Saturday, January 12, 2013

Percaya (belum) Sahabat Sejati


          Persahabatan yang dijalin dalam jangka waktu yang lama akan membuat kita semakin mengenal ‘sosok sebenarnya’ dari sahabat-sahabat kita. Namun, fakta yang harus dihadapi adalah kita akan menemukan ‘sisi lain’ yang tidak kita sukai dalam sahabat kita. Tidak banyak orang yang akan bertahan setelah menemukan ‘sisi lain’ dari sahabat mereka. Ketika kita menemukan ‘sisi lain’ itu maka akan terjadi pergolakan batin dan pemikiran-pemikiran baru yang akan merusak persahabatan tersebut. Kadangkala kita akan merasa dirugikan, dimanfaatkan atau bahkan membenci sahabat kita sendiri.
            Segelintir orang masih bisa bertahan dengan ‘sisi lain’ dari sahabat mereka. Hal seperti itulah yang disanjung-sanjungkan banyak orang sebagai bentuk ‘persahabatan sejati’. Persahabatan sejati bahkan bisa menembus semua hal realistis dipikiran manusia, dengan sarkasme saya menyatakan bahwa persahabatan sejati mampu membuat manusia menjadi bodoh. Beberapa orang tetap mempertahankan persahabatan mereka walaupun hal tersebut jelas-jelas merugikan mereka, dengan bangga dan tersenyum mereka akan mengatakan inilah persahabatan sejati.
            Kahlil Gibran, penyair asal Lebanon tersebut pernah menyampaikan syair tentang sahabat sejati, Beliau mengatakan bahwa, “Tidak ada sahabat sejati yang ada hanya kepentingan”. Hubungan antar manusia selalu didasari layaknya sebuah simbiosis, dan ditangan manusialah bentuk hubungan seperti apa yang diiingankan, apakah simbiosis mutualisme, komensalisme, atau bahkan parasitisme? Tentu saja tidak ada seorang pun yang ingin dirugikan. Semakin bertambahnya umur, saya menyadari bahwa dunia tidak seindah seperti pemikiran saya waktu kecil, dunia itu kejam! Seleksi alam selalu berlaku, yang tidak mampu bertahan maka akan tersingkirkan. Kekejaman dunia membuat kecenderungan manusia memilih bentuk simbiosis parasitisme, keserakahan selalu dapat membuat manusia tidak manusiawi lagi. Oleh karena, saya rasa tidak aneh jika saya mempertanyakan tentang keabsahan ‘persahabatan sejati’.
           Persahabatan sejati seperti permen manis, jika kita terlalu banyak memakannya maka kita akan muak. Pada kenyataannya tidak ada persahabatan yang selalu manis, apalagi jika hubungan Anda didasari simbiosis parasitisme, maka saya anjurkan hentikan semua sandiwara Anda sebelum Anda melanjutkannya menjadi hubungan predasi. Jika seseorang memberikan saya kesempatan bertanya mengenai persahabatan, hal pertama yang akan saya tanyakan adalah “Bagaimana bentuk sesungguhnya persahabatan yang dikategorikan persahabatan sejati ?”. Persahabatan seringkali dianggap selayaknya permen karet yang tidak manis lagi kemudian dibuang. Kita semua tahu bahwa persahabatan seperti itu bukanlah persahabatan, mereka hanya mangatasnamakan persahabatan sebagai cara mendapat keuntungan.
            Dari artikel yang saya tulis ini, pasti terlintas dipikiran pembaca bahwa saya adalah salah satu orang di dunia yang ‘belum’ mempercayai persahabatan sejati dan dengan kerendahan hati saya akan menjawab, “Ya, saya belum mempercayai apa yang disebut persahabatan sejati“. Sahabat sejati seperti sesuatu yang terlalu muluk bagi saya. Tapi dari dasar hati saya, saya sungguh menginginkan ‘sahabat sejati’, saya hanya ingin mempertanyakan apakah Tuhan akan memberikan sahabat sejati untuk saya dan menjadikan saya salah satu orang beruntung di dunia?

Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...