Hari ini aku bertanya
pada Tuhan. Bolehkah kasih sayang dicampur adukan dengan kepentingan? Kasih
sayang terbentuk dari kinerja hati dan perasaan sedangkan kepentingan terbentuk
dari stimulus otak terhadap situasi seseorang. Kita semua tahu, kasih sayang dan
kepentingan bagai dua sisi mata uang yang bertolak belakang, mereka berlawanan
namun sebenarnya merupakan satu kesatuan. Mengapa saya menganalogikannya
seperti itu? Entahlah, saya hanya melihat sisi lain dari keduanya. Sesungguhnya
melalui satu sisi dari keduanya akan terbentuk sisi lainnya. Kita selalu mengaitkan
kasih sayang dengan hal-hal yang baik sedangkan kepentingan terdengar memiliki
konotasi buruk. Lalu apakah keduanya tidak akan membentuk sisi yang berlawanan?
Apakah yang baik akan selalu baik, dan yang buruk akan tetap menjadi buruk?
Hari ini aku bertanya
pada Tuhan. Pantaskah kasih sayang terbentuk dari suatu kepentingan? Nyatanya
kasih sayang yang terbentuk dari kepentingan selalu menimbulkan perasaan
curiga. Karena pada dasarnya kasih sayang itu ‘tidak murni’. Lalu, semurni
apakah kasih sayang yang sesungguhnya? Bagaimana dengan rasa tanggung jawab
orang tua yang memberikan kasih sayang pada anaknya, apakah kasih sayang
seperti itu tidak bisa dikategorikan ‘murni’? Kasih sayang adalah masalah hati,
namun tak ada yang tahu hati manusia selain Tuhan dan manusia itu sendiri.
Konsep kepentingan juga sama saja, kepentingan adalah masalah hati yang dibantu
kinerja otak. Saya bukanlah mendeskreditkan bahwa kasih sayang itu tidak
menggunakan otak, tapi ‘kemurnian’ itu
berasal dari ketulusan, jika otak sudah ikut campur maka sepersekian persen
ketulusan itu akan sirna.
Hari ini aku bertanya
pada Tuhan. Bagaimana jika di suatu situasi kinerja otak kita lebih cepat
dibandingkan hati kita? Apakah adil jika dunia menganggap ketulusan itu telah
didahului oleh kepentingan pribadi? Hari ini aku bertanya pada Tuhan dan
kuharap Tuhan membalasnya.
No comments:
Post a Comment