"Lalu mengapa mereka tidak mencoba? Bukankah mereka sendiri yang membatasi diri sehingga orang disekitarnya merasa tidak ingin mengajak mereka berkomunikasi? Apa susahnya untuk mencoba mendekat dan berkata hai?"
Sempat terlintas pertanyaan-pertanyaan itu dipikiran saya. Namun, itu terjadi sebelum saya bertemu dengan seorang mantan pengidap phobia sosial secara langsung. Sebut saja namanya X, ia merupakan teman satu kelas saya di Universitas. Pada pandangan pertama saya melihatnya saya langsung menafsirkan bahwa kepribadiannya sangat tertutup, ia sangat sedikit berbicara, seringkali pandangannya kosong dan raut wajahnya kadangkala 'datar', tanpa ekspresi. Hari itu, di kelas mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya saya duduk disebelahnya. Kebetulan, tema presentasi saat itu adalah manusia sebagai makhluk individu dan manusia sebagai makhluk sosial. Tentu saja tema tersebut sangat berhubungan dengan masalah phobia sosial yang ingin saya ketahui, oleh karena itu selama presentasi berlangsung saya sudah sibuk mencoret-coret buku saya untuk menyiapkan pertanyaan tentang phobia sosial yang behubungan dengan konsep manusia sebagai makhluk sosial. Mungkin merupakan salah satu skenario Tuhan, tidak tahu kenapa sebelum saya menanyakan pertanyaan itu saya justru mencoba berbincang-bincang dengannya dan kemudian mengatakan bahwa saya sangat tertarik dengan masalah phobia sosial. Tak disangka-sangka ia membuat pengakuan yang membuat saya terkejut, ia pernah mengalami phobia sosial. Mendengar hal tersebut tentu saja membuat semua pertanyaan di dalam otak saya langsung mengalir ke mulut saya. Sepanjang mata kuliah itu, saya seperti seorang wartawan dadakan yang haus akan informasi.
X mengalami phobia sosial sejak ia SD dan berlanjut hingga SMP, ketika SMA ia sudah mulai mau membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang banyak. Tidak dapat saya bayangkan bagaimana rasanya hidup dalam dunia sendiri selama hampir 9 tahun, pasti ia merasa sangat kesepian. Lebih parahnya lagi saat ia mengalami phobia sosial ia bergaul dengan seorang teman yang mengalami phobia sosial juga. Bisa Anda bayangkan bagaimana ia bisa 'sembuh' jika ia berkutat dengan orang mengalami masalah yang sama, saya berpikir jangan-jangan mereka menjadi teman namun tetap berada dalam dunia masing-masing, keheningan. X mengatakan bahwa seseorang yang mengalami phobia sosial bukanlah orang yang ingin menjauh dari pergaulan namun lebih tepatnya mereka tidak tahu caranya untuk bergaul. Mereka seringkali merasa takut untuk memulai percakapan karena seorang pengidap phobia sosial sangat takut terhadap penilaian orang lain terhadap dirinya. Mereka ingin agar orang lain menyukai kepribadian mereka namun di dalam pikiran mereka terlalu banyak pertimbangan dan rasa takut tidak di sukai. Pengidap phobia sosial sangat khawatir jika apa yang mereka lakukan membuat orang lain tidak menyukai mereka. Ia mengatakan bahwa dahulu ia sangat takut bila harus memulai pembicaraan dengan orang lain, bahkan ia takut jika harus menemui orang baru, biasanya ia menjadi berkeringat dingin menghadapi situasi tersebut.
Fakta lainnya adalah seorang pengidap sosial biasanya berbicara sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar, mungkin itu adalah salah satu bentuk ketidakpercayaan diri mereka dalam berinteraksi. Sesseorang yang mengalami phobia sosial sangat sulit untuk memulai percakapan, oleh karena itu mereka sangat membutuhkan orang yang lebih periang agar bisa mencairkan suasana diantara mereka.
Namun, pada kenyataan di masyarakat, seorang pengidap phobia sosial dianggap aneh dan penyendiri oleh karena itu orang lain justru semakin menjauh darinya karena mereka menganggap tidak akan bisa menjalin komunikasi yang baik dengan mereka. Akhirnya, pengidap phobia sosial tetap menjadi kaum yang tersisihkan tak jarang mereka ikut di bully. Pengalaman di bully juga pernah dirasakan teman saya ini, ia pernah di olok-olok karena sifatnya yang tertutup. Saya sangat sedih mendengar kisahnya, tentu banyak sekali kenangan pahit yang ada di dalam memorinya. Sebenarnya, menurut pandangan saya X belum sepenuhnya sembuh dari phobia sosial karena saya masih melihat ia sebagai pribadi yang tertutup, kadangkal ia masih terkesan cuek dengan sekitarnya. Bahkan teman-teman saya yang tidak tahu masalahnya menganggap dia sebagai orang yang aneh. Menurut teman saya, X tidak mampu mengekspresikan apa yang ada pada hatinya, oleh karena itu sangat sulit menafsirkan apa yang ada di pikirannya. X mengakui bahwa orang yang mengalami phobia sosial seringkali dicap aneh dan tak jarang teman-teman saya mencap aneh teman saya satu ini karena kadangkala ia melakukan hal yang tidak terduga-duga. Kisah salah satu teman baru saya ini membuat saya memandang seseorang dari banyak sisi dan mengajarkan saya untuk menghilangkan sikap apatis terhadap orang-orang yang sering tersisihkan. Mungkin diantara Anda juga bertemu dengan orang yang tertutup di lingkungan Anda. Saya harap melalui tulisan ini, marilah kita bersama-sama menggandeng tangan mereka keluar dari kesendirian mereka.
