Tak sadarkah kau wahai Cinta? Jantung
ini akan selalu berdetak untuk mendengar semua puisi yang kau perdengarkan
kepadaku. Aku akan menjadi puisi yang selalu kau cintai dan selalu setia
menunggu hingga kau bersandar di pundakku. Mengapa kebersamaan justru menjadi
penghalang antara kita? Kita terlalu canggung untuk saling menatap dengan
‘rasa’. Meski lisanku terkunci, mata ini tak mampu berbohong lagi wahai Cinta, kaulah
duniaku. Mengapa kata-kata kadangkala lebih berat diucapkan? Tetaplah di sisiku
wahai Cinta, jangan pernah kau berpikir untuk pergi. Percayalah, hanya pundakku
yang pantas untuk kerapuhanmu. Aku takkan pernah jemu menatapmu dengan ‘rasa’,
setidaknya hanya itu yang dapat aku lakukan. Kau seperti barang antik yang
selalu terlindungi kaca, hanya dapat menatapmu dengan jelas namun takkan pernah
bisa menyentuhmu. Tak perlu ragu Cinta, aku akan tetap setia.
-
EROS -
PUISI UNTUK EROS
Namamu Eros, kaulah yang ‘terindah’
diantara dewa yang abadi. Puisi terindah takkan mampu menggambarkan
keindahanmu. Tahukah kau? Eros selalu dilambangkan dengan sayap emas dalam
kisah mitologi Yunani dan seperti itulah kamu wahai Eros. Kau akan selalu menjadi
cahaya. Tapi cahayamu terlalu menyilaukan sehingga aku terlalu takut menatapmu
dengan ‘rasa’. Panah cintamu adalah pelengkap keperkasaanmu. Tapi, apakah
kesetiaanmu akan sama seperti kesetiaan Eros pada Psyche? Aku bukanlah Psyche yang
berani memperjuangkan cintanya karena rasa takut selalu dapat mengalahkanku.
Benteng diantara kita bukanlah Dewi Aphrodite, tapi diriku sendiri. Aku takut,
‘rasa’ membuatku mejadi buta dan melupakan segalanya. Mengapa aku selalu ragu?
Padahal aku tahu bagaimana cara kau menatapku. Sampai kapan kau akan menungguku
wahai Eros?
-
-
CINTA -
No comments:
Post a Comment