Friday, January 11, 2013

Tentang Cinta


            Namanya Cinta, hanya Cinta tanpa tambahan kata apapun. “ Cinta adalah hal yang sudah konkrit jadi tak perlu kata penjelas untuk membuatnya nyata”, begitu katanya. Aku tak pernah menang jika ia sudah merangkai kata, karena setiap kata yang ia ucap adalah ‘kesempurnaan’ yang ‘nyata’. Ia tergila-gila dengan puisi, puisi adalah hidupnya. Tapi, sepertinya tidak tepat jika ia dilahirkan pada zaman sekarang, mungkin Tuhan lupa menurunkannya di dunia bersamaan dengan Shakespeare. Dengan penampilan yang klasik dan bersahaja nampaknya ia memang cocok terlahir sebagai sastrawati di era Shakespeare, mungkin mereka bisa menjadi partner, kurasa. Ketika semua remaja berlomba-lomba menunjukkan ‘keerotisan’ mereka, ia tetap saja setia dengan rok di bawah lutut dan sepatu flat gaya Victoria. Pernah muncul pikiran gila di otakku, mungkin saja ia melakukan perjalanan ruang dan waktu sehingga ia bisa sampai di zaman saat ini.  Tapi, aku tak pernah sempat menyelidikinya, mungkin aku harus menyewa Sherlock Holmes untuk mengetahui kebenaran, setidaknya  mungkin mereka berasal dari era yang sama.
            Ia benar-benar berani menentang arus, sebagian besar remaja seumuranku tentunya menganggap puisi adalah sesuatu yang kuno, lebay, dan tidak keren, sedangkan ia menyatakan bahwa puisi adalah dunianya. Puisi terlalu banyak menggunakan kata-kata bermakna konotatif dan kita tidak dapat mengambil kesimpulan dengan sekali baca. Bukankah di zaman yang serba cepat dan praktis ini, hal itu sama saja membuang-buang waktu. Lalu mengapa ia tetap menyukai puisi? Kecuali jika ia sesungguhnya sastrawati di era Shakespeare dan dibekukan di mesin pendingin sehingga tubuhnya tidak hancur dan ia ‘kembali’ hidup di zaman ini, mungkin hanya itu alasan yang dapat terpikirkan olehku.
            Hanya satu laki-laki yang bisa masuk dalam dunia miliknya, namanya Eros. Eros adalah dewa asmara di mitologi Yunani, jadi tak aneh jika ‘Eros’ terlahir dengan kemampuan membuat semua wanita jatuh hati. Wajah tampan, otak brilian, hati malaikat, ia sosok pangeran di negeri dongeng yang sempurna. Tapi yang aku pertanyakan adalah dari semua wanita yang ada, mengapa harus Cinta yang ia pilih? Mereka terbiasa ‘berbicara’ dengan puisi, tampaknya hanya Eros yang mampu menyamai ‘level bahasa’ Cinta.
            Semua orang tahu, cara Eros menatap Cinta berbeda, ada ‘rasa’ di binar mata Eros setiap kali menatap Cinta. Tapi, Cinta yang klasik dan bersahaja itu tetap saja ‘kaku’, ia seperti membuat garis batas antara dia dan Eros. Tentunya itu seringkali membuat kami geram, tidak seharusnya Cinta bertindak seperti itu pada Eros “ Sang Pangeran Sempurna”. Jika Cinta tetap memperlakukan Eros seperti itu, dengan terpaksa gelar Eros pun berubah menjadi “ Sang Pangeran Sempurna yang Malang”.

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...