Selain drama korea, ternyata film dari Thailand semakin
banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. A little crazy called love merupakan
film Thailand pertama yang saya tonton. Jujur saja, saat pertama kali saya
menonton film ini, saya merasakan ketertarikan dengan sosok Shone (marrio
maurer ^.^) yang sering diperbincangkan oleh kalangan seumuran saya. Tapi,
setelah saya menonton film ini hingga selesai, saya rasa saya tidak cukup adil
jika mengatakan bahwa hanya Mario Maurer yang menjadi daya tarik film ini,
cerita yang disajikan benar-benar patut diacungkan jempol. Baiklah, kali ini agar
pembaca dapat merasakan betapa bagusnya ide cerita film ini + merasakan pesona
Mario Maurer ^.^, saya akan mencoba menceritakan kembali film A little crazy
called love, selamat membaca...
Film
ini dimulai dengan adegan saat Shone(Mario Maurer) sedang melakukan pameran fotografi,
saat itu terlihat beberapa orang gadis muda sedang mewawancarainya (sekaligus
mengambil perhatian Shone). Tiba-tiba Shone permisi untuk meninggalkan mereka
karena mendengar anaknya menagis. Gadis-gadis muda itu pun terlihat kecewa
mengetahui bahwa Shone telah memiliki anak.
“Siapapun kita, pasti punya seseorang yang kita sukai diam-diam. Saat kita ingat orang itu, kita merasa seperti..hmm..sesak di dada. Tapi kita terus menyukainya. Walaupun aku tidak tahu dimana dia sekarang, apa kabarnya?Tapi dialah yang membuatku seperti ini. Hal kecil yang disebut cinta”. (saya betul-betul setuju dengan kalimat pembuka film ini!!)
(flashback)
Kisah
antara Shone dan Nam pun dimulai......
Nam (Pimchanok Luevisadpaibul) yang sedang asyik
bercanda dengan ketiga temannya Cheer, Gei, Nim dipinggir jalan, tiba-tiba
matanya menangkap sesosok pemuda dengan motor berwarna hitam, yang tak lain
adalah Shone (Mario Maurer). Ia terus
menatap pemuda itu, ketiga temannya pun mengajak Nam bergegas ke toko kue
langganan mereka. Seakan takut kehilangan kesempatan untuk melihat Shone lebih
lama lagi, Nam pun segera masuk ke toko kue dan segera mengambil posisi untuk melihat
Shone dari jendela toko. Shone yang sedang menunggu lampu merah tak menyadari
bahwa ia sedang diperhatikan oleh seorang gadis yang kelak akan ia cintai. Ketiga temannya yang melihat keanehan tingkah
laku Nam pun mendekatinya dan menggodanya. Nam pun mengelak dan mengatakan
bahwa ia memperhatikan Shone karena motornya aneh.
Setting berikutnya yaitu di rumah Nam sekaligus rumah makan, dikarenakan
ayahnya sedang di Amerika, ibu Nam membuka rumah makan. Tampak Nam sedang
membantu melayani pengunjung. Kemudian setting berubah menjadi di dapur, tampak
Nam dan adiknya sedang saling adu mulut, adiknya tampak mempermasalahkan wajah
Nam yang tidak cantik sehingga ia menganggap bahwa Nam akan susah mendapatkan
kekasih.(Memang pada awal kisah ini, Nam digambarkan sebagai gadis yang tidak
cantik, ia sedikit hitam dan tampak lusuh, tapi kita akan melihat perubahan
penampilan Nam demi menunjukkan cintanya pada Shone).
Nam berjalan-jalan sambil memakan es krimnya, tiba-tiba
seorang pemuda jatuh dihadapannya dengan memegang mangga dan kucing dikedua
tangannya. Nam benar-benar terkejut setelah melihat ternyata pemuda itu adalah
Shone. Sambil menahan rasa sakit dikakinya, Shone justru menawarkan mangga
kepada Nam(geje bgt ya!!). Nam hanya berdiri mematung melihat keanehan Shone, kemudian
ia tampak senang menyadari ia mendapatkan mangga dari Shone namun kesenangan
itu hanya sementara setelah ia melihat Shone juga memberikan mangga kepada
gadis lain ditengah jalan.
Di sekolah, Nam dan ketiga temannya melanjutkan pembicaraan mengenai Shone, ternyata Shone adalah kakak kelasnya yang baru. Ketiga temannya, justru menyarankan Nam agar tidak mendekati Shone karena ia telah menyebabkan dua gadis keluar dari sekolah. Nam tidak mempermasalahkannya, dia kembali beraksi agar dapat melihat Shone. Pada saat jam pelajaran, ia berjalan dikoridor anak kelas 10. Disini terlihat ternyata Shone adalah pemuda yang jahil, di sela-sela jam pelajaran dia justru menjahili temannya dengan mengikat ujung pakaian temannya itu ke kursi-kursi teman lainnya, dan bisa dapat dipastikan ketika temannya itu berdiri, terjadi kegaduhan dikelas.
Di sekolah, Nam dan ketiga temannya melanjutkan pembicaraan mengenai Shone, ternyata Shone adalah kakak kelasnya yang baru. Ketiga temannya, justru menyarankan Nam agar tidak mendekati Shone karena ia telah menyebabkan dua gadis keluar dari sekolah. Nam tidak mempermasalahkannya, dia kembali beraksi agar dapat melihat Shone. Pada saat jam pelajaran, ia berjalan dikoridor anak kelas 10. Disini terlihat ternyata Shone adalah pemuda yang jahil, di sela-sela jam pelajaran dia justru menjahili temannya dengan mengikat ujung pakaian temannya itu ke kursi-kursi teman lainnya, dan bisa dapat dipastikan ketika temannya itu berdiri, terjadi kegaduhan dikelas.
