Selamat pagi Tuhan, sudah lama aku ingin menuliskan hal ini. Sudah aku terima balasan suratMu, di kemas dengan amplop yang begitu indah, ukiran kebahagiaan menjadi pemanisnya. Aku membukanya dengan hati-hati, sungguh tak pantas jika aku sembrono merusaknya.
Ketika aku berusaha merangkai kata dalam surat pertamaku, aku begitu meragu, bahkan mempertanyakan akan samapaikah suratku padaMu, Tuhan.
Aku tak pandai merayu, bahkan surat pertamaku terkesan angkuh, kelancangan yang tak tertahankan. Semua terasa begitu sulit, seakan tak akan ada orang yang akan memihakku, tidak akan ada orang yang bisa mengerti, sifat ke-aku-an terpancar jelas dalam setiap kata yang tersurat. Aku menulisnya dengan perasaan berkecamuk, tanpa akal sehat, seakan mabuk. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, meratapi malam dengan tangisan, bertanya-tanya apakah aku begitu tak pantas untuk mendapat sepucuk surat balasan. Aku gadis naïf yang terlalu menggebu merengkuh mimpi, saat itu. Mulutku bahkan terus mengeluh, berkata-kata tak pantas, terus bertanya mengapa aku seperti ini, mengapa aku di posisi ini. Terus menangis dalam sujudku, aku baru menyadari, betapa dekatnya aku denganMu, setiap hari dihabiskan dengan mengadu, betapa banyaknya percakapan yang sebenarnya telah aku lakukan denganMu.
Aku kirimkan surat ini dengan rasa syukur dan terus memuji namaMu yang begitu agung.
Tuhan.. sudikah jika aku terus mengirimkan surat kepadaMu? MalaikatMu mungkin akan terus kewalahan mengantarkan suratku yang selalu penuh dengan keluhan, tapi bolehkah aku terus mengirimkannya?
Ingatlah Tuhan menjawab doamu dengan 3 cara:
-Ya, kuberi sekarang
-Tunggu, aku ingin lihat lagi usahamu
-Tidak, Kupunya yang lebih baik.
No comments:
Post a Comment