Namanya
Cinta, hanya Cinta tanpa tambahan kata apapun. “ Cinta adalah hal yang sudah
konkrit jadi tak perlu kata penjelas untuk membuatnya nyata”, begitu katanya.
Aku tak pernah menang jika ia sudah merangkai kata, karena setiap kata yang ia
ucap adalah ‘kesempurnaan’ yang ‘nyata’. Ia tergila-gila dengan puisi, puisi
adalah hidupnya. Tapi, sepertinya tidak tepat jika ia dilahirkan pada zaman
sekarang, mungkin Tuhan lupa menurunkannya di dunia bersamaan dengan
Shakespeare. Dengan penampilan yang klasik dan bersahaja nampaknya ia memang
cocok terlahir sebagai sastrawati di era Shakespeare, mungkin mereka bisa
menjadi partner, kurasa. Ketika semua
remaja berlomba-lomba menunjukkan ‘keerotisan’ mereka, ia tetap saja setia
dengan rok di bawah lutut dan sepatu flat
gaya Victoria. Pernah muncul pikiran gila di otakku, mungkin saja ia
melakukan perjalanan ruang dan waktu sehingga ia bisa sampai di zaman saat
ini. Tapi, aku tak pernah sempat
menyelidikinya, mungkin aku harus menyewa Sherlock Holmes untuk mengetahui
kebenaran, setidaknya mungkin mereka
berasal dari era yang sama.
Ia
benar-benar berani menentang arus, sebagian besar remaja seumuranku tentunya
menganggap puisi adalah sesuatu yang kuno, lebay,
dan tidak keren, sedangkan ia menyatakan bahwa puisi adalah dunianya. Puisi
terlalu banyak menggunakan kata-kata bermakna konotatif dan kita tidak dapat
mengambil kesimpulan dengan sekali baca. Bukankah di zaman yang serba cepat dan
praktis ini, hal itu sama saja membuang-buang waktu. Lalu mengapa ia tetap
menyukai puisi? Kecuali jika ia sesungguhnya sastrawati di era Shakespeare dan
dibekukan di mesin pendingin sehingga tubuhnya tidak hancur dan ia ‘kembali’
hidup di zaman ini, mungkin hanya itu alasan yang dapat terpikirkan olehku.
Hanya
satu laki-laki yang bisa masuk dalam dunia miliknya, namanya Eros. Eros adalah
dewa asmara di mitologi Yunani, jadi tak aneh jika ‘Eros’ terlahir dengan
kemampuan membuat semua wanita jatuh hati. Wajah tampan, otak brilian, hati
malaikat, ia sosok pangeran di negeri dongeng yang sempurna. Tapi yang aku
pertanyakan adalah dari semua wanita yang ada, mengapa harus Cinta yang ia
pilih? Mereka terbiasa ‘berbicara’ dengan puisi, tampaknya hanya Eros yang
mampu menyamai ‘level bahasa’ Cinta.
Semua
orang tahu, cara Eros menatap Cinta berbeda, ada ‘rasa’ di binar mata Eros
setiap kali menatap Cinta. Tapi, Cinta yang klasik dan bersahaja itu tetap saja
‘kaku’, ia seperti membuat garis batas antara dia dan Eros. Tentunya itu
seringkali membuat kami geram, tidak seharusnya Cinta bertindak seperti itu
pada Eros “ Sang Pangeran Sempurna”. Jika Cinta tetap memperlakukan Eros
seperti itu, dengan terpaksa gelar Eros pun berubah menjadi “ Sang Pangeran
Sempurna yang Malang”.
No comments:
Post a Comment