Ketika Nam kembali melewati koridor kelas 10 dia melihat
Shone yang sedang di hukum karena kejahilannya. Shone yang sedang dihukum
justru menari-nari sambil mendengarkan lagu dari earphonenya, Nam memergokinya dan Shone meletakkan telunjuk
dibibirnya agar Nam diam. Nam pun berlalu sambil menahan tawa melihat kelakuan
Shone. Nam selalu memperhatikan Shone dari kejauhan, ketika ia melihat Shone
sedang bermain bola ia mendapati Shone dipanggil oleh seorang gadis cantik.
Kejadian itu sontak membuat gadis-gadis yang lain termasuk Nam sibuk
menerka-nerka siapa gadis itu.
Ketika Nam berada dirumah ternyata pamannya baru saja pulang
dari Amerika. Dia menceritakan bahwa ayah Nam sekarang bekerja sebagai asisten
koki di Amerika, dan mengatakan jika diantara kedua anaknya bisa mendapatkan
peringkat pertama disekolah, ia akan mengirimkan tiket ke Amerika dan itu
berarti mereka dapat bertemu dengan ayah mereka lagi. Setelah mendengar hal
itu, Nam dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa dia akan mendapatkan
peringkat pertama di sekolah. Mendengar hal itu adik Nam langsung meragukan Nam
karena pada kenyataanya Nam berada di peringkat 30.
Di sekolah, saat Nam dan ketiga temannya mengantri untuk
membeli minuman, tiba-tiba segerombolan kakak kelas memotong antrian mereka
dengan kasar. Nam pun marah dan berteriak dengan suara lantang. Kakak-kakak
kelas tersebut tentu saja tidak mau kalah. Diantara kegaduhan itu, Shone
ternyata memperhatikan mereka dan segera memesan pesanan Nam dan ketiga
temannya. Tentu saja Nam terkejut melihat apa yang dilakukan Shone apalagi
kemudian Shone memberikan pesanan itu kepada Nam. Nam pun semakin terpesona
dengan Shone.
Setelah pulang sekolah, ternyata Shone dikeroyok oleh
gerombolan kakak kelas yang tidak terima dengan perlakuan Shone. Sementara itu,
kedua teman memberitahukan hal tersebut dengan Nam, mereka pun segera menuju
kembali ke sekolah. Shone sebenarnya tidak tampak ingin melakukan perkelahian
namun, karena salah satu dari gerombolan itu menghina ayah Shone, Shone pun memukul
mereka. Disini terungkap mengapa Shone tidak begitu serius bermain sepakbola
padahal ia diakui semua orang memiliki bakat. Ternyata Shone selama ini takut
akan melakukan kesalahan yang sama dengan ayahnya yang tidak berhasil mencetak
tendakan penalti sehingga provinsinya kalah. Nam dan ketiga temannya sampai di
sekolah namun mereka sudah terlambat. Nam menemukan kancing baju yang
berlumuran darah, Nam pun percaya bahwa kancing itu milik Shone, ia pun
mengambilnya dan menyimpannya.
Sesampainya dirumah, ibu Nam menemukan minuman yang diberikan
Shone kepada Nam. Nam menempelkan tulisan jangan diminum di minuman
tersebut.(sebegitu berharganya pemberian itu bagi Nam..^.^)
Keesokan
harinya, Nam terus mencari-cari sosok Shone. Saat upacara Nam akhirnya berhasil
menemukan Shone yang sedang berbincang-bincang dengan temannya, nampak wajahnya
penuh dengan luka. Ia pun menunggu Shone yang sedang diberi hukuman dan mencoba
meminta maaf dengan malu-malu ia memberikan sekotak plester luka pada Shone,
Shone pun mengambilnya. Saat Nam berbalik Shone pun mengatakan terima kasih
kepada Nam, Nam pun semakin berbunga-bunga mendengarnya, ia gembira mengetahui
kenyataan bahwa Shone mengetahui namanya.
Nam dan ketiga temannya sedang berada di toko langganan mereka. Tiba-tiba salah satu teman Nam menemukan buku dengan judul “20 Metode Agar Senior Jadi Pacarmu”, namun Nam tetap membaca buku “Menjadi Juara 1 di Ujian”, ia nampaknya benar-benar serius agar bisa bertemu dengan ayahnya. Tiba-tiba muncul seorang gadis yang berkata pada teman-temannya bahwa ia berhasil berpacaran dengan kakak kelas karena buku yang dipinjamnya di toko itu. Tentu saja hal itu menarik perhatikan Nam dan teman-temannya, namun Nam berpura-pura tidak peduli.
Nam dan ketiga temannya sedang berada di toko langganan mereka. Tiba-tiba salah satu teman Nam menemukan buku dengan judul “20 Metode Agar Senior Jadi Pacarmu”, namun Nam tetap membaca buku “Menjadi Juara 1 di Ujian”, ia nampaknya benar-benar serius agar bisa bertemu dengan ayahnya. Tiba-tiba muncul seorang gadis yang berkata pada teman-temannya bahwa ia berhasil berpacaran dengan kakak kelas karena buku yang dipinjamnya di toko itu. Tentu saja hal itu menarik perhatikan Nam dan teman-temannya, namun Nam berpura-pura tidak peduli.
bersambung......
Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)
Note : picture from google (please contact me at handayaniifitrii@gmail.com for credit)
No comments:
Post a Comment