Gadis
yang naif seringkali dijadikan tokoh utama dalam kisah film, drama, sinetron dan sekelumit cerita
fiksi lainnya. Kenaifan seringkali dijadikan penggambaran sosok yang hati dan
pikirannya masih murni, mereka hanya menelusuri jalan yang lurus tanpa kelok
dan jebakan. Kadangkala saya berpikir sungguh beruntung orang-orang yang
berhati murni ini. Namun, jujur saja saya sangat membenci jika ada orang yang
memanfaatkan kenaifan seseorang, parahnya film, drama, sinetron dan kisah fiksi
lainnya selalu menggambarkan sosok naif ini adalah sosok yang terlalu baik hati
dan pada akhirnya justru tersudutkan karena kebaikan hatinya itu sendiri.
Pembodohan karakter orang yang naif seringkali membuat saya geram, seakan-akan
orang yang baik hati itu justru tidaklah memiliki jalan pikiran yang rasional,
mereka digambarkan sebagai orang yang hanya mementingkan perasaan dan hubungan
antar manusia dan mengorbankan kehidupannya sendiri. Sampai saat ini saya masih
tidak setuju dengan penggambaran sosok seperti itu.
Gadis
naif dianggap sebagai sosok idaman dan
di puja-puja kaum adam. Kenaifan kadangkala menjadi nilai tambah atau inner
beauty bagi kaum wanita karena kenaifan sering disangkut-pautkan dengan sosok
yang polos. Mereka tampil seperti putri di negeri dongeng yang jujur dan baik
hati. Kita yang dibuai dengan kesempurnaan dunia dongeng seringkali terjebak
dalam penggambaran sosok ini. Para putri di negeri dongeng memiliki hati yang
baik namun sayangnya selalu bernasib malang walaupun pada akhirnya mengalami
akhir yang bahagia dengan pangeran. Kebaikan kaum putri ini seringkali dianggap
sebagai kesempatan tokoh antagonis untuk menghalangi kebahagiaan mereka. Sosok
putri ini saya rasa cocok dengan penggambaran sosok naif. Namun, bukan berarti
sosok naif adalah sosok yang mudah dibodohi. Kenaifan bukanlah tanda kebodohan
melainkan wujud dari ketulusan hati dan keanggunan budi. Kejujuran dalam sosok
naif merupakan bukti penciptaan keluhuran budi manusia.
“Kenaifan merupakan bentuk dari ketulusan
hati dan keluhuran budi”, kalimat tersebut merupakan hal yang saya yakini
sampai saat ini. Namun, penggambaran nyata sosok naif dalam otak saya tidak
sepenuhnya selalu sejalan dengan kenaifan itu sendiri. Jujur saja, saya dapat
dikategorikan mendukung sikap naif ini namun tidak dapat dikategorikan
mendukung sepenuhnya. Nyatanya, orang yang dikategorikan naif selalu berkata
jujur dan apa adanya namun pada kondisi tertentu saya rasa kenaifan tersebut
harus dihilangkan karena tidak semua hal harus dikatakan apa adanya. Saya
bukanlah menyarankan suatu kebohongan tapi daripada mengatakan apa yang
seharusnya tidak dikatakan lebih baik mengunci mulut Anda dalam diam. Dengan
mengatasnamkan kenaifan, ‘pemberian maaf
harus diberikan karena toh mereka hanya berusaha jujur dan tidak sengaja mengatakannya’,
menurut saya hal tersebut tidak adil karena yang salah tetaplah menjadi salah,
sebuah alasan hanya akan meringankan kesalahan dan menjadi sebuah pembiasaan
yang buruk. Jika manusia selalu mentolerir sebuah kesalahan maka sama saja
dengan memberi kesempatan untuk menciptakan kesalahan yang lebih besar lagi.
Takutnya sebuah ketidaksengajaan yang dibiarkan terus berulang akan menjadi
sebuah kebiasaan yang merusak karakter seseorang.
Sosok naif yang berkata apa adanya dan
ceplas ceplos merupakan hasil dari kedamaian hati yang tidak takut dengan
‘kesalahan yang jujur’. Pengendalian ucapan merupakan salah satu aspek
penting dalam hubungan sosial bahkan telah banyak buku yang membahas bagaimana
cara berbicara dan mengendalikan ucapan Anda untuk meraih kesuksesan dalam
kehidupan. Oleh karena itu, cara bicara yang ceplas ceplos ini tentunya
bertolak belakang dengan kaidah-kaidah mengenai bertutur kata yang baik. Saat
ini memang tata cara yang diciptakan masyarakat tidak hanya menjadi pembeda
antara yang baik dan buruk melainkan menjadi sekat semu antara orang yang
mengerti dan tidak mengerti. Sebagian orang membutuhkan keberanian yang besar
untuk berkata apa adanya, lain halnya dengan sosok naif yang selalu berani mengatakan apa yang ingin mereka katakan tak peduli
dampak apa yang akan terjadi. Keberanian inilah yang menjadikan sosok naif
menjadi dikagumi. Seperti yang telah
disebutkan sebelumnya, berkata apa adanya dan ceplas ceplos adalah perwujutan
dari kedamaian hati dan keberanian tetapi sikap tersebut tidak boleh melanggar
tata krama dan norma yang ada di masyarakat karena apa yang keluar dari mulut
kita secara tidak langsung akan menunjukkan karakteristik kita.
Spontanitas polos yang
dilakukan sosok naif seringkali membuat saya sedikit mengerutkan kening. Saya
dibuat takjub sekaligus memberontak. Di satu sisi saya sangat mengapresiasi
setiap keunikan karakter yang diciptakan Tuhan dan mengidam-idamkan kedamaian
hati yang tidak takut terhadap segala penilaian orang dan kejujuran yang tulus.
Kesenangan membaca buku tentang tata cara berkomunikasi, bagaimana menjalin
hubungan yang baik dan sederet buku tata krama lainnya, membuat saya
menciptakan sekat pembatas dengan diri saya sendiri serta merantai diri saya
dengan aturan-aturan yang diciptakan masyarakat. Kenaifan menjadi sisi yang
bertolak belakang bagi saya. Jiwa saya seakan ingin memberontak protes karena
tidak terima apa yang sudah saya pelajari ternyata tidak sepenuhnya bisa
diterapkan. Saya ingin mempertahankan diri sekaligus ingin menyerahkan diri.
No comments:
Post a Comment