Hai salam kenal, namaku steady. Sebelum nya maaf kalo tidak keberatan aku ingin berbagi ttg pengalaman ku yg berkaitan dengan phobia sosial ini.
ReplyDeleteTidak sengaja aku menemukan tulisan blog ini yg membuat ku tergugah untuk mencari tau solusi dan ingin berdikusi ttg ap yg sedang aku skrg alami ini. Aku sudah mengalami ini sejak mulai duduk di bangku sd hingga sekarang yg sudah bekerja di suatu PT.BUMN. Akan tetapi meskipun aku tidak kekurangan satu apa yg ku ingin kan, ada satu yg belum bisa ku dapatkan yaitu percaya diri bergaul dengan banyak orang, Aku mmg punya banyak sekali kenalan tapi dari sekian banyak kenalan yg aku miliki hanya sedikit sekali yg bisa ku jadikan teman. Memang diawal" mereka sangat akrab dgn ku tapi seiring berjalan nya waktu mereka mulai menjauh dari ku, mungkin mereka mengetahui ada sesuatu yg aneh dari diri ku. Satu hal juga yg membuat aku jauh dari mereka adalah pergaulan mereka yg secara tidak langsung mengharuskan aku harus sama dgn mereka. Aku tidak bisa selalu mengikuti langkah mereka oleh karena itu aku menghindar dri semua itu dgn demikian aku kehilangan teman lagi.
Itu adalah sepenggal cerita kehidupanku mengenai phobia sosial, dengan senang hati aku berbagi 😊
Salam kenal juga Steady, terima kasih telah mau berbagi cerita kehidupan Anda. Mungkin saya tidak bisa melihat dengan jelas masalah yang Anda hadapi saat ini karena nyatanya saya bukanlah seorang psikolog. Namun, mungkin saya bisa sedikit memahami permasalahan yang Anda hadapi karena teman saya juga pernah mengalami permasalahan yang sama. Maaf jika saya terkesan sok tau, tetapi melalui teman saya, saya melihat bahwa permasalahan terbesar bagi seorang fobia sosial adalah perasaam ingin diakui di komunitasnya. Mungkin, salah satu hal yang pertama kali harus Anda lakukan adalah mengubah persepsi yang salah pada diri Anda. Teman saya juga mengatakan hal yang sama dengan yang Anda utarakan, ia merasa semua orang seakan menjauh dan tidak mau berteman dengannya, dan dengan spontan saya mengatakan kepadanya bahwa justru pemikiran tersebutlah yang menyebabkan semua orang menarik diri untuk berteman dengannya. Kita tidak bisa memungkiri bahwa akan selalu ada orang yang tidak menyukai diri kita, menurut saya tidak ada pribadi yang benar-benar ideal untuk selalu di sukai semua orang, kita tidak bisa selalu menjadi sosok sempurna di depan orang lain. Oleh karena itu, Anda tidak perlu takut tidak di terima di komunitas Anda, jadilah diri Anda apa adanya. Saya berharap semoga kepercayaan diri itu sedikit demi sedikit muncul di dalam diri Anda.
DeleteAssalamualaikum, saya rizky.. .Saya mau bercerita sedikit tentang diri saya yang mungkin mengidap phobia sosial ini,
ReplyDeletedari kecil saya di kenal pemalu. Tidak pandai mengungkapkan pemikiran saya sekalipun itu kepada orang tua atau teman terdekat. Saya selalu kesulitan bila di suruh menghadap ke ruang guru misalnya. selalu kesulitan saat di suruh ibu, rizky itu sepupu kamu, ayo ajak berbincang..atau kadang di suruh ayah, rizky tolong jemput. teman ayah di pelabuhan karena ayah sibuk, ayah sudah bicara dengannya tadi. bahkan di suruh adik, kakak tolong dong beliin obat di warung.
hal-hal kecil tersebut sangat mengganggu, saya mulai berpikir apa yang harus saya lakukan, kira-kira apa yang akan saya katakan nanti.
sekarang saya kuliah semester dua di universitas hasanuddin fakultas kesehatan masyarakat. Tapi karena terlambat registrasi, sampai sekarang saya belum masuk kuliah. sebelumnya sempat di urus karena ada teman bisa di bilang sahabat yang menemani. tapi belum sempat membayar teman saya sakit. Jadi karena hanya sendiri saya sangat takut untuk berurusan.
parahnya saya bahkan takut menerima telpon dari orang tua saya karena tidak tau mau bersikap bagaimana.
bahkan dalam setiap jenjang pendidikan, sd, smp, sma, bahkan di bangku kuliah, saya hanya punya satu teman yang lumayan bisa saya jadikan tempat curhat curhat saya.
demikian sedikit tentang saya, mohon nasihatnya
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAssalamualaikum..salam kenal buat mba fitri dan teman semua..perkenalkan saya saya denny,saya jg pernah mengalami phobsos sebagaimana yg diulas ditulisan mba fitri dan jg yg teman2 alamin..tapi Alhamdulillah berkat ikhtiar dan doa yg berkeinginan utk sembuh,seiring berjalannya waktu saya jg bisa perlahan sembuh.bagi teman2 yg ingin sharing problemnya add pin bbm saya 5252B3B0,kita bisa sharing,insya Allah menemukan pencerahan dan kesembuhan..aminn..salam
ReplyDeleteAda kontak wa gak mas? Saya mau sharing2 tentang permasalahan saya
Delete