Terbahak pada diri sendiri yang bahkan
di usia ini belum mampu menerima kerasnya dunia. Lucu, saya masih terbuai
dengan dongeng keindahan dunia, namun berpura-pura tahu segalanya. Ya, saya
belum cukup matang, mungkin. Setidaknya 18 tahun bukanlah umur kanak-kanak
lagi, entahlah, mungkin saya terlalu menuakan diri atau mungkin saya terlalu
menggebu untuk merengkuh dewasa. Saya tak pantas lagi berkeluh kesah akan
kerasnya dunia, mungkin. Ragu terus menyelimuti, entahlah tanyaku pada siapa.
Saya bahkan masih gadis naïf, bodoh, yang terlalu mudah mengatakan ‘ya’. Saya
bahkan lupa bagaimana rupa diri. Saya siapa, saya siapa, siapa saya? Ingin
menjadi siapa? Saya masih gadis kecil ayah yang menangis ketika sendiri dalam
kegelapan. Saya gadis kecil ibu yang genit ingin dikuncir sebelum foto raport
sekolah. Sikap tindak menjadi abstrak, saya mau dan terkadang tidak mau secara
bersamaan. Lucu, bergelut dengan
pemikiran dan terlalu angkuh untuk menunjukkan kelabilan, berlagak dewasa.
Bukan, saya tidak seperti itu, setidaknya tidak separah itu. Lihatlah saya
bahkan masih mencoba menyangkal. Lucunya, terlalu banyak pedoman yang ingin
saya ikuti, saya mungkin salah membaca genre buku di usia belia, aneh
mendengarnya, tapi setidaknya saya butuh alasan untuk dipermasalahkan. Dahulu
saya berlagak sok dewasa, tahu cara tersenyum seharusnya, berbicara seharusnya,
memuji sewajarnya. Saya menjadi palsu, tak ubahnya referensi buku yang menjadi
satu. Tak berkembang secara wajar, seharusnya bertransformasi sesuai waktu,
proses saya tidak alamiah, mungkin. (Saya berhenti dan tertawa). Lihatlah,
betapa sok pintarnya saya. Itulah
mengapa ini semua berakhir bukan tentang saya tetapi selalu tentang mereka.
Saya terlalu mengidamkan karakter tanpa cela, inilah efek dongeng keindahan dunia.
Terlalu banyak kata ‘seharusnya’ dalam
daftar kosakata saya. Lucu, saya tahu faktanya namun masih terus melakukan hal
yang sama. Tampaknya dunia pun tertawa.
No comments:
Post a Comment