di sekolahnya. Matanya tidak terlalu besar namun satu hal yang aku sadari dari dia, hingga berumur sekarang ia belum kehilangan mata kanak-kanaknya. Mata yang begitu bersinar, mata kanak-kanak yang sangat langka. Hal yang selalu membuat kami, ‘orang yang mengenalnya’ sedikit geram adalah ia tidak pernah bisa berjalan di pinggir trotoar, dengan keberaniannya ia akan mengambil langkah jauh hingga hampir ke tengah jalan. Bukan itu saja, dia akan berjalan tanpa rasa takut seperti pemimpin gerombolan anak kecil, dengan membusungkan dada dan mengepalkan tangannya ia akan terus bercanda sepanjang perjalanan. Aku hanya mampu tersenyum melihat tingkah lakunya itu. Pada awalnya aku berpikir ia tak selayaknya bersikap seperti itu dengan umur yang dia punya sekarang, namun di satu sisi aku justru iri padanya. Umur yang terus bertambah seringkali membuat kita berusaha menampakkan diri sebagai orang yang pantas dianggap dewasa, namun Elin berbeda. Ia tidak pernah ambil pusing mengenai anggapan orang, ia itu ‘alami’. Umur membuat setiap tingkah laku kita semakin terbatas, karena terlalu banyak pemikiran-pemikiran negatif yang memperbanyak ruang-ruang hitam di otak dan hati manusia. Melihatnya membuatku ingin terus mengingkari apa yang ada di hatiku. Dunia ‘orang dewasa’ benar-benar seperti ironi dengan nada adagio, terlalu menyedihkan.

           Aku selalu ingat dengan caranya tertawa, tawa kanak-kanak yang begitu polos. Kadangkala aku berpikir bahwa sikapnya itu terlalu kekanak-kanakan. Tapi, Tuhan yang baik hati seperti mengetuk hatiku setiap kali melihatnya. Kepolosan anak kecil  justru tampak sebagai kedewasaan sejati, tak ada yang bisa menyangkal bahwa ketulusan dan kehangatan anak-anak tampak lebih indah dibandingkan senyum kepalsuan orang dewasa. Oleh karena itu, tentunya tak jarang kita menemukan orang yang sudah dewasa secara fisik tapi memiliki mental yang justru kekanak-kanakan. Pada akhirnya topeng kedewasaan justru melunturkan kedewasaan itu sendiri.

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...