Kisah ini bukan tentang mereka, buku ataupun lagu. Kisah ini seharusnya sudah aku ceritakan sejak lama. Ini tentang aku, seorang gadis yang diberi anugerah terlahir saat gema takbir bergaung. Kuharap ini menjadi sepotong kisah yang bisa melekat di semua indera, meresap hingga lapisan terakhir dalam tubuh dan menyatu dalam sanubariku. Kutuliskan kisah ini bukan untuk kamu, mereka ataupun kalian. Kutuliskan kisah ini sebagai pengingat bahwa aku terlahir dalam sorak sorai kemenangan dan menerima keberuntungan hingga sekarang.
Di antara kesedihan, seharusnya aku kumandangkan rasa syukur, dalam namaMu yang Agung. Kesedihan mengajarkan sepi dimana hanya ada aku dan kebesaranMu, diantara sepi aku menemukan diri terduduk di pojok ruang hati, meringis tanpa seorang pun menemani. Kudapati diriku menjadi buta dan tuli karena rasa sakit mengiris perlahan demi perlahan dunia dalam inderaku. Hatiku menjadi mati. Suatu hal yang rusak sudah seharusnya diganti. Itulah cara Tuhan untuk menjadikanku terlahir kembali.
Semua bayi terlahir dalam keadaan damai, sejak awal kita sudah belajar bahwa tangisan adalah tanda kehidupan. Air mata adalah anugerah yang diselipkan dalam penderitaan. Kita cukup mampu bertahan dalam tangisan dan membiarkan dunia semakin menghitam. Hingga akhirnya kita sadar, dunia dipenuhi kesedihan. Manusia sibuk mengatakan dirinya paling terluka sementara lupa bahwa ada orang-orang yang tetap tegak meskipun dunia mereka menjadi neraka. Kita selalu bangga menjadi orang yang paling menderita. Berulang kali meratapi kemalangan tanpa sadar menjadi terperangkap dalam lubang tanpa dasar. Terus saja mengasihani diri sendiri. Aku pernah terdampar di dalamnya, sungguh keadaan yang memilukan. Pengakuan yang cukup memalukan.
Ada begitu banyak cara untuk mengobati luka, namun cara terampuh adalah dengan doa. Doa menjadikanku tak bosan bercerita dalam diam karena hanya Tuhan yang mampu mendengarkan. Ketika tidak ada orang yang bisa mengerti, Tuhan selalu ada untuk menemani. Akhirnya kudapati, duniaku tak seburuk yang aku ratapi. Ini semua adalah keindahan karena kisah hidup seseorang takkan cukup menarik tanpa adanya kesedihan. Oleh karena itu, aku sebut kesedihan adalah bagian dari keberuntungan karena aku menjadi bagian dalam realita kehidupan, aku nyata dan sama seperti manusia lainnya. Kita hanya perlu bertahan, berharap di perjalanan bertemu dengan kebahagiaan.
#Palembang, 21 Juli 2017
No comments:
Post a Comment