Friday, July 5, 2013

Cinta dan Eros

PUISI UNTUK CINTA
Tak sadarkah kau wahai Cinta? Jantung ini akan selalu berdetak untuk mendengar semua puisi yang kau perdengarkan kepadaku. Aku akan menjadi puisi yang selalu kau cintai dan selalu setia menunggu hingga kau bersandar di pundakku. Mengapa kebersamaan justru menjadi penghalang antara kita? Kita terlalu canggung untuk saling menatap dengan ‘rasa’. Meski lisanku terkunci, mata ini tak mampu berbohong lagi wahai Cinta, kaulah duniaku. Mengapa kata-kata kadangkala lebih berat diucapkan? Tetaplah di sisiku wahai Cinta, jangan pernah kau berpikir untuk pergi. Percayalah, hanya pundakku yang pantas untuk kerapuhanmu. Aku takkan pernah jemu menatapmu dengan ‘rasa’, setidaknya hanya itu yang dapat aku lakukan. Kau seperti barang antik yang selalu terlindungi kaca, hanya dapat menatapmu dengan jelas namun takkan pernah bisa menyentuhmu. Tak perlu ragu Cinta, aku akan tetap setia.


-          EROS -


PUISI UNTUK EROS
Namamu Eros, kaulah yang ‘terindah’ diantara dewa yang abadi. Puisi terindah takkan mampu menggambarkan keindahanmu. Tahukah kau? Eros selalu dilambangkan dengan sayap emas dalam kisah mitologi Yunani dan seperti itulah kamu wahai Eros. Kau akan selalu menjadi cahaya. Tapi cahayamu terlalu menyilaukan sehingga aku terlalu takut menatapmu dengan ‘rasa’. Panah cintamu adalah pelengkap keperkasaanmu. Tapi, apakah kesetiaanmu akan sama seperti kesetiaan Eros pada Psyche? Aku bukanlah Psyche yang berani memperjuangkan cintanya karena rasa takut selalu dapat mengalahkanku. Benteng diantara kita bukanlah Dewi Aphrodite, tapi diriku sendiri. Aku takut, ‘rasa’ membuatku mejadi buta dan melupakan segalanya. Mengapa aku selalu ragu? Padahal aku tahu bagaimana cara kau menatapku. Sampai kapan kau akan menungguku wahai Eros?

-           
-          CINTA  -

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...