Friday, March 27, 2020

[Sinopsis + Review Film] Kim Ji-young, Born 1982

Semula, saat film ini dirilis nama besar Gong Yoo menjadi daya tarik besar yang menyentil saya untuk mencari tahu tentang film ini. Satu hal yang saya garisbawahi tentang film ini yaitu isu feminisme yang menjadi kontroversi di negara asalnya. Sejujurnya, saya tidak punya banyak informasi mengenai mengapa isu feminisme begitu sensitif bagi Korea, tetapi mungkin bagi sebagian orang korea, film ini terkesan menyinggung  tata kehidupan yang telah terbentuk disana. Film ini seakan merupakan bentuk protes secara ‘halus’ kaum wanita korea terhadap hak-haknya di tengah lingkungan yang begitu mengagungkan kaum laki-laki.

            Film ini dibuka dengan adegan Jeong Daehyon (Gong Yoo) mengunjungi psikiater, ia datang bukan sebagai pasien, bukan berkonsultasi tentang dirinya melainkan tentang istrinya.


Beralih ke adegan Kim Ji Young (Jung Yu-mi) yang kewalahan mengurus anaknya. Dilanjutkan perbincangan  Jeong Daehyon  dan Kim Ji Young untuk memutuskan apakah akan mengunjungi rumah orang tua mereka di hari perayaan tahun baru.


Film ini berusaha secara nyata menunjukkan adanya nilai-nilai yang masih dipegang orang tua di Korea mengenai bagimana seorang wanita, istri seharusnya mengurus keluarganya. Di Indonesia kita pernah mendengar istilah sumur, dapur, kasur sebagai tiga hal yang menjadi tugas utama wanita  dimana selama bertahun-tahun image ‘sumur, dapur, kasur’ selalu berkonotasi negatif. Tentunya nilai-nilai tersebut sudah mulai bergeser dimana baik suami dan istri adalah satu kesatuan yang bergotong royong, tidak ada pembagian tugas siapa yang berperan melayani dan dilayani.


Bagi saya, film ini cukup berhasil mengemas bagaimana  dilema seorang wanita modern yang harus mempertimbangkan antara karir, anak dan keluarga. Norma-norma yang menunjukkan bahwa secara kodrat wanita adalah penyokong kaum laki-laki terkadang menjadi belenggu, nampaknya pesan itulah yang ingin diselipkan melalui film ini.

 Tokoh Kim Ji Young digambarkan layaknya korban, dia bukanlah wanita pemberontak yang memprotes hak-haknya, karakternya sebagai wanita modern dan memiliki karir cemerlang menurut saya tidak begitu ditonjolkan, rasa ‘ambisius’ yang begitu melekat pada kaum feminis tidak begitu digambarkan dalam karakter Kim Ji Young, kesan sebagai ‘korban’ yang tak berdaya inilah yang mungkin dianggap mampu mengetuk hati penonton. Kim Ji Young digambarkan sebagai wanita yang merasa terperangkap di dalam rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. 

Dalam film ini kita diajak tidak hanya melihat masalah wanita dari kacamata Kim Ji Young semata, melainkan dari semua wanita yang ada di dalam film. Ibu Kim Ji Young yang harus melepaskan mimpinya karena harus menyokong saudara laki-lakinya.


Atasan Kim Ji Young yang berhasil mencapai kesuksesan karir namun tetap saja dipandang sebelah mata karena dianggap  mengorbankan keluarga dan anaknya.


Teman Kim Ji Young yang terlambat menerima promosi sedangkan rekan laki-lakinya yang lain sudah diberikan promosi terlebih dahulu.


Kakak perempuannya yang sampai sekarang belum menikah dan harus menghadapi nasihat bibi-bibinya tentang pernikahan.


Konflik utama yang dianggap menjadi akumulasi dari ‘penderitaan’ tokoh Kim Ji Young dapat dijawab melalui adegan pertama film ini, kenapa sang suami harus mendatangi psikiater atas nama istrinya sendiri? Kim Ji Young menderita depresi postpartum dimana ia seringkali berperilaku seperti orang lain. Depresi postpartum adalah jenis depresi yang terjadi pasca melahirkan, namun depresi ini berbeda dengan baby blues yang terjadi hingga beberapa minggu setelah melahirkan, jenis depresi ini terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Gong Yoo berhasil menggambarkan sosok lelaki modern yang tak lagi menganggap bahwa urusan keluarga adalah urusan wanita saja. Ia menjadi karakter yang sebenarnya dipenuhi rasa bersalah, Daehyon beranggapan karena menikah dengannya, Kim Ji Young tak mampu mengejar mimpinya. Selain itu, ia berhasil menggambarkan ketidakberdayaan kaum lelaki yang sebenarnya ingin membiarkan istrinya mengejar mimpinya namun di sisi lain ia tahu bahwa istrinya ‘sakit’ dan tidak mungkin melakukan pekerjaan secara normal. Ia menunjukkan seberapa frustasinya seorang suami ketika mengetahui bahwa istrinya mungkin dianggap orang lain ‘gila’.

Sayangnya, menurut saya pribadi, penggambaran kisah di film ini terkadang terlalu banyak melemparkan kesalahan pada kaum laki-laki, ada bumbu feminisme yang berlebih di dalam film ini. Walaupun sekali lagi saya katakan, saya tidak mempunyai banyak informasi bagaimana realita masyarakat korea saat ini dalam memandang perbedaan gender. Ada sebuah kesan dimana kebanyakan laki-laki adalah musuh perempuan, walaupun saya tidak menampik beberapa masalah yang diselipkan dalam film ini mengenai kenyataan ada saja lelaki yang tidak bermoral yang merendahkan derajat wanita.


Saya tidak begitu puas dengan akhir kisah film ini, film ini ditutup dengan biasa-biasa saja. Bagi saya, konflik yang dibangun tidak berhasil dieksekusi dengan baik. Pikiran saya meronta-ronta membayangkan kemungkinan akhir cerita film ini tetapi ternyata “kok gini aja, udah selesai nih filmnya?”. Sayang sekali film ini tidak berhasil memberikan akhir yang membekas padahal tema yang diangkat dinilai cukup berani. Namun, film ini pantas diapresiasi karena berani menunjukkan bagaimana perjuangan kaum wanita dalam menghadapi perbedaan gender dan budaya konservatif yang seringkali merugikan mereka.

(Kim Ji-young kepada ibunya)

No comments:

Post a Comment

Catatan di Awal 2021

Dua ribu dua puluh satu, bilangan yang semula puluhan telah dianugerahi penambahan angka satuan. Walaupun sudah lewat dua bulan, semoga tuli...