Salam cinta untuk gadis kecil berpita merah.
"Apa kabar?", salam yang terlalu formal katamu.
"Basa- basi adalah keharusan.", kau mengumpat setelah aku mengatakannya.
Kau tidak menghargai kesopanan protesku.
"Bagaimana harimu? Apakah sulit?"
"Tidak, aku selalu bisa mengatasi semuanya", katamu.
"Syukurlah, aku pikir kau masih sering menangis dalam diam" .
"Aku bukan anak kecil lagi", matamu berkilat marah padaku.
Tapi kau tetap saja selalu berapi sindirku.
"Apa pedulimu", katamu kasar.
Aku tersenyum, kau masih saja terlalu kaku, tak punya selera humor sedikit pun.
"Tumben kau berkunjung".
"Aku hanya ingin mampir, persimpangan jalan membuatku rindu padamu".
Kau pun bersemu. Betapa bahagianya dirindukan. Tidakkah kau merindukanku juga, godaku.
Sudah lama aku tidak mengetuk pintu labirinmu, sudah lama sekali rasanya.
Dahulu kita berusaha saling menemukan di dalamnya, tidakkah kau ingat itu?
Kau terdiam.
Tampaknya kau lupa.
Tidak apa-apa, tak semua hal harus kita ingat.
"Kau salah, aku mengingat semuanya dengan jelas, semua berputar di pikiranku, membuatku muak " ,protesmu.
Aku terdiam," Kalau begitu kau boleh melupakannya".
Kau mengumpat bahwa aku selalu semaunya, berkata ini itu seenaknya.
Kita selalu seperti ini, tak mampu berbagi rindu.
Dahulu kita bertemu di labirin ini, tiada keindahan selain saling menemukan,
aku-kau tidak sendirian.
Kau sang ambisius yang rakus sedangkan aku terlalu damai memikirkan masa depan.
Betapa tidak cocoknya kita.
Hari itu, kau berkeluh kesah dan aku hanyalah pendengar, itu yang kau inginkan.
Kau selalu terjebak tanya, alasan adalah sebuah keharusan, kau terlalu sering menyebutkan mengapa. Berhentilah beretorika, kau tahu tapi tidak menginginkan jawaban, hanya butuh diyakinkan.
Kau selalu punya rencana yang runtut, dunia tidak boleh merusaknya. Ayolah, jangan terlalu memaksa.
Kau mengidamkan sosok tanpa cela. Aku pun tertawa, kau terlalu naif kawan.
Dari dulu kau terlalu kaku. Selalu khawatir akan keadaan. Kadangkala kita perlu menikmati perjalanan tanpa berpikir tentang tujuan.
Bersantailah sejenak, mungkin kau terlalu lelah. Aku berkunjung untuk bertanya apakah kau masih orang yang sama?
Apakah harimu terasa berat?
Apabila semuanya terasa berat bersandarlah sejenak di pundakku. Mungkin takkan cukup mengobati resahmu namun setidaknya kau punya tempat untuk mengeluh.
No comments:
Post a Comment