Saturday, March 1, 2014

Tanyaku pada Tuhan

Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Bolehkah kasih sayang dicampur adukan dengan kepentingan? Kasih sayang terbentuk dari kinerja hati dan perasaan sedangkan kepentingan terbentuk dari stimulus otak terhadap situasi seseorang. Kita semua tahu, kasih sayang dan kepentingan bagai dua sisi mata uang yang bertolak belakang, mereka berlawanan namun sebenarnya merupakan satu kesatuan. Mengapa saya menganalogikannya seperti itu? Entahlah, saya hanya melihat sisi lain dari keduanya. Sesungguhnya melalui satu sisi dari keduanya akan terbentuk sisi lainnya. Kita selalu mengaitkan kasih sayang dengan hal-hal yang baik sedangkan kepentingan terdengar memiliki konotasi buruk. Lalu apakah keduanya tidak akan membentuk sisi yang berlawanan? Apakah yang baik akan selalu baik, dan yang buruk akan tetap menjadi buruk?
Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Pantaskah kasih sayang terbentuk dari suatu kepentingan? Nyatanya kasih sayang yang terbentuk dari kepentingan selalu menimbulkan perasaan curiga. Karena pada dasarnya kasih sayang itu ‘tidak murni’. Lalu, semurni apakah kasih sayang yang sesungguhnya? Bagaimana dengan rasa tanggung jawab orang tua yang memberikan kasih sayang pada anaknya, apakah kasih sayang seperti itu tidak bisa dikategorikan ‘murni’? Kasih sayang adalah masalah hati, namun tak ada yang tahu hati manusia selain Tuhan dan manusia itu sendiri. Konsep kepentingan juga sama saja, kepentingan adalah masalah hati yang dibantu kinerja otak. Saya bukanlah mendeskreditkan bahwa kasih sayang itu tidak menggunakan  otak, tapi ‘kemurnian’ itu berasal dari ketulusan, jika otak sudah ikut campur maka sepersekian persen ketulusan itu akan sirna.
Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Berdosakah manusia jika pernah menyelipkan kepentingan ke dalam kasih sayang? Manusia itu tamak, hanya sedikit manusia yang selalu bersyukur dan menerima apa adanya hidupnya saat ini. Tentu berdosa manusia yang menggunakan dan meneriakkan permintaan balas budi. Kita sering lupa dan menganggap jika sudah memberikan kasih sayang sudah sepantasnya budi baik kita itu dibalas, dan tentu saja aksi permintaan balasan ini sudah menyinggung garis kepentingan. Lalu, jika keduanya sudah dicampur adukan apakah adil jika kasih sayang yang sudah diberikan dianggap tidak ada?

Hari ini aku bertanya pada Tuhan. Bagaimana jika di suatu situasi kinerja otak kita lebih cepat dibandingkan hati kita? Apakah adil jika dunia menganggap ketulusan itu telah didahului oleh kepentingan pribadi? Hari ini aku bertanya pada Tuhan dan kuharap Tuhan membalasnya.

